
Suci bangun pagi-pagi sekali, sebelum ayam berkokok dan sebelum masjid ramai dengan para jamaah yang menunaikan sholat subuh dia sudah mengakhiri mimpi tidurnya.
"Terimah kasih banyak ya pak sudah mengijinkan saya untuk bermalam di sini." Suci mengucapkan terimah kasih kepada pak Burhan takmir masjid yang saat itu usai melaksanakan sholat subuh.
"Sama-sama neng. Sudah kewajiban kita harus saling membantu." sejenak pak Burhan memandang Suci. masih merasa iba. "Neng Suci kalau bapak boleh tahu, habis ini neng mau kemana?. Kalau neng masih binggung, untuk sementara neng boleh tinggal di masjid ini dulu."
Suci terdiam, dia sungguh beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik pak Burhan.
"Tidak pak.. sebelumnya terimah kasih atas perhatiannya." Suci tersenyum, senyum yang sangat indah dipandang. "Saya akan mencari rumah kontrakan. Saya tidak ingin merepotkan warga di sini pak."
"Alhamdulillah..." Pak burhan mengusap wajahnya. "Tapi.. apa neng Suci punya uang?"
"untuk saat ini belum sih pak. Tapi saya ada perhiasan, nanti rencananya mau saya jual."
"oh.. alhamdulillah kalau begitu. Maafin bapak ya neng gak bisa bantu banyak."
"gak apa-apa kok pak. Buat saya ini sudah lebih dari cukup."
"Saya doakan neng selalu diberi kekuatan dan kesehatan."
"Terimah kasih atas doanya pak." Sekali lagi Suci tersenyum dengan indah.
####
sekitar pukul setengah 8 pagi Suci memutuskan untuk pergi ke toko perhiasan. Tidak ada cara lain, dia harus mendapatkan uang. Dan satu-satunya cara saat ini adalah menjual kalung emas yang telah melekat dilehernya selama bertahun-tahun.
Kalung yang indah pemberian suami tercintanya 7 tahun yang lalu terpaksa harus ia jual demi kelangsungan hidupnya.
Sebenarnya bukan hanya kalung perhiasan yang ia pakai. Masih ada satu buah cincin emas murni di jari manisnya, tapi cincin itu bukan cincin sembarangan. Itu adalah cincin pernikahan yang diberikan oleh Adi.
"Kira-kira laku berapa ini mbak?" Tanya Suci pada salah satu pegawai toko.
"Sebentar saya cek dulu ya mbak. Suratnya ada kan mbak?"
"Aduh kalau surat-suratnya saya gak bawa mbak."
"oh... ya sudah kalau begitu saya cek dulu ya mbak"
pegawai toko itu pergi meninggalkan Suci. Sejenak pikiran Suci kembali ke masa lalu. Dia ingat betul bagaimana suami tercintanya memberikan kejutan di hari ulang tahunnya dengan memberikan kalung itu. Ada inisial A dan S di liontinnya.
Saat itu rumah tangganya dengan Adi masih baik-baik saja. Sebelum kedatangan orang ketiga.
"Mbak.., mbak..., hallo mbak..." pegawai toko itu memanggil suci berkali-kali tanpa ada respon. padahal saat itu pegawai yang berwajah imut itu berada persis di depan Suci.
Suara pegawai toko membuyarkan lamunan Suci. "oh iya mbak"
__ADS_1
"Kami cuma bisa beli ini dengan harga 5 juta mbak. Gimana? jadi di jual apa tidak?" tanya pegawai itu pada Suci. " Soalnya sayang banget nih mbak, ini perhiasan langkah lo, kami gak bisa ambil dengan harga mahal karena gak ada suratnya. Kalau ada suratnya kita bisa beli diatas 5 juta."
Sebenarnya Suci enggan untuk menjual kalung itu. Tapi tidak ada cara lain, dia bisa kerja serabutan. tapi dia tidak mungkin harus tinggal di masjid terus-terusan. Dia harus mencari kontrakan atau setidaknya kamar kos.
"Ya uda mbak, 5 juta aja." Kata Suci dengan nada datar.
Dengan cepat pegawai itu mengambil uang dan memberikannya pada Suci.
"ini 5 juta. Di hitung dulu ya mbak. karena nanti kalau ada kekeliruan di luar toko, pihak kami tidak mau terima." Kata pegawai itu sambil tersenyum manis.
"Baik." Suci menganggukkan kepala.
Usai keluar dari toko, Suci berjalan mencari angkot. Tak tau harus kemana, yang ada dipikirannya hanya kampung tempat ia bermalam. Ada banyak orang baik di sana. Tapi di kampung itu sama sekali tidak ada rumah yang kosong dan dikontrakkan. Kos-kosan pun tak ada.
Selang beberapa menit Suci menghentikan sebuah angkot. Angkot itu berhenti tepat didepannya.
Dengan cepat Suci naik ke dalam angkot berwarna hijau itu. Tak ada satu pun penumpang. Dia duduk seorang diri di belakang.
pak supir yang terlihat telah senja. wajahnya telah keriput. pakaiannya pun terlihat usang. sejenak ada rasa iba di benak Suci melihat supir angkot itu.
