AXELLA

AXELLA
7


__ADS_3

Rumah Axella-Emma


Gadis cantik itu baru saja sampai. Dia meminta tolong pada keamanan dirumah untuk membawa Emma masuk. Gadis itu tak lain adalah kakak kandung dari Emma yaitu Axella Jovanca Dominika.


Dirinya merupakan anak pertama dari Direktur Utama SV Company yaitu sang Daddy Sebastian Alfonso Dominika serta sang Mommy yg bernama Vanya Winona Dominika.


Sedangkan anak kedua mereka yaitu Emma Damaris Dominika. Terlihat Emma yang tengah bergerak ditempat tidur, Axella masih menunggu adiknya itu untuk bangun.


Selain karena tubuh Emma yg mungil untuk gadis seusianya. Emma hanyalah adik kecil kesayangannya. Begitu pula dengan Emma yang sangat menyayangi sang kakak melebihi apapun.


Axella sejak tadi mengolesi minyak kayu putih diperut dan tangan sang adik agar merasa lebih rileks. Dirinya juga tak lupa untuk mengompres pipi Emma dengan kain hangat.


"Eughhh.."


Emma terlihat bergerak diatas tempat tidurnya. Membuat Axella mendongak dan menepuk pelan dahi gadis itu. "Udah bangun?"


"Atau ada yang masih sakit?" tanyanya lembut dengan senyuman hangat. Walau tak menepis rasa khawatir dimatanya.


Emma lantas bangun terduduk dan diam untuk beberapa detik. Gadis itu merasa ini adalah mimpi indah yang sangat dia dambakan.


"Tunggu!"


"I-ini kak Cece?!" batinnya dengan mata masih melihat kearah depan.


Merasa tak ada respon Axella berusaha untuk memanggil lagi. "Hey udah-"


"Kak Xella!"


Belum selesai Axella bertanya. Dirinya dikejutkan dengan Emma yg saat ini sedang memeluk dirinya erat sambil menangis. Seakan meluapkan segala rasa kesedihan dan kesepian yang menyiksa dirinya.


"Aku rindu hikks." tangis Emma pecah didalam pelukan Axella. Dia tak sanggup berpura-pura kuat didepan sang kakak.


"Kakak lama datangnya!! Daddy jahat misahin kita hikss." Emma masih dalam posisi memeluk Axella mengeluarkan segala isi hatinya.


"Iya, Daddy emang jahat."


"Tapi Daddy begini karena ada alasan, dan sekarang kakak udah datang kan? Kakak gak akan ninggalin Emma lagi."


Dengan mata berkaca-kaca Axella berusaha membuat Emma agar mengerti dan tidak menilai buruk sang Daddy. Gadis itu berusaha menahan segelintir air yang mulai membanjiri ujung matanya.


"Air mata sialan!" batinnya.


Mendongak sebentar kearah sang kakak, Emma kemudian mengeluarkan jari kelingkingnya. "Janji?"


Axella tersenyum sambil menitikkan sedikit air mata, pecah sudah aliran air mata miliknya. Dia tak mampu menahan bongkahan kristal bening dipelupuk matanya jika bersama sang adik-Emma.


"Janji." Axella menjeda sebentar.


"Kalaupun kakak pergi balik kesana, Emma bakalan kakak bawa-"


"Dalam koper." sambungnya menghibur sang adik.


"Ish kak!! Emang muat?" tanyanya dengan bibir yang mengerucut.


"Muat dong kan kakak lipat."


"Lagian badan Emma juga kecil kek kuaci." Emma yang mendengarnya hanya terkikik geli.


"Berarti bagus dong kak." Emma membalas ucapan Axella dengan mata berbinar.


"Kenapa bagus?"


"Karena kalau aku kuaci, otomatis kak Xella juga kuaci dong." Axella mengangguk mengiyakan.


"Nah-kan kuaci dari bunga matahari. Berarti Mommy matahari kita kan kak, Mommy hikss-" Emma menangis tergugu.


Degg.


Axella terdiam mendengarkan perkataan sang adik.


"Mommy kenapa pergi sih kak! Kita kan jadi dipisahin Daddy kayak gini." tanyanya dengan raut wajah yang sedih.


"Hey-hey sini liat kakak, gak boleh ngomong gitu."


"Tuhan sayang sama Mommy makanya manggil Mommy lebih cepat."

