
Sebelum benar-benar meninggalkan Apartement Kana memeriksa isi tasnya untuk memastikan keperluan kuliah hari ini sudah lengkap. Namun tiba-tiba matanya melihat sebuah benda asing yang bukan miliknya.
"Sayang, ini..." Kana mengambil sebuah kunci mobil yang ada di dalam tasnya dan menunjukan pada Ken.
"Untukmu," Ken tersenyum manis sambil mengecup kening sang kekasih hati.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan? Kamu memberikan aku tempat tinggal yang mewah dan kini memfasilitasi aku dengan sebuah mobil?"
"Tidak ada yang berlebihan untukmu, Baby. Untukmu semua harus sempurna, seperti kamu yang membuat hidupku sempurna."
"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu," Ucap Kana sambil memeluk erat Ken.
"Aku lebih mencintaimu,"
Pagi hari sebelum sepasang kekasih itu beraktifitas pun diawali dengan pelukan hangat penuh cinta.
*
*
*
Pagi hari yang cerah, secerah perasaan hati Kana, sepanjang perjalanan kampusnya ia pun bersenandung indah. Hidupnya memang terasa sempurna setelah dipertemukan dengan lelaki yang begitu mencintainya. Hingga setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit ia sampai di kampusnya. Kana pun memarkirkan mobilnya dengan apik.
__ADS_1
"Wuihhhh... Tumbenan hari ini ngga di anter sama pangeran," Celetuk Rina sang sahabat begitu Kana memasuki kelasnya. Kana pun memamerkan sebuah kunci mobil sambil dimainkan dengan tangannya.
"Serius?" Tanya Rina yang mulai paham, bahwa hari ini Kana mengendarai mobil sendiri yang sudah bisa dipastikan itu pasti pemberian sang kekasih si putra konglomerat ternama. Kana pun mengangguk tanda mengiyakan.
"Aaahhhh... Luar biasa, pokoknya kamu wajib ajak kita jalan pake mobil barunya, ya gak Cyn?" Rina, Cyndi dan Kana pun saling berpelukan.
"Aku happy banget, Na. Hidup kamu berubah setelah bersama pangeran Kenzi," Ujar Cyndi setelah mengurai pelukan mereka.
"Duuhh, aku jadi terharuuu,"
Tak lama Dosen pengajar pun tiba, baik Kana dan kedua temannya mengikuti mata kuliah hingga selesai.
*
*
*
"Seperti biasa kan?" Tanya Kana
"Hmmm... Kecap dan sambal banyak ditambah perasan jeruk nipis," Jawab Cyndi
Kana pun menikmati makannya bersama kedua sahabatnya. Sedangkan di sudut lain seorang laki-laki tersenyum melihat keberadaan Kana di kantin itu, ia pun datang menghampiri.
__ADS_1
"Boleh gabung ga?" Tanya Ardi sambil mengambil posisi duduk diseberang Kana. Kana hanya mengangguk dan tersenyum dan tetap menikmati makanannya.
"Kalo langsung duduk, ngapain lo nanya boleh gabung atau nggak," Sewot Cyndi yang memang kurang suka dengan sosok Ardi yang terkenal seorang Bad boy.
"Ah elah, Cyn, baperan amat jadi cewek"
"Na, udah dapat buku buat bahan tugas tadi belum? Cari bareng yuk," Ardi si Bad boy mencoba berbasa basi agar bisa pergi bersama. Ya, ia menyukai Kana sejak lama hanya saja Kana selalu menanggapinya biasa saja, bahkan pernah menolak untuk jadi kekasihnya. Kana bergidik ngeri ketika harus menghadapi para Mahasiswi penggemar si Bad boy ini jika ia menjadi kekasihnya.
"Kita mau pergi bareng," Belum sempat Kana menjawab, Rina sudah menolak ajakan Ardi untuk Kana.
"Ardi!" Dari kejauhan seorang mahasiswi yang mungkin penggemar si Bad boy memanggil.
"Noh lo dipanggil penggemar, pergi sana! Hush... Hush... " Usir Cyndi sambil mengibaskan tangannya.
"Ah elah, ganggu orang usaha aja." Meski menggerutu, Ardi pun pergi meninggalkan meja Kana dan kedua sahabatnya.
"Cyn, lo bilang ini kaya biasa, koq parah banget sih pedesnya. Berapa sendok sambalnya, Cyn?"
"Kaya biasa koq, lima sendok kan?"
"Ya ampun, Cyn, kan biasanya cuman tiga sendok." Ujar Kana sambil minum dan sesekali mengelap keringat karena makanannya terlalu pedas.
"Tisu nih, Beb." Kana mengambil Tisu yang disodorkan Rina dan mengelap keringatnya, hingga pada saat mengelap bagian lehernya, Cyndi terbelalak kaget saat melihat banyaknya kissmark yang tertutup oleh foundation yang kini tersapu oleh tisu.
__ADS_1
"Buseeeet, pantesan dapet mobil, lo berapa ronde semalem?" Kana yang belum menyadari arti pertanyaan Cyndi pun hanya mengernyit bingung. Rina yang paham pun langsung melirik leher Kana dan memberikan kode.
"Lo habis di garap, ngga perawan lagi dong," Cyndi berujar dengan lantang hingga beberapa pengunjung kantin pun mulai menoleh ke mejanya. "Berisik lo," Rina membekap mulut Cyndi agar ia berbicara lebih pelan. Sedangkan Kana ia hanya menunduk malu di hadapan kedua sahabatnya, terutama Cyndi yang memang paling polos di antara ketiganya.