AXELLA

AXELLA
6


__ADS_3

Seorang gadis dengan menggunakan jeans dan Hoodie hitam terlihat tengah melawan 3 anak buah Brian sendirian, tanpa menggunakan apapun hanya dengan tangan kosong.


Dua orang sudah terkulai lemas dengan goresan dalam oleh senjata mereka sendiri, siapa lagi pelakunya jika bukan gadis tadi?


"Kayaknya yg ini lebih ahli main senjata." gumamnya dalam hati.


Ctash..


"Sial gue lengah." gadis tadi meringis ketika salah satu sabit mengenai sikunya.


Terlihat salah satu anak buah Brian yang tersenyum remeh kearahnya. Laki-laki itu melangkah dan mengayunkan sabit ditangannya, berusaha untuk menjangkau Axella.


"Sialan." Axella masih terlihat menghindar.


Axella kemudian langsung menjatuhkan sabit tadi dengan menggunakan tendangan miliknya. Tak menyerah, lelaki itu memungut bongkahan kaca yang lumayan besar, yang memang tercecer di tanah mungkin bekas senjata anak buah Rixstar yang lain.


Gadis itu masih memberikan pukulan telak. Dan menepis jikalau kaca itu berusaha menyentuh bagian tubuhnya. Dengan mempertahankan posisi kuda-kuda miliknya, akhirnya Axella mampu untuk menumbangkan anak buah Brian yang terakhir tadi.


Sementara Adriel sejak tadi hanya menatap kearah gadis itu tak berkedip. Dean dan anggota yang sudah selesai bertarung langsung menuju mereka.


"Lo gapapa El?" Dean bertanya dengan mata meneliti tubuh lelaki itu. Namun Adriel masih terdiam untuk beberapa saat. "El!"


Adriel seketika tersadar dan langsung menjawab balik. "Gue gpp cum-"


"Woii ajg mana tuh anak buah si Brian asuuu! Udah mainnya kroyokan pakek sajam pulak." heboh Natan memotong perkataan Adriel sambil membawa kayu besar.


"Adriel lo ada yang luka?" Rian ikut bertanya.


"Lo serius gpp?" Felix menimpali.


Masih banyak pertanyaan dari para inti dan anggota yg saling bersahut-sahutan. Sementara Adriel hanya memutar bolanya malas, sudah diliat dirinya baik-baik saja masih ditanya.


"Gue gpp, tadi ada cewe yg bantuin." ucapnya sambil mencari gadis yg dimaksud.


"Gausa becanda El, mana ada cewe yang-"


"Ada tuh." tunjuknya pada gadis yg sedang membasuh lukanya dengan air mineral.


Adriel menghampiri gadis tadi diikuti oleh para anggota, sementara gadis tadi masih belum sadar ada banyak pasang mata yg menginginkan dirinya berbalik. Gadis dengan pakaian serba hitam dengan rambut panjang hitam yang terurai.


"Kayaknya cantik deh." bisik Natan pelan.


"Diem asu." Malvin menutup mulut Natan takut membuat sang ketua mengamuk.


Merasa ada suara-suara bak mahluk halus dibelakang membuat gadis tadi berbalik.


"Apaan?" tanyanya singkat, padat dan menusuk.


Jlebb..


"Cantikk woii." puji Natan tak tahu malu. Sementara anggota Aexentro yang lain menatap gadis itu tak berkedip.


"Diem anjir! Udah dibilangin jugak." Marvin menutup kembali mulut Natan, Felix ikut-ikutan yg membuat Natan merasa engap.


"Lo semua budeg?" gadis tadi berucap sambil menatap sinis kearah mereka.


Adriel pun akhirnya mengeluarkan suara. "Tangan lo luka, sini gue bantu obatin." ajaknya lembut sambil menyentuh tangan gadis itu.


Namun sebelum tangan Adriel berhasil, gadis itu sudah terlebih dahulu menepis.


"Gausa sksd kita gak kenal." putusnya sepihak.


"Tapi tangan lo luka karena gue." Adriel tak mau kalah.


"Trus lo mau apa?" tanyanya cepat.


"Biar gue tanggung jawab, sini gue obatin."

__ADS_1


"Gausah lebay! Minggir."


