AXELLA

AXELLA
11


__ADS_3

Ahahah..


Terdengar suara tawa remeh dari mereka. Mereka beranggapan Sean hanyalah lelaki lemah yang takut akan perempuan. Namun mereka tidak tau siapa dia sebenarnya.


"GUE BILANG ULANGIN ANJING!!!" terdengar suara Sean naik satu oktaf.


Bunyi tawaan mereka berhenti seketika. Laki-laki didepan tadi tersenyum remeh dan mengayunkan senjata ditangannya yang terlihat seperti celurit namun lebih besar.


"Gue bilang gue bakalan seret tuh cew-"


Dukk.


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Sean sudah lebih dulu melayangkan tendangan keras kearah dada lelaki itu. Kemudian memijaknya tepat diwajah dan mulutnya.


"Mulut kotor Lo gak sebanding dengan sebutir debu dikakinya." Sean mengambil celurit tadi dan membuangnya asal.


Anggota yang lain tak tinggal diam melihat teman mereka diperlakukan seperti itu.


"Hajar..!!!"


Sean hanya menatap tak minat pada mereka.


Bugh.. bughh.. dukk..


Sebelum mereka dapat menyentuh Sean, dirinya sudah terlebih dahulu menendang mereka agar sajam yang mereka bawa jatuh. Salah satu dari mereka berniat memukul Sean dengan kayu dari belakang.


Setth..


Sean menunduk dan memutar badannya berubah arah dibelakang orang tadi. Lalu dia mengambil kayu dan memukulkan kepada mereka semua. Baru Sean sadari ternyata kayu itu sudah dilapisi paku dibeberapa bagian.


"Damn."


Mereka terluka cukup parah, darah merembes dari pakaian mereka. Sean pun begitu tangannya juga penuh dengan darah. Namun Sean terlihat tak perduli dengan hal itu, lebih seperti terlihat orang yang tidak merasakan sakit apapun. Padahal dirinya juga mendapat beberapa pukulan.


Laki-laki tadi bangkit dan berniat menusukkan pisau kepada Sean. Namun Sean lebih tanggap, dirinya langsung memutar gagang pisau itu hingga mengenai bahu kiri sang lawan.


"Siapa yg udah nyuruh Lo semua?" Sean bertanya sambil memutar-mutar pisau dibahu laki-laki tadi.


"Arghh!! Ga-gak! Gue gak tau."


"Gue tanya siapa!"


Namun laki-laki tadi hanya berteriak sambil meringis merasakan sakit yang teramat dibahunya.


"Lo gak mau jawab?" Sean mengambil kembali celurit tadi.


"Lo mau apa?"


"Gue emang gak tau apa-apa." panik laki-laki tadi merasa hidupnya dalam bahaya.


Sean tahu laki-laki didepannya ini berbohong. Dirinya langsung menyayat dalam leher laki-laki tadi dengan celurit. Masih dengan pisau yang menancap dibahunya. Sementara teman-temannya yang lain hanya menatap kasihan kearahnya, dan ada beberapa yang sudah tak sadarkan diri.


"Arghhh..!! Sakit!! Ampun gu-gue bakalan bilang."


Sean hanya menaikkan alisnya menunggu jawaban tak ingin berlama.


"Aexentro."


Sean langsung membuang celurit itu, namun tidak dengan pisau itu. Dia masih menekannya kuat hingga membuat laki-laki dibawahnya mengaduh kesakitan berkali-kali. Merasa tak yakin, Sean langsung menarik paksa jaket yang tengah dikenakan lelaki ini.


Dan benar adanya, terlihat lambang tengkorak dengan nama Aexentro dibelakang jaket hitam yang sedang dipegangnya.


Sean menggeram tertahan. "Aexentro, Lo udah nyari mati sama gue. Siapapun leader nya, gue gak bakalan tinggal diam." dia mendesis sinis.


Sean masih dalam pikirannya sesaat, namun tiba-tiba dikejutkan oleh tepukan pelan dibelakang nya.


"Xell, gue kirain siapa."


"Udah selesai? Lo luka tuh." Axella langsung mengoyak sedikit baju yang menampakkan perut datarnya, yang membuat Sean menatap kesana.


"Gausa mesum!" Sean langsung mengubah arah pandangnya salah tingkah. Bukan dirinya bermaksud seperti itu.


"Sini tangan Lo." Axella langsung mengikatkan baju yang ia koyakkan tadi ketangan Sean.


