AXELLA

AXELLA
14


__ADS_3

Saat ini Aexentro tengah merayakan kemenangan atas pertempuran untuk yang kesekian kalinya.


"Ah sakit anjing."


"Makanya tahan bodo." Rian menekan kuat luka yang ada ditangan Malvin. Lelaki itu terkena sabetan kaca yang lumayan dalam dilengan kanannya.


"Makanya liat-liat sekitar dulu tolol. Nah kan apes Lo." Natan mengompres dahinya dengan es batu, sedikit benjol terkena tiang dekat sana.


"Yang harusnya liat sekitar itu Lo monyet! Bisa-bisanya tuh pala benjol." balas Carlos, membuat beberapa anggota tertawa renyah.


"Lo ngapain emang? Mojok kok sama tiang listrik, prikk Lo." Felix merenggangkan otot-ototnya yang sudah sangat kaku.


"Ajg Lo semua. Gue tadi dikeroyok sama tuh anggota Reentez biadap. Syukur gue cekatan, gue lawan dong." timpal Natan berbangga diri.


"Trus kenapa bisa benjol?" Adriel ikut bertanya.


"Hehe itu gue tadi pengen mukul tuh orang, tapi dia lari ya.. kepala gue ******* deh sama tiang didepan."


Ahahaha..


"Hahaa anjir, lagak Lo tadi sok bener." Malvin tertawa paling keras diantara mereka.


"Taii Lo itu juga perjuangan."


"Perjuangan tai babi." celetuk Dean spontan, yang mengundang tawaan mereka lagi


"Iyeee.. iyeee.. gue induk nya Lo semua anak gue. Mampuss Lo gak gue kasih nen." Natan mempraktekkan sambil meraba bagian dadanya.


"Stres." Malvin.


"Prikk." Felix.


"Kasian mana uda benjol." Carlos.


"Yoii haha."


Natan yang mendengar hal itu pun hanya memonyongkan bibirnya kesal dengan teman-temannya ini. "Gue doain Lo semua benjol-benjol ntar."


Lain hal dengan keenam inti yang asyik bercanda, mata Adriel meneliti semua anggotanya yang sedang berkumpul disana. Dahinya seketika mengerut kala melihat salah satu juniornya.


"Do, jaket Lo mana?" terdengar suara Gian bertanya.


Mendengar pertanyaan dari Gian, Edo tanpa sadar meraba bagian tubuhnya. "Eh, jaket gue.."


Setelah mendapati dibadannya tidak ada jaket yang terpasang. Edo kembali mengingat kejadian beberapa Minggu yang lalu. "Oh iya, gue lupa bilang."


"Jaket Lo kemana?" suara Adriel terdengar dari depan. Sepertinya sang ketua sudah mendengar percakapan mereka.


Mengumpulkan keberaniannya, Edo pun menatap kearah Adriel takut. "Jaket gue ilang bang pas war sama anak geng kemaren."


"Gue udah nyoba nyari tapi nihil bang." sambungnya pelan. Dia tahu sudah membuat kelalaian hingga membuat salah satu bagian dari Aexentro hilang. Dan dirinya siap menerima hukuman dari sang ketua.


"Lain kali dijaga." Adriel berucap tegas, dia juga tidak bisa berbuat lebih.


"Iya bang maaf." ucapnya sambil menunduk.


"Besok pesen langsung, gue gak mau liat anggota Aexentro kecolongan atau beda dari anggota yg lain." Adriel menepuk bahunya pelan.


"Sipp bang." Edo membalas mantap. Bersyukur sang ketua sedang dalam mood yang baik.


Sesaat sebelum Adriel berbalik, terdengar suara laki-laki dari sebelah Edo. "Bang!"


Adriel hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Itu.." Gian melirik kesebelahnya ditempat Edo berdiri, membuat Adriel ikut melihat kearah sana juga.


"Gak dihukum bang, dianya?" celetuk Gian tanpa dosa sambil menunjuk Edo.


Mata Edo melotot mendengar penuturan kawannya yang tak dapat diajak kerjasama ini.


"Sianying gue hajar jugak Lo." terlihat Edo tak terima dan kalang kabut.


Adriel hanya melirik mereka sebentar. "Karna kita posisinya lagi menang lawan geng sebelah.."


Edo sudah sangat senang, dia tahu pasti Adriel akan mengerti situasi.


"Lo.."


"Push up 100 kali. Gi, awasin." Adriel berlalu meninggalkan mereka.


