
Baik Kana, Cyndi dan Rina pun menuntaskan makannya dengan hening. Tak lama mereka bertiga beranjak ke sebuah toko buku yang biasa mereka kunjungi. Di sepanjang perjalanan Cyndi yang masih penasaran dengan sahabatnya Kana tak henti-hentinya mengoceh dan bertanya, hingga membuat seorang lelaki yang menjadi objek utama perbincangan mereka mendadak tersedak ketika sedang makan siang bersama kliennya.
“Cyn, bisakah diam sebentar? Aku jadi tidak fokus menyetir.”
“ya ampun Kana, aku hanya penasaran bagaimana rasanya bercinta. Apa itu menyakitkan?”
“Kamu praktek saja langsung, nanti juga tahu seperti apa rasanya bercinta.” Bukan Kana yang menjawab, tapi Rina. Cyndi pun langsung terdiam. Iya, Cyndi yang polos dan cerewet itu hanya akan takluk dan diam jika Rina sudah menegurnya, katanya ia mirip sekali dengan Oma nya jika sudah mengomel sedangkan ia memiliki trauma dengan Omanya.
Hingga mereka tiba di sebuah toko buku langganan mereka dan mulai mencari berbagai buku yang akan dipergunakan untuk mengerjakan tugas.
Drrrt...
Di saat asik memilih buku, ponsel Kana berdering menampilkan nama sang kekasih di layarnya. Dengan senyum mengembang ia pun menerima panggilan itu.
“Baby aku harus pergi ke Jepang malam ini untuk perjalanan bisnis.” Kata seorang lelaki di seberang sana.
“Baiklah, jangan terlalu lama, aku pasti merindukanmu.”
Meski enggan, kana harus mengiyakan kepergian kekasihnya. Dikejauhan kedua sahabat yang melihat wajah Kana kurang bersemangat pun datang mengahampirinya.
“Kenapa?” tanya Rina
__ADS_1
“Ken harus pergi lagi.” Jawab Kana. Rina dan Cyndi hanya mengernyitkan dahi ketika mendengarkan jawaban kana. “Ada pekerjaan mendesak yang mengharuskan ia segera ke Jepang,” lanjut Kana.
“Sudahlah, itu kan hanya perjalanan bisnis.” Kata Rina. “bagaimana jika kita mengadakan pesta piyama nanti malam di Apartementmu, Na?” timpal Cyndi
“Iya, aku setuju. Bukankah kamu selama ini terlalu sibuk dengan kekasihmu.”
“Baiklah. Tapi sebelumnya kita berbelanja dulu ke Supermarket.”
*
*
*
Lain hal dengan Kana, meski kantuk datang menghampiri, entah mengapa ia gelisah, berkali-kali memejamkan mata berharap ia terlelap sempurna, namun selalu gagal.
“Apa yang terjadi? Apa aku terlalu merindukannya?” gumam Kana
Kana pun hanya membolak balikkan badannya karena kegelisahannya, berkali-kali mencona mengubungi kekasih namun tidak tersambung dengan sempurna, bahkan pesan yang ia kirim pun masih tercentang satu.
“Kenapa kamu belum tidur, Na?” tanya Rina. Kegelisahan Kana ternyata mengganggu lelap tidurnya. “Dari tadi aku lihat kamu hanya membolak balikkan badan saja.”
__ADS_1
“Sorry, Rin. Perasaanku tidak enak dari tadi, aku teringat Ken.” Jawab Kana yang terlihat gelisah
“Ken pasti baik-baik saja, Na. Mungkin kamu terlalu merindukannya.”
Kana pun mengangguk dan mencoba memejamkan matanya, mengusir kegelisahan yang dirasakannya.
*
*
*
Sedangkan di waktu yang sama tapi di negara yang berbeda. Ken yang sejak tiba di Bandara terlihat terburu-buru dan cemas dengan keadaan yang terjadi di salah satu perusahaannya di negara itu. Meski ia sempat mengaktifkan ponselnya, namun sialnya ternyata daya ponsel tersebut tidak memadai, hingga ponsel mahalnya mati sebelum ia sempat membaca pesan dari kekasihnya.
Sejak tiba di bandara, ia sudah disibukkan dengan berbagai panggilan dari orang-orang kepercayaan yang mengurus perusahaannya di Jepang.
Dan disinilah ia kini berada, di salah satu Resaturant mewah untuk bertemu dengan seorang yang akan membantu permasalahan yang terjadi di perusahaan cabangnya. Menurut orang kepercayaannya, hanya pengacara inilah yang handal dan dapat dipercaya mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
“Permisi, Tuan...” sapa seorang wanita
“Shera...” Ken terperenjat melihat sosok wanita yang dihadapannya
__ADS_1