
Semua mata memandang kearah pintu kantin. Terlihat dari sana kelima inti BlackSky masuk dan mulai berjalan kesalah satu meja. Bohong jika para murid disana tidak terpesona dengan mereka
Bagaimana tidak kelima orang itu menjadi perhatian disana, selain rupa yang tampan dan wajah cantik, tidak dapat dipungkiri pesona dan aura mereka dapat menyamai Aexentro. Mereka bertanya-tanya ada hubungan apa mereka semua dengan Axella? Gadis cantik yang akhir-akhir ini membuat heboh disekolah itu.
"Liatnya bisa biasa aja gak?" sentak Zoya.
Gadis dengan cat kuku hitam itu tampak risih dengan tatapan para murid disana. Mendengar hal itu semua langsung mengedarkan arah pandang kearah lain, dan melanjutkan makan mereka yang sempat terhenti.
"Haha langsung kalang kabut." Rivaldo tertawa renyah sebentar.
Sementara Axella, Sean dan Jack hanya menampilkan wajah datar.
"Lo gak makan?" tanya Jack pada Axella.
"Gue? Pengen sih."
"Yauda mau apa? Biar gue pesen."
Axella tampak berpikir sejenak.
"Gue nasgor, minumnya air biasa aja. Yang lain?" Axella memandang mereka berempat.
"Samain aja." Sean mengeluarkan suara.
"Ini doang?" Mereka berempat pun menganggukkan kepala.
"Do bantuin gue." ajak Jack.
"Skuy." Jack dan Rivaldo pun pergi memesan makanan, dan kembali beberapa menit kemudian.
"Oh iya Xell Lo pengen ngomongin apaan tadi?" Zoya bertanya sambil menyuap sesendok nasi goreng kedalam mulutnya.
Axella tertegun sebentar. "Gue pen.."
"Kakk!"
Axella mendapati sebuah suara yang familiar, kemudian dia memalingkan wajah kesamping. "Emma."
"Kenapa?" Tanya Axella melihat Emma duduk dikirinya, Sean dikanan dan Jack didepannya. Dengan Rivaldo, Zoya dikanan-kiri Jack. Kebayang ga sih?
"Aaaa.." Axella yang mengerti langsung menyendok nasi goreng miliknya.
"Um.. enak kak."
"Uhuk-uhukk." Emma terbatuk sangking lahapnya memakan nasgor milik sang kakak. Axella langsung menyodorkan gelas miliknya cepat.
"Pelan-pelan."
Sementara mereka berempat tampak terheran, siapa gadis yang terlihat dekat dengan Axella? Namun mereka memutuskan akan bertanya nanti.
"Kemana dua kurcaci yang lain?"
"Lagi diperpus kak, ngembaliin buku. Ntar nyusul kesini."
"Makan dulu. Kalau kurang bilang, biar dipesenin lagi." Axella mengikat rambut Emma kebelakang dengan ikat rambut miliknya.
Sean yang melihat makan Axella terganggu berniat ingin menegur bocah ingusan barusan. Tapi dia mengurungkan niatnya, terutama saat melihat Axella tidak keberatan sedikitpun.
Padahal Axella paling benci jika ada yang mengganggu makan atau mengganggu ketenangannya.
"Lo gak makan? Nih gue baru makan sesendok." Sean menyodorkan nasi goreng miliknya, ragu Axella akan memakan atau tidak.
Axella yang memang sudah sangat lapar langsung mengambilnya cepat. "Serius? Ntar Lo nyesel?"
"Enggak. Cepetan makan." Sean juga meletakkan gelas miliknya yang memang belum disentuhnya.
Axella pun memakannya dengan lahap. Tak menghiraukan pandangan mereka dengan mulut terbuka.
"Berapa lama gak makan Lo Xell, ck ck." Rivaldo terperangah melihat Axella memasukkan porsi besar nasi goreng kemulutnya.
"Lo gak makan Sean?" Rivaldo melirik kearah Sean, yang sedang menatap Axella dengan senyum tipis.
"Gue udah kenyang liat dia." Sean terlihat merapikan beberapa helai anak rambut Axella.
Sesekali Sean juga menoel pipi gembul Axella yang terisi makanan. Sementara Jack hanya menampilkan raut masamnya. Tak lama kemudian Saras dan Jihan datang kemeja mereka.
"OMG ganteng-ganteng bangettt anjir!" Jihan memekik heboh, membuat beberapa murid melihat kearahnya.
"Eh, Sorry guyss" Jihan tampak malu sendiri.
"Mulai nih kambuh centilnya." Saras duduk disamping Emma diikuti Jihan.
