AXELLA

AXELLA
13


__ADS_3

Hanya saja, leader-nya sendirilah yang selalu mencari kesempatan untuk berbicara dengannya, disetiap pertemuan singkat mereka. Axella saja selalu enggan meladeninya.


"Berarti Lo udah tau dong tujuh inti yg ada disana? Secara tuh sekolah kawasan mereka." Rivaldo ikut bertanya.


Axella terlihat mengangguk sebentar.


"Gue pernah liat, dan sempat bicara sama salah satu dari mereka beberapa kali." Axella berucap sambil mengingat beberapa kejadian saat dia bertemu dengan sang leader Aexentro sendiri.


"Beberapa kali?" tanya Jack sinis.


"Hm, tapi tenang aja mereka gak akan bisa gali info tentang kita ataupun Blacksky." balas Axella santai.


Jack hanya mendengus kesal mendengar penuturan Axella.


"Mereka gak nyusahin Lo kan?" celetuk Sean tiba-tiba.


"Gak. Setidaknya masih aman."


"Kalau mereka macem-macem atau nyakitin Lo sedikit aja, gue gabakal diem." Sean berucap tegas yang membuat Axella sendiri sedikit merinding.


"I know big Monster." Axella mengelus tangan Sean, yang membuat sang empu kembali tenang.


"Disana Lo harus lebih waspada. Buat jaga-jaga aja Xell." Andrew mengingatkan.


Masalahnya bukan satu atau dua anggota Aexentro yang bersekolah disana. Namun hampir semuanya, beberapa ada yang bersekolah disekolah yang lain.


Jika mereka ingin mencelakai Axella akan sangat mudah bukan? Namun, apa sebenarnya yang membuat Axella dicari oleh mereka. Dan, apakah itu memang benar salah satu anggota dari Aexentro sendiri?


Axella hanya tersenyum tipis.


"Gue gak yakin itu Aexentro." ungkap Andrew yang membuat semua mata menatap kearahnya.


"Sans, gausa keroyokan. Gue cuma ngeluarin pendapat."


"Gada yang ngeroyok lo." Rivaldo menoyor kepala Andrew pelan dan terjadilah aksi saling toyor beberapa menit.


"Kek anak kecil lo berdua." Jack berucap sambil menoyor kepala mereka bergantian.


"Ngikut ae lo Jamal."


"Bacot." Jack hanya membalas singkat. Malas meladeni mereka.


"Kenapa Drew?" Zoya memikirkan hal yang sama dengannya.


"Xella sendiri aja ngaku gak bikin masalah sama tuh geng, trus salahnya apa cobak? Dia juga belum lama disini, dan selebihnya ya feeling gue aja sih."


"Bisa jadi anak geng lain."


"Udah gini aja, mau itu emang suruhan mereka apa enggak, kita harus tetap waspada, Lo juga disana." Dion menimpali sekaligus memberi nasehat.


"Kalau terulang kita gass." Jack bersuara.


Selang beberapa waktu terjadi keheningan, mereka diam dengan pikiran masing-masing.


"Gue bakal pindah kesana." ucap Sean memecahkan keheningan.


"Gue bakal jaga Lo sekalian.."


"Biar jadi kakel Lo." sambung Sean, yang membuat Axella memutar bola matanya.


Sean, Jack, Dion dan Rivaldo memang satu tahun lebih tua dari Axella. Sementara Zoya dan Andrew sepantaran dengan dirinya.


Sama seperti tujuh inti Aexentro mereka semua merupakan kelas XII(12), satu tahun lebih tua dari Axella. Dan ditempatkan ditiga kelas yang berbeda.


Dengan Adriel-Dean dikelas XII IPA 1, Felix-Carlos XII IPA 2 serta Rian-Malvin-Natan dikelas XII IPA 3, sementara Axella sendiri dikelas XI IPS 1.


"Ngapain? Gue bisa jaga diri."


"Gue tau. Gue cuma gapengen Lo kenapa-napa."


"Dan juga.. Lo baru sebentar disini. Gue pengen ngabisin banyak waktu sama Lo." Sean memperlihatkan senyum tipisnya hanya pada Axella, terlihat ketulusan dimata lelaki itu.


"Gue jugak. Mau cari suasana." Jack tak mau kalah.


"Ikutan! Soalnya disekolah gue ondel semua." ucap Zoya sambil memoles kukunya dengan cat kuku warna hitam.


"Bosen disekolah gada bebeb Axella jadi.." Rivaldo menaik-turunkan alisnya kearah Axella.


"Lah kok pada pindah massal semua anjim? Lo semua masih sadar kan tuh area Aexentro." Andrew tak habis pikir dengan mereka semua. Walau tak menepis dia sebenarnya ingin juga.


