
Derap kaki terdengar dari lorong kamar, terus berjalan menuju satu ruang ke ruangan yang lain. Laras merasa hari ini adalah hari yang paling melelahkan untuknya.
Dia harus menyelesaikan tugas rumah yang tiada ada habisnya. Mulai dari memasak, nyapu, ngepel, mencuci baju dan sebagainya. Satu-satunya orang yang membantunya adalah ibunya sendiri.
Ketika ada Suci di rumah itu, tugas laras hanya melipat pakaian dan membersihkan kamarnya saja. Semua tugas rumah Suci yang mengerjakan. Sekarang setelah dia mengusir madunya itu, dia merasakan beratnya menjadi seoarang ibu rumah tangga.
Di tengah-tengah keletihannya Laras duduk istriahat sejenak di halaman belakang rumah. Dia membawa dua cangkir teh hangat. Satu untuknya yang satu lagi untuk Ibunya yang lebih dulu berada di tempat itu.
Halaman belakang rumah itu cukup luas, ada kolam renang yang tidak terlalu lebar yang berukuran sekitar 5 × 8 meter. Di sampingnya ada beberapa tumbuhan dan bermacam bunga.
Adi dan Suci sengaja mendisain belakang rumahnya dengan asri. Karena di tengah bisingnya kota, mereka bisa merasakan segarnya oksigen alami.
Ada juga sebuah ayunan panjang beearna merah yang biasanya digunakan Suci untuk bersantai sejenak, ketika tubuhnya mulai merasa letih.
Keluarga itu memang sengaja tidak mempekerjakan pembantu. Bukan karena mereka tak mampu, tapi keinginan Suci sendiri yang ingin mengerjakan pekerjaaan rumah dengan tangannya sendiri.
Dia tak mau menjadi seorang istri yang kerjanya hanya bersantai ria. pun begitu, mereka tetap mempekerjakan seorang tukang kebun dan sopir pribadi.
"Nih bu." Laras memberikan satu cangkir teh untuk bu Yati.
"Terimah kasih Ras.." Ibu Yati meneguk teh buatan putrinya. Slruuubbb.... "Ras.., ibu capek nih."
"Sama bu.., Laras juga capek banget." Laras mengelap keningnya yang berkeringat.
"Kenapa sih rumah sebesar ini gak punya pembantu?." Eluh bu Yati.
"Biasanya yang jadi pembantu kan mbak Suci buk.., sekarang setelah dia sudah pergi ganti aku yang mengerjakan semua ini. Kalau setiap hari seperti ini, bisa patah semua tulang ku ini buk."
Bu Yati terdiam seraya mengerlingkan mata, seolah telah menemukan sebuah kunci harta karun.
"Ras.., kenapa kamu gak minta suamimu untuk cari pembantu saja."
"Pembantu bu?."
"Iya Ras.. ibu yakin kok suamimu pasti setuju dengan usul kamu."
"Tapi apa nanti mas Adi gak bandingkan aq dengan mbak Suci buk?, aku paling gak suka kalau harus dibanding-bandingkan dengan istri tuanya itu buk."
"Bilang aja kamu beda dengan Suci, gak semua orang harus rajin macam Suci kan Ras.." Bu Yati memijat-mijat bahunya sendiri, dia pun merasa letih karena membantu pekerjaan putrinya. "Udah... nanti kalau suamimu pulang bilang sama dia suruh ambil pembantu. Biar kamu kita gak capek kayak gini Ras.."
Laras mangut-mangut. "Ok, nanti aku bilang sama mas Adi."
__ADS_1
"Eh, Ngomong-ngomong mertuamu kapan pulang Ras?" Tanya bu Yati.
"Entahlah bu.., aku tidak tahu. Mas Adi juga gak berani telvon mereka. Katanya dia gak mau menggangu liburan mama dan papa."
"Bagaimana sikap mereka nanti kalau tau Suci sudah gak tinggal di sini lagi."
"Ehmm.. paling juga biasa-biasa aja bu. Toh mereka juga gak terlalu peduli dengan mbak Suci. Mereka kan lebih sayang sama aku."
"Iya pasti lah.., kamu kan yang sudah memberikan mereka cucu."
Orang tua Adi memang sedang ada liburan di Luar negri bersama rekan-rekan kerjanya. Sudah hampir sepekan mereka pergi berlibur ke cappadokia, dan belum ada kabar kapan mau pulang.
"Yuk bu bantuin Laras masak. Nanti keburu Rio pulang."
"Aduh... kamu masak sendiri gih."
