AXELLA

AXELLA
5


__ADS_3

Esok harinya disekolah


Para inti dan anggota Aexentro lainnya sudah bersiap diposisi masing-masing.


• Dengan Felix di rooftop yang bertugas untuk mengawasi pihak musuh.


• Carlos dan Rian menjaga bagian belakang (seperti yang sudah disepakati).


• Malvin dan Natan menunggu ditempat persembunyian (setelah beres mengamankan para murid dibantu anggota yang lain, merekapun bisa masuk kedalam pertarungan untuk membantu) jika dibutuhkan.


• Sementara Adriel (Ketu) dan Dean (waketu) sudah menunggu didekat pagar bersama anggota Aexentro yang lain.


Terdengar bunyi walkie-talkie dari Felix yg terhubung langsung dengan 6 inti lainnya.


"Arah Timur laut, jarum panjang keangka 2 ada 3 org menuju gerbang tanpa motor."


"Awasin!" titah Adriel.


"Ok."


Tringg tring..


"Ya?"


"Ada belasan motor menuju sekolah masing-masing bawa penumpang."


"Shitt, bakalan seru." gumammya dengan sudut bibir yang tertarik. Diam namun menghanyutkan.


Semakin dekat dan semakin dekat. Terlihat beberapa bendera yg merupakan salah satu musuh dari Aexentro sendiri.


"RIXSTAR." geram Adriel sedikit tertantang dengan gigi yang bergemeletuk.


Sekelompok geng tadi pun turun. Mereka berjumlah puluhan orang dengan membawa senjata seperti sabit, tongkat baseball, pemukul kayu dari yg biasa hingga yg memiliki paku, pecahan kaca berukuran besar, dan ada beraneka macam senjata besi dan tajam lainnya.


"Yo! Apa kabar ketua dari Aexentro?" sapa sang ketua Rixstar yang tak lain bernama Brian Jodi Arsellar.


"Ck, gausa sokab ajg!" geramnya tertahan.


"Sekarang apa urusan lo kesini? Masih kurang kemaren nyawa anggota lo gue abisin." sambungnya santai yg mana membuat sang lawan panas.


"Gausa belagu lo menang juga karena-"


"Karena apa?!" sentak Adriel kasar.


"Karena gue make senjata? Perasaan lo yang slalu bawak tuh buktinya." Adriel mengamati beragam senjata ditangan anggota Rixstar.


"Atau karena anggota gue lebih banyak?" Perasaan war tetakhir aja anggota kita imbang."


Sang leader dari Rixstar tersebut pun hanya bisa diam sembari menahan emosi didada. Walau yg dikatakan Adriel memang benar adanya.


"Hm udah kicep." Dean bersuara.


Ahahaha..


"Belum mulai udah diulti."


"Anjir gue yang malu." ungkap Natan melalui walkie-talkie yg masih terhubung.


"2 in."


"3 in."


"4 on."


"In begok!"


Begitu pula inti yg lainnya baik Malvin, Felix, Rian dan Carlos mereka bisa mendengar jelas kata-kata Adriel yang membuat mental lawan down.


Para anggota Aexentro pun tertawa bersama yang mana makin membuat sang empu malu. Adriel maju beberapa langkah dan berbisik tepat ditelinga Brian. Pelan sangat pelan hingga hanya mereka saja yg mampu mendengar.


"Lo mau tau kenapa?" Brian masih diam menunggu kata-kata itu selesai.


"Itu karena skill lo masih jauh dibawah gue." bisik Adriel sambil tersenyum puas.


Dan brukk..


Merasa tak terima direndahkan Brian langsung mendorong dada Adriel keras. Namun Adriel mampu menyeimbangkan diri dan hanya terdorong beberapa cm, bukan masalah besar.


"Lo cari mati sama gue!" Brian mengucapkannya dengan emosi berapi-api yang terlihat jelas dari dirinya.

__ADS_1


Anggota Aexentro terlihat santai, lain halnya dengan anggota Rixstar yg ikutan panas melihat emosi sang ketua. Sementara Adriel tak terpengaruh sedikitpun.


"Kita abisin RIXSTARR..!!! Serang..!!! teriak Brian memulai pertempuran.


"As your wish asholle." gumam Adriel pelan namun mematikan.


"AEXENTROO...!!! sekarang serangg..!!!!!" teriakan lantang dari Adriel pun terdengar yg menjadi awal pergerakan para anggota Aexentro.


"URAAAAAA!!!"


"MAJU!!!!!"


Dilain tempat terlihat keheningan menyelimuti seisi sekolah, Malvin dan Natan sudah menginformasikan kepada pihak sekolah dan para murid yang lain untuk tetap didalam kelas jangan ada yang keluar.