"Lagian mereka kenal sama kita? Toh kita gapernah war sama mereka. Paling tau nama kita dari mulut ke mulut." Rivaldo membalas perkataan Andrew dan diangguki olehnya.

__ADS_1


"Iya juga sih tapikan-"


Memang benar BlackSky dan Aexentro tidak pernah terjadi perseteruan. BlackSky sendiri selalu memakai penutup wajah serba hitam setiap bertarung dengan geng lain.


"Ribet. Lo semua ngekor mulu."


Bukan Axella tak setuju dengan kemauan mereka, hanya saja dia tak ingin merepotkan mereka atau siapapun hanya untuk kepentingannya.


Seperti saat ini. Hanya karena ada ancaman sedikit dari geng lain mereka semua memutuskan pindah. Membuatnya kesal saja ketika mengingat kejadian hari itu.


"Jadi Lo semua yakin pindah?" tanya Sean menatap mereka bergantian.


"Hm." Sean.


"Ya, bacot." Jack.


"Yakin dong." Zoya melirik Axella.


"Pasti! Biar ketemu bebeb tiap hari."  balas Rivaldo girang.


Dion diam beberapa saat lantas bertanya kepada Andrew. "Lo gimana?"


"Gue?" tanya Andrew seraya menunjuk dirinya.


"Iyaa." balas Dion malas.


"Sebenernya pengen, tapi gue ngikut Lo aja. Kasian gapunya temen." Andrew tertawa mengejek.


"Anjing."


Sementara yang lain ikut tertawa tipis. Setelah berpikir panjang, akhirnya Dion mengeluarkan pendapatnya.


"Gue tetap disekolah lama. Takutnya kalau rame malah nambah kecurigaan mereka, sekalian jaga anak-anak yang disana." ujar Dion mengingat anggota BlackSky yang lain, yang bersekolah di SMA Nusa Garuda.


Pada awalnya para inti BS7 memang sekolah ditempat yang sama tak terkecuali sebagian besar anggotanya sama seperti Aexentro.


"Kalau gitu gue juga stay sama kek Lo, sekalian ngikut nge-handle mereka. Ntar, kalau sendiri pecah tuh pala." ledek Andrew pada Dion.


"Gimana Xell?" terdengar suara Jack bertanya.


"Serah Lo semua." Axella hanya mengucapkan beberapa kata singkat.


"Nice."


"Sipp."


"Asyikk pindah."


"Makk pengen!!" batin seseorang.


Semua menggangguk setuju. Sudah diputuskan bahwa mereka berempat akan pindah kesekolah SMA Dharma Jaya. Sementara Andrew dan Dion tetap berada di SMA Nusa Garuda.


Axella sebenarnya ingin menceritakan mengenai sang adik disana. Dan juga tentang aksi buli yang didapatkan Emma. Namun berhubung dia sedang dalam mood yang kurang baik, dia mengurungkan niatnya. Mungkin beberapa hari lagi dia akan beri tahu.


....


Dilain tempat yang terlihat cukup kotor dan lembab, terlihat beberapa kumpulan remaja yang seluruhnya laki-laki. Mereka bertempat dirumah tua yang tak berpenghuni, menunggu aba-aba dari sang pemimpin seperti saat ini.


Drapp.. drap..


Terdengar suara derap langkah kaki yang sepertinya terdengar terburu-buru. Hingga suara langkah kaki itu terdengar cukup dekat, dapat dipastikan dia sedang menuju ketempat dimana mereka berada.


"Boss!" sahutnya lantang.


"Gagal?" tanyanya seperti sudah tau apa yang terjadi.


Glek.


Anak buah yang sedang berdiri dihadapannya ini meneguk ludah kasar, hingga dia memberanikan diri untuk berbicara lagi.


Menatap sang ketua kedepan sebentar kemudian membuang pandangnya kebawah. "Maaf Boss, gue sama anggota yg lain gagal bawa tuh cewe."


Sang ketua yang tak disebutkan namanya tadi itu balas menatapnya sambil meremehkan. Dirinya masih menatap anak buahnya dengan tangan menyilang didada.


"Lemah! Lo semua belasan bawa satu cewe gagal?"


"Haha-ha." sambungnya sambil tertawa yang membuat seluruh orang yang ada disitu meneguk ludah kasar.


Masih dengan tawanya yang mencekam, laki-laki ini lantas mengambil pisau dari sakunya.


Ctash..

__ADS_1


Pisau itu terbang dan mengenai perut anak buahnya yang didepan.


"Arrggg..!!" anak buah yang terkena lemparan pisau itupun meringis kesakitan, yang tak dihiraukan oleh laki-laki ini.