"Mau kemana neng?" Tanya pak supir.
"ehm..." Suci tak tahu apa yang harus ia jawab.
"Neng binggung ya?" tanya sopir itu seakan bisa membaca hati Suci.
"Sebenarnya saya mau mencari rumah kontrakan pak. Kira-kira bapak tau gak dimana ada rumah dikontrakkan."
"wah kalau rumah dikontrakkan ada banyak neng ditempat saya. Kalau neng mau bapak bisa antar neng kesana."
"Boleh pak, saya sangat berterimah kasih kalau bapak mau mengantar saya."
"Sama-sama neng"
Sekitar 30 menit angkot itu menusuri jalan. melewati gedung-gedung tinggi, kemudian masuk ke jalan kampung dan berakhir di depan gang kecil.
Suci melihat kanan kiri. Suasana di kampung itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa ibu-ibu yang lalu lalang menuju tukang sayur.
"Sudah sampai neng. Kita jalan masuk gang kecil itu. sekitar 20 meter ada beberapa rumah petak yang dikontrakkan."
"Baik pak" Suci turun dari angkot. Berjalan dibelakang supir angkot.
20 meter dari jalan, ada beberapa rumah petak yang desain dan warnanya sama. Rumah yang berukuran sekitar 4 x 6 meter, tidak terlalu kecil untuk tempat tinggal satu orang.
"Ini rumah baru neng, masih banyak yang kosong. Yang punya tetangga saya."
__ADS_1
"Rumahnya bagus pak."
"Iya neng namanya juga rumah baru. Gimana neng suka?. Kalau suka saya akan bilang ke yang punya rumah sekarang."
"Suka kok pak."
"Masalah harga gampang lah, nanti bisa saya negokan dengan orangnya." pak angkot meringis. "Yang penting neng jangan lupa fulus persenannya".
Suci tersenyum melihat tingkah supir angkot yang sudah renta itu. "Masalah itu tenang aja pak".
"Neng lihat-lihat dulu ya. Saya mau jemput yang punya rumah ini." Pak supir angkot pergi meninggalkan Suci.
"Tunggu pak"
"Ada apa neng?"
"Ehm... Siapa nama bapak?".
"Pak Shodiq."
Suci tersenyum..., dari pertama ketemu di angkot tadi Suci belum menanyakan siapa nama Bapak itu. Suci berjalan perlahan menusuri teras rumah petak. ada sekitar 10 rumah yang saling berhadapan.
Dari sepuluh rumah, hanya tiga yang baru berpenghuni. Suci tahu uang yang dia pegang tak akan mampu untuk membayar selama 1 tahun. Tapi dia akan membayar untuk setengah tahun kedepan.
Sekitar 20 menit Pak Shodiq kembali dengan seorang Ibu-ibu paruh baya.
perbincangan pun berlanjut. Suci bersedia menempati rumah itu dengan harga 3 juta per setengah tahun. Untuk sementara dadanya bisa bernafas lega. Dia memberikan sedikit uang tip untuk pak Shodiq.
"Makasih ya neng." Pak Shodiq memasukkan 2 lembar uang berwarna merah ke sakunya.
"Sama-sama pak." Suci tersenyum tipis. "Saya yang seharusnya berterimah kasih.
Rumah kecil yang minimalis, ada satu ruang tamu berukuran 2 meter, satu ruang kamar tidur berukuran 2,5 × 3meter dan sisanya kamar mandi yang cukup luas.
Suci melihat ke dalam kamar, ada sebuah kasur yang cukup empuk dan satu buah almari kecil di sampingnya.
Suci duduk di atas kasur, pikirannya teringat suaminya. Dia amat merindukan Adi, ini bukan kali pertama dia hidul tanpa suaminya. Dulu, suaminya sering pergi ke luar kota meninggalkannya di rumah bersama mertua dan Laras. Tentu saja itu hal yang biasa, dia masih bisa berkomunikasi dengan Adi dengan ponsel.
Sekarang semua berbeda 100 persen. Suci tak membawa ponsel, jangankan untuk membawa ponsel. Baju pun hanya yang melekat pada tubuhnya saja.
Suci mulai frustasi dengan kesendiriannya, ada perasaan sedih yang tak bisa ia gambarkan. Dia seolah berada di ruangan yang tak berpintu. Tak tahu harus keluar lewat jalan mana.
Air matanya menetes perlahan,
"Tidak," Suci menggelengkan kepala. "Aku tidak boleh putus asa." tanggan kanannya mengusap air mata di pipinya yang mulus. "Aku harus tegar, aku harus kuat."
__ADS_1
Suci merasakan gerah ditubuhnya, sejak kemarin sore dia belum ganti baju. "Apa aq harus pulang ke rumah dulu untuk menggambil pakaian ku." Suci teringat perlakuan Laras yang kasar. Teringat Suaminya yang hanya diam tanpa membelanya kemarin. "Aku gak akan kembali ke rumah itu, uang penjualan kalungnya masih ada. "Lebih baik aq beli beberapa baju dari uang ini. Dan setelah itu aku akan berusaha mencari kerja."