
Kring.. kring..
Terdengar bunyi bel pertanda jam masuk.
"Gue duluan." ucap Axella yang diangguki oleh mereka.
Axella lantas membawa piring dan gelas makannya ketempat cucian piring kantin meninggalkan mereka disana. Tak lupa dirinya ikut membersihkan tangan dan diikuti oleh Adriel dibelakang.
"Lo mau ngapain lagi?" tanyanya ketus.
"Yah kayak Lo, nyuci tangan. Emang lo pikir mau ngapain?" balas Adriel tak kalah ketus mencoba mengikuti nada bicara Axella.
"Yauda minggir. Gue udah siap." sentaknya pada dada Adriel.
"Tunggu." Adriel mengambil tangan Axella karena terlihat plesternya sudah sedikit terbuka.
"Gue bilang lepas." Adriel mengusap bekas luka axella pelan, yang terlihat sedikit membaik.
"Liat nih.. plester luka tuh harus terus diganti. Kalau gak, ya sama aja jadi sarang kuman atau penyakit." Adriel mengeluarkan plester baru dari kantung celananya dan memakaikan nya pada Axella.
Entah berapa banyak plester yang dia simpan disakunya. Tak lupa dia membuang plester lama tadi.
"Jadi UKS berjalan Lo udah cocok sih." Axella membalas perkataan Adriel.
"Btw, makasih."
"Kalau buat Lo gue mau-mau aja. Kalau yg lain ogah." Axella tertawa singkat mendengar penuturan Adriel.
Adriel yang melihat Axella tertawa ikut tersenyum. Cantik, gadis didepannya sangat cantik ketika melepas tawanya. Walau kadang terlihat sedikit cuek untuk orang yang tidak berkepentingan. Tapi nyatanya Axella tidak perduli dengan itu.
"Aneh. Ngobatin orang aja pilih-pilih." Axella menggelengkan kepalanya heran.
"Kalau buat Lo kenapa enggak." Adriel menatap dalam Axella.
"Ini firasat gue atau gue yg salah liat, gue kayaknya pernah ketemu nih cewe tapi dimana?" batin Adriel masih memandang gadis didepannya.
Axella balas menatap lekat Adriel hingga mendekat beberapa inci ke wajah laki-laki itu. Yang tentu saja membuat jantung Adriel berdetak tak karuan. Sedikit demi sedikit menepis jarak diantara mereka, membuat jantung Adriel semakin tidak tenang saja, namun-
"Terserah." Axella berucap sambil berlalu pergi.
"****." Adriel tersadar, entah apa yang sedang dipikirkan lelaki ini.
"Tunggu! Gue mau ngomong."
Axella memutar tubuhnya. "what?"
"Lo gak nyari pelaku yg kemaren udah nyelakain adek Lo?"
"Atau biar gue bantu, gue bakal-"
"Gue tau waktu yang tepat buat ngasih pelajaran, dan urusan bantuan? Gue rasa gue gak butuh."
Benci! Axella paling benci ketika kemampuannya dipertanyakan. Dia Axella, dia mampu berdiri sendiri dengan kakinya, dia mampu mencari pelaku ataupun bukti yang berkaitan bahkan sampai keakar-akarnya.
Untuk saat ini kenapa Axella mengulur waktunya? Hanya dia yang tahu. Bukan karena dia tidak peduli dengan Emma, jangan pernah meragukan kasih sayangnya terhadap sang adik.
Dia hanya sedang menyiapkan bom waktu yang akan meledak dengan keras. Axella lantas meninggalkan Adriel yang mematung ditempatnya.
"Gue rasa dia salah pengertian sama perkataan gue." batin Adriel.
"Walaupun Lo gak butuh, gue tetap bakal bantuin." teriak Adriel keras.
Entah kenapa dirinya selalu ingin berhubungan dengan segala hal yang berkaitan tentang gadis itu. Terlihat memaksa namun itulah yang dirasakannya. Untuk segala hal kedepannya siapa yang akan tau.
....
Jadwal masuk SMA Dharma Jaya hanyalah hari Senin sampai Jumat. Membuat para murid bisa bersantai pada hari Sabtu dan Minggu. Ditempat tidur terlihat Emma tengah asyik memainkan ponsel miliknya.
Tingg (bunyi pesan masuk)
(Ingat kan waktu Rian ngasih nomornya ke Emma? Kalau lupa bisa discrool keatas hehe.)
Kak Rian🤫
Lagi ngapain?
