
Satu minggu setelah pertemuan antar keluarga kedua belah pihak, mereka sepakat untuk melangsungkan pernikahan sederhana di mansion utama keluarga Hasyim. Taman belakang mansion utama menjadi pilihan tempat resepsi pernikahan sederhana antara Ken dan Shera, tidak banyak tamu undangan yang hadir, hanya keluarga besar Hasyim saja yang mengikuti prosesi acara sakral Ken dan Shera.
SAH!
Kata sah dari para saksi yang menghadiri pernikahan Ken dan Shera menjadi tanda perubahan status Ken yang kini menjadi seorang suami, ya sesuatu yang diimpikannya bisa menyandang suami, namun ia harus menerima kenyataan pahit, ia menjadi suami dari wanita yang tidak ia cintai.
Masih dengan keadaan menjabat tangan Syafiq selalu wali yang menikahkannya dengan Shera, Ken menitikkan air mata. Biasanya pada saat acara sakral, pengantin wanita lain yang selalu menitikkan air mata sebagai wujud haru, namun pemandangan berbeda justru terjadi di pernikahan Ken, dimana ia menangis karena merasa nasib baik tidak berpihak pada kisah cintanya.
Di sebelahnya Shera tersenyum merekah, ia pun segera memasangkan cincin pernikahan ke jari manis Ken menyusul mencium punggung tangan suaminya.
***
"Selamat ya, bro," ucapan selamat mengalir dari beberapa sahabat dekat dan juga sepupu Ken.
"Ku kira kau akan menikahi gadis yang membuatmu cinta mati, Ken." Celetuk Davin sepupu Ken.
__ADS_1
"Lebih baik kalian segera menikah," ujar Ken kepada sepupunya itu yang datang bersama kekasihnya.
"Hahaha... " Davin tergelak mendengar ucapan Ken. "Aku siap menikah asalkan kekasihku siap menjalani Long Distance Marriage. Kau tau, aku masih harus menetap di London untuk beberapa waktu."
***
Prang!
" Non, nona tidak apa," tanya pelayan yang menemani Kana di Apartement. Ia terlonjak kaget saat sedang merapikan kamar nonanya mendengar seperti benda terjatuh.
"Nona mau apa? biar bibi bantu,"
" Aku hanya mau ambil minum, bi." Dengan di bantu pelayan akhirnya Kana kembali ke tempat tidurnya, dan setelahnya bibi pelayan mengambilkan minum untuk Kana.
Semenjak seminggu lalu kesehatan Kana benar-benar menurun, ia lebih banyak melamun bahkan kadang menangis tanpa henti. Terlebih ia juga tahu hari ini Ken menikah dengan wanita yang telah mengandung janin kekasihnya.
__ADS_1
"Non, nona harus semangat." Ujar bibi pelayan saat memberikan air minum untuk Kana. Beberapa hari menemani nonanya ia merasa sangat sedih, selama ini ia selalu melihat Kana selalu ceria, namun masalah yang menimpanya benar-benar membuat ia sangat terpuruk. Melihat kesedihan nonanya mengingatkan bibi pelayan pada anak gadisnya, itulah mengapa ia sangat menyayangi Kana.
Bibi pelayan pun memberanikan diri untuk memeluk Kana menyalurkan kekuatan layaknya seorang ibu terhadap putrinya. Apalagi yang ia tahu Kana memang seorang yatim piatu.
"Non, yang kuat ya," ujar bibi pelayan sambil. mengelus punggung Kana. Kana pun mengangguk ditengah isak tangisnya.
"Nona, saya izin untuk malam ini tidak bisa menginap." Pamit pelayan sambil masih mengelus punggung Kana. "Di mansion utama membutuhkan banyak orang untuk beres-beres," lanjutnya.
"Pergilah, bi, aku tidak apa-apa," ujar Kana meyakinkan. Ia pun menghapus jejak air mata dari wajahnya.
"Tapi, kalo non butuh apa-apa langsung hubungi saya ya, non."
Kana pun hanya mengangguk
***
__ADS_1
Selepas kepergian bibi pelayan, Kana menatap dirinya di cermin. Ia bertekad untuk menghadapi hari-harinya, akan menata kehidupannya kembali.