
"Naiklah.. !" Yudha menyuruh Suci masuk ke mobilnya. "aku ngak mau ya terjadi sesuatu sama kamu lagi." Kata Yudha pada Suci yang saat itu tengah menunggu angkot.
"Ngak pak.., Saya bisa pulang sendiri."
"Ayolah.., jangan keras kepala"
"Tidak pak Yud.. saya tidak mau merepotkan bapak setiap hari."
"Kamu tuh ya keras kepala banget." Yudha turun dari mobil, dibalik rasa kesalnya terhadap Suci, ada rasa gemas yang Yudha sendiri tak mengerti.
Yudha mengambil ponsel di saku celananya. membuka satu aplikasi dan memesan ojek online.
"Tunggu di sini sebentar, ojek online akan segera datang anterin kamu pulang."
"Pak Yudha order ojek buat saya?" Tanya Suci yang hampir tidak percaya.
"Iya, karena kamu gak mau saya antar. Ya uda... aku orderin ojek online aja." Yudha masih menemani Suci, khawatir jika hal yang kemarin terulang kembali. "Lagian kamu jaman dah modern gini gak punya handphone sih?"
Mendengar kata-kata Yudha Suci hanya terdiam, bukan dia gak punya handphone, tapi semua barang memang masih berada di rumah suaminya.
"Besuk kalau udah dapat gaji pertama, beli handphone." Yudha menunjuk handphone miliknya. "Biar kamu gak katrok-katrok amat."
"Emang cukup pak buat beli handphone?" Tanya Suci sambil mengejek. Jangankan beli handphone, cukup buat makan sehari-hari aja sudah bersyukur banget.
"Kalau gak cukup, nanti aku yang tambah kurangannya."
Suci merasa tak enak karena Yudha sepertinya terlalu baik kepadanya.
10 menit menunggu, akhirnya ojek yang di pesan Yudha datang juga.
"Dah datang tuh, cepat pulang!" Yudha menghampiri abang tukang ojek, "Sesuai aplikasi yang bang?"
Yudha mengambil uang cash dari dompetnya, memberikan pada abang ojek.
"Jangan pak Yudha, biar saya sendiri yang bayar."
"Sudah, gak usah banyak bicara. Cepat naik sana!" Titah Yudha pada Suci.
"Terimah kasih banyak pak Yudha." Kata Suci yang telah berada di atas motor ojek.
"Iya." Yudha memasukkan kembali dompet dan handphonenya. "Antar dia sampai rumah dengan selamat ya bang."
"Siap pak.." Kata abang ojeng dengan sigap.
#######
__ADS_1
Mobil Adi melaju dengan kencang menuju alamat yang telah dikirim oleh Pak Hadi security.
Salah satu anak buahnya mendapatkan informasi tentang keberadaan istri Adi dari salah satu supir angkot.
Supir angkot, yang waktu itu sempat menolong dan mencarikan rumah kontrakan untuk Suci, rupanya mengetahui bahwa Suci adalah istri orang kaya yang sedang dalam pencarian.
Sontak saja mengetahui itu dia langsung lapor ke salah satu anak buah Adi. Ya tentu dengan maksud agar mendapat imbalan pastinya.
30 menit melintasi jalan yang di share oleh pak Hadi akhirnya Adi sampai di depan sebuah rumah kecil.
Adi sungguh tak sabar ingin bertemu dengan Suci. Adi berjalan menuju teras rumah, sayang rumah itu masih terlihat sepi.
"Benarkah Suci tinggal di sini?" Gumam Adi seorang diri. Adi mengambil ponsel, melihat foto yang dikirim oleh satpamnya tadi. Sama, rumah itu sama persis seperti yang ada di foto.
Adi menunggu dengan sabar, dia yakin istrinya sedang keluar rumah dan akan segera datang.
"Terimah kasih pak," Kata Suci pada bang ojek.
Suci terperangah melihat sosok yang berdiri di teras rumahnya, sosok yang sangat tidak asing baginya.
Ada rasa bahagia yang tidak bisa digambarkan oleh keduanya, sepekan terpisah rasanya bagai setahun rasanya.
Cinta yang telah terjalin hampir sewindu membuat keduanya seolah seperti kali pertama berjumpa.
Air mata kebahagiaan jatuh dipelupuk mata Suci, rasa rindunya kini terobati sudah.
