AXELLA

AXELLA
12


__ADS_3

Orang-orang yang disana sampai menganga tak percaya melihat adegan didepan mereka. Bukankah beberapa detik yang lalu dirinya terlihat begitu agresif saat memukul Shasa? Kemana perginya sikap yang tadi? Semuanya menyaksikan dengan banyak pertanyaan dibenak mereka.


"Kak, mereka yang udah.."


Emma tak melanjutkan kata-katanya, Axella yang menyadari sang adik seperti itu langsung peka.


"Benar dugaan gue, ini belum seberapa!" batinnya menahan amarah.


"I know, hey look at me." Emma mendongak menatap sang kakak dengan mata berair.


"Mereka pelakunya?" Emma hanya mengangguk.


"Kalau dilain waktu mereka masih ngelakuin kayak gini, kasih tau kakak cepat."


"Oke?"


"Oke." Axella tersenyum yang mana membuat Emma ikut tersenyum.


"Sekarang kita bersihin baju kamu dulu." ajak Axella sambil menarik lengan Emma.


"Iya kak."


Axella terdiam beberapa detik.


"Kenapa kak?"


"Sini." Axella membawa Emma kearah Shasa yang tengah tersungkur sambil meringis.


"Kak, mau ngapain?"


"Lawan rasa takutmu." Axella mengambil jus alpukat miliknya dari tangan Jihan dan meletakkannya ditangan Emma.


"Lakuin, sama seperti yg dia lakuin."


"Tapi kak." Axella menggelengkan kepalanya tidak menerima penolakan.


"Ayo Emma pasti bisa."  Emma berbatin.


Membuang nafasnya pelan, Emma pun mendatangi tempat Shasa. Sementara sang kakak hanya menunggu dibelakangnya.


"Gue harus berani!"


Emma menyemangati dirinya agar tidak takut, dan berani untuk melawan orang-orang yang menindas. Dirinya kemudian menuangkan jus alpukat tadi hingga habis tak bersisa. Jus itu mengenai kepala, rambut, wajah dan baju Shasa.


"Good girl."


Axella kemudian membawa Emma kekamar mandi dan membantunya untuk membersihkan diri. Jangan lupakan Jihan dan Saras yang mengikuti mereka.


"Anjir *** gue barusan liat adegan apaan?" cerocos Natan heboh.


"Keren sih." Felix menambahkan.


"Jago, segalanya deh tuh cewe. Nyesel gue sempat remehin dia." Carlos ikut menimpali.


"Bukan mental patungan pastinya." Malvin mengiyakan.


"Gue suka cewe kuat." Dean ikut menimpali. What? Dean yang dikenal irit bicara sekarang sedang memuji Axella.


Ntah kenapa Adriel terlihat tidak suka saat mereka memuji Axella didepannya. Terutama pujian yang dilontarkan oleh Dean, membuatnya serasa mendapat saingan baru.


"Cewek lo sih resek." Malvin meledek Rian. 


Tak menghiraukan perkataan Malvin, lelaki itu kini menatap Shasa dengan pandangan tak bersahabat.


"Tuh cewe udah makin kelewatan. Lo harus tegasin kedia!" tegas Adriel pada Rian.


Adriel lantas memanggil tukang kebersihan untuk membersihkan segala kekacauan yang terjadi disana. Dia bahkan sudah memanggil beberapa orang untuk membawa Shasa ke UKS atau lebih parahnya rumah sakit.


....


Dilain tempat


"Keren bangett tadi kak, suerr dah." ungkap Jihan pada Axella yang saat ini tengah membersihkan baju Emma diwastafel. Sementara Saras membantu Emma membersihkan bagian rambutnya.


Axella hanya menanggapi sambil tersenyum simpul.


"Lain kali kalau digituin lawan. Kita harus berani ngebela diri walau keliatannya sulit." ketiganya pun menggut-manggut.


"Tapi bagus deh kak pantes tuh nenek sihir digituin. Ihh geram gue." Jihan menunjukkan wajah puas.


"Oh iya kak, denger-denger dia tuh emg sering ngebuli murid cewe disini. Gue tadi nguping omongan orang."


"....."


Jihan seketika ciut ketika mendapat pelototan dari Axella.

__ADS_1


"Hehe salah ya kak, maaf gak diulangin lagi deh."


"Emma tadi bilang, kalau pelaku yg udah jahatin dia kemaren itu ulah mereka." Axella berbicara pelan namun masih mampu didengar oleh mereka. Maklum toliet perempuan saat ini hanya diisi oleh mereka berempat.


