
Tanpa mereka sadari, dari awal kedatangan Emma ada yg mengikuti dan mendengar pembicaraan mereka diam-diam. Dia slalu saja ada dimana Rian berada. Namun satu yang perlu kita ketahui sepertinya dia tidak menyukai kedekatan antara Rian dan Emma. Setelah Rian pergi diapun ikut menghilang dalam diam.
"Gue bakal kasih pelajaran sama lo!' batinnya.
Akhirnya Emma sampai didepan kelasnya sendiri. Sepertinya hari ini dia akan sendirian mengingat satu temannya sedang pergi keluar negeri dan satu lagi sakit. Rian sudah sejak tadi pergi namun Emma masih saja tersenyum sendiri, dasar ABG yang sedang dimabuk asmara!
Pelajaran hari itupun dimulai dan Bel pulang pun berbunyi, yang berarti sudah waktunya para murid untuk pulang. Namun tidak untuk Emma, dirinya susah berencana sejak pagi tadi untuk menjenguk teman sekaligus sahabatnya itu.
Sebelum menuju rumah Saras dia meminta supirnya agar terlebih dahulu mampir ke swalayan terdekat untuk membeli buah-buahan.
"Kira-kira dia pengen buah yang mana ya?" Emma saat ini tengah memilah buah diswalayan.
Gadis itu mengambil buah apel, pear, anggur dan semangka. Tidak terlalu banyak agar tidak terbuang nantinya. Emma paling tidak suka jika melihat makanan yang tersisa karena akan kelihatan mubazir.
"Ini, ini, sama ini aja deh. Kayaknya udah cukup." gumam Emma seraya mengantarkan buah-buah tadi kearah kasir.
"Totalnya sekitar 179.800,00 rupiah kak."
"Makasih kak, 200 nya boleh didonasiin kak?"
"Boleh mbak."
"Terimakasih kak, smoga datang kembali." sang kasir wanita memperlihatkan senyum lebarnya.
....
Bandung
Dilain kota atau lebih tepatnya di kota Bandung. Terlihat seorang gadis yang sedang meneliti berkas-berkas mengenai perusahaan milik orangtuanya. Bukan tanpa sebab dirinya melakukan ini, dia telah dipersiapkan oleh sang Daddy untuk menjadi penerus perusahaan dimasa mendatang.
Tring.. tring..
"Hallo?"
".…............."
"Mohon maaf Tuan Dominika sedang diluar negeri."
"................."
"Oh ya? Saya putrinya. Nanti akan saya sampaikan"
".................."
"Baik terimakasih."
Gadis itu menutup gagang telepon dengan helaan nafas berat. Untuk beberapa bulan ini dia diberikan waktu untuk mengontrol perusahaan, yang tentunya dengan pengawasan dari sang Daddy sendiri. Untuk memegang kuasa sepenuhnya, sang Daddy belum melakukannya.
Dirinya takut akan masa remaja putri tertuanya yg akan terganggu, dia hanya ingin mempersiapkan sedikit saja. Mungkin bila orang awam seperti kita akan mengatakan bahwa ini terlihat jahat namun begitulah adanya.
Kita harus mampu memegang kendali atas perusahaan, karena akan ada banyak lawan dari luar ataupun dari dalam yang slalu saja ingin menjatuhkan kita.
Untuk tanggung jawab nanti pasti ada masa yang tepat, begitulah sang Daddy tak rela jika putrinya harus merasakan beban diusia yg masih terbilang sangat muda. Namun kewajiban anak tertua tetap harus dijalankan, untuk memegang perusahan secara mandiri suatu hari nanti.
"Akhirnya selesai juga lembaran terakhir." gadis tadi merenggangkan otot-otot badannya.
Dirinya harus rela duduk berjam-jam belum lagi untuk membaca, mengoreksi, meneliti, mengarsis, dan menghafal dokumen penting lainnya.
"Sibocil lagi ngapain ya? Kangen gue."
Gadis tadi mengambil ponsel miliknya. Sesaat sebelum menekan tombol call dia tiba-tiba teringat sesuatu. Terbesit sebuah ide yang menarik dikepalanya.
"Kenapa gak gue datengin aja ya? Lagian juga urusan disini udah selesai."
"Udah lama juga gak mantau anak-anak. Gimana ya kabar mereka sekarang?"
