
Makan malam di laksanakan di sebuah restoran berbintang, Adi, Laras, Bu Yati, dan Rio turut dalam acara itu.
Suasana terasa sangat hangat, selama menunggu menu yang di pesan. Mereka mengisi waktu dengan mengobrol dan bercerita banyak hal. Sejenak masalah tentang Suci hilang dari pikiran Adi.
Restoran itu begitu indah dan besar. interiornya juga sangat menawan membuat para pengunjung merasa betah di sana.
Laras menggunakan gaun bewarna merah yang cantik, rambutnya di sanggul gaya modern yang cantik dan ciamik. Sepatu hak bewarna hitam menambah kenggunannya. Penampilannya malam itu sungguh terlihat sangat menawan.
Bahkan Marcel sempat terpesona ketika kali pertama melihat penampilan istri kedua Adi itu. Marcel lebih memilih berpenampilan lebih santai, dia hanya mengenakan celana jeans bewarna biru muda dan t **** dengan warna senada.
Sedangkan Adi lebih memilih berpenampilan
informal, dia menggunakan kemaja bewarna ungu dan celana jeans.
Mereka memesan menu yang berbeda-beda. Marcel yang sangat merindukan masakan Jawa langsung memesan beff salad.
Laras dan Adi memesan steak sallad, bu Yati lebih memilih vegetable salad dan Rio memilih chikhen sallad.
Dua menu tambahan mereka pesan untuk pelengakap dan penutup yaitu seagood sallad dan brown cake chocolate.
"Makasih banyak ya Di, sudah disediakan semua ini."
"Marcel, ayolah jangan bicara seperti itu. Kita kan sudah lama tidak bertemu, dan aku yakin kamu pasti kangen dengan masakan Indonesia kan?"
"Pasti. Aku sangat-sangat merindukan makanan Indonesia. Terutama bakso, mie ayam, kikil sapi, dan ya.. masih banyak makanan lain yang lezat-lezat."
"Ya iya iya.. bakso bang Budi yang paling menjadi favorit kamu kan?. Hampir tiap pekan kamu beli bakso mang Budi."
"Of course, kamu masih ingat aja Di."
Setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya makanan yang di pesan datang juga. Para pelayan yang berseragam putih dan hitam datang membawa makanan satu persatu.
"wow... ini sungguh menggoda." Kata Laras yang melihat steak sallad yang dia pesan telah berada di hadapannya. "Ma.. tolong suapin Rio dulu ya, aku gak sabar merasakan lezatnya steak ini."
__ADS_1
"Iya Ras.." Jawab bu Yati pasrah, padahal dia pun ingin cepat-cepat menyantap makanannya.
Marcel tersenyum sinis melihat tingkah Laras yang seolah tak menghargai ibunya sendiri.
Adi bersiap menyantap nasi dan telur balado kesukaannya. Dan sebelum itu dia tak lupa untuk mempersilahkan semuanya untuk mulai memakan hidangan yang sudah lengkap di atas meja.
"Ayo.. silahkan di makan."
Semuanya mulai melahap menu yang telah di pesan. Hanya Bu Yati yang belum mencicipi makanannya, karena harus terlebih dulu menyuapi Rio.
Adi baru memakan satu sendok, tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya bergetar dengan keras. Adi mengambil ponselnya, melihat siapa yang telah berani menggangu acara makan malamnya.
Satu pesan whatsapp. Adi pasti tidak akan menghiraukan pesan tersebut jika bukan Hadi Security yang tertulis di depan layar ponselnya.
Adi mengusap layar ponsel, sebuah foto dikirim oleh Hadi Security.
Sebuah foto yang membuat matanya tak bisa berkedip. Suci menyapu di depan sebuah rumah.
Adi beranjak, membuat semua orang di meja itu terkejut dan melihat kelakuan Adi.
"Suci." Jawab Adi singkat.
"Mbak Suci?" Tanya Laras sekali lagi yang hampir tidak percaya.
Marcel yang tak mengerti sama sekali tentang masalah keluarga itu hanya melirik pada Adi, dengan masih menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Maaf semuanya, saya harus pergi sekarang."
"Mas.., kok pergi sih? Setidaknya makan dulu lah" protes Laras pada suaminya.
"Enggak Ras, ini sangat urgent."
Laras memasang muka masam, nafsu makannya tiba-tiba mendadak ikut hilang.
__ADS_1
"Iya Di, Laras benar." Bu Yati ikut membenarkan putrinya, "Kamu lanjutkan dulu makan setelah itu kan bisa kamu pastikan benar atau tidaknya informasi itu."
"Ngak bu, Adi gak bisa. Tolong, aku mohon kalian semua bisa mengerti."
Adi memohon, baginya tidak ada yang lebih penting daripada tentang informasi keberadaan Suci.
"Mas.." Laras menghardik. Tapi Adi sama sekali tak menggubrisnya.
"Ras.., Please.. untuk kali ini aja." Adi bicara dengan wajah datar. "Cel.. kamu lanjutin makan malam ya, aku tinggal dulu."
"Its ok, no problems." Marcel tak bisa berbuat apa-apa, dan hanya membiarkan Adi pergi.
Laras kecewa dan sangat kecewa dengan sikap Adi. Bagaimana mungkin, dia tega meninggalkan keluarganya dalam acara yang dia sendiri yang mengatur.
Suasana menjadi hening seketika, tak ada yang bersuara. Terlihat masih nampak kekecewaan di wajah Laras.
Marcel mencuri pandang, melirik ke arah Laras. Dia merasa iba dengan wanita itu. Secara fisik, Laras memang jauh lebih cantik dari Suci, lebih elegan dan lebih menarik.
Tapi setahu Marcel, Adi memang lebih mencintai istri pertamnya.
"Emmm.. Cumi bakarnya sangat enak. Kalian mau coba?" Marcel mencoba membuat suasana menjadi hangat kembali. Tapi masih belum berhasil, "Rio, mau om suapin cumi bakar. Its very very yummi."
"Sungguh om..??"
"Ya, tentu. Sini om suapin.." Marcel memotong sedikit cumi dan memberikan pada Rio.
Rio membuka mulutnya dan menerima suapan dari Marcel. Dengan perlahan mengunyah makanan itu.
"Gimana? Enak kan?"
"Enak banget om.."
"Kamu mau lagi, biar om yang suapin Rio. Ok?"
__ADS_1
Rio mengangguk dengan mulut yang masih mengunyah. "Bu Yati.., makan aja dulu biar saya yang suapin Rio." Titah Marcel pada bu Yati.
Perlahan sumuanya pun mulai melanjutkan makan kembali, walau masih ada rasa kecewa di dada Laras.