"Ha 100? Baru aja kelar war bang." Edo menatap punggung Adriel nanar namun tak dipedulikan.


"Hahaha mampus Lo. Udah cepetan lakuin, gue itung nih." Gian memanas-manasi Edo yang sudah panas, terdengar puas.


"Sialan! Gara-gara Lo nih." Edo menjawab malas namun tetap saja melakukan push up seperti yang disuruh.

__ADS_1


"Bodo! Sekarang cepetan."


"Nyenyee." Edo menampilkan mulut bebeknya.


Setelah 20 menit melakukan push up. Edo telentang sambil bercucuran keringat.


Fyuhhh..


"Capek cukk."


"Halah lama Lo, gue aja 5 menit selesai." Gian ikut tidur telentang dengan tangan dikepala.


"Berak."


"Ga percaya Lo kambing." Gian menoyor kepala Edo.


"Heh sini Lo Kuyang." Edo ikut memukul kepala Gian, dan terjadilah aksi toyor-toyoran kepala.


Sementara Adriel dkk hanya menonton aksi mereka, bersama anggota yang lain. Btw ada yang masih ingat Edo dan Gian ga nih? Kalau tahu siapa coba?


....


Beberapa hari kemudian


Terlihat tiga siswa dan dua siswi tengah berjalan keluar dari kantor kepsek. Mereka adalah Axella, Sean, Jack, Rivaldo dan Zoya. Sementara Dion dan Andrew berada disekolah SMA Nusa Garuda.


"Asyik cuy akhirnya bisa sekelas sama Lo." Zoya berucap girang sambil merangkul sahabatnya itu.


Axella ikut membalas dengan sedikit tersenyum.


"Halah palingan lo suap." cerocos Rivaldo dengan suara mengejek.


"Eh ****** gak terima bilang."


"Gue timpuk juga tuh pala, kalau Lo berdua masih bicara." Jack terlihat sedikit tak terima dengan keputusan kepsek, dirinya ditempatkan dikelas XII IPA 1 (dikelas Felix-Carlos).


"Bacot."


"Bicid." Zoya ikut memperagakan gaya bicara Jack.


"Sensian amat, pms Lo." celetuk Rivaldo tak liat situasi yang dihadiahi tinju oleh Jack didadanya.


"Ah sakit begok! Parah Lo Jacky Chan." Rivaldo meringis sambil memegang dadanya, sementara pelaku hanya cuek tak merasa bersalah.


Sean yang geram tak tinggal diam. Dia langsung merangkul pinggang Axella posesif, yang membuat mata Adriel meliriknya sekilas dengan mata permusuhan. Adriel berdecih menatap Sean seakan menantang.


"Anj.."


Sean yang merasa tertantang lantas maju, namun sebelum itu tangan Axella sudah duluan menahannya untuk menenangkan. Kedua kubu diantara mereka hanya menyaksikan tak ingin mencampuri. Semua yang dilakukan Sean kepada Axella terekam jelas dimata Adriel.


Namun ada satu inti dari Aexentro yang menatap Sean lama, bukan tatapan benci ataupun tidak suka. Namun lebih seperti tatapan sendu, yang sangat jarang dia perlihatkan dengan siapapun.


"Sean." dirinya berbatin.


Melihat tak ada pergerakan diantara keduanya, Axella pun memutar otaknya cepat. "Ayok ntar telat."


Mereka semuapun akhirnya berlalu meninggalkan Adriel dkk. Namun sesaat sebelum itu, mata Axella menatap sinis kearah sang ketua Aexentro.


Lain halnya dengan Adriel, dia menatap lekat gadis itu seakan bertanya. "Kenapa?"


"Keliatannya yang tadi itu leader-nya ya Xell?" tanya Rivaldo setelah mereka menjauh dari sana.


Axella mengganggukkan kepala setuju. "Yang gue denger dari orang-orang sih iya."


"Gue bakal hab.."


"Tahan. Belum tentu juga mereka yg ngirim. Ingat jangan gegabah." peringat Axella pada Sean.


"Tapi Xell."


"Gue tau, tapi itu cuman jaket. Bisa aja tiruan atau duplikat lainkan?"


Sean menghembuskan nafasnya kasar dan menggangguk.


"Kalau mereka masih berulah kita yg bakal datangin langsung." ucap Jack dengan mata yang haus akan pertarungan.


"Dasar."


Merekapun akhirnya masuk menuju kelas masing-masing.


Diruang kelas XII IPA 2, terlihat seorang guru masuk dengan murid laki-laki disampingnya. Laki-laki berhodie hitam yang tadi pagi Adriel sempat lihat.