"Hah? Seriusan Em?" tanya Saras spontan dan mendapat anggukan dari Emma.


"Bener-bener ya.. awas aja kalau ketemu sama gue, gue cakar-cakar tuh mukak." geram Jihan tertahan.


"Tadi gue juga denger, kalau dia anak kelas 11 sma kayak lo kak." sambung Jihan menatap Axella.


"Dia sering bolos, katanya sih anak pejabat yg sering donatur disini. Makanya guru-guru pada bebasin dia seenaknya." Jihan berucap tak terima enak saja mereka melewati ujian dan segala macam rumus.


Dia kesal!


"Gede banget kayak nya tuh kuping." ujar Axella yg membuat mereka tertawa.


Ahahah..


"Gak gitu, tapi emang gue yg pekaan." ucap Jihan sambil berbangga diri.


"Jujur aja udah." timpal Emma meyakinkan.


"Jangan-jangan yang ngunciin lo dikamar mandi hari itu dia jugak?" tebak Saras tiba-tiba.


"Kok gue jadi kepikiran ya?" Jihan ikut menyetujui ucapan Saras.


"Gatau sih kan cctv kemaren tuh rusak."


Axella hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Axella sendiri tidak akan heran jika yang mengunci Emma adalah orang yang sama. Tapi dia harus mengumpulkan bukti lebih dulu.


"Kak, mikirin apa?" tanya Emma setelah bagian kepalanya sudah dibersihkan.


"Enggak. Em, bawa baju ganti?" Axella mengubah topik pembicaraan mereka.


"Enggak sih kak." Emma menatap dirinya dipantulan kaca dengan menggunakan tanktop abu sebagai atasan, bajunya sudah basah sejak tadi.


"Pake hoodie gue aja Em, nih." Jihan membuka hoodie miliknya dan memberikannya ke Emma.


"Thanks Ji." Emma tersenyum kemudian langsung memakai nya.


"Sans aja."


Dirinya bersyukur selain diberikan kakak seperti Axella, dia juga diberikan dua sahabat yang sangat peduli padanya. Sementara Axella dia juga senang melihat sang adik dikelilingi orang-orang yang baik, dia pasti akan menjaga mereka selayaknya adik sendiri tanpa diminta.


Bukankah setiap kebaikan akan mendapat kebaikan juga? Mengapa Axella tidak mewujudkannya saja.


"Masih dong, nih buktinya." Emma memutar tubuhnya untuk meyakinkan bahwa dirinya memang sudah baik-baik saja.


"Yakin nih kan?" Jihan ikut memastikan.


"Iya sayang." Emma langsung membekap pipi Jihan dengan kedua tangannya.


"Yauda deh, kak kita duluan kekelas. Lo kak?"


"Kalian duluan ntar gue nyusul."


"Jangan lama ya kak." Emma memegang tangan sang kakak.


"Iya bocil, yaudah sana. Ntar matpel abis tuh." suruh Axella pada mereka bertiga.


"Siap kakk." ucap mereka bersamaan.


Merekapun pergi menuju kekelas meninggalkan Axella disana.


"Cctv rusak?"


Terlihat Axella berpikir sejenak. "Kayaknya gue harus nyari bukti lebih banyak." gumamnya berlalu pergi.


....


Malam hari dimarkas BLACKSKY


"Jadi Aexentro yang bikin ulah?" Rivaldo bertanya dengan nada heran.


"Ya. Gue liat dari jaket yg mereka pakai." timpal Sean pelan sambil bersender kearah meja biliar.


Saat ini keenam inti tengah berkumpul dimarkas mereka tanpa Axella tentunya, Sean juga sudah menceritakan tentang kejadian tempo hari, dimana dia dan Axella dicegat beberapa orang menggunakan sajam.


"Bangsat! Gue bakal datangin tuh geng." terdengar suara geraman dari salah satu inti.


"Sabar, jangan kebawa emosi dulu." Dion berusaha menenangkan.


"Lagian mereka ngapain nyari si Xella? Ada urusan apa cobak? Dia baru aja datang kesini." Jack berucap sambil menggebu-gebu, dirinya marah mendengar kejadian yang Sean ceritakan.


Walau tidak terjadi hal lebih kepada Axella ataupun Sean, tapi tetap saja!

__ADS_1


Mereka berani mengusik gadis yang mereka jaga, gadis yang menjadi pilar didalam BlackSky itu sendiri.


"Gue bakal jaga dia." Sean berucap sesantai mungkin.


