
Zoya memegang lengan sahabatnya itu meminta penjelasan. Mengabaikan semua pertanyaan mereka, Axella maju mendekat kearah Adriel, membuat semua mata memandang kearahnya.
"Xell Lo.." Sean menghentikan perkataannya saat melihat tangan Axella yang menyuruh nya untuk tutup mulut.
Axella berjalan makin dekat kearah Adriel. Membuat lelaki itu mengeluarkan senyum manis, namun Axella sudah sangat muak dengan senyum itu.
Brakk.. bugh.. bugh.. duk.
Axella memberikan tendangan mematikan dari bawah dagu Adriel. Yang membuat lelaki itu terlonjak kaget dan jatuh tersungkur. Gadis itu juga melayangkan banyak tendangan, tak memberi celah untuk Adriel bangkit.
"ANJING LO!! SIALAN!! PENJAHAT KELAMIN!! MESUM!!" teriak gadis itu murka.
Axella memukuli tubuh Adriel secara membabi buta. Tentunya dengan segala umpatan-umpatan manis dari bibirnya. Sementara lelaki itu hanya menerima pasrah semua perlakuan Axella, seakan tahu dia telah berbuat hal yang salah.
Mereka yang ada disana hanya menyaksikan tidak tau harus berbuat apa. Axella mengambil sebuah pisau lipat dari pinggang, kemudian mulai mendekatkan benda itu kearah nadi Adriel.
Para inti Aexentro yang melihat itu tentu saja ingin menghentikan. Namun suara lantang Jack seakan menghentikan niat mereka.
"Kalau ada yang berani ganggu dia, gue bakal bunuh cowok brengsek ini sekarang!"
Rian dan Malvin yang ingin maju seketika berhenti. Bukan hanya karena suara Jack, namun suara Dean wakil mereka.
"Biar aja, dia gak akan ngelakuin hal lebih." Dean mampu meyakinkan mereka semua.
"Tapi Dean-" Malvin terlihat tak tega melihat salah satu temannya diperlakukan seperti tadi.
"Itu hukuman atas orang yang gak sopan." Felix tidak mentolerir adanya sikap tidak senonoh kepada perempuan disekolah ini. Siapapun dia.
Rian dan Natan bahkan ikut menggangguk setuju dengan pendapat yang diutarakan Felix.
"Lagian kalau bener dia gak ngelakuin, ngapain dia terima-terima aja dihajar kayak gitu." Carlos ikutan heran.
Percakapan pun terhenti. Mereka lebih memusatkan perhatian kepada seorang gadis dengan Adriel dibawahnya. Axella makin mendekatkan pisau lipat itu kenadi Adriel, dan lihat yang dia lakukan. Dia membentuk goresan demi goresan indah hingga membentuk namanya disana.
Bahkan lelaki dengan badan besar itu tidak teriak sedikitpun. Dia justru tampak terlihat sangat menikmati dengan mata yang terus tertuju kearah gadis didepannya.
Melihat rambut panjang Axella yang sepertinya mengganggu kegiatan tato-menato itu. Adriel merapikan rambut Axella kebelakang telinga dan melempar senyum kearahnya.
Sementara Axella tak peduli dan masih fokus dengan tangan yang menari-nari didekat nadi Adriel. "Selesai." ucapnya pelan dengan senyum simpul. Tak lupa dengan mata yang menatap puas kearah Adriel.
Axella menato namanya disana agar menunjukkan dominasinya. Bahwa dia mampu dan bisa membuat Adriel tak berkutik dibawahnya.
Mencondongkan tubuhnya kedepan, gadis itu berusaha menyentuh bibir Adriel dengan pisau lipat miliknya. Dia kembali menggores dalam bibir bawah lelaki itu, hingga membentuk huruf A.
Tersenyum remeh Axella menatap singkat. "H-E-N-T-A-I." gadis itu mengeja dengan mulut tak bersuara.
Axella hendak beranjak, namun tangan Adriel menahannya seperti tadi.
"Lepas!" Axella berniat mengancam dengan menyentuhkan pisau lipat tadi kearah tangan Adriel.
"Cute, but hot." Adriel masih melemparkan senyum nakalnya.
Sean kemudian datang dan melepas paksa tangan Adriel dari Axella.
"Gausa pegang-pegang!" peringat Sean dengan gigi yang bergemeletuk. Kemudian membawa Axella dari sana.
"Gue bisa gila." Adriel berucap pelan sambil melihat kepergian Axella.
Sementara para inti Aexentro yang tinggal disana mampu mendengar apa yang barusan Adriel ucapkan.
"Lo gilak apa gimana El sampe dihajar sama cewek kek gitu. Lo ngelakuin apaan?" Malvin mendekati Adriel dan memapahnya dibantu Rian.
