AXELLA

AXELLA
10


__ADS_3

Rumah kosong dengan dua lantai inilah yang menjadi markas mereka. Jangan lupa beberapa kamar dan ruangan kecil yang menjadi tambahan. Dulu rumah ini tak tersentuh oleh orang-orang sekitar, namun mereka berinisiatif membersihkan rumah ini secara goro hingga dapat menjadi markas utama dari BlackSky.


Geng ini didirikan dua tahun yang lalu, bermula ketika dirinya sedang dicegat preman kemudian bertemu satu persatu dengan para inti.


Jikalau dia merasa bosan dengan tugas dari sang Daddy, dirinya pasti akan kabur dan menetap disini. Ini merupakan rumah keduanya, keluarga keduanya, hidupnya dan tempat para anggota BlackSky yang lainnya untuk tinggal.


Didalam rumah ini sendiri tersedia banyak kamar dan untuk perlengkapan lainnya, mereka semua membeli dari hasil tabungan sendiri. Jika kurang maka Axella dan anggota inti yang lain pasti akan menambahkan.


Tak seperti Aexentro, Rixstar ataupun geng lainnya. BlackSky atau BS7 sendiri memiliki beberapa anggota perempuan selain Axella. Siapa sajakah mereka? Siapa saja para inti dari BS7? Kita akan mengetahui seluk beluk tentang mereka bersama namun secara perlahan.


Didalam markas BS7


Sesaat sebelum masuk lebih dalam Axella dapat mendengar banyak suara disana.


Terdengar banyak candaan dan suara orang-orang yang sedang berkumpul. Ada pula suara anggota yang tengah bermain catur, biliar, ataupun game diponsel mereka. Jangan lupakan beberapa anggota yang mempunyai kesibukan sendiri.


Mereka semua saat ini tengah menunggu sang ketua. Mereka sudah menunggu sejak jam tujuh tadi, bisa dibilang mereka sudah sangat niat untuk bertemu dengan Axella.


Sudah lama dan sangat jarang mereka dapat berkumpul bersama seperti hari ini.


Kriett..


Terdengar suara pintu yang dibuka. Tentu saja semua mata langsung berbalik dan menatap kearah pintu. Terlihat bayangan dari balik pintu yang kemudian membuka pintu paksa.


"Nungguin ya?" terdengar suara. Andrew yang membuat mereka semua badmood.


"Yah."


"Lah kirain datang, eh yg nongol cemungut beginian."


"Andrew babi."


"Pakyu bang."


"Haish."


"Gapapa buat BukBos gue tungguin lima malem lgi."


"Nyenye."


Terdengar kata-perkata yang seperti menusuk indra pendengaran Andrew.


"Anjing gak ada harga diri gue jadi inti." Andrew menendang pintu kasar.


Dari balik Andrew terlihat dua orang lainnya menyusul masuk. Yang tentu saja membuat mata seluruh anggota melotot dengan ekspresi yang berbeda-beda.


"Bu Ketu..!!"


"BukBos!!!"


"Selaa..!!!!!!"


"Sicantik nongollll."


"Yang ditungguin datang ugaa."


"Makin cantik aja leader gue, eh kita."


Dan banyak lagi sorak-sorai lainnya yang membuat telinga milik Axella serasa berdengung. "Ribut!"


Mereka hanya cengar-cengir menanggapi sang ketua, takut akan diamuk massal.


"Sini." ajak seorang laki-laki diikuti Andrew, beberapa anggota inti yang lain, dan jangan lupakan Jack dengan wajah malasnya.


Mereka pun duduk disofa yang lumayan besar, sementara anggota yang lain duduk melantai. Bahkan ada yang tengkurap dengan tangan didagu, jangan lupakan kedua kakinya yang bergoyang-goyang. Terlihat sangat antusias dalam menyambut Axella bukan?


"Jadi gimana kabar Lo selama ini?" tanya salah satu inti dikenal dengan nama Sean.


"Bisa dibilang baik, tapi kalau udah berurusan sama Daddy, kepala gue sakit kek nyut-nyut an."


Sean lantas memijat kepala Axella pelan. "Masih sakit?"


"Syukurnya udah enggak." Axella tersenyum menanggapi aksi kecil Sean.


Dari arah pintu belakang terdengar suara seseorang berlari menuju tempat Axella berada. Dirinya melompat lantas memeluk Axella kencang.


