
Rupa-rupanya dua pemuda yang siang tadi sempat melihat wajah Suci di sosial media mempunyai rencana jahat. Mereka hendak memangfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tujuannya tidak lain adalah ingin memeras Adi.
Dengan sigap Yudha masih mengintai mereka bertiga, mengikutinya hingga sampai di sebuah jalan sepi yang terletak di sebuah perumahan. Yudha menambah kecepatan mobilnya, dan dengan sigap menghadang laju motor yang mereka kemudi.
Siuuttttt... mereka hampir saja terjatuh karena rem mendadak.
"Sial..." Kata seorang pemuda yang bertugas sebagai pengemudi motor.
Dengan cepat Yudha turun dari mobil. Mereka berdua memakai sarung kepala layaknya seorang napi buronan dan Yudha tak bisa melihat wajah mereka.
"Mau kalian bawa kemana dia?." Tanya Yudha yang mulai memasang kuda-kuda.
"Bukan urusan kamu." Jawab salah seorang dari mereka dengan nada gontok. "Minggir, gak usah ikut campur kalau tidak mau nyawamu melayang." Ancam mereka.
"Ohw... belum tahu siapa Yudha ya kalian." Yudha mulai melipat lengan bajunya.
"Nantangin kita ya kamu."
"Iya." Jawab Yudha santai seraya memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Sementara Suci tergeletak di tepi jalan dengan keadaan yang masih tak sadarkan diri.
Satu lawan dua, dengan gaya seorang petarung jalanan yudha menonjok muka salah seorang dari mereka dengan keras. Kakinya pun tak diam, dia melompat dan menendang pemuda yang satu lagi.
Mereka berdua tak menyerah begitu saja, satu tonjokan pun mendarat di pipi Yudha. pukulan yang lumayan keras hingga membuat bibirnya sedikit berdarah.
Melihat setetes darah keluar dari bibirnya, Yudha malah naik pitam. Emosi campur dengan amarah membuatnya semakin bringas.
Yudha memukul mereka berkali-kali dan tak segan sesekali menendang perut mereka.
Hal yang tak terduga terjadi, salah seorang pemuda itu membawa senjata tajam. Sebuah pisau berukuran 15 sentimeter dikeluarkan dari saku jaketnya.
Yudha melihat itu, tapi masih berusaha menghabisi rekannya yang satu lagi. Pemuda brengsek itu lari menuju Yudha sambil menodongkan pisau ke perut Yudha. Sedang saat itu di depannya masih ada pemuda brengsek satu lagi yang belum menyerah.
Dengan tangan kanan satu pukulan yang amat keras mendarat di dagu pemuda itu, sedang tangan kirinya menghentikan pisau yang hendak menembus perutnya.
Darah mengucur dari tangan kiri Yudha. Satu tendangan, dua pukulan di pipi, tiga tonjokan di dagu, dan satu tendangan lagi membuat pemuda yang satunya lagi tersungkur ke jalan aspal.
"Sekarang baru tahu kan siapa Yudha." Katanya sambil terkekeh pada dua pemuda yang tengah tersungkur. "Cepat pergi sebelum aku telvon polisi!!."
Mendengar Yudha mengatakan polisi, mereka bergegas bangun, dengan langkah gontai menuju motor dan pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Yudha, mantan preman jalanan yang dulu waktu SMA pernah menjadi atlet wushu. Dulu, hampir setiap pemuda seumuran dikota mengenal dirinya. Preman yang paling ditakuti.
Hingga di suatu hari dia merasa ingin merubah dirinya menjadi insan yang lebih baik. Dia memutuskan untuk keluar dari dunia kekerasan dan beralih profesi menjadi pengelola salah satu rumah makan milik keluarganya.
Yudha mengambil satu kain syal yang ada di dalam mobinya, mengikatnya pada tangan kiri yang tengah mengucurkan darah.
Kakinya melangkah mendekati Suci. Wanita itu sepertinya masih dalam pengaruh obat bius. Dia sama sekali tidak merespon panggilan Yudha.
Yudha mengangkat tubuh Suci, dengan tenaga yang tersisa Yudha menggendong Suci ke dalam mobil.
Sialnya Yudha tidak mengetahui di mana rumah Suci, dia berusaha mencari handphone di tas Suci. Tapi dia tidak menemukan apapun di tas itu, hanya ada sebuah tisu dan jilbab saja.
"Eh.. Ada ya jaman kayak gini manusia gak punya handphone." Yudha bicara pada Suci yang tengah tak sadarkan diri seraya menggelengkan kepala.
Tidak ada jalan lain dengan terpaksa Yudha harus membawa Suci pulang ke rumahnya.
######
klintung... klintung... klintung...
Dengan langkah gopoh mbok Nah, pembantu di rumah Yudha membukakan pintu.