"Bolehkan kak?" tanya Saras pada Axella dan diangguki.
__ADS_1
Mereka duduk dikursi kantin yang lumayan panjang dan besar, bisa tuk menampung beberapa orang.
"Xell tadi lo pengen ngomong apa?" Zoya masih bertanya perihal yang tadi.
"Oh iya hampir kelupaan."
"Lo semua pasti kepo kan sama nih anak?" Axella melirik kearah Emma.
Mereka berempat mengganggukkan kepala. Axella lantas menatap mereka satu persatu. "Kenalin nih adek gue, Emma."
"Sejak kapan?" Sean.
"Halo cantik." Rivaldo.
"Haa? Serius Sel? Kapan Brojol?" Zoya.
"Oh." Jack.
"Stop! Biar gue ceritain." Axella pun menceritakan mengenai Emma dan alasannya tiba-tiba bersekolah disini.
"Jadi gitu."
"Mereka temennya." tunjuknya pada Saras dan Jihan.
"Jihan kak salam kenal." Jihan memberikan senyum manisnya.
"Gue Saras, salken kak." Saras memberikan senyum hangatnya.
Merekapun berkenalan dan berbincang lebih lama sambil diselingi beberapa candaan. Semua yang mereka lakukan dimeja itu dilihat oleh inti Aexentro, terutama sang ketua Adriel. Dirinya tidak menyukai laki-laki yang baru masuk dikelasnya itu.
Geram! Itulah yang sedang dia rasakan, terutama saat melihat perlakuan Sean terhadap Axella. Namun dia bukan siapa-siapa, untuk apa dia memikirkan ini lebih. Dia juga tidak bisa melarang bukan?
Walau sudah berapa kali dia memaksa diri untuk tidak peduli dengan mereka terutama gadis itu, tetap saja dia tidak akan mampu untuk membohongi hati nya.
"****!" sebelum pergi Adriel menyentak kasar ujung mejanya.
"Lah ngapa tuh anak, ganggu tidur aja." Natan tentu saja terkejut, tadi dirinya sedang asyik tiduran dengan kepala diatas meja. Sementara Dean hanya mengghendikkan bahunya.
"Tumben." Malvin ikut menimpali. Tak biasanya Adriel akan pergi tanpa alasan seperti itu.
Merekapun hanya melihat kepergian Adriel dengan tanda tanya dibenak masing-masing. Sementara dimeja mereka, Axella sudah selesai menceritakan tentang sang adik dan apa yang membuat dia bersekolah disini.
"Gak bisa didiamin sih." Rivaldo bersuara.
"Gue bakal jaga kalian berdua." Sean memegang tangan Axella.
"Gue juga." Jack ikut bersuara.
Axella tersenyum tipis. "Thanks buat Lo semua, terharu gue."
"Gue baru dapat beberapa info dan bukti. Nanti kita satuin, sekarang kita nyari yang kurangnya."
"Ok."
"Sipp."
"Aman."
"Hm."
Setelah sesi makan selesai, mereka pergi menuju kelas masing-masing. Tapi tidak dengan Axella, dirinya pergi kearah toilet perempuan. Mengambil salah satu kursi lapuk disana, Axella menaiki kursi itu dan memanjat disela lubang dinding, ingin melihat cctv itu dari dekat.
Dari dekat dia melihat seperti ada bungkusan tipis yang menutupi cctv itu. Bodoh! Kenapa dia bisa melewati bukti ini. Saat tangannya berusaha ingin menggapai cctv itu, kakinya kehilangan pijakan dan.
Happ..
Sseorang menangkapnya dan Axella selamat tidak cedera sedikitpun. Namun hal itu membuat wajah mereka berdekatan, sangat berdekatan hanya menyisakan 1 cm saja, tentunya dengan deru nafas yang tidak teratur.
Axella mengalungkan tangannya keleher laki-laki itu, sementara laki-laki tadi memegang erat pinggangnya berusaha menahan.
Axella masih syok dengan barusan yang ia alami, sementara laki-laki yang menggendongnya saat ini, tengah merasakan perasaan campur aduk dengan jantung yang berdetak kencang.
Tersadar, Axella langsung turun.
"Lo gapapa?"
"Gapapa, thanks."
Axella berniat untuk pergi namun tangannya ditahan lelaki ini.
"Lo tadi ngapain? Kalau gak ada gue gimana?"
"Bukan urusan Lo." Axella ingin pergi namun laki-laki itu masih enggan melepas cekalan ditangannya.
__ADS_1
"Lo tuli? Gue bilang lepas!" Axella menaikkan nadanya. Menatap malas kearah laki-laki itu.