Lelah memikirkan banyak hal, gadis itupun beranjak menuju tempat tidur empuk miliknya. Belum lagi mengenai perusahaan dan tentunya dia harus merayu sang Daddy untuk mengizinkannya pergi.
Menurutnya dia memang harus pergi. Terlebih melihat semua pekerjaan yang diberikan telah siap. Jikalaupun tak diizinkan maka mungkin di akan kabur secara diam-diam.
Memang gadis keras kepala.
Gadis itu berucap pelan. "Bocil and BS7 i'm coming." sambungnya sambil tersenyum tajam.
__ADS_1
Diapun segera tidur lebih awal untuk mengisi tenaga, dia berinisiatif untuk mendatangi adik tersayangnya dikota Jakarta. Dia tak betah berlama-lama disini tanpa sang adik, belum lagi memantau pergerakan geng yang dia dirikan disana.
....
Rumah Saras
Emma sejak tadi sudah sampai dirumah milik Saras. "Nih dimakan, udah gue potongin." suruh Emma sambil membawa buah apel yang baru saja dia kupas.
"Thanks, maaf ngerepotin." Saras mengambil sambil memakan buah tadi.
"Santai aja kali kayak sama siapa aja. Jadi gimana? Benerkan kata gue, sakit kan lo? Mana udah kayak orang sekarat lagi." canda Emma yang dihadiahi lemparan bantal oleh Saras.
"Mana gue tau! Badan gue nih anjir baperan amat males lah."
"Gue becanda doang, jadi gimana besok lo masuk sekolah?
"Liat besok Em, soalnya nyokap gue kayaknya gak ngizinin. Tadi aja pas diantar tuh kakel udah keluar deh cerewetnya, jadi malu sendiri gue." Saras menatap Emma sebentar.
"Tapi ya mau gimana, emang gue nyatanya lagi kayak gini kan? Mana panas batt lagi." sambungnya dengan lesu.
"Makanya lain kali kalau gak sanggup begadang gausa dipaksa, lo mah langsung down." Emma mengingatkan pelan.
"Iya-iya cerewet." Saras menanggapi tak semangat.
"Btw tadi gimana?"
"Apanya?" tanya balik Saras.
"Lo kan diantar sama kak Malvin. Menurut lo dia gimana? Mana dia gercep pula tadi. Sabilah Sar." Emma menggoyangkam kedua alisnya menggoda.
"Gimana apanya si Em?" Saras terlihat salah tingkah.
"Cie-ciee ada yang kasmaran." goda Emma.
"Enggak! Lagian cuma nganterin doang gak ada maksud lebih." cicit Saras.
"Sekarang sih belum, siapa tau besok jadi."
"Terserah lo aja deh."
"Tapi gausa kasih tau Jihan deh, ntar gue diomelin mulu sama dia. Belum lagi ntar dia jadi kepikiran."
"Oke aman kok, yauda gue pulang dulu udah mau gelap.
"Hati-hati Em, maaf gabisa antar sampai depan."
"Udah gapapa lagian gue juga bakalan marah kalau lo gak istirahat, udah ya gue pamit gws." Emma kemudian memeluk Saras yg terbaring ditempat tidur.
"Bye."
Setibanya Emma dirumah hanya rasa sunyilah yang dia rasakan saat ini. Berharap ada sang Daddy ataupun sang kakak ada untuk menemaninya.
Namun mungkin itu cuma angan-angan semata, karena nyatanya sang Daddy bersama kakak tersayangnya harus mengurus penuh mengenai perusahaan dikota lain.
Semenjak kepergian sang Mommy. Ntah kenapa Daddy nya memiliki sikap yg lebih tegas, jauh lebih tegas, itulah yang para putrinya rasakan.
Mau tidak mau disinilah dia berada sendirian. Sementara sang kakak tengah memutar otak untuk menghadapi masalah perusahaan disana.
Huhh..
"Semangat disana kak. Semangat buat diri gue sendiri."
Membuang nafasnya kasar Emma pun bergegas untuk makan dan mandi setelahnya. Kemudian diapun beranjak untuk tidur, tanpa Emma ketahui bahwa sang kakak tengah merancang kejutan untuk dirinya.
Kira-kira kejutan apa yg akan sang kakak persiapkan untuk sang adik?
