
Adi tertunduk lesu, wanita yang amat dicintainya telah pergi. Sepuluh tahun hidup bersama membuatnya merasa tak tega melihat istri pertamanya harus diseret-seret oleh Laras, istri keduanya. Adi sangat percaya dengan Suci, apapun yang dikatakan Suci pasti adalah sebuah kebenaran, dia sangat mengenal wanita itu. Suci tak mungkin berkata bohong. Tapi apalah daya, semua bukti-bukti mengarah pada Suci.
Obat racun yang ada di saku celana menjadi bukti kuat bahwa Suci lah yang telah menaruh racun di minuman Rio. Rio adalah anak satu-satunya dari pernikahan kedua Adi. Bersama Laras Adi berusaha memberi separuh hatinya. Walau awalnya sangatlah sulit, membagi cinta dengan wanita Lain. Tapi kebaikan dan ketulusan Laras membuat membuat Adi luluh. Dia pun menerima gadis pilihan orang tuanya itu.
Tidak ada yang salah dari rahim Suci, dia sehat dan tidak mandul. Mungkin karena takdir Tuhan lah yang membuatnya belum bisa mendapatkan momongan. Berbagai cara sudah mereka lakukan. Mulai dari makanan penyubur kandungan, terapi, dan metode lain pun belum juga membuahkan hasil. Dulu, Adi pernah mengusulkan untuk mengikuti program bayi tabung. Tapi keputusan itu ditolak oleh kedua orang tuanya.
Adi adalah pewaris tunggal dari keluarga Herman subrata, ayahnya bekerja sebagai dewan pemerintah. Sementara Adi sendiri memilih untuk bekerja dibidang bisnis. Matanya yang tajam, badannya yang tegap, dan wajahnya yang dingin tapi ramah membuat banyak wanita mengidolakannya. Walaupun sudah jelas-jelas meteka tau bahwa Adi telah mempunyai seorang istri. Tapi tetap saja banyak wanita bawahannya yang iseng menggoda dan meminta foto selvi.
"Mas..." Laras menegur Adi. "Aku tahu mas Adi pasti sangat terpukul dengan semua ini. Aku juga tahu kalau mas sangat mencintai mbak Suci. Tapi apa yang dilakukan mbak Suci, aku sangat sangat tidak bisa menerimanya mas.."
Adi terdiam, masih tetap tertunduk. Fikirannya masih tertuju pada istri pertamanya. Suci pergi tanpa membawa apapun, dimana dia akan tidur malam ini, dengan apa dia makan.
"Mas..." panggil Laras sekali lagi.
"Sudahlah.., jangan bicarakan itu lagi." Adi menghela nafas panjang. "Bagaimana keadaan Rio sekarang?." Adi menanyakan keadaan anak semata wayangnya.
"Sudah mendingan mas..., dia bersama ibu sekarang."
"Syukurlah.."
__ADS_1
Laras mendekati suaminya, duduk dibawah Adi dan mengelus laki-laki itu. Dia menatap wajah Adi lekat-lekat. Sikap-sikap seperti inilah yang selalu membuat Adi luluh pada Laras.
"Mas.., tolong jangan seperti ini. Aku yakin kok mbak Suci pasti baik-baik saja di luar sana" Laras menghibur suaminya, dia tahu betul bahwa suaminya masih menghawatirkan madunya.
"Kenapa kau tega mengusirnya?"
"Mas, sebenarnya aku juga gak tega. Tapi kau tahu Ibu kan?. Ibu sudah sangat marah pada mbak Suci. Kau dengar sendiri kan apa yang dikatakan Ibu."
"Dia tak punya keluarga disini Ras.., dia ngak punya siapa-siapa di kota ini. Kemana dia akan pergi?." Adi mengusap kepalanya, mataya mulai memerah. "Kau tidak memberinya uang?."
Laras menggelengkan kepalanya. "Ibu melarangku."
Tiba-tiba Ibu mertua Adi memasuki kamar tanpa mengetuk pintu. Wanita paruh baya itu seolah tak punya sopan santun, seenaknya keluar masuk kamar orang lain tanpa permisi. Sejak kematian suaminya 3 bulan yang lalu Yati memilih tinggal bersama Laras.
Adi dan keluarganya pun tak melarang keputusan Laras yang membawa ibunya untuk tinggal bersamanya.
"Adi, Laras. Yuk kita makan malam! Sudah ditungguin tuh sama yang lain."
"Yuk mas kita makan dulu!" Laras membujuk suaminya.
__ADS_1
"Kau turunlah dulu." ***** makan Adi sirna seketika, perutnya terasa penuh.
"Adi.., kamu harus makan nak!, sudahlah... yang lalu biarlah berlalu, toh Suci juga pantas mendapatkan semua ini." Bu Yati berkata dengan ketus.
"Ibu.., kok bilang seperti itu sih."
"Emang iya kan Ras?, tega-teganya dia mau bunuh Rio anak kamu."
"Ibu.." Laras menegur Ibunya.
"Hemm.. ya sudah lah!, cepat kalian turun ya!"bu Yati membalikkan badan dan pergi dari kamar Laras.
"Mas.., jangan diambil hati ya omongan ibu." Laras bangkit, "Kalau kamu gak mau turun, biar aku bawakan makan ke sini." Laras mengelus rambut suaminya.
Adi menggelengkan kepalanya. "Gak usah, nanti aku ambil sendiri. saat ini aku belum merasa lapar."
"Baiklah." Laras pergi meninggalkan suaminya.
bersambung..
__ADS_1