"ayok lah bantuin Laras. Nanti kalau Laras yang masak sendiri rasanya gak akan enak." Laras beranjak dari tempat duduknya. "Ayo bu..!"
"Ya iya.."
#######
Rumah makan tempat Suci bekerja terlihat sangat ramai di jam-jam makan siang. Banyak para pegawai kantor dan pekerja swasta lain yang datang untuk makan siang di situ.
Seorang pemuda dengan rambut yang disemir warna pirang membuka facebook. Dengan serius dia mengamati yang ada di layar ponselnya.
Jarinya menscrol ke bawah dan kadang-kadang kembali ke atas, tak sengaja dia melihat foto suci di layar ponselnya. Tak ia hiraukan, karena ia anggap itu tidaklah penting.
Beberapa detik kemudian Suci menghampiri dua pemuda itu. Mengantarkan makanan yang mereka pesan, dua piring nasi campur dan dua gelas jus jeruk.
"Ini pesanannya. Silahkan dinikmati." Kata Suci dengan santun kepada dua pemuda itu.
"Terimah kasih"
seorang pemuda memperhatikan wajah suci. "Bro.. sepertinya gua pernah lihat tu orang deh, tapi di mana yah,"
"Di alam mimpi paling lu lihatnya." Sahut pemuda yang satunya.
"Di mana yah?" Pemuda itu mengambil ponselnya, melihat-lihat halaman facebook yang tadi sempat ia buka. Jarinya menscroll ke atas terus menerus, "Lah ini dia ketemu."
"Apanya yang ketemu woi. Bikin kaget aja."
__ADS_1
"Ini bro, lihat!" Dia menyodorkan ponsel ke temannya.
"Wah iya betul. Ini foto pelayan itu kan?. Gila istri orang kaya dia bro."
"Kita hubungi aja suaminya bro, bakal dapat banyak duit kita."
"Iya pastinya. Eh tunggu dulu, gua ada ide nih. Sini gua bisikin."
Entah apa yang dibicaraka mereka berdua, yang ada mereka berbisik sambil manggut-manggut setelah itu dengan senangnya tertawa terbahak-bahak.
#######
Jam menunjukkan pukul 20.00 WiB. Suci dan juga rekan kerja yang lain bersiap untuk menutup rumah makan tempat mereka bekerja.
"Mbak Suci, aku pulang dulu ya." Kata seorang rekan kerja Suci yang menyalahkan motor dan bersiap meluncur.
"Iya Dit.., hati-hati di jalan ya."
"Siap mbak.. Maunya sih bisa anterin mbak pulang tapi arah rumah kita kan beda ya. Jadi maaf ya mbak Suci."
Suci tersenyum, "Aduh.. makasih lo sebelumnya. Tapi gak usah ngerepotin lah dit. Aku bisa pulang sendiri kok." Terang Suci.
"Ok deh mbak.. kalau gitu aku duluan ya. Dah.."
"Dah.." Suci melambaikan tangan kepada Dita dan rekan yang lain.
Tinggal lah Suci seorang diri di tepi jalan menunggu angkutan yang lewat. Cukup lama dia menunggu hingga terlihat mobil pak Yudha pun keluar dari parkiran.
Mobil Yudha melintasi Suci begitu saja. Yudha yang berada di dalam mobil tak memperdulikan sedikitpun keberadaan Suci. Dia sibuk dengan setir dan handphonenya.
Mamanya mengirim pesan whatsap berkali-kali agar dia segera cepat pulang.
Saking terburu-burunya Yudha menjatuhkan ponselnya, melihat ponselnya jatuh. Kaki Yudha refleks mengerem mobil yang dikemudikannya.
"Sial.." Tangannya mencari-cari letak ponsel.
Seusai mendapatkan ponselnya, tak sengaja matanya melirik spion mobil. Dari jarak 100 meter terlihat 2 orang pemuda menggunakan jaket serba hitam dan membawa motor besar menghampiri Suci.
Yudha merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia perhatikan terus mereka dari kaca Spion. Benar saja, seorang pemuda tiba-tiba turun dari motor dan menghampiri Suci.
Dengan cepat tangan pemuda itu menutup mulut Suci dengan sesuatu. Entah apa yang ada di tangan pemuda itu hingga membuat Suci lemas dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Dengan langkah seribu pemuda itu menaikkan Suci ke atas motor dan membawanya ke arah yang berlawanan dari posisi Yudha sekarang.
Yudha yang meyaksikan kejadian itu langsung memutar mobilnya dan mengejar mereka bertiga.