__ADS_1


"Biar kita lebih mandiri, lebih kuat, lebih dewasa. Jadi kita harus doain biar disana Mommy tenang."


Emma masih diam dalam pelukan Axella berusaha untuk memahami kata-kata sang kakak. Entahlah, dia hanya menikmati pelukan hangat Axella saat ini. Dia tidak ingin mempermasalahkan hal yang lainnya.


"Emma, God is Good right?" Axella bertanya sekaligus menasehati. Emma kemudian mengganggukan kepalanya.


"Good girl."


Emma menunjukkan senyum paling manisnya.


Sebelum memulai percakapan yang akan menjadi persoalan. Axella terlebih dahulu menyuapi Emma makanan agar lebih bertenaga. Tak lupa dia juga sudah menyuruh Emma untuk mandi dan berganti pakaian. Sementara Emma mandi, Axella menyusun pakaiannya dilemari kosong dikamar sebelah.


Dia merapikan segala perlengkapan yang dia bawa dan mengganti pakaiannya. Rumah Mewah yang sekarang sedang Axella dan Emma tinggali memang merupakan salah satu property milik sang Mommy dikota itu.


Rumah ini memiliki fasilitas yang memadai, kamar yang berlebih dan balkon yang menjadi pelengkap dirumah mewah itu. Belum lagi dengan keamanan, koki (juru masak), tukang kebun, supir dan art yang slalu mengerjakan tugas mereka.


Hari pun mulai gelap, Emma saat ini tengah berbaring di kamar dengan memainkan ponsel miliknya. Namun suara ketukan dipintu seakan menyadarkannya.


Tok.. tok..


"Masuk aja kali kak, gausa diketuk juga." Emma menarik tangan sang kakak menuju tempat tidur.


"Kenapa kak?" tanya Emma sambil duduk dipinggir kasur.


"Kakak mau ngomong serius tentang kejadian tadi." Axella menatap lekat sang adik menunggu jawaban.


Emma yang ditatap sang kakak seperti itupun menunduk takut. Jika sudah seperti ini berarti Axella sedang ingin bermain-main dan dalam tahap serius.


"Kak." ujarnya sambil memelas.


"Crita sekarang." titah sang kakak tak dapat ditolak.


Mau tidak mau Emma menceritakan dari awal dirinya yg berniat makan dikantin, sampai tiba-tiba dirinya ditampar dan dijambak dengan seenaknya. Dia sebenarnya sedikit kesal dengan sikap tiga gadis jahat tadi.


Dirinya merasa tidak pernah membuat kesalahan dengan seseorang disana. Emma juga menceritakan detail kejadian saat dia terkunci sejam lebih ditoilet.


Sang kakak yg mendengar penuturan sang adik tentu saja mati-matian menahan amarah sejak tadi pagi. Belum lagi mengetahui bahwa sang adik baru beberapa minggu bersekolah, dan sudah mendapat kejadian yg tidak menyenangkan.


Bodoh dan ceroboh itulah yang Axella rasakan saat ini, dirinya tak mampu menjaga sang adik. Tatapannya berubah tajam hingga membuat Emma bergetar takut.


Axella mengelus kepala sang adik dengan sayang, yang membuat sang empu tersenyum merasa dilindungi. Emma pun memeluk erat Axella melepaskan segala rindu yang tak dapat dia sampaikan.


"Kakak wangi." Emma mendusel kebagian leher sang kakak.


"Kalau bau emang masih mau nempel kayak gini?" Axella mencoba menggoda sang adik.


"Masih dong."


"Tapi boong." sambungnya terkikik geli dan mendapat sentilan dari si kakak.


"Ish syukur sayang." Axella kemudian mencium kening sang adik.


"Yauda tidur gih udah malem, ingat jangan begadang." nasehat Axella pada Emma sebelum beranjak.


"Engh, kak itu-"


Axella lantas berbalik dan menatap Emma. Sedikit heran dengan adiknya yang satu ini. "Kenapa?"


"Temenin tidur disini ya kak, beberapa hari aja." pintanya sembari memohon dengan tangan yg tertutup rapat, yang mana terlihat lucu dimata Axella. Dirinyapun tersenyum kemudian menyetujui.


"Dasar bocil."


"Biarinn (Wleee)." Emma menjulurkan lidahnya.


"Udah cepetan tidur, ntar ditarik juga tuh lidah."


"Ish seram."