"Xellaaa arghh.. temen gue akhirnya datang juga." pekik salah seorang gadis yg merupakan salah satu inti dengan nama Zoya.


"Gue gak mimpi kan? Seriusan?"


Andrew yang melihat kelakuan temannya itu kemudian mencubitnya keras ditangan.


"Sakit andrewewegombelll!" gadis itu berteriak keras sambil mengusap pergelangan tangannya. "Ternyata gak mimpi."


"Prik lu kek gue"


"Gausa disamain."


Sementara yang lain hanya menggelengkan kepala. Begitulah aksi keduanya jika bertemu seperti Tomcat, maksudnya Tom and Jerry.

__ADS_1


"Kita seneng Lo datang, moga lamaan. Btw welcome home." ucap salah satu inti dengan nama Dion sambil memeluk Axella.


"Thanks Di." Axella balas memeluk Dion.


"Gue juga beb." celetuk salah satu inti bernama Rivaldo ikut memeluk Axella.


"Gausa beb-beb an." Sean berucap ketus.


"Sans bro gue gak akan rebut, palingan gue-" Rivaldo menggantungkan kalimatnya menunggu reaksi dari sikutub.


"Apa?!" sentak Sean kesal.


"Palingan gue pacarin ahaha." Rivaldo langsung berlari dengan Sean yg mengejarnya.


"Gak boleh anjing!"


"Canda ajg awowkok."


Sementara Axella dan yang lainnya hanya tertawa kecil menyaksikan kelakuan mereka. Beberapa menit kemudian..


"Udah Sean ampun." Rivaldo berucap lemah. Saat ini dia tengah diberi bogeman oleh Sean.


"Tadi Lo bilang apa? Lo bilang mau pacarin?"


"Lo mau mati sekarang apa besok?"


"Ampun Anjing! Aakhh! XELLL TOLONGIN!!" Rivaldo berteriak sekencang mungkin membuat Axella mau tak mau mendatangi mereka.


Axella memegang tangan Sean pelan dan tanpa aba-aba Sean langsung melepas cekalan tangan kirinya dari leher Rivaldo. Axella hanya menatap Sean dengan helaan nafas.


"Maaf gue bikin masalah dihari kedatangan Lo." ucapnya sedikit menunduk.


"Minta maaf dulu gih, kasian tuh anak orang." tunjuk Axella pada Rivaldo yang tengah memegang wajahnya.


Sean masih tak bergeming.


"Gak denger?" Axella ingin berbalik namun Sean menggenggam tangannya.


"Iya bentar."


Axella tersenyum tanpa sepengetahuan Sean. Lelaki itu kemudian membantu Rivaldo berdiri dan memapahnya ke sofa.


"Maaf."


"Hah apaan Sean? Gue gak dengar?" Rivaldo masih saja memanas-manasi.


"Ma-af Do."


Jack yang sudah kepalang gondok memegang kuat pipi Rivaldo.


"Ahk sakit bodo!" teriaknya sambil menggoyangkan mulut berusaha menghilangkan nyeri.


"Makanya Lo jangan betingkah. Mau gue tambahin bogeman lagi?"


"Galak amat."


"Itu, gue juga minta maaf Sean. Gue cuma becanda kali, lo langsung main hantam aja." cerocos Rivaldo panjang kali lebar.


"Makanya gak usah ganggu punya gue." sentil Sean seperti memperingati.


"Punya Lo?" terdengar nada jutek dari Jack.


"Proses!"


"Gak yakin gue."


"Lo-"


"Masih mau berantem lagi? Apa perlu gue balik?!" tanya Axella dengan nada tak senang.


"Gakk!!" jawab mereka serempak bahkan para inti pun ikut.


"Gini aja baru kompak."


Mereka saling lempar tawa garing, sementara Axella memperhatikan mereka semua malas.


"Ada-ada saja." batinnya.


Malam itu mereka berkumpul hingga larut merayakan kedatangan sang leader. Mereka bahagia dan berencana untuk mengadakan beberapa kegiatan bersama lain harinya. Melihat jam didinding yang menunjukan pukul 02.00, Axella pamit izin pulang diikuti beberapa anggota yang lain.


"Gue anterin?"


"Gue bawa motor sendiri."


"Tapi ntar kalau.."


"Sean gpp, lagian kalau ada yang macem-macem gue hajar." Axella berusaha meyakinkan.


"Trus gue bunuh."

__ADS_1


Axella yang mendengarnya hanya tersenyum licik, Sean selalu saja begini.