"Lo kalah sama cewe ANJING! Sama cewe!!! Gak malu Lo sama kelamin!!" teriaknya lantang hingga membuat mereka merinding.


"Am-ampun." laki-laki tadi menggelengkan kepalanya tak terima. Dia juga menendang kasar dan memijaknya berkali-kali.


Banyak darah keluar dari perut dan mulut anak buah yang saat ini sedang dia hantam. Diapun mengambil pisau itu secara paksa, dan mengalirlah darah segar.


"Bodoh ajg! BODOH LU SEMUA!! SAMPAHH!!! Gak bisa dikasih kerjaan!!!"


"Setiap kerjaan yang gue kasih gak pernah beres!! Gak pernah becus Lo semua!!"


"ARGHHHH!!!!!! KAPAN GW BISA BIKIN AEXENTRO KALAH BANGSAT!!" teriaknya frustrasi sambil melemparkan barang-barang yang ada disana.


Dirinya benar-benar kesal saat ini.


"ANJING!" banyak umpatan-umpatan kasar yang dia ucapkan.


Seperti itulah dirinya jika misi yang dia berikan kepada anak buahnya gagal, atau tak tercapai seperti tujuan.


Sementara anak buahnya yang ada disitu hanya diam melihat sang ketua, seperti sudah terbiasa.


Tak ada yang berani mengusik sang ketua yang sedang frustrasi ini. Bahkan mereka sedikit beranggapan bahwa sang ketua sudah sedikit gila. Mungkin dengan cara ini dia dapat melepaskan segala kekesalannya.


"Cih. Beban Lo semua." ucapnya seraya duduk di kursinya balik. Berupaya untuk menenangkan diri.


Terdengar suara ngos-ngosan dari dirinya, yang membuat beberapa anak buahnya yang didepan cemas.


Walau memiliki ketua tempramen tidak membuat mereka menyesal telah memasuki geng ini. Mereka tahu sang ketua hanya akan seperti ini bila tujuannya tak tercapai, sama seperti geng yang lainnya mereka juga memegang solidaritas.


Beberapa menit pun berlalu, sampai salah satu anak buah yang ikut tempo hari kembali mengeluarkan suara.


"Boss.." ucapnya ragu-ragu.


"Apalagi!!!"


Memejamkan matanya mendengar suara keras sang ketua didepan. Dia menghembuskan nafasnya pelan dan


mengumpulkan seluruh keberaniannya.


"A-ada kabar baik." sang ketua tadi hanya diam menunggu kata selanjutnya, merasa tak tertarik.


"Mereka.. maksud gue cowok yg bantuin tuh cewe-"


"Tunggu! Tadi Lo bilang apa? Cowok?!" tanyanya kasar. Dia pikir anak buahnya hanya melawan Axella seorang diri.


Anak buahnya tadi hanya menggangguk perlahan.


"Critain dari awal sampai selesai!" titahnya keras.


Usai menceritakan segalanya terlihat ketua tadi manggut-manggut. "Jadi ada cowok lain yang berlagak sok pahlawan."


"Bagus." dirinya tersenyum licik.


"Trus apa kabar baiknya?!' tanyanya masih dengan nada tinggi.


"Dia liat jaket yang kemaren kita pakai. Jaket salah satu anggota Aexentro." ucapnya pelan namun masih mampu didengar sang ketua.


"Bagus-baguss." dirinya bertepuk tangan bahagia. Terlihat sangat senang dengan berita yang didengarnya barusan.


Mereka semua yang ada disana akhirnya bisa bernafas dengan lega. Syukurlah amarah laki-laki ini masih bisa diredam. Jika tidak, ntah berapa banyak kerusakan yang akan dirinya perbuat.


"Lo kenal sama tuh cowok?"


Anak buahnya tadi menggeleng. "Gue gak tau."


Sang ketua hanya mendecih sinis. "Trus kenapa baru sekarang Lo semua muncul?"


"Kemaren banyak anggota yang luka trus babak belur, belum lagi si Deo kena sajam dibahu sama lehernya, dia masuk RS. Jadi kita semua mutusin buat rehat bentar." anak buahnya tadi menceritakan apa yang menimpa mereka.


"Yaya." laki-laki itu menanggapi asal.


"Yang penting mereka udah naruh curiga. Gue tinggal tambah arang kedalam api." batinnya berbicara.


Berbalik dia memerintahkan mereka semua. "Kita ngumpul waktu gue suruh, sekarang BUBAR!"


Mereka semua akhirnya meninggalkan rumah kosong itu ditengah gelapnya malam. Ntah apa yang akan dia rencanakan dikemudian hari, namun satu hal yang pasti dia sedikit merasa puas.


***

__ADS_1


__ADS_2