Namun ada juga beberapa yang lebih memilih berkumpul diperpus ataupun ruang yg lain menurut mereka itu lebih aman.


Begitu pula dengan Emma awalnya dia tak ingin ambil pusing, namun melihat banyaknya murid yg berkumpul dimana-mana membuatnya yakin, sepertinya akan ada perkelahian antar sekolah.


Emma saat ini tengah berada didalam kantin sedang termenung sambil menunggu pesanannya.


"Sunyi juga gak ada mereka jadi kangen." gadis itu bergumam pelan searah menatap kedepan mejanya. Sampai tiba-tiba ada orang yang mengusik ketenangannya.


Plakk..


Terdengar bunyi tamparan yang begitu nyaring.


"Kak, kenapa gue-"


Belum siap gadis itu bicara, perkataannya langsung dipotong oleh siswi yg menamparnya barusan. "Lo ada hubungan apa sama Rian?"


Namun gadis tersebut hanya diam. Enggan untuk menjawab yang mana malah membuat siswi tadi makin menjadi. "Jawab begok!"


"Kayaknya begok nih bocah." timpal salah satu gadis lain sambil tertawa mengejek dengan nametag Liora Arisandika.


"Udah Sha.. gass aja ntar kelamaan. Apa perlu gue turun tangan?" tanya gadis lain tak sabar dengan nametag Paula Frederiko.


Siswi dengan nama Shasa itu tak tinggal diam. Dia menarik paksa rambut gadis tadi, hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Lo budeg atau apaan anjing? Belagu banget gak jawab pertanyaan gue."


"Gue perjelas, gue sama kak Rian gak ada hubungan apa-apa." balas gadis itu membela diri.


"Lo pasti bohong anjing! Udah ngaku aja *****!" semprotnya tak terima masih dengan tangan menarik rambut Emma-gadis yang saat ini dia jambak.


Shasa tak mendapat balasan. Karena memang benar adanya, Emma tidak memiliki hubungan apapun dengan laki-laki yang dipertanyakan.


Merasa pertanyaannya hanya dianggap angin lalu malah membuat siswi tadi menjadi. "Kalau lo gak mau jujur, oke."


Siswi pembuli tadi segera memberi kode kepada kedua temannya untuk memegang tangan Emma yang mulai memberontak.


"Lepas gue bilang lepass! Tolong!!"


"Diem tolol! Cewe murahan kayak Lo harus dikasih pelajaran biar gak ganjen sama cowok orang." bisiknya sinis ditelinga Emma.


Tanpa belas kasihan, Shasa menampar bolak-balik pipi kanan dan kiri gadis malang tersebut. Tanpa menghiraukan permohonan gadis itu untuk berhenti.


"Aduh.. cantik bangett nih guys pipinya. Jadi merah ya, kayak lo ngegoda cowok gue."


Emma yang diperlakukan seperti itupun hanya bisa menangis. Tidak ada satupun murid yang dapat menolongnya.


"Utututu.. nangiss juga nih bocah. Mewekk ahahaha!!" terdengar tawaan Liora teman sebangsad Sasha.


"Cengeng cuy baru digituin. Tambahin gih, kurang tuh ahaha." timpal Paula tertawa mengejek.


Shasa makin menambah perlakuan kasarnya. Dia mendorong keras hingga Emma tersungkur dari kursinya, serta memijak tangan dan bahu gadis itu berkali-kali.


Sementara para murid yang mendengar keributan itu bukannya melerai ataupun menengahi, mereka malah pergi dalam diam. Takut untuk mencari masalah dengan anak pejabat dari salah satu donatur disekolah itu.


"Kak Cece maaf aku gak bisa ngelawan mereka. Aku lemah kak."


"Kak.. to-tolong sakit."


"Daddy? Mommy?" gadis itu bergumam dalam hati.


"Gue bilang cukup." ucap Emma sedikit keras dengan menahan perih."


"Hah? Cukup lo bilang? Setelah cowo gue direbut sama cewek bangsat kayak lo? Mimpi." teriak Shasa melengking sambil menoyor kasar kepala Emma.


Merasa tak puas Shasa memasukkan banyak aneka makanan kemulut Emma, hingga memenuhi rongga mulut gadis itu.

__ADS_1


Tak tahan dengan makanan yg sudah tercampur satu dimulutnya, Emma akhirnya muntah yang mengakibatkan sepatu Shasa kotor terkena bekas muntahannya.


"Sepatu mahal gue jadi jorok tolol. Udah ah cabut, jijik gue lama-lama disini."


Sasha berkata dengan raut wajah mengejek, kemudian pergi bersama antek-anteknya. Meninggalkan seorang gadis malang yang saat ini tengah pingsan tanpa ada satupun yang menolong.


Shasa Benaya Patriko.


