
Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi. Namun didepan pagar sekolah, Emma terlihat seperti sedang menggerutu. Dia sudah menunggu setengah jam lebih namun jemputannya tak kunjung datang. Sampai suara klakson berbunyi mengejutkannya.
Titt titt..
Emma melihat kesamping kirinya dan terlihat Rian sedang berhenti dengan mengendarai motor berwarna hitam dengan dominasi warna hijau.
"Gak pulang?" tanyanya.
"Nunggu jemputan kak."
"Gak ikut aja? Sekolah udah mulai sepi tuh." ajak Rian seraya menaikkan kaca helmnya.
"Gausa kak ntar ngerepotin." balasnya segan, dirinya tidak mengenal laki-laki ini dengan dekat.
"Gapapa kan cuma ngantar pulang. Lagian mungkin jemputan lo lagi ada masalah, mau nunggu sampai malem?"
"Enggak gitu juga sih kak."
"Yauda samaan aja." sambungnya cepat.
Merasa tak dapat menghindar Emma pun terpaksa mengiyakan ajakan Rian, laki-laki yang tadi pagi ia tabrak. Dan benar saja ternyata mobil jemputan Emma sedang dalam kondisi yang tidak baik dan sedang diperbaiki dibengkel.
Akhirnya proses antar jemput modal sedikit paksaan ini pun berlangsung beberapa hari, sampai mobilnya sudah berfungsi dengan baik. Tanpa Emma sadari, dari awal dia dekat dengan Rian dia sudah dicap sangat buruk oleh satu siswi disana.
Jika kalian bertanya mengapa bukan Emma saja yang membawa mobilnya sekolah adalah karena Emma belum cukup umur dan belum ahli dalam mengendarai. Karena itulah ia memiliki supir pribadi yang siap sedia untuk mengantar dan menjemput.
....
Malam harinya dimarkas Aexentro
Disuatu ruangan yang lumayan cukup besar, terdapat banyak laki-laki dengan menggunakan jaket kulit hitam kontras. Dengan lambang kepala tengkorak dihiasi pedang yang menembus dan tak lupa sebagai pelengkap kedua belah sayap untuk kebebasan. Masing-masing disertai nama dibelakang jaket untuk menegaskan kepemilikan mereka.
"Kita ngapa dikumpulin?"
"Gatau gue mungkin urgent."
"Tanya pak Ketu noh biar lebih jelas."
Terdengar sahut-sahutan dari dalam sebuah rumah kosong tingkat 2 yang memang sudah tidak terpakai itu. Rumah inilah yang menjadi markas utama Aexentro yang tidak diketahui oleh siapapun.
Tempat yang aman untuk bernaung bagi mereka yang menyukai pertempuran, dan tempat mematikan bagi mereka yang mencari petaka.
"Udah ngumpul semua?" terdengar suara berat dari seorang laki-laki yang merupakan leader dari Aexentro sendiri.
"Sudah Ketu!!!" sahut mereka bersamaan tak terkecuali 6 anggota inti lainnya.
"Shitt, gue suka kekompakan." gumamnya sambil menampilkan sedikit senyuman tajam.
"Pertama-tama thanks buat yang udah datang dan baru gabung disini. Terus terang aja gue ngumpulin lo semua disini tentunya bukan tanpa alasan." Adriel menjeda sebentar.
"Gue mau ngumumin kalau geng sebelah kayaknya bakalan nyerang sekolah lagi." sambungnya pelan dengan mata meneliti setiap anggota yang berada dipenjuru ruangan itu.
"Yah gak kapok-kapok anjing, belum genap sebulan jugak kalahnya." celetuk Natan malas.
"Ngerih-ngerihh." sahut Malvin mengejek.
Lain hal dengan para inti yang terbilang cukup santai. Para anggota Aexentro yang lain terlihat sangat serius untuk mendengarkan berita yang disampaikan oleh sang ketua. Mereka berusaha fokus untuk mendengarkan setiap kata perkata.
"Jadi mereka bakalan nyerang lagi bang?" tanya salah seorang anggota junior bernama Angga.
"Kayaknya bakalan kacau lagi sekolah." ucap salah satu anggota lama bernama Reyhan.
"Yang penting bisa gelud lagi." celetuk salah satu anggota.
"Hadeuh beban ngen." celetuk Carlos tiba-tiba.
"Totdhhh." sambung yang lainnya sambil kompak tertawa.
