
"Apa?!" ujar Syafiq terlihat frustasi. Bagaimana tidak di saat jiwa dan raga lelahnya baru menapaki mansion miliknya, Shera justru meminta ia untuk menemaninya ke Jakarta ingin menemui laki-laki ayah biologis dari janin dikandungannya sekaligus bos nya.
Shera dengan tampang sedihnya merajuk dan memohon diiringi dengan derai air mata. Salah satu senjata pamungkasnya untuk meluluhkan hati sang Kakak.
"Baiklah, aku pesankan tiket dulu untuk kita berangkat." Pada akhirnya Syafiq mengalah, ia kalah dengan rengekan dan derai air mata Adiknya. Ia hanya memiliki Shera sebagai keluarganya, bagaimana mungkin akan membiarkan Adik kesayangannya pergi sendiri ke tempat yang jauh, terlebih ia juga sedang mengandung.
"Tidak perlu, Kak. Aku sudah memesankan tiket untuk kita berdua." Shera menunjukan dua buah tiket pesawat kepada Syafiq.
"Aku hanya perlu membersihkan diri dan menyiapkan beberapa pakaian yang akan ku bawa. Kau tunggulah aku di sini." Putus Syafiq.
__ADS_1
Patuh, Shera pun mengangguk dan duduk kembali di atas sofa empuk di ruang tamu mansion milik Kakaknya. "Sudah ku bilang, kan. Kakakku itu memang paling tidak tahan dengan air mataku," guman Shera sambil tersenyum. "Kau baik-baiklah di perut Mommy, sebentar lagi kita akan bertemu dengan Daddy."
Selang tiga puluh menit Syafiq sudah siap dengan setelan santainya, ia menggeret koper kecil di tangan kirinya. "Ayo, She, kita berangkat sekarang." Kedua Kakak ber Adik itu keluar dari mansion menuju bandara.
***
Ken yang beberapa hari ini betah tinggal di Apartemen Kana, baru saja kembali setelah menghadiri wisuda wanitanya. Ya, tuntas sudah masa perkuliahan kekasih hatinya, dan kini ia siap untuk melamar secara resmi wanitanya.
"Malam ini, Mami dan Papi mengundangmu untuk makan malam di mansion utama, Baby, berdandanlah yang cantik." Bisik Ken ditelinga Kana. Ia memeluk Kana dari belakang sambil mengelus lembut perut rata Kana. Ken berharap kerja kerasnya beberapa hari ini benar-benar akan memberikan hasil yang diharapkannya, tumbuh penerusnya di rahim wanitanya.
__ADS_1
Kana membalikkan badannya, menatap lekat pria yang selama ini menemani kehidupannya di Jakarta. Ah tidak bukan hanya menemani, tapi juga memfasilitasi semua kebutuhannya dari mulai yang terkecil hingga yang paling rumit menurut Kana. Bagaimana tidak rumit, di saat Kana masih menolak untuk menikah dengan pria di hadapannya ini, kekasih dan keluarga besarnya memberikan kehidupan bak ratu dongeng. Uang jajan dengan jumlah terbilang fantastis, Apartement mewah di kawasan strategis, dan kendaraan mewah sebagai fasilitas yang digunakan untuk kemudahannya beraktifitas.
"Terima kasih, sayang." Kana memeluk erat kekasihnya. Lalu ia menatap dalam kekasihnya dan mendaratkan ciuman hangat di bibir prianya.
"Jika malam itu bukan kamu pria yang aku temui, aku bisa saja tidak berakhir di sini bersama pria sempurna sepertimu,"
"Aku mencintaimu baby." Ken mencium bibir ranum Kana. Ciuman lembut itu pun lama kelamaan menuntut lebih, membangkitkan hasrat kelelakiannya. Bahkan adik kecilnya secara spontan langsung bereaksi. Ia menuntun Kana menuju kamar tidurnya tanpa melepaskan pagutannya. Dengan napas yang memburu Ken segera melepas semua kain yang melekat di badannya. Bahkan tanpa ampun ia merobek paksa kebaya wisuda yang dikenakan Kana. Kecipak hasrat itu semakin menggebu, semua yang ada di tubuh Kana adalah candu baginya.
"Ssshtthh, aaah! sayang." ******* Kana menggema di kamar Apartemen mewahnya. Sepasang kekasih itu pun bergelut mesra di atas ranjang dengan peluh yang mulai bercucuran.
__ADS_1