Gadis yang memang dikenal sering memperlakukan murid yang tidak disukainya dengan semena-mena. Dan untuk para korban pastinya akan diancam untuk bungkam dengan mengandalkan koneksi sang ayah.


Dirinya tak tahan dengan kedekatan Rian yanh makin hari makin menjadi. Merasa miliknya akan direbut orang, Shasa tak terima, dirinya lantas merencanakan ini bersama Liora dan Paula.


Ntah ini hari sial bagi Emma, atau hari keberuntungan bagi Shasa. Sepertinya hari ini opsi sedang berpihak pada Shasa. Dirinya puas akan hal yg baru saja dia lakukan, tanpa tau konsekuensi dari perbuatannya sendiri.


Sudah lama dia menunggu hari untuk membalas rasa sakit hatinya, dia telah lama mendambakan Rian salah satu inti Aexentro yang selalu menolak dirinya. Namun apakah dia siap untuk pembalasan nantinya?


Seorang gadis baru saja menepikan mobilnya ditengah jalan. "Feeling gue kenapa gak enak?"


....


Lain halnya dengan kedua geng yang masih adu pukulan, masih belum selesai sampai salah satu ada yg menyerah.


Mereka bertarung diluar pagar sekolah. Pagar sudah mereka kunci agar meminimalisir terjadinya hal yang tidak diinginkan.


Perkelahian demi perkelahian terjadi. Mereka saling adu pukul, tinju, tendangan dan saling adu gerakan beladiri lainnya. Sementara dipojok terlihat Adriel dan Brian tengah berduel satu lawan satu.


Bughh..


Bunyi pukulan yg dilayangkan oleh Adriel tepat dipipi pipi bagian kiri Brian, yang membuat bibir sang pemilik luka dan mengeluarkan sedikit darah.


"Ah bangsatt sini lo!" teriak Brian tak terima.


Dirinya masih melayangkan tinju terhadap Adriel. Sementara Dean ikut meninju beberapa inti Rixstar dengan membabi buta.


Beberapa anak buah Rixstar sudah banyak yg terkapar di tanah. Ada yg terluka terkena senjata sendiri, dan bahkan ada yg sudah tidak sadarkan diri.


"Keliatannya yang masih megang kita nih." celetuk Carlos.


"Haha yoi, kita belum turun tangan aja mereka udh banyak yang jatuh." Felix ikut menimpali.


"Bising lo berdua." celetuk Natan.


"Bacott." Carlos dan Felix mengucapkan bersama bahkan Rian ikutan.


"Babi aer."


Sementara inti yg lainnya hanya memantau dari ponsel melihat kondisi sepertinya masih aman.


Bughh bughh..


Adriel meninju beberapa anak buah Rixstar.


Brian? Ntah kemana dirinya sekarang, tiba-tiba saja dia hilang ditengah pertarungan. Sampai dia muncul dari samping Adriel dengan membawa besi panjang.


"Pengecut cih, sini maju lo." Adriel dengan kuda-kuda pertahanan miliknya.


Merasa yakin dirinya akan menang Brian tersenyum. "Rasain mati lo." Namun belum sampai besi tadi mengenai dirinya, Brian jatuh terkena tendangan Adriel.


Adriel berhasil merebut besi tadi, kemudian membuangnya asal. Adriel mengakhiri aksinya dengan memijak dada Brian berkali-kali hingga sang empu kesulitan bernafas.


"Am-ampun gue nyerah." Adriel berpura-pura tidak mendengar.


Dan bruuk..


Pijakan terakhir sangat kuat Adriel berikan, apalagi melihat Brian yg hampir tak sadarkan diri dengan wajah yang sudah babak belur dan penuh luka, belum lagi dengan pakaian yg koyak.


"You lose stupid!"


Sementara anggota Aexentro masih bertarung dengan anggota Rixstar. Saat Adriel membalikkan badannya, dari belakang muncul 3 anak buah Brian lengkap dengan senjata tajam. Brian sempat memberi kode pada mereka jikalau dirinya gagal.


Dean dan anggota yg ada disana melihatnya pun seketika panik. Mereka tidak sempat berlari kearah Adriel selain jauh, mereka masih disibukkan dengan beberapa anggota Rixstar.


"Adriel awas!!" teriak Dean sekeras mungkin berusaha memperingati, ntah Adriel mampu mendengarnya.


Para inti yg sudah mewanti-wanti hal itupun segera berlari menuju lokasi tanpa mengikuti arahan dari sang ketua. Yang lebih penting dari perintah Adriel adalah nyawa nya sendiri. Mereka saat ini tengah berpacu dengan waktu.


Brakk.. bughh!!


Bughh.. bughh.. bughh!

__ADS_1


                                   ***



__ADS_2