"Ahahaha asyuu."
"Prik banget lo pada, kek idup gue."
"Gausa curhat bukan psikolog."
__ADS_1
"Bacot lo semua makk pen ayangg!!"
"Sini sama saya botitah manjalitah💅." Natan mengusap rambutnya kebelakang telinga ala boti.
"Najis ANJING."
"Ketu keluarin ada yang salah server, atau perlu kita abisin aja?" tawar Malvin.
"Untuk kepentingan bersama, waktu dan tempat dipersembahkah."
"Dipersilahkan bang." ralat salah satu anggota junior memperbaiki kata-kata Dean.
"Becanda babi! Cepu lo Asep."
"Nama gue Malvin induk babii."
Ahahaha..
Terdengar kompak gelak tawa memenuhi ruangan lantai 1 dimarkas Aexentro. Beginilah jadinya jika Natan dan Malvin dipertemukan. Selalu ada saja hal yang menjadi hiburan bagi mereka.
"Udah becandanya?" terdengar suara Adriel penuh intimidasi.
Glekk.
Seketika semua orang yang berada disana diam tak berkutik. "Hehe udah El, lanjut." jawab Natan cengengesan takut.
"Lanjut."
"Untuk beberapa hari kedepan kita harus berjaga. Persiapkan diri kalian, kita gak tau kapan musuh akan nyerang."
"Trus buat urusan keamanan sekolah gue bakal ngasih tahu guru untuk nambah jumlah keamanan. Dan untuk fasilitas yang rusak gue yg bayar." sambungnya menjelaskan.
Begitulah sikap tanggung jawab yang dimiliki dari leader Aexentro ini. Sangat siap untuk segala hal yg akan diganti ataupun dirusak.
Bahkan terkadang 6 anggota inti dan seluruh anggota yang lain ikut bahu membahu membayar kerusakan melalui tabungan atau hasil pekerjaan sampingan mereka.
"Siap ketu laksanakan."
"Ok El."
"Ingat kalau ada murid atau guru yg kedapatan disekitaran pas kita lagi war. Langsung bawa kearea teraman, sebisa mungkin jauhin mereka dari kita."
"Jangan sampai ada yang luka. Kita harus mampu mempertahankan keamanan seisi sekolah ini paham?!"
"Paham ketuu!!!" teriak mereka kompak.
"Pertemuan hari ini selesai. Yang lain bisa pulang atau lanjut, gue izin undur diri sekian." izinnya seraya meninggalkan markas Aexentro.
"Ck, Mama udah nyarin." gumamnya seraya melesat mengendarai motor miliknya yg didominasi warna hitam dengan sedikit sentuhan silver berkilau.
....
Keesokan harinya
"Woi kantin yok." ajak Jihan dengan semangat.
"Capek nih kalau lo Sar?" tanya Emma.
"Ngikut ajalah, puyeng kepala gue liat rumus." timpalnya sambil meletakkan kepala diatas meja dengan buku menutupi kepala.
"Nah makanya ayok. Biar otak lo pada jadi semangat lagi. Gue laper, ntar kalau gue koid gimana?" cerocos Jihan tak hentinya.
"Ya matilah." jawab Saras dan Emma bersamaan.
Bukan tanpa sebab mereka lesu tak bersemangat seperti ini. Pasalnya sudah 4 jam lebih mereka matpel fisika dengan rumus yang menguras tenaga, hati, dan jiwa.
Seharusnya matpel bahasa. Namun karena gurunya sedang berhalangan hadir, maka digantilah dengan fisika yang kebetulan jam pelajaran hari itu juga. Pada akhirnya mereka sepakat kekantin karena paksaan dari Jihan, dan disinilah mereka sekarang.
"Segerr batt gila gak sia-sia gue ngikutin lo." Saras berucap dengan penuh kelegaan saat meminum jus jeruk dingin diatas meja.
"Nah apa gue bilang cobak, rugi lo pada kalau gak ikut kata gue kan." ucap Jihan bangga.
"Jihan slalu benar." balas Emma sambil meminum es teh miliknya. Sementara Saras mendelik tak setuju.
__ADS_1
"Gausa jujur amat gue tau kok."
"Dih gue semprot juga lo pake nih jus." balas Saras tak mau kalah.
"Jangan dong anying, eh gue mau ngasih tau sesuatu."
"Apaan? Jangan ngadi-ngadi lo."
"Apa?"