"Lo gak lagi jatuh cinta kan?" tanya Carlos dengan mimik wajah sulit diartikan. "Kalau iya, gue gak tau mau ngomong apa." sambungnya menggelengkan kepala.
"Lo tadi apain dia?" Dean meminta penjelasan. Sementara Adriel hanya menampilkan wajah cueknya.
"Gue tanya Lo apain dia!"
Dean mencengkram kerah Adriel, tak memperdulikan keadaan temannya yang sudah bersimbah darah ini.
"Dean! Sabar woii." Natan menahan Dean yang ingin memberi bogeman tambahan, namun tak terelakkan bogeman itu melesat sempurna mengenai pipi kiri Adriel, yang memang sudah membiru terkena pukulan Sean tadi.
"Udah berhenti! Lo ngapa jadi ikutan." Felix menjauhkannya Dean dari Adriel.
"Lo tau, Lo lelaki paling pengecut kalau emang bener ngelakuin itu." tandas Dean segera pergi meninggalkan mereka.
"Ngapa gini sih." Rian menatap miris kearah Adriel.
"Udah cepetan bawa ke UKS." Malvin dan yang lain pun ikut memapah Adriel.
....
Dilain tempat
"Lo bener gapapa? Dia gak bertindak lebih kan?" Sean bertanya dengan nada menggeram. Mencurahkan banyak pertanyaan kepada gadis didepannya saat ini.
__ADS_1
Axella menggelengkan kepalanya. "Enggak sampai sejauh itu. Lagian lo pikir gue bakal biarin?"
"Gue tau. Tapi tetap aja dia keterlaluan. Si brengsek itu ngapain Lo tadi?" Jack menatap Axella meminta jawaban.
"Dia nahan pergerakan gue, dengan cara megang paha sama tangan gue." Axella memegang pergelangan tangannya yang memerah, terlihat bekas kuncian tangan Adriel disana.
Membuang nafas pelan Sean mengambil tangan Axella dan mengusapnya lembut. "Maaf, kalau aja gue gak datang.."
"Dia gak bakal bisa ngelakuin itu! Sebelum dia berbuat lebih, udah gue potong lebih dulu!" sentak Axella.
Sean tertawa renyah mendengar penuturan frontal dari gadis didepannya.
"Sakit tuh orang. Kalau aja gue yang duluan datang, udah abis tuh tinggal nama." sinis Jack.
"Yoi kasian mana masih muda." seru Rivaldo.
"Syukur deh dia gak berbuat lebih."
"Udalah gausa dibahas. Bikin gue badmood aja."
"Sorry."
"Yauda kita lanjut tentang Emma aja." Rivaldo memberi masukan.
"Nanti Lo semua kabarin aja kapan kumpulnya. Untuk saat ini kita cari dulu bukti-bukti tentang tuh cewek." Axella masih dendam dengan Shasa. Gadis yang sudah berani membuli adiknya.
Melihat raut wajah Axella yang tegang, Sean mengusap pelan pipi gadis itu. "Tenang, kita bakalan cari sama-sama, okey?"
"Ok."
Axella tersenyum simpul, dirinya masih memikirkan kejadian tadi. Dirinya bahkan tak habis pikir dengan kelakuan Adriel yang tiba-tiba itu. Memikirkannya saja sudah membuatnya muak.
"Laki-laki sialan!" Axella berbatin.
....
Rumah Dominika
Ntah kenapa kejadian Axella pagi tadi sampai terdengar ditelinga Emma. Yang jelas saat ini dia mencari sang kakak meminta penjelasan. Dia tidak ingin kakaknya merasa tidak aman disini, tidak mau!
Sampailah Emma dikamar dengan nuansa abu-abu itu, membuka pintu paksa dan mencari sang kakak.
"Kakk!!"
"Kak Xella!!"
"Cepet!"
"Sabar bocil." Emma hanya mencebikkan bibirnya kesal sembari menunggu sang kakak selesai.
Kriett.. (pintu kamar mandi terbuka)
Terlihat Axella keluar dengan memakai handuk putih sedadanya.
"Kenapa?"
"Pakaian dulu!"
"Iya-iya tumben cerewet." Axella pun mengambil pakaian dari lemari miliknya.
"Heh tutup mata BOCIL!"
"Iyaahh." Jawab Emma tak niat kemudian berbalik.
"Udah?"
"Entarr." setelah selesai Axella segera menggantung handuknya dikamar mandi.
"Ada apa?" tanya Axella lembut pada sang adik.
"Kok gak crita." Emma masih dengan bibir mengerucutnya.
"Apanya?"
"Kejadian tadi pagi. Kak Zoya udah cerita duluan."
Axella sekarang mengingatnya. "Ah dasar Zoya ember." batinnya.