Para anggota Aexentro yang menyaksikan percakapan mereka daritadi hanya melongo. Baru kali ini mereka melihat Adriel bicara panjang lebar, kecuali untuk mimpin Aexentro gelud manteman.


Bagaimana mungkin seorang Adriel terlihat perhatian dengan seorang gadis yg baru saja dia temui? Dan ditolak?! Ini pasti akan menjadi momen yang langka bagi mereka semua, sangat sayang untuk dibiarkan.


"Gue gak mau minggir, trus lo mau apa?" Adriel masih berusaha untuk mengajak gadis tadi.


"Kok lo ngelunjak sih, udah dibantuin juga." ujarnya tak terima dengan sifat mendominasi yg dimiliki laki-laki didepannya ini.


"Yauda ok, thanks buat yg tadi. Sekarang biar gue obatin luka lo."


"Gak perlu!" titahnya telak.


"Terserah, kita berdebat trus disini." balas Adriel tak tahu malunya.


Gadis itu hanya diam tak melanjutkan kata-katanya. Dia berusaha untuk menyingkir, namun laki-laki didepannya ini slalu saja mengikuti arah pergerakannya yang membuat dirinya lelah. Menyebal sangat menyebalkan!


"Gimana capek? Yauda nurut aja apa susahnya."


"Bodo." gadis tadi kembali diam.


"Keras kepala, bandel." Adriel langsung mengeluarkan plester luka untuk menutupi luka ditangan gadis tadi. Kebetulan gadis itu sudah membasuh lukanya lebih dulu.


"Pake ini apa engga?" tanya nya dengan mengeluarkan obat merah. Takut jika akan membuat perih luka gadis didepannya.


"Pake lah, itu gunanya obat merah begok."


Bukannya marah ataupun kesal, Adriel hanya terkekeh geli. Lantas dia menuangkan beberapa tetes pada luka gadis tadi dengan hati-hati dan menutup dengan plester miliknya.


"Bilang apa?"


"Makasih."


Adriel tidak marah dirinya merasa terhibur dengan kelakuan gadis keras kepala ini. Anggota Aexentro yang lain sudah mulai banyak yang bubar.


Mungkin.


"Kak..!" panggil salah satu siswi panik kalang kabut.


"Kenapa?" Rian menjawab adkelnya itu dengan santai.


"Itu kak dikantin Em-Emma pingsan trus pipinya bengkak, tolongin kak." pekik siswi tadi dengan wajah panik.


"Hah? Emma?" mereka masih mencerna kata-kata barusan.


"Cewe kemaren?"


"Anak baru itukan?" beo Carlos.


Gadis tadi lantas mendongak dan menatapnya tajam.


"Tunjukin dimana tempatnya!" geram gadis itu dengan emosi yang tertahan. Sambil memegang erat tangan siswi tadi.


Tanpa menunggu lama siswi tadi berlari menuju kantin, ketempat Emma ditemukan. Sementara gadis itu segera menyusul dengan perasaan takut bercampur cemas.


"Gue mohon Em, jangan kenapa-napa." gadis itu berbatin cemas.


Para inti Aexentro yang mendengar hal tersebut pun terkejut bukan main tak terkecuali Rian. Dirinya khawatir begitu mendengar kejadian yang menimpa Emma untuk kedua kalinya.


"Bodoh lo bodoh Rian ajg!" Rian memukul kepalanya berkali-kali.


"Tenang, jangan nyalahin diri sendiri. Kita harus cari tau dulu siapa dalangnya." Felix menasehati.


Rian hanya mengganggukan kepala. Lantas mereka semua pun berlalu menuju kantin, mengikuti gadis dan siswi tadi yang sudah terlebih dahulu kesana.


Naas. Itulah satu kata yang terucap saat melihat kondisi Emma yang memprihatinkan. Tak terkecuali Para inti Aexentro yg baru saja muncul. Gadis itupun segera berlari dan memangku kepala Emma dipahanya.

__ADS_1


Sebelum berbicara dia melihat segala bekas tamparan dipipi kanan dan kiri pada wajah Emma, belum lagi rambut yang acak-acakan. Dan segala hal yg yang porak poranda disatu meja kantin, yang gadis itu simpulkan bahwa itu adalah meja terakhir yang diduduki Emma.