Anda
Rebahan, kalau Lo kak?
Kak Rian🤫
Samaan dong. Jadi gimana weekend-nya?
__ADS_1
Anda
Lumayan deh kak, bisa rehat bentar dari tugas sekolah.
Kak Rian🤫
Emang tugas Lo knp? Kalau ada yg susah bilang aja ntar gue bantu.
Anda
Beneran? Ntar gue kasih tau deh.
Terlihat Rian sedang mengetik..
Kak Rian🤫
Iya, gue bantu kok.
Kalau buat Lo gue bisa-bisain.
Anda
Sipp kak, btw gue off dulu mau bantuin kak Xella buat masak, bye.
Kak Ran🤫
Bye E-Bo.
...
Sebenernya yang membantu jika mengerjakan tugas miliknya ialah sang kakak, namun berhubung Rian menawarkan bantuan mengapa ditolak?
Sementara didapur Axella sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Tidak mewah memang namun lumayan untuk mengganjal perut.
Dirinya berkutat untuk membuat nasi goreng atas permintaan Emma sendiri, walaupun bisa saja dia meminta art yang membuatnya.
"Kak perlu dibantuin gak?" terdengar suara Emma sembari turun dari tangga atas.
"Udah mau siap, baru nongol."
"Hehe tadi abis main hp kak."
"Hati-hati." sementara Axella ikut meletakkan 2 piring berisi nasi goreng panas buatannya.
"Aman." Emma duduk dan mulai memakan nasi goreng buatan Axella.
"Gimana enak?" Axella bertanya sambil memakan nasgor buatannya.
"Se-la-lu soalnya udah lama gak dibikin sama kak Cece." jawab Emma sambil memakan nasgor miliknya lahap.
Axella tersenyum melihat kelakuan sang adik, menyesal karena sempat meninggalkannya beberapa bulan dirumah yang cukup besar ini seorang diri, tanpa dirinya ataupun sang Daddy.
Sekarang kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan. Bagaimana jika sang Daddy memintanya untuk kembali pulang? Axella hanya meminta izin sang Daddy untuk berlibur beberapa Minggu disini, tiba-tiba terlintas dipikirannya. Akankah dia meninggalkan Emma sendiri lagi?
Tidak.
Jawabannya tidak. Axella sudah sangat rindu kepadanya, dia tidak akan tega seperti sang Daddy. Belum lagi mengetahui beberapa kejadian yang sudah menimpa sang adik.
Dirinya sudah bertekad dan dia tidak akan melanggar janjinya kepada Emma. Bukankah lagipula disana sudah ada sang Daddy yang dapat mengontrol perusahan lalu untuk apa dia kembali?
"Kak mikiran apa?" Emma bertanya karena melihat wajah sang kakak yg terlihat sedikit kusut.
Tersadar Axella langsung mengubah mimik wajahnya menjadi lebih santai. "Gapapa, makan lagi yang banyak biar cepat gede."
Emma pun menggangguk menyetujui.
"Oh iya Em."
"Kenapa kak?"
"Ntar malem kakak mau keluar bentar, kalau ada sesuatu telpon atau langsung panggil Pak Damar."
(FYI: Pak Damar merupakan salah satu kepala keamanan dirumah itu.)
"Tapi mau kemana kak? Emang gak boleh ikut?" Emma bertanya sedikit murung.
"Kakak perginya ntar malam, gabaik buat kamu. Lagian bentar doang kok, gpp ya?" Axella berucap pelan berusaha meyakinkan sang adik.
"Ya." ucap Emma malas.
Melihat sang adik yang tak bersemangat membuat Axella menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Yauda kakak janji kapan-kapan bawa Emma naik motor keluar, tapi gak sekarang. Mau ya?" Axella berusaha membujuk.
Setelah berpikir panjang Emma pun menyetujuinya.
"Kapan kak?" pekik Emma heboh karena dirinya sangat jarang keluar rumah.
Selain tidak tahu jalan daerah kota disini, dia juga tidak tahu cara mengendarai motor ataupun mobil. Lain halnya dengan Axella dia sudah dituntut sang Daddy belajar sejak usia belasan, tentunya dengan menggunakan guru private. Tak lupa juga sang Daddy memberinya bekal untuk belajar ilmu beladiri, walau sebenarnya adalah kemauannya sendiri.
"Secepat mungkin, kalau urusan kakak udah selesai." Axella kemudian mengambil piring kotor bekas makan mereka dan mencucinya diikuti sang adik dibelakang.