"Semuanya perkenalkan, hari ini kita mendapat teman baru, pindahan dari SMA Nusa Garuda. Silahkan memperkenalkan diri." Guru perempuan tadi melirik kearah murid laki-laki disampingnya.


Menatap tajam kedepan, tepatnya kearah tempat duduk Adriel. "Gue Sean." ucapnya datar dan singkat.

__ADS_1


"Ya-yauda sekarang, kamu boleh duduk." guru tadi mempersilahkan Sean duduk.


Sean pun berlalu dengan duduk dikursi kosong belakang, tanpa menghiraukan tatapan mata dari murid disana dan langsung memakai


earphone miliknya.


Adriel menatapnya dengan raut wajah tak bersahabat. Lain hal dengan seseorang yang menampilkan raut wajah yang sulit diartikan.


....


Sementara dikelas XII IPA 1


Sama seperti Sean, Jack juga akan memperkenalkan dirinya.


"Silahkan nak."


"Jack." ucapnya singkat kemudian duduk dikursi bagian pojok dibelakang.


....


Dikelas XII IPS 3


Rivaldo pun dipersilahkan untuk memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan nama saya Rivaldo Ernest Gideon. Pindahan dari SMA Nusa Garuda, salam kenal." Rivaldo berucap santai dan mengedarkan pandangannya.


"Baik nak, kamu bisa duduk disana." ucap Pak guru yang menunjuk kearah


bangku kosong disebelah Malvin.


Rivaldo mengganggukkan kepalanya dan berlalu. Namun saat ingin duduk, dia menangkap tatapan curiga yang dilemparkan oleh Malvin. Bersikap santai, dia kemudian duduk dan membuka ponselnya.


"Nat, bukannya tuh orang yang tadi pagi dekat sama cewe kemaren? Yang papasan sama kita." bisik Rian sambil menyenggol bahu Natan.


Mereka duduk tidak terlalu jauh dari bangku Malvin dan Rivaldo.


"Mana?!" Natan melirik sekitar.


"Itu begok!" umpatnya pelan mencubit perut Natan.


"Noh." tunjuknya pada bangku Malvin.


"Kayaknya sih iya. Emang kenapa? Lo ngebet?" tanya Natan blak-blakan.


"Anjing. Gak lucu bangsat! Kira-kira tuh orang siapa ya, kayak gak asing." Rian masih menatap diam-diam kearah Rivaldo.


"Mana gue tau, kenal aja kagak." timpal Natan dengan suara sedikit gede.


"Pelan-pelan tolol! Bikin malu ae." Rian menoyor kepala Natan keras.


"Bodo lah."


Sementara Rivaldo tau ada beberapa pasang mata yang sejak tadi memperhatikannya. Dia lebih memilih mengabaikannya, toh dia kesini untuk bersekolah, atau lebih tepatnya jumpa ayang bebeb Xella.


....


Sama seperti ketiganya, Zoya juga sudah memperkenalkan dirinya tentunya dengan sopan. Walau dengan sedikit menunjukkan wajah juteknya.


"Gimana?"


"Apanya Xell?"


"Sekolahnya tante." Axella menatap malas kearah Zoya.


"Ooh mayanlah, pinter juga Lo milih sekolah." Zoya membalas masih dengan tangan yang mengolesi kuku.


"Hati-hati Lo kenak BK." Axella menatap kearah kuku hitam Jihan.


"Aman lagian di Nusa gue udah langganan, jadi sabi kok." jawab Zoya dengan entengnya.


Zoya merupakan salah satu murid perempuan yang sering keluar masuk BK disekolah lamanya hanya karena permasalahan cat kuku hitam. Namun tetap saja tidak memberikan efek jera walau sudah diskors.


Axella menggelengkan kepala menatap sahabatnya itu. Selain dia, Zoya sepertinya juga keras kepala dan tentunya sangat nakal.


Tiba-tiba terlintas sesuatu dibenak Axella. "Eh Zoy, gue pengen bicarain sesuatu."


"Apa? Gak kayak biasanya Lo gini." Zoya telah selesai mencat kukunya, saat ini dia tengah meniupnya agar kering.


"Nanti pas istirahat."


"Yauda deh."


Hari ini adalah hari pertama bagi Sean, Jack, Rivaldo dan Zoya bersekolah. Pelajaran pun kembali berlanjut sampai bel istirahat berbunyi.


                                   ***

__ADS_1


__ADS_2