Dirinya mengusap pelan kening Emma yg tak sadarkan diri. Sementara para inti Aexentro hanya diam sambil bertanya-tanya. Siapa gadis didepan mereka ini? Ada hubungan apa dengan Emma? Kenapa dirinya terlihat sangat khawatir?


Tak terkecuali Adriel yg tak lepas memandang dirinya begitu pula dengan Rian. Dirinya berniat untuk mendatangi tempat Emma berada, hanya saja suara Adriel terdengar dan menghentikannya.


"Tahan! Jangan gegabah, lo harus liat situasi. Mungkin aja tuh cewe kerabat jauhnya." mau tak mau Rian menuruti Adriel, dirinya ikut menyaksikan apa yang gadis itu tengah lakukan.


Sementara Gadis yg menjadi bahan pembicaraan itu memilih diam dan tak peduli dengan percakapan disekitar. Dia lebih memilih memusatkan perhatiannya kepada Emma.


"Hei adek kesayangan kakak, bangun yok." gadis itu berucap pelan ditelinga Emma.


"Gak kangen sama kakak?" sambungnya sambil merapikan rambut Emma dan membersihkan pipinya dari sisa-sisa bekas makanan.


"Sakit ya? Maaf kakak telat datang." tanyanya sambil mengusap lembut pipi Emma yang membengkak.


"Nanti kalau udah bangun, marahin kakak aja gimana? Tapi kamu harus crita siapa org yg udah berani lukain kamu sampe begini, ok."


Merasa tak ada jawaban dari sang adik, gadis itupun mengeluarkan suara. Menutup matanya sebentar untuk meredakan amarah yang berkecamuk dirongga dadanya.


"Siapa yang bisa angkat adek gue kemobil?" tanyanya cepat dengan nada ketus.


Tanpa menunggu lama Rian langsung mendatanginya dan menggendong Emma ala bridal style.


"Lo mau bawa kemana?" tanya Rian pada gadis didepannya.


"Bukan urusan lo."


Rian yang kesal dengan jawaban gadis tadi hanya diam, berusaha untuk tidak ambil pusing. Yang terpenting sekarang adalah Emma. Gadis yang beberapa hari ini mampu mengisi hari-harinya.


Maju beberapa langkah kedepan, gadis tadi pun menghampiri para siswi disana. "Ambilin tas dia, jangan ada yang ketinggalan, sekarang!"


Perintahnya tegas hingga mampu membuat para siswi disana menurut. Tak lama mereka muncul dengan membawa tas Emma.


"Ikut gue." gadis tadi menyuruh Rian untuk mengikuti dirinya kearah mobil yg terparkir diluar sekolah.


Setelah meletakkan Emma dikursi penumpang, Rian kemudian mundur beberapa langkah agar mobil tersebut dapat melaju.


"Siapa sih tuh cewe, kepo gue." tanya Carlos kepada mereka.


"Kayaknya sih bukan anak sekolah sini, tapi yg jelas dia ada hubungan sama tuh anak baru." Felix membalas perkataan Malvin.


"Nah iya, gue juga denger pas dia nyuruh nih bocah ngangkat sidede gemoi, dia bilang apa cobak?"


"Dia bilang adek gue." sambung Natan dengan perlahan.


Mereka semua terdiam sejenak, masih memikirkan kejadian tadi dengan pikiran masing-masing.


"Siapa yang berani nyelakain dia? Kasian adkel gue mana baru masuk, parah tuh orang." seru Malvin tak terima.


Felix dan yang lainnya ikut mengiyakan perkataan Malvin.


"Siapapun orang yang udah berani bikin dia sampe kayak gitu, bakal gue kasih pelajaran."


"Gue bakalan cari tuh orang sampe dapat anjing." umpat Rian kasar seraya pergi ntah kemana.


"Harus diawasin tuh anak. Ntar karena emosi malah salah sasaran." Dean memperingati.


"Yoi gue nyusulin dia, takut barabe ntar." usul Malvin pergi dengan diikuti Natan.


"Gue juga."


Adriel dan yang lainnya hanya melihat kepergian mereka. Tersisalah saat ini Adriel, Dean, Felix dan Carlos.


"Gue mau kita selidiki kejadian ini sampe tuntas." Adriel mengeluarkan suara dengan tegas.


\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2