"Serius anjir! Btw kyknya beberapa hari ini gue izin, soalnya kakak gue bakalan nikah di sydney. Lo berdua mau ikut ga?" tanya Jihan kepada Saras dan Emma.
"Lah? Seriusan luar negeri?"
"Gue pengen sih tapi gajadi deng luar negeri bukan kawasan gue, belum lagi ijin kebonyok. Gue stay disini aja kalau lo Em?"
"Gue juga gak bisa soalnya lagi ada halangan. Kapan-kapan aja ya? Kita doain smoga acaranya lancar dan ucapin selamat ya buat kakak lo. Kadonya nyusul deh." ungkap Emma.
"Gue juga ucapin, jangan lupa buat kakak lo."
"Padahal pengen kalian ikut. Tapi yauda deh gue bakal bilangin." terdengar helaan nafas dari Jihan.
"It's Okey, kapan-kapan kita yg bakalan datang keacara nikahan lo." hibur Emma sambil memainkan alisnya.
"Trus kita yang jadi Bridesmaids nya, arghh pasti gue bakalan cetar." heboh Saras membayangkan.
"Kecepatan! Gue mau liat lo berdua nikah dulu, baru gue ikutan nyusul." Jihan merasa bahwa dirinya masih terlalu muda untuk hidup didalam dunia pernikahan.
"Iya-iyaa serah deh, jadi gimana kapan berangkatnya?"
"Rencana sih besok tapi gak tau kapan balik. Soalnya hari H nya masih beberapa hari lagi. Pasti bakalan lama nih, baru juga masuk." jawabnya dengan cemberut.
"Heh gaboleh gitu jangan ngeluh mulu. Lo harusnya doain biar hari H kakak lo lancar."
"Iya nih lagian ini hari bahagia kakak lo sekali seumur hidup. Lo harus kasih yang terbaik, tunjukin lo bisa ngasih kenangan yg berkesan buat dia." Saras ikut menasehati Jihan.
Saat mendengar masukan dan nasehat dari kedua temannya. Jihan akhirnya kembali bersemangat.
"Nah! Itu dia thanks guys udah bikin gue mood lagi arghh jadi sayang." Jihan segera merangkul kedua teman yg sudah dianggapnya seperti sahabat tanpa memerdulikan tatapan dari murid-murid lain.
Setelah sesi merangkul selesai terdengar riuh dipintu masuk kantin, siapa lagi kalau bukan 7 anggota inti Aexentro. Ternyata mereka duduk disamping meja Emma dkk, terjadi keheningan untuk beberapa saat.
"Bukannya ini dede gemoi yang lo critain?" bisik Natan ketelinga Rian yg malah membuat sang empu melirik kearah Emma.
"Emang kenapa?"
"Gue mau kenalan bye."
"Anj-" belum sempat Rian menarik kerah Natan, ternyata laki-laki tadi sudah berlari lebih dulu menuju meja Emma.
"Malah didatengin macem-macem awas lo!"
Rian menggerakkan mulutnya membentuk ancaman sambil mengepalkan tangan. Namun tetap saja hal itu tak mampu membuat seorang Natan takut. Sementara Nathan malah menjulurkan lidah tak peduli tatapan teman-temannya.
"Ehem, permisi para ade manis. Boleh numpang duduk gak disini?"
Emma, Saras dan Jihan pun hanya menggerakkan kepala mereka pelan.
"Udah pada makan belom nih? Biar kakak pesenin mau apa? tanya Natan dengan senyum manis.
"Gausa kak, kita udah mesan duluan tadi." Emma mewakili teman-temannya yang lain.
"Seriusan gapapa kok, ntar kakak yg bayarin." tawar Natan yg tak dihiraukan oleh mereka.
"Anu kak.. duluan aja kita udah kenyang, barusan abis nih." Emma membalas perkataan Natan. Segan jika tidak menghiraukan kakelnya yang agak prik ini.
"Kita masih mampu kok kak." Saras tersenyum sambil menampilkan deretan giginya yg terlihat seperti senyum paksaan.
Jihan yg memang sepertinya akan slalu heboh akan Aexentro, kini hanya diam sambil menampilkan raut ilfeel menanggapi lelaki playboy yg kini duduk didepannya.
"Mimpi apa gue semalam astaga, ngapa didatengin mahluk halus." berkedok manusia begini."
                   ***
__ADS_1
Jangan lupa buat VOTE dan spam KOMEN!!!