Sementara Sean hanya diam sambil menatap wajah Axella lekat.

__ADS_1


"Trus bagian perut Lo yg kebuka gimana?"


Axella melirik kearah perutnya sebentar. "Biarin aja. Motor Lo gue yg bawa, ntar pas dirumah gue obatin lebih."


"Gak bisa! Ntar Lo masuk angin."


Sean langsung melepas jaket coklat miliknya dan memakaikannya pada Axella. Bahkan dia menutup risleting jaketnya sampai keatas, berusaha menutup bagian tubuh Axella agar tidak terlihat, terlebih oleh para geng sialan tadi.


"Gue kek lemang."


"Biarin."


Axella menarik tangan Sean dengan dirinya yang membawa motor. Sean tersenyum sepanjang perjalanan, terlihat lucu dimatanya ketika Axella membawa motor sedangkan dia menjadi penumpang.


Namun untuk Axella dia tidak akan pernah keberatan ataupun protes. Tubuh Axella yang tinggi saja hanya sebatas dagunya, yang mana terlihat imut dan cantik bersamaan.


Ah sudahlah, jika menyangkut Axella tidak akan pernah ada habisnya. Mereka melanjutkan perjalanan dan setelah sampai dirumah, Axella mengobati Sean dengan teliti.


....


Hari Senin SMA Dharma Jaya


Setelah melaksanakan upacara bendera para murid pun diberikan arahan untuk bubar. Mereka diberi waktu 15 menit untuk beristirahat. Beberapa dari mereka ada yang menuju kelas, sementara Axella diikuti 3 bocah dibelakangnya menuju kantin.


"Ngapain sih ngekor?" Axella lengah dengan kelakuan 3 gadis dibelakangnya.


Mereka hanya menunjukkan deretan gigi merasa tak bersalah.


"Mau ikut aja kak." celetuk Jihan malu-malu.


Hari ini Jihan sudah masuk sekolah, kemaren siang dia sudah pulang dari Sydney. Saras dan Emma juga sudah menceritakan kejadian tempo hari yang tentu saja mengundang emosinya.


Namun dia terpaksa menahan amarah, karena Emma dan Saras sudah menasehatinya berkali-kali. Emma yang tidak membuat masalah saja bisa diperlakukan seperti itu. Bagaimana jika nanti mereka melakukan suatu hal? Emma hanya mempercayakan semuanya kepada sang kakak.


Axella berdiri dari duduknya dan menatap ketiganya bergantian. "Heh bocah, bocah, bocah."


Lain halnya Axella yang memandang mereka jengkel. Sedangkan mereka sudah menatap Axella dengan mata penuh minat.


"Gue haus. Lo bertiga mau nitip?" Axella bertanya pada ketiganya.


"Emma jus jeruk kak."


Namun satu orang lagi sepertinya tidak memesan, Axella melirik Jihan.


"Lo?"


"Gue ngikut aja deh kak sekalian bantu bawain, hehe." ucap Jihan dengan senyum lebar.


Dirinya ingin berkenalan lebih jauh dengan kakak dari salah satu sahabatnya ini, dia sangat kepo! Axella pun tak ambil pusing dengan kelakuan teman dari adiknya ini. Axella dan Jihan pun segera pergi memesan minuman mereka, sementara Saras dan Emma tetap duduk disana untuk menunggu.


Saat ini para inti Aexentro tengah bersantai dimeja pojokan milik mereka. Rian yang melihat Axella sudah pergi, langsung melesat pergi kearah bangku Emma dan duduk disamping nya.


"Eh kak?" ucap Saras dan Emma bersamaan.


"Gue duduk disini gapapa kan?" tanya Rian sambil tersenyum.


"Boleh kak, tapi ntar kak Cece?"


"Udah ntar gue yg ngomong. Boleh ya Sar?" Malvin ikut bersuara.


"Boleh-boleh aja sih kak." Malvin pun ikut duduk disamping Saras.


Saat tengah berbincang, mereka dikejutkan dengan kedatangan tiga siswi yang sepertinya Emma pernah lihat.


Brakk.


Salah satu dari mereka menggebrak meja kasar. Melihat tak ada respon, gadis tadi langsung menuangkan jus mangga miliknya keatas kepala Emma, dan sontak saja sang pemilik berteriak. Yang mana membuat seisi kantin menatap kearah mereka.


"Ahh!"


