Asmara Abad 21

Asmara Abad 21
Bab 11


__ADS_3

She, kau gila!” sentak Syafiq, ketika benda pipih bergaris dia itu sungguh nyata digenggamannya. Meski ini mungkin saja terjadi, Syafiq masih berharap ini salah. Terserah saja jika Shera tahu ia tidak menghendaki kehamilan Adik kesayangannya.


ia menggusar wajahnya dengan kasar, sungguh kali ini ia sangat frustasi dengan tindakan Shera, meski ia juga turut andil didalamnya.


"Kak, ini memang salah satu rencanaku. Kenapa kau terlihat shock?"


"She, kau tau Ken memiliki tunangan, kan?"


"Iya, aku tahu. Tapi, aku tidak peduli," jawab Shera.


"Kenapa kau menjadi sejahat ini, She?"


"Kak-"


"Pergilah, She, aku tidak bisa mengantarmu." Shera pun beranjak, namun langkahnya terhenti saat Syafiq berujar "She, pikirkanlah jika wanita yang kau rebut kekasihnya itu adalah dirimu." Namun Shera tak acuh, cinta telah membutakan mata hatinya.


***

__ADS_1


Sedangkan di Jakarta, dua anak manusia yang masih sangat merindu benar-benar menghabiskan harinya hanya dengan makan dan bercinta. kemana pun Kana beranjak Ken selalu mengikutinya. Seolah ia adalah bayangan untuk raga Kana.


"Kau mau kemana, baby?" Ken terusik ketika Kana hendak beranjak dari pelukannya.


"Aku harus membersihkan diri, sayang. Namun, belum juga sempat beranjak teriakan Kana menggema di kamar tidurnya. "Arghhh!" teriak Kana saat Ken tiba-tiba menggendongnya.


"Kita mandi bersama, rasanya sudah lama sekali tidak memanjakanmu, baby." ujar Ken dengan senyum liciknya. Dan lagi-lagi mandi bersama yang seharusnya hanya tiga puluh menit pun bertambah durasinya menjadi berjam-jam. Jika saja Ken tidak mendengar perut Kana yang meronta meminta makan, tentu ia masih memanjakan miliknya di bathroom bersama kekasihnya.


Ken menggendong Kana keluar dari bathroom, ia pun membantu Kana berpakaian dan mengeringkan rambut Kana yang terlihat masih setengah basah. Tangan Ken sangat lincah memanjakan Kana dengan tangan satunya sibuk dengan ponsel untuk memesan makanan untuk mereka.


"Sudah selesai. Tunggulah sebentar lagi pengantar makanan akan tiba."


"Ah tidak-tidak, sayang. aku ingin menonton drama Korea kesukaanku."


"Bukankah kau butuh istirahat, baby?"


"Iya, tapi jika di kamar bersamamu aku justru tidak bisa beristirahat, karna kau pasti menerkamku lagi, sayang," ujar Kana dengan wajah manjanya.

__ADS_1


"hahaha," Ken tergelak mendengar perkataan Kana. "Tapi itu sungguh nikmat kan, baby?"


"Ish, kau ini," ujar Kana sambil memukul lengan Ken.


"Oke, baiklah tuan putri." Ken mengalah ia menggendong Kana menuju ruang TV. Kali ini Kana tidak menolaknya, dengan sukarela ia malah mengalungkan tangannya di leher Ken, sedangkan Ken sesekali mendaratkan ciuman ke bibir ranum Kana.


***


Di Mansion milik Kakaknya, Shera sudah siap dengan beberapa koper yang akan ia bawa ke Jakarta. Ia duduk di ruang keluarga sambil menunggu Kakaknya kembali dari kantor. Senyum di wajahnya tak pernah luntur, bahkan berkali-kali ia menatap gambar hasil USG kehamilannya. Benih Ken jelas nyata tumbuh di rahimnya.


Deru mobil terdengar dari arah pekarangan depan mansionnya. Shera beranjak demi menyambut Kakaknya, meski pertemuan terakhir bersama Kakaknya kurang menyenangkan.


"Aku merengek saja, Kak Syafiq kan paling tidak bisa melihat aku bersedih," guman Shera.


Benda persegi panjang itu terbuka lebar, menampilkan wajah lelah sang Kakak yang hampir seharian bergelut dengan tumpukan berkas di kantornya.


"Kak... She... " ujar Shera dan Syafiq berbarengan. Mata Syafiq menatap pada beberapa koper bertengger rapi tak jauh dari tempat Shera berdiri.

__ADS_1


"Apa?!" ujar Syafiq terlihat frustasi.


__ADS_2