Mendengar kata-kata Sean, makin membuat Jack tersulut emosi.


"Tadi Lo bilang ngejaga? Lo siapa?"


"Gue emang belum jadi bagian dari dia, tapi gue bakal jaga dia lebih dari diri gue sendiri. Trus Lo panas?" sentak Sean yang berhasil membuat Jack kehabisan kata-kata. Kali ini dia bicara panjang lebar hanya untuk menjelaskan tentang Axella.


"**** U!" Jack menggerakkan mulutnya pelan sambil mengacungkan jari tengahnya pada Sean.


"Gausa ribut Lo berdua, kita lagi bicarain tentang nih geng." Andrew berbicara dengan fokus sambil melirik mereka semua.


Dirinya juga tidak suka jika ada orang yang mengganggu Axella, salah satu bagian terpenting dari mereka. Bagi Andrew sendiri ada waktu untuk bercanda, dan ada waktu untuk serius. Seperti saat ini yang tengah mereka lakukan disini.


"Bukannya Aexentro geng yang ada disekolah Dharma Jaya?" Akhirnya Zoya mengeluarkan suara.


"Iya trus ken.."


Andrew seketika menggantungkan kalimatnya dan menatap mereka semua bergantian.


"Bukannya Axella sekolah disana?!" Andrew bertanya panik.


Brukk.. prang..


"Bodoh." Sean memukul meja biliar didepannya hingga menimbulkan sedikit keretakan.


"Ahkk ajg!" Jack mengumpat.


Bagaimana bisa mereka lupa dengan hal ini, padahal Axella sudah memberitahu panjang lebar mengenai pendaftarannya disekolah itu beberapa hari yang lalu.


"Trus gimana kedepannya?" Rivaldo mengeluarkan suaranya lagi.


"Gue bakal pind.."


"Gak ada yg bakal pindah! Lo semua segitu ngeremehin si Xella? Lo lupa dia bagian garda terdepan pas ngadepin musuh yang jauh lebih besar dari dia. Belum lagi kalau mereka main keroyokan." Dion memotong perkataan Sean.


Selain menjadi penengah bagi mereka, Dion sendiri memang dikenal sebagai orang yang paling bijak dalam mengambil sebuah keputusan.


Dia selalu berhati-hati dan maju selangkah. Tak perlu terburu-buru, semua harus dipersiapkan dengan matang dan kepala dingin.


"Lo gak usah ngatur gue." Sean menarik kerah baju Dion. Dirinya paling benci ketika diperintah orang lain.


"Gue gak ngatur." Dion berkata dengan tenang, tak ingin membuat suasana makin panas.


"Woii-woii kok berantem gini, udah lah lepas anjir." Andrew dan Rivaldo berusaha melerai mereka.


"Yaelah kapan selesainya ini." Zoya menimpali.


"Dia duluan!"


"Lo!"


Sebelum Sean dan Dion melayangkan pukulan mereka. Seorang gadis yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka langsung menghentikan.


"Udah pembahasannya?"


Deg.


Mereka membalikkan badan dan betapa terkejutnya ketika mendapati Axella dibelakang. Ntah sudah berapa banyak yang gadis itu dengar.


"Xell lo-"


"Diem." Axella maju mendekati mereka.


"Jadi yang kemaren cegat kita anak Aexentro?" Axella bertanya sambil berdiri didepan Sean menunggu jawaban.


"Iya."


"Trus kenapa Lo gak ngasih tau ke gue?"


"Gue gak pengen Lo khawatir atau kepikiran." Sean memegang kedua bahu Axella berusaha meyakinkan.


"Gue salah, maaf." sambung Sean sambil menatap manik Axella.


"Gak perlu. Lagian bukan masalah besar." Sean hanya diam mengamatinya lekat.


"Tapi kenapa mereka nyari Lo Xell? Lo ada bikin masalah sama mereka?" terdengar suara Zoya bertanya kepadanya.


Axella menatap Zoya sekolas. "Gue? Perasaan baru aja nginjakin kaki disini. Yakali sempat bikin masalah."


Axella berucap santai, dirinya juga


tak habis pikir kenapa dia dicari. Namun dia tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu. Jika ada yang keberatan dengan keberadaannya, dia tinggal melawan saja.

__ADS_1


Memang benar adanya bukan? Sejak awal kedatangannya ketika Aexentro dan Rixstar bertarung, dia tidak pernah membuat masalah ataupun berurusan dengan mereka.


***


__ADS_2