"Maaf gue salah." Sean memukul mulutnya yang langsung dihentikan Axella.


"Biar apasi begitu?"


Sean hanya diam tak menanggapi yang membuat gadis itu menghela nafas. Laki-laki ini seperti monster kutub jika bertemu orang, namun akan bersikap berbeda jika bersamanya. Seperti anak kecil saja.


Axella memegang tangan Sean. "Lo ngeraguin gue?"


"Bukan gitu, gue cuman pengen anterin Lo doang." Sean ikut memegang tangan Axella.


"Lo kayak bocah." Axella kembali berucap yang membuat sang empu menatapnya lama.


"Kenapa? Lo gak terima, mau marah Lo? Mau pukul gue? Atau-"


Sean langsung membekap erat gadis didepannya, membawa kedalam tubuh besarnya yang hangat. "Lo cerewet."


"Tapi gue sayang." sambungnya yang membuat Axella merona.


"Gue rindu sama Lo. Anak-anak yang lain juga." Axella hanya diam mendengarkan keluh kesah Sean.


"Lo kalau pergi pasti bakalan lama baliknya. Padahal jarak kita gak sejauh itu."


"Gue tau, gue juga rindu sama Lo semua. Terlebih lo Sean. Kemaren tuh urusan sma Daddy belum kelar." Sean hanya mengangguk.


"Ntar makin larut. Gue pulang." Axella mendongak menatap wajah Sean yg terlihat tidak rela. Wajah yang selalu dingin itu, kini menampilkan raut wajah sedih. Axella tidak tega, lantas dia berpikir sejenak. "Gini aja, Lo yg nganterin gue, puas?"


Sean balik menatap Axella. "Lo serius Xell?"


"Iya."


"Lo gak bohong kan?"


"Enggak. Mau gak? Kalau engg.."


Belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Sean sudah menarik tangan Axella, kemudian membawa gadis itu kearah motor miliknya. "Naik."


Axella nampak terlihat termenung sesaat.


"Kenapa?"


"Motor gue gimana?" ucapnya sambil melirik motornya.


Sean terlihat ikut berfikir sejenak.


"Sekarang gue antar pake motor gue, besok pagi gue suruh orang anterin kerumah, atau kalau perlu gue yg bawain gimana?"


"Janji aman nih."


"Janji Xella."


"Oke." Axella pun menyerahkan kunci motornya dan menaiki motor Sean.


Jangan lupakan Sean yang membantunya untuk naik keatas.


"Gass Monster!!"


"Yes angel."


Sean kemudian melajukan motornya. Tidak terlalu kencang, dia tidak ingin gadis dibelakangnya takut. Walau dia tahu Axella sudah sangat terbiasa dengan semua ini.


Tapi tetap saja, Sean tidak perduli dengan itu. Dia ingin Angel-nya merasa aman dan nyaman bila berada dekatnya. Tak perlu terburu-buru, biarkan mereka melewati jalanan malam ini dengan tenang.


Mereka nampak menikmati perjalanan yang akan menempuh waktu setengah jam ini, namun tiba-tiba mereka dicegat oleh beberapa anggota geng.


"Cari mati." Sean mendesis sinis melihat kumpulan lelaki beberapa meter didepan mereka.


Sean segera turun dari motor miliknya diikuti Axella. "Gue gak mau Lo kenapa-napa. Tetap disini."


Terdengar suara Axella sedikit protes. "Gue bisa bantu Sean."


"Gue tau Lo kuat. Tapi sekarang serahin ke gue dulu ya? Lo masih punya gue saat ini." Axella hanya  terdiam tak menanggapi.


"Sekali aja ya, plis turutin gue." pinta Sean. Terlebih ketika dirinya melihat beberapa dari mereka membawa sajam.


"Ntar kalau gue liat Lo kenapa-napa, gue bakal ikut kesana. "Axella berucap kesal dirinya tak diperbolehkan bertarung dengan mereka.


"Kalau ada apa-apa panggil gue cepat." Sean kemudian berlalu mendatangi mereka.


"Bawa tuh cewe kesini sekarang!" seru salah satu dari mereka.


"Kalau gue gak mau?"


"Lo gak usah belagu. Bawa, atau gue seret tuh cewek kesini."


Mendengar kata-kata terakhir dari laki-laki didepannya membuat emosi Sean terpancing. "Ulangin cobak?"


Ahaha..

__ADS_1


                                   ***


__ADS_2