"Iya den..."
"Lo lo lo.. aden bawa siapa ini?"
"Gak usah banyak tanya mbok.. cepet bawain Yudha alkohol dan perban. Cepet mbok!"
"Iya iya den.." mbok Nah berjalan tergopoh mengambil kotak p3k.
"Eh eh eh... ada apa sih kok rame-rame?" Setelah mbok Na sekarang giliran mama dan papa Yudha yang datang.
"Yud.., Kamu bawa siapa ini?" Tanya papa Yudha.
"Ini salah satu pegawai aku pa."
"Trus dia ini kenapa? kamu gak ngapa-ngapain dia kan Yud..??" Tanya mama Yudha yang merasa khawatir. "Ya ampun, tangan kamu berdarah Yud.." Mama melihat tangan Yudha yang di ikat syal.
"Nanti aku jelasin ya ma, sementara biar aku taruh dia di kamar dulu."
"Iya, iya.. cepat kamu taruh dia di kamar tamu." Papa ikut membantu Yudha menggotong tubuh Suci ke kamar tamu.
__ADS_1
Usai menidurkan Suci di kamar tamu, Yudha beserta papa mamanya berjalan ke ruang keluarga. Yudha membuka luka ditangan kirinya di bantu oleh mama Rahayu.
Mbok Nah datang membawakan sebaskom air dan kotak p3k.
"Yud.., kamu gak kembali ke teman-teman kamu yang dulu kan?" Tanya mama Rahayu pada Yudha sambil membersihkan luka di tangan putranya.
"Ngak lah ma.., Yudha seperti ini karena nolongin pegawai Yudha itu. Pas Yudha mau pulang, Yudha lihat si Suci itu diculik. Ya udah..., gak mungkin kan ma Yudha biarin kejahatan terjadi sementara Yudha sendiri bisa tolong dia."
"Tapi kenapa tangan kamu bisa terluka seperti ini. Ini agak dalam lo Yud. Mama telvon dokter soni ya."
"Gak usah ma.., kasih alkohol saja. Bentar juga akan sembuh."
Mama menuangkan sedikit alkohol di luka Yudha, kening Yudha mengeryit menahan rasa sakit. Luka ditangannya memang sedikti dalam, tapi bukan Yudha namanya kalau hanya karena luka semacam itu harus memanggil dokter.
Mama Rahayu membalut tangan Yudha dengan rapi. wanita setengah baya itu sudah direpotkan Yudha bertahun-tahun. Dulu, anak laki-lakinya itu sering sekali pulang dengan luka-luka ditibuhnya. Karena saking seringnya, mama Rahayu tak pernah memanggil dokter dan lebih memilih merawat sendiri luka yang dialami putranya.
"Kenapa kamu gak antar pegawai kamu itu kerumahnya Yud?," Tanya papa Yudha
"Yudha tidak tahu rumahnya pa, aku coba telvon keluarganya tapi dia tidak bawa handphone. Ya... terpaksa Yudha bawa dia pulang pa."
"Oh ya ma.. ngomong-ngomong kenapa sih tadi kirim wa Yudha terus-terusan?" Yudha menyandarkan kepalanya dikursi.
"Oh.. itu. Mama berniat mau kenalin anak teman mama ke kamu Yud. Orangnya cantik deh Yud, lulusan universitas ternama di london." Terang mama pada Yudha. "Mama mohon kali ini kamu mau ya ketemu sama dia. Mama yakin kamu pasti suka dengan gadis itu."
"Ah mama nih.. perjodohan lagi, perjodohan lagi. Yudha gak mau ah ma. "
"Yud.. kamu ini sudah berumur lo, sudah waktunya kamu buat mikirin nikah. Kamu mau memujang sampai tua." Bujuk papanya.
"Bukan begitu pa..., masalahnya Yudha gak suka dijodoh-jodohin. Nanti kalau Yudha ketemu sama wanita yang cocok juga bakal nikah kok pa."
"Iya tapi kapan?, Lihat tuh teman-teman kamu. Semua sudah pada punya anak."
"Biarin aja lah pa ma..., Yudha gak sama dengan mereka yang mau buru-buru nikah. Yudha masih ingin sendiri aja." Yudha beranjak dari duduknya, "Sudah.., Yudha capek mau tidur. Jangan bahas nikah-nikah lagi."
Yudha pergi menuju kamarnya yang berada di lantai 2, sedangkan papa mamanya harus menerima kekecewaan lagi atas sikapnya.
######
Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi, Suci membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah aneh.
ada di mana aku? kenapa aku ada sini? kamar siapa ini?
__ADS_1
Ada berbagai macam pertanyaan yang muncul di benaknya. Suci berjalan ke luar kamar. Sepi, masih tidak ada siapapun di ruangan itu.