Badai Pernikahan Suci

Badai Pernikahan Suci
Di usir


__ADS_3

Langit sore itu terlihat sangat cerah, cahaya kemerahan mulai terlihat diufuk barat. Jam menunjukkan angka 5, dari kejauhan terdengar lantunan al quran yg merdu. Sahut menyahut dari satu masjid ke masjid yang lain.


Dengan tegar Suci melangkahkan kakinya menusuri jalan paving, pikirannya kacau, dia tak tahu sampai kapan akan berjalan. Tak tahu tempat berhenti, kacau, bingung, dan hancur. Matanya memerah, tapi tak ada air mata disitu. Rasanya air matanya sudah habis dan tak akan keluar lagi.


Beberapa menit kemudian langkahnya mulai gontai, bukan karena tenaganya yang lemah tapi karena hati dan pikirannya yang sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit.


Dia seperti wanita yang terbuang, menanggung hukuman yang sama sekali tak pernah ia lakukan. Kakinya amat sangat letih, hampir dua setengah jam dia berjalan tanpa tahu tempat tujuan berhenti.


Dua jam yang lalu...


"Mbak Suci, sekarang juga cepat keluar dari rumah ini!" Laras memegang erat tangan Suci dan menyeretnya ke arah pintu.


"Tunggu Ras.., apa salahku Ras? Aku sudah menggangap kamu sebagai adikku sendiri. Semua ini hanya salah paham Ras." Suci berusaha sekuat tenaga untuk melawan Laras, tapi istri ke dua suaminya itu mempunyai tenaga yang begitu kuat. "Ras... tolong dengarkan penjelasanku dulu." Suci meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya dari Laras.

__ADS_1


Sementara di dalam rumah Rio tak berhenti muntah-muntah. Setengah jam yang lalu dia masih baik-baik saja, Suci membuatkan sayur sop kesukaannya dan setelah itu dia juga yang memberikan makan dan menyuapi bocah itu.


Tak ada yang salah dari masakannya, suci sendiri tak mengerti kenapa Rio bisa merasakan pusing dan tiba-tiba muntah.


Suci sepertinya telah dijebak, ada orang yang memang sengaja ingin mengeluarkan dia dari rumah.


Tak butuh waktu lama bagi Laras untuk menyeret Suci keluar dari rumah. Sesampainya di depan pintu Laras melepaskan tangan Suci dan mendorongnya ke teras rumah.


"Ras.. demi Allah bukan aku yang memberi minuman itu ke Rio. Aku sudah menggangap Rio sebagai anakku sendiri Ras. Gak mungkin aku melakukan perbuatan sekeji itu." Suci berusaha membela dirinya dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Laras.


"Mbak gak perlu menjelaskan apapun. Buktinya sudah ada." Laras menatap Suci dengan tajam. Keputusannya sudah bulat, dia tidak mau lagi hidup bersama istri pertama suaminya itu.


Dengan cepat Laras menutup pintu rumah. "Brak!!" Suaranya begitu keras hingga membuat tubuh Suci terhentak. Dia tidak menyerah, masih tetap berusaha mengedor-gedor pintu kayu yang berwarna putih.

__ADS_1


"Ras tolong Ras...!!!, mas Adi!!! Tolong buka pintunya mas..! Mas... aku mohon mas.. aku tidak bersalah mas.. !! Hiks... hiks.." Suci terisak, tubuhnya mulai lemas. "Mas Adi.. Laras.. tolong buka pintunya... aku mohon mas..!!" Tidak ada respon sama sekali dari dalam rumah. "Mas..!!!" Suci berusaha berteriak sekencangnya, berharap suaminya itu akan membukakan pintu untuknya. "Aku mohon mas.. jangan usir aku.. hiks.." suaranya mulai lirih dan parau.


Suci mengusap air matanya, berusaha menenangkan dirinya. Sejenak dia terdiam, mungkin memang sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa kembali kedalam rumah itu. Rumah yang selama 10 tahun lebih telah dia tempati bersama suami tercinta.


Ingatan itu masih sangat jelas, ketika Suci kali pertama memasuki rumah yang megah itu. Semuanya begitu indah, tak ada bayangan bahwa dia akan berada di situasi yang sangat sulit dan menyiksa. Latar belakang kehidupannya yg sederhana dan yatim piatu saat itu membuat dia merasa seperti cinderella modern. Dipinang oleh pria tampan nan kaya raya, Suci merasa telah menjadi gadis yang paling beruntung.


Hingga empat tahun usia pernikahannya dengan Adi nugraha pun tak juga mendapatkan keturunan. Sang Ibu dan Bapak mertua mulai cemas, yang diharap harapkan dari sebuah pernikahan tak kunjung mereka dapatkan. Adi adalah anak tunggal dari pak Herman dan bu Mutia. Alasan itulah yang membuat mereka berdua begitu amat sangat mendambakan seorang cucu.


Hal yang paling membuat hati Suci terguncang adalah ketika dia dipaksa harus rela dimadu dengan Laras. Gadis pilihan mertuanya untuk dinikahkan dengan suaminya, Adi. perasaanya hancur seketika, saat itu hidupnya seolah telah berakhir. Tapi Adi, begitu amat sangat mencintai Suci. Dengan sejuta kata-kata indah dan rayuan yang selalu diucapkan Adi setiap hari, hati Suci pun luluh. Sialnya Adi tak menolak permintaan orang tuanya, dia bersedia menikah lagi walau awalnya dia sama sekali tidak mencintai Laras.


bersambung...


untuk para pembaca mohon Like dan commentnya ya.. mohon maaf nih author masih belajar menulis.

__ADS_1


__ADS_2