Suci berjalan perlahan, saat sampai di depan suaminya. Suci menatap wajah itu lekat-lekat, wajah yang selalu ada di hatinya, wajah yang selalu membuatnya tersenyum bahagia, wajah yang tak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun.
Tak terasa air mata Suci menetes, bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.
Keduanya saling memeluk, Suci sangat menyukai aroma maskulin suaminya. Masih tetap sama, tak ada yang berubah.
Berbeda dengan Adi yang merasakan perbedaan dari aroma istrinya. Tak sewangi dan seharum dulu.
"Aku sangat merindukanmu mas.." Air mata kebahagiaan Suci masih mengalir. membasahi pipinya yang mulus.
"Aku mencarimu kemana-mana, tapi kenapa begitu sulit untuk menemukanmu."
"Mas...,"
Setelah keduanya selesai dalam kehanyutan rindu, mereka masuk ke dalam rumah.
Adi merasa sangat bersalah, Suci harus tinggal di rumah sekecil itu seorang diri.
"Ayo kita pulang!"
__ADS_1
"Tidak mas," Suci terdiam, wajahnya berubah menjadi murung.
"Kenapa sayang?, Rumah itu rumah kamu juga."
Suci tertunduk, mengigat semua yang sudah terjadi. Dia merasa bahwa tidak bisa lagi tinggal satu atap dengan adik madunya.
"Mas..., kalau kamu ingin aku tinggal di sana harusnya waktu itu kamu cegah Laras. Aku tidak akan pulang mas.., aku tidak mau mereka memfitnah ku lagi."
Mendengar perkataan Suci, Adi hanya terdiam. Atas semua yang terjadi, Adi pun ikut bersalah. Kenapa dia sebagai kepala rumah tangga tak mampu mencegah istri mudanya untuk tidak mengusir istri tuanya.
Saat itu dia begitu lemah, seperti singa yang kehilangan taring.
"Sayang.., bagaimana aku bisa membiarkan kamu tinggal seorang diri di rumah ini."
"Mas.., aku baik-baik saja. Aku bisa jaga diri aku sendiri." Suci memandang wajah Adi, tatapannya tajam. "Kamu lihat kan, aku baik-baik saja."
"Aku tidak pernah meyangka semuanya akan jadi seperti ini." Adi tertunduk lesu.
Sesaat keduanya diam, termangu dalam pikiran masing-masing.
krucuk...krucuk.. Bunyi suara perut adi yang kosong membuyarkan pikiran mereka berdua.
"Ya Allah... kamu lapar mas..?" Tanya Suci sambil tersenyum manis.
"Heem..." Adi mengangguk.
Suci masih tersenyum melihat suaminya, "Aku buatin nasi goreng ya? mau?"
"Mau banget lah," Adi memandang Suci, dia tak pernah bosan memandang wajah wanita yang telah 10 tahun menjadi istrinya. "Seminggu gak ngerasain masakan kamu. Rasanya perutku sudah manggil-manggil kamu sayang."
"Mas Adi bisa aja.." Suci berdiri dan berjalan menuju dapur.
Sebelum mulai masak, dia melepas hijabnya terlebih dahulu, menaruh hijab bewarna ungu itu di hanger.
Rambut indahnya tergerai, Suci hanya melepas hijab di depan Adi seorang. Selain Adi, tak ada laki-laki lain yang bisa melihat indahnya rambut Suci.
masih ada sedikit nasi sisa tadi pagi. Sebelum berangkat kerja, Suci menyempatkan untuk masak nasi dan lauk seadanya. Kadang hanya makan dengan telur dadar saja.
Tiga siung bawang merah, satu sing bawang putih, dan sedikit garam telah siap ia haluskan.
Setelah bumbu halus, Suci menumisnya di minyak yang sudah panas. Aroma harum seketika menyerbak ke seluruh penjuru ruangan.
Adi yang mencium aroma itu langsung membuat perutnya semakin berteriak meminta jatah.
Adi berdiri menuju dapur, di dekapnya tubuh Suci yang sedang mengoyak-goyak nasi di atas wajan. Adi mencium ubun-ubun Suci.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu sayang.." Adi berkata dengan mesra, kedua tangannya melingkar di perut Suci.
Suci menoleh ke arah Adi, tersenyum manja. "Aku juga sangat merindukan kamu mas.."