
“Sayang...” teriak Kana sambil berlari. Di ujung sana Ken dengan sigap merentangkan tangannya, Kana pun berhambur kepelukan kekasihnya menyalurkan segala kerinduan setelah sekian lama terpisah jarak antara mereka.
“Aku merindukanmu, baby” bisik Ken ditengah pelukannya. Ia semakin erat memeluk wanitanya. menatap kekasihnya dalam, tanpa permisi benda kenyal itu saling bertautan, bahkan ciuman itu saling menuntut, menyalurkan segala hasrat dan kerinduan pada wanitanya. Bibir ranum itu selalu menjadi candu baginya. Ciuman itu baru berakhir di saat Kana yang hampir kehabisan napas, namun Ken tak melepaskan, ia menyatukan kening mereka bahkan hidungnya kini saling menempel.
“Maaf,” hanya kata itu yang terucap dari bibirnya. Entah kata maaf yang terucap untuk dosanya yang telah mengkhianati wanitanya atau karena ia meninggalkan kekasihnya terlalu lama.
Setelah mengurai pelukannya, mereka menuju sebuah mobil yang telah disiapkan oleh sekretarisnya di Jakarta. Sepanjang perjalanan Ken tampak lebih diam dari biasanya, hanya Kana saja yang selalu berceloteh riang mengenai kegiatannya selama tidak bersama kekasihnya.
“Kau tahu sayang, setiap hari aku selalu berdebar setiap bel Apartementku berbunyi, aku selalu itu mengira kamu yang datang,” ujar Kana sambil bersandar di dada kekasihnya. melihat reaksi Ken yang diam saja, Kana pun menengadahkan kepalanya, pandangan mata itu pun bertemu, bahkan Kana bisa melihat senyum yang terukir dari bibir kekasihnya.
cup....
__ADS_1
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir ranum Kana. “Aku hampir gila karna terlalu merindukanmu, baby,”
***
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, mobil yang di kendarai mereka tiba di sebuah gedung Apartement mewah milik Kana.
“Arghhh,” teriak Kana yang terkejut ketika Ken menggendongnya. “Sayang, biarkan aku berjalan,” ujar Kana. Meski hatinya senang, namun ia merasa malu, apalagi di belakang mereka sekretaris Ken yang membawa barang milik tuannya juga mengikuti.
“Diamlah, rasanya sudah lama aku tidak memanjakanmu, baby. ” Ayo, buka pintunya, baby,” titah Ken pada Kana. Patuh, Kana pun memasukan sandi Apartement miliknya dan dalam hitungan detik, pintu Apartement terbuka sempurna.
cup...
__ADS_1
“Kau letakkan barangku di sudut ruangan sana. Kau boleh pergi sekarang,” kata Ken pada sekretarisnya. Namun, pandangannya tak sedikit pun beralih dari wanitanya.
“Baik, tuan, nona saya permisi.”
Setelah kepergian sekretarisnya, Ken menatap wajah Kana penuh damba. Tangannya pun sudah menjalar di balik dress yang dikenakan Kana. “Aku merindukanmu, baby,” ujar Ken dengan nada seraknya.
“Sayang, istirahatlah dulu, kau pastti lelah kan?” Kana berusaha bernegosiasi mengalihkan hasrat Ken.
“Jangan menolakku, baby. Aku sudah menahannya sejak pertama bertemu denganmu,” kata Ken sambil meraih kembali tengkuk Kana. Ia mulai menyesapi bibir ranum yang selalu menjadi candunya, keintiman pun berlanjut di saat Kana juga membalas ciuman Ken.
***
__ADS_1
“Ah,,,,” erangan Ken di saat ia berhasil mencapai puncaknya. Ia menatap pada wanita yang berada di bawah tubuhnya, peluh jelas terlihat di kening Kana diiringi napas yang tersengal-sengal. “Terima kasih, baby. Kamu selalu luar biasa,” ujar Ken. Kata keramat yang selalu Ken ucapkan setelah ia bercinta dengan wanitanya. Kana yang kini bersandar di dada bidang kekasihnya hanya mengangguk patuh.
“Aku mengeluarkannya di dalam,” bisik Ken di telinga Kana.