"Sini biar kakak critain." Axella memegang tangan Emma dan duduk disamping gadis itu.
Setelah mendengar dari sang kakak, Emma lantas memarahinya. Namun saat mengetahui Axella membalas perbuatan Adriel, Emma pun tersenyum puas.
"Ishh syukur ada kak Sean." ucap Emma lega saat mengetahui Sean lah orang pertama yang memukuli Adriel.
"Lain kali aku mau denger dari kak Cece langsung."
__ADS_1
"Iya-iya bawel." Axella mencubit pipi Emma dengan kedua tangannya, geram.
"Sakitt issh kakk." melas Emma dengan wajah kesakitan.
"Biarin."
Tak mau kalah Emma ikut mencubit pipi sang kakak, begitulah seterusnya hingga malam menjelang.
....
Didalam suatu ruangan yang sangat gelap dengan nuansa hitam dominan. Terlihat seorang laki-laki tanpa atasan sedang berdiri menatap cermin yang memperlihatkan otot-otot tubuh miliknya.
Sudah hampir berjam-jam dia berdiri disana dengan raut wajah yang sedikit berubah-ubah. Terlihat beberapa bekas luka menghiasi wajah dan bagian tubuhnya.
"Gue tadi ngapain sialan." Adriel menggosok wajahnya kasar dengan tangan.
"Pasti sekarang dia berpikir aneh-aneh tentang gue. Arghh ****!"
Adriel mengepalkan tangan dan memecahkan kaca didepannya.
"Bodoh!" leaki itu kemudian duduk dipinggiran kasur hitam miliknya. Tak menghiraukan tangannya yang luka.
Terdiam sebentar, dirinya seketika mengingat goresan yang gadis itu berikan. Goresan luka, yang mungkin saja akan membekas.
"Beautiful." dia meraba bagian bibirnya, yang membentuk bekas goresan dengan huruf A.
Kemudian sedikit menunduk dan melihat kearah pergelangan nadinya.
"Sweet." Adriel mencium bekas luka yang dibuat oleh Axella.
Jika orang lain akan marah dan tidak terima dengan perbuatan Axella, lain halnya dengan Adriel. Dia cukup senang dan sangat bangga dengan tato buatan Axella.
Gadis yang beberapa minggu ini selalu terlibat cekcok kecil dengannya. Gadis tangguh yang mungkin saja mampu' membuatnya menjadi seperti ini.
Merebahkan dirinya ketempat tidur. "Argh Axella Jovanca Dominika." dia bergumam pelan sembari mengingat kejadian pagi tadi.
"Bisa gila gue karna Lo."
....
Markas Blacksky
"Belum aja kita kasih pelajaran tentang kejadian kemaren, udah berulah aja tuh orang." terdengar suara sinis Andrew. Dia paling benci ketika mendengar suatu hal terjadi dengan Axella.
Saat ini ketujuh inti BS7 sedang berkumpul dimarkas, dengan beberapa anggota yang memang sering bermalam disana. Zoya juga sudah menceritakan kejadian yang tadi pagi Axella alami. Tentunya dengan persetujuan Axella sendiri, dan disinilah mereka sekarang.
Dion melirik kearah Axella sebentar. "Lo gapapa kan? Atau ada yang sakit?"
"I'm fine, don't take it seriously." Axella membalas pelan tak fokus, namun berusaha meyakinkan.
Membuang nafasnya pelan Dion segera menangkup kedua pipi Axella. Membuat pandangan gadis itu kini tertuju tepat kearahnya.
"What?"
"Kalau ada apa-apa kasih tau gue langsung bisakan? Jangan tunggu orang lain yang cerita." Dion berucap pelan masih dengan menangkup pipi Axella.
"I know big brother, sorry." Axella tersenyum ikut menangkup pipi laki-laki didepannya.
"Cerewet kayak adek gue."
"Kalau buat Lo, harus." Dion menunjukkan senyum hangatnya, membuat beberapa lelaki diruangan itu panas.
"Hem." Sean berdehem sengaja.
"Mau sampe kapan Lo berdua kek gitu?" terdengar suara tak ramah dari Jack. Yang membuat kedua anak manusia itu melepaskan tangan mereka masing-masing.
"Iri aja Lo berdua." Andrew melirik kearah Sean dan Jack bergantian.
"BERISIK!" Keduanya membalas perkataan Andrew.
"Stres."
"....."
"....."
"Beb, bebeb gue dapet." Rivaldo segera mendekati Axella dan menunjukkan sesuatu dilaptopnya.
Axella tersenyum misterius. "Bagus, sebentar lagi."
"Gue harus datangin mereka, untuk mastiin langsung." batinnya.
"Kenapa Xell?" Zoya bertanya kepo.
"Nih." tunjuknya pada para inti disana.
__ADS_1
***