Melihat lelaki didepannya yang tak bergeming sedikitpun, Axella berniat untuk menendangnya, namun lelaki itu lebih cekatan dan mendorong nya kedinding.
Dia menahan Axella dengan posisi tangan yang memegang pahanya, dan terjadilah posisi ambigu bagi mereka yang melihatnya sekilas.
Axella yang menyadari posisi mereka agak terlihat intim, berusaha untuk menurunkan pahanya.
"Lepas ajg! Cabul!" Axella masih meronta. Bagaimana tidak, tangan kiri dan paha kanannya ditahan lelaki ini.
Laki-laki itu masih diam membuat emosi Axella sampai keubun-ubun. "ADRIEL ANJINGG LEPAS BANGSATT!!!"
Percayalah, saat ini Axella tengah berusaha keras untuk melepaskan diri.
"Lo ada hubungan apa sama cowok tadi?" Bukannya melepas, Adriel malah bertanya balik.
"Bukan urusan Lo! Gue bilang lepas!"
"Urusan Lo urusan gue."
"**** you asholle!!" Axella menggeram menahan amarahnya, sial! Gerakannya dikunci.
"Shut up girl." Adriel malah mendekatkan wajahnya, membuat Axella memalingkan wajahnya kesamping cepat.
"Stres! Lepas mesum! Anjing! Begok! Gue aduin Lo ke BK." Adriel masih tak memperdulikan umpatan-umpatan dari gadis didepannya.
"Kalau Lo macem-macem, gue bersumpah bakal bunuh lo Ariel." Axella memejamkan matanya merasakan deru nafas Adriel yang kian mendekat.
Axella meraba pinggangnya dengan menggunakan tangan kanannya berusaha mencari sesuatu disana, namun sayang pergerakan banyak tidak dapat dia lakukan.
Terlebih ketika mata Adriel terus saja menatap pergerakan kecilnya. "Naughty."
Ntah bagaimana, saat ini kedua tangan Axella dikunci keatas kepalanya. Membuat gadis itu menampilkan raut wajah penuh amarah.
"Gue gak main-main, sedikit aja Lo nyentuh gue bakal-"
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Terlihat seorang lelaki berbadan besar memukul Adriel dengan membabi buta. Sementara Axella saat ini sudah terlepas dengan nafas tak teratur.
"Lo apain dia keparat! Sialan!" Sean memberikan bogeman mentah kepipi kiri dan kanan Adriel, membuat wajah tampan lelaki itu kini penuh dengan luka lebam.
Bukan hanya itu, dia juga memijak dada Adriel berkali-kali membuat sang empu memuntahkan sedikit darah.
"Cih, Lo cemburu?" Adriel menanggapinya santai. Tak mau kalah dia ikut melawan dan memberi bogeman mentah yang mengenai sudut bibir Sean.
Mereka saling adu pukulan berusaha untuk menjatuhkan, tidak ada yang mau kalah. Hingga para inti Aexentro datang mencari Adriel, disusul inti Blacksky yang mencari Axella.
"Ada apaan nih?" Malvin tak percaya dengan apa yang di lihat.
"Pisahin goblok." Natan berniat memisahkan mereka. Namun malah mendapat satu pukulan ntah dari siapa. "Ajg, sakit babi."
"Lo gapapa?" Axella menggangguk.
"Cabul! Biar aja mati sekalian." Axella menunjuk kearah Adriel.
Mereka yang mendengar itu seketika bertanya-tanya. Apa yang baru saja terjadi tadi hingga bisa memicu dua algojo saling baku hantam seperti ini.
Merasa perkelahian duel satu lawan satu ini tak akan berakhir, Dean dan Carlos berusaha menahan Adriel. Sementara Jack dan Rivaldo menahan tubuh besar Sean.
"Udah Lo berdua kenapa sih? Kayak anak kecil tau gak. "Felix mengeluarkan suara.
"Kalau mau duel dilapangan sono, jangan disekolah gini! Syukur aja yang liat kita-kita." Zoya menatap lengah kearah dua lelaki itu.
"Lo berdua kok bisa sampe begini?" Rian ikut bertanya.
"Tanyak sama temen bejat Lo!" Sean berteriak menunjuk Adriel.
"Gue gak ngelakuin apa-apa ajg!" Adriel berteriak tak mau kalah.
"Bullshit!" Kalau gak percaya tanyain kedia."
"Kenapa Xell? Kasih tau ke kita." Malvin mendekat berusaha membujuk.
"Crita Xell."
Gimana suka ga? lanjut?
***
__ADS_1