"Yess! Gak sabar jalan-jalan."
Emma berucap dengan mata berbinar. Sementara Axella hanya menggelengkan kepala. Merekapun melanjutkan segala aktivitas hingga matahari terbenam.
....
Malam harinya
Didalam kamar, Axella terlihat tengah menatap pantulan dirinya dicermin. Setelah selesai lantas dirinya beranjak dari tempatnya menuju kamar sang adik.
Kriett.. (bunyi pintu dibuka)
"Udah tidur ternyata." Axella menampilkan senyum hangatnya dan merapikan anak rambut Emma.
"Kakak pergi bentar. Good night bocil." ucapnya sambil mencium kening sang adik.
"Sweet dreams little baby."
Dirinya kemudian beranjak dan menutup rapat pintu kamar Emma. Jam didinding saat ini tengah menunjukkan pukul 11.00 malam.
Axella kemudian keluar dari rumah dan mengunci semuanya mengantisipasi hal yang tidak-tidak, tak lupa dia menyiapkan alarm emergency.
Jika saat kesekolah dia menggunakan mobil tidak untuk saat ini. Yang mana dia menggunakan motor kesayangannya yaitu CBR 250 RR berwarna hitam pekat seperti menyatu dengan malam.
....
Axella memacu cepat motornya, menyalip para pengemudi mobil dan motor yang lain. Jangan lupakan helm full face yang menghiasi kepalanya. Sudah lama dirinya tak merasa bebas seperti malam ini. Banyak lontaran kasar dari orang-orang terdengar ditelinga nya tapi Axella hanya bersikap cuek.
Mungkin merasa terganggu dengan aksi kebut-kebutan yang dilakukan oleh gadis pemotor tadi. Tenang saja, mungkin dia masih mematuhi lalu lintas.
Ckittttt.
"****!"
Axella mengerem mendadak saat lampu merah menyala. Membuang nafasnya kasar, kemudian membuka sedikit kaca helm full face miliknya.
"Hampir aja gue mokad."
Sekitar satu menitan lebih lampu hijaupun menyala, tanpa berlama Axella langsung menancapkan gasnya lagi. Setelah sampai ditempat yang yang memakan waktu setengah jam itu, Axella pun membuka helmnya.
Namun saat ingin beranjak dari motornya dia mendengar suara dibelakangnya.
Bugh.. dukk..
Laki-laki itu lantas membuka penutup wajahnya dan mengeluarkan suara.
"Ampun Xell anjir Lo! Ini gue Andrew." teriak orang tadi panik bagaimana tidak Axella tengah bersiap untuk memijaknya.
Axella menunjukkan smirk andalan dan bersiap untuk melayangkan kaki nya. Namun terdengar suara seseorang yang menghentikannya.
"Tahan Xell. Udah ketakutan tuh anak orang." terdengar suara laki-laki dari samping Axella.
"Pftt ahaha."
Axella tertawa sekencang mungkin melihat wajah Andrew yang memucat.
"Haha maap Drew, tadi ngetes." Axella kemudian menarik tangan Andrew dan membantunya berdiri.
"Tai Lo males gue. Kalau gue jantungan gimana?" Andrew terlihat tak terima dengan kata-kata Axella.
"Iya-iya maap, sini gue obatin." Axella mengambil obat merah dan kapas dari jok motornya.
"Ya, tapikan giman-"
"Udah bacot diem."
Axella menuangkan beberapa tetes obat merah kedalam kapas, kemudian mengusapkannya kebibir Andrew yang terlihat sedikit berdarah. Sementara laki-laki satu lagi hanya menyaksikan sambil bersender dimotor Axella.
"Makanya tadi lo ngapain cobak?"
"Tadi aduh.. pelan Xell, gue tadi cuma iseng doang. Niat mau bikin Lo ketakutan malah gue yang jadi samsak." adunya.
"Makanya lain kali gausa macem-macem bandit." celetuk laki-laki tadi merasa lengah dengan dua orang didepannya.
"Ajg Lo Jack, temen lagi sakit juga." namun laki-laki yang dipanggil Jack itu hanya cuek tak peduli.
__ADS_1
"Udah selesai kan? Yauda sini." ajak Jack sambil menarik tangan Axella kedalam.
"Kan woii tungguin napa, cemburuan amat." Andrew ikut menyusul mereka kedalam rumah lantai dua itu dengan mulut komat-kamit.