Siapa sang kakak yg dimaksud?
....
Markas Aexentro
Terdapat puluhan bahkan sampai ratusan anggota Aexentro yg saat ini tengah berkumpul memenuhi lantai atas dan bawah. Semuanya terlihat bersemangat untuk mendengarkan berita yang akan disampaikan oleh sang ketua.
__ADS_1
Dengan pakaian gelap semuanya terlihat kompak dan menawan, Seakan sudah siap untuk pergi bertempur. Namun sayang mereka hari ini dikumpulkan untuk esok hari, dimana besok merupakan hari yang mereka nantikan.
"Jadi kalian semua udah siap buat besok?!" tanya sang leader dengan suara yg keras.
"Siapp ketu!!!" jawab mereka bersamaan.
Terlihat senyum mematikan dari sang ketua-Adriel, sedikit namun mereka tahu arti senyum itu. Senyum yg mampu mengecoh lawan ataupun musuh, senyum yg memiliki sejuta makna. Senyum yang sangat jarang dia perlihatkan untuk lawan jenisnya kecuali sang Mama, yang tentunya memiliki tempat istimewa dihatinya.
"Besok-"
"Kita harus mampu menjaga nama sekolah! Ingat jangan sampai ada yang kebobolan apapun itu." terdengar suara sang wakil penuh peringatan bernama Dean Jacob Christopher.
"Siap waketuuu..!!!!" sorak-sorai dari para anggota seperti tak sabar untuk hari esok.
"Rian sama Carlos lo berdua gue posisi-in buat jaga bagian belakang sekolah, jaga-jaga mereka bawa lebih banyak anggota." yang disetujui langsung oleh mereka.
"Oke El."
"Aman."
Mengangguk sebentar Adriel melirik Felix kemudian berucap. "Kalau pertempuran diluar lo biasanya gue tempatin disayap kiri, karena ini sekolah jadi, gue mau lo ngawasin dari rooftop."
"Ntar kabarin gue lewat hp atau walkie-talkie kayak biasa."
"Siap El."
Untuk lo berdua tunjuknya pada Malvin dan Natan. "Gue mau lo bawa dan amanin setiap orang yg berada disekitaran pas kita war, jangan ada yang luka."
"Sipp."
"Ok Ketu laksanakan!"
Melirik kearah sang wakil. "Dan buat lo Dean. " Sang empu yg namanya dipanggil pun menaikkan alisnya. "Lo sama gue mimpin anak-anak didepan." Dean menganggukan kepala menyetujui.
"Dan buat."
"Ya ketuu...!!!!!!"
"Eebusettt rame bener kek toa." Natan merasa ngeri karena banyaknya suara.
"Jangan becanda mulu begok! Lo mau dicincang si El!" Rian sedikit mengumpat.
Adriel menghembuskan nafasnya kasar dan melanjutkan kalimatnya.
"Buat anggota yg lain kita harus mampu ngejaga sekolah dari apapun. Ingat jangan terlalu mengeluarkan tenaga diawal, kita gabakal tau berapa banyak mereka bawa pasukan." Adriel menjeda kata-kata nya sebentar.
"Pertahankan kesadaran buat semuanya, ingat slalu waspada!"
"Kalau bisa kita harus kompak buat jaga bagian pagar biar kerusakannya gak terlalu parah."
"Besok gue pengen dari kalian minta sama satpam kunci pagar sekolah, ada yang bisa?"
"Gue bang." jawab salah satu anggota bernama Gian.
"Besok tengah 7 kasih ke gue atau anggota inti yg lain."
"Sipp bang."
"Ingat semuanya buat hari ini kita percepat jaga stamina buat besok!"
"Sekian."
Adriel mengundurkan diri bersamaan dengan inti yang lain. Mereka kemudian menaiki motor masing-masing dan mulai mengendarai dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Terdengar banyak bunyi klakson motor yg saling bersahut-sahutan antar anggota inti dan anggota lainnya. Sepertinya hari untuk mereka bertarung sudah ditetapkan, terlebih pihak musuh sudah mengirim pesan ancaman untuk esok hari.
Bukan Aexentro namanya jika takut dengan ancaman murahan seperti itu.
Sepertinya besok akan ada banyak kejutan.
***
Gimana lanjut? Jangan lupa spam VOMEN yaa..
__ADS_1