Beberapa menit kemudian Emma pun tertidur, sementara Axella tidak. Dia masih memikirkan rencana apa saja yang akan dia lakukan pada pelaku yang sudah semena-mena pada sang adik.


Dikepalanya terlintas berbagai ide dan hanya dia yg tahu apa itu. Membuang nafasnya pelan kemudian melihat kesamping, terlihat sang adik sudah tertidur pulas dengan memeluk tangannya, persis seperti anak kecil.


"Bocil." gumamnya pelan, diapun ikut menyusul sang adik tidur.


....

__ADS_1


3 hari kemudian


"Buruan mandi sana." suruh Axella sembari melihat Emma yang masih memakan sarapannya.


"Umm-um."


"Pelan-pelan." peringat Axella melihat sang adik yang membalas ucapannya dengan mulut penuh.


Setelah makanan yg dimulutnya habis, Emma segera menenggak susu digelas cepat, tak lupa dia mengambil satu potong sandwich isi daging dan berlari terburu menuju kamarnya.


Sehari setelah kejadian dikantin sekolah, dirinya telah mendaftarkan diri disekolah yg sama dengan Emma.


Untuk sang adik dirinya memang sudah meminta izin 3 hari kepada pihak sekolah yang sebenarnya bukan atas kemauan Emma sendiri.


Sang kakak beralasan agar dia banyak beristirahat dirumah, walau mungkin sepertinya ada hal lain yang sedang dia kerjakan.


Ting (bunyi pesan masuk)


Sembari menunggu sang adik dirinya tersenyum misterius melihat isi dalam ponsel miliknya.


"Gotcha!" serunya pelan.


Tanpa Axella sadari Emma baru saja turun dari tangga dengan seragam lengkap.


"Kenapa nih kak senyum-senyum sendiri?" goda Emma melirik Axella dengan mata curiga.


"Jangan-jangan lagi jatuh cinta nih." Emma berlagak ingin mengintip isi hp sang kakak.


"Heh bocil mau tau aja urusan orang gede." balas Axella santai.


"Pelit pasti psikopett." celetuk Emma tanpa memikirkan kata-katanya barusan.


Axella yg mendengar hal itu hanya tersenyum tipis menatap Emma. Jangan lupakan wajah datar dengan mata tajam Axella yang seakan mengintimidas. Emma yg ditatap sang kakak seperti itu tentu saja merasa ngeri.


"Apaan sih kak seram tau."


Axella masih saja tak bergeming yang mana malah makin membuat sang adik takut.


"Kakk." rengeknya memelas.


"Udah ih ayok sekolah."


Axella yang melihat sang adik sudah ketakutan kemudian tertawa lepas.


"Hahaha."


Entah knp dirinya merasa terhibur ketika mengerjai Emma. Memang dasar gadis penakut, sedikit berbanding terbalik dengan sikap yang  ada didirinya.


"Gitu aja takut."


Emma yang merasa sudah dikerjai pun seketika dalam mode ngambek. Dia berlalu pergi meninggalkan sang kakak sendirian.


"Heh kok ditinggalin? Tunggu."


Axella pun mengejar Emma sebelum sampai kepintu mobil dan langsung memeluk sang adik. Mencoba untuk membujuk gadis kecil yang terlihat kesal seperti anak kecil.


"Maaf ya? Tadi kakak cuma becanda."


"Iya." balasnya masih sedikit kesal.


"Gak ikhlas nih? Yauda mending balik aja."


Sebelum Axella sempat beranjak, Emma langsung memeluk erat dirinya.


"GAK BOLEH!!"


"Udah janji harus ditepatin dong." sambungnya dengan tangan masih memeluk Axella takut sang kakak akan pergi.


Axella tersenyum manis, senyum yang paling jarang dia tunjukkan.


"Kan takut banget jauh, udah cepetan masuk ntar telat lagi." ajak Axella pada Emma untuk segera memasuki mobil Ferarri F8 Tributo berwarna abu-abu miliknya. Dengan Dirinya yang mengemudi dan Emma dikursi penumpang.


....


Sebuah mobil yang terbilang mewah untuk anak seusianya. Yang tentunya hadiah pemberian dari sang Daddy diultahnya yang saat itu memasuki 17 tahun. Hanya beberapa kali dia terpantau menggunakan mobil ini. Mungkin masih dapat dihitung oleh jari.

__ADS_1


                                  ***


__ADS_2