Rian yang melihatnya langsung menepis tangan sang pelaku, hingga gelas yang siswi tadi itu pegang jatuh kelantai. Para inti Aexentro melihat dari tempat mereka, ingin melihat apa yang akan Rian lakukan untuk tiga cewe jamed didepannya.


"Lo ngapain sih?"


"Kok lo nyalahin gue? Salahin tuh jdi cewe gatel amat sama Lo!" balas siswi tadi tak lain adalah Shasa Benaya Patriko.

__ADS_1


"Jaga mulut Lo atau.."


Malvin berusaha menenangkan sahabatnya yang satu ini, takut jika Rian akan bertindak nekat.


"Lo ngapain sih datang-datang numpahin minuman keorang? Dasar caper!" semprot Saras tak terima dengan tangan yg membersihkan baju Emma.


"Lo diem ***** atau gue.."


"Atau apa?"


Terdengar suara lantang Axella yang mampu membungkam isi kantin, tak terkecuali Shasa. Adriel yang melihatnya langsung menghampiri meja mereka diikuti inti yang lain.


Shasa yang tak ingin image-nya turun pun seketika berlagak berani. "Lo gak usah ikut campur, Lo tau siapa gue?"


"Bodoamat gak penting."


"Anjing! Lo remehin gue, kayaknya Lo bakalan kenak juga."


Shasa segera mengkode kedua temannya, seperti saat dia melakukan hal jahat pada Emma beberapa hari yang lalu.


Bukk.. bugh.. dukk..


Belum sempat mereka menyentuh dirinya, Liora dan Paula sudah tersungkur kelantai dan meja kantin akibat tendangan mematikan dari Axella.


Axella tersenyum remeh. "Udah gitu aja?"


Melihat kedua temannya yang terlihat kesakitan, nyali Shasa menjadi ciut.


(Inilah yang dinamakan mental


patungan, seperti musuh author haha. Ga deng canda, kembali ke cerita.)


Namun dia memberanikan dirinya lagi untuk bersikap sok didepan Axella. Sementara Axella menatap kearah Emma yang saat ini tengah menatapnya balik.


Emma terlihat menggeleng, berharap agar sang kakak tidak melakukan hal lebih. Namun bukan Axella namanya jika tidak membalas perbuatan busuk mereka.


"Minta maaf sama dia. Se-ka-rang!" ucapnya dengan penuh penekanan.


"Gak! Najis gue minta maaf sama tu lacur."


Axella manggut-manggut. "Tadi Lo bilang adek gue apa?" tanyanya sesantai mungkin, berusaha untuk meredakan emosi yang akan meledak dari dirinya.


"Lacur! Emang ngapa gak senang Lo"


PLAKK.. PLAKK..


Tanpa pikir panjang Axella langsung menampar pipi kanan dan kiri Shasa.


Bugh.. bugh..


Dia juga menambah bogeman mentah diwajah Shasa tanpa ampun, hingga membuat wajah yang tadinya mulus menjadi membiru. Axella bahkan menjambak rambut Shasa dan membenturkan wajahnya kelantai hingga mengeluarkan cairan merah kental dari hidungnya.


Liora dan Paula terlihat bangkit. Mereka lantas mengambil nampan piring berusaha untuk memukul kepala Axella. Namun Axella lebih cekatan, dia menunduk dan memutar tangan keduanya hingga hampir patah.


"Am-ampunn sakitt! Gue aduin Mami gue Lo!!"


"Lepass akhhh!!"


Axella melepas tangan mereka dan ya, dirinya langsung menyikut bagian dagu bawah mereka keras, hingga membuat kepala mereka pening dan tersungkur kelantai karena kehilangan keseimbangan. Dia juga menambahkan beberapa tamparan dan cakaran pada mereka, tentu saja akan meninggalkan bekas untuk waktu yang lama


"Udah kak stop!"


"....."


Axella seketika berhenti. "Ini belum seberapa!"


"Kalau Lo sama temen BANGSAT Lo masih gangguin adek gue, gue bakalan buat lo semua mati!" Axella berucap lantang hingga membuat seisi kantin merinding.


Sementara Shasa dkk sudah seperti orang sekarat, tahu bahwa mereka sudah menghadapi orang yang salah. Berbalik, Axella mendapati Emma yang sudah menangis.


"Kakk hikss." Emma berlari kepelukan Axella.


Axella mengusap pelan rambut Emma yang tidak terkena tumpahan jus.


"Kenapa hm?" tanyanya selembut mungkin.

__ADS_1


***


__ADS_2