Badai Pernikahan Suci

Badai Pernikahan Suci
Kebaikan Yudha


__ADS_3

mbok Nah yang sudah terbiasa bangun dini hari berjalan menuju ruang tengah. Matanya yang telah dipenuhi dengan kriput melihat sosok perempuan berhijab berdiri di depan pintu kamar tamu.


"Sudah bangun neng?" Tanya mbok Nah pada Suci yang nampak kebinggungan.


"Saya di mana?" Tanya Suci yang balik bertanya pada mbok Nah.


"Neng ada di rumah den Yudha."


"Yudha?" Suci mencoba mengingat sesuatu. Dia tak bisa mengingat apapun setelah dua orang pemuda dengan wajah tertutup menghampiri dan menyumbat mulutnya. apa yang sebenarnya telah terjadi. Suci bertanya-tanya dalam hati.


"Mbok Saya minta tolong boleh."


"Monggo neng."


"Tolong bangunkan pak Yudha."


"Waduh.. ini kan masih jam 3 pagi neng. Den Yudha gak akan mau dibangunkan."


"Emmm.. kalau begitu tunjukan di mana kamar pak Yudha. Biar saya yang bangunkan sendiri."


"Jangan neng.., nanti den Yudha bisa marah-marah. Dia paling tidak suka kalau tidurnya digangu. Mbok gak berani neng, den Yudha kalau marah galak banget."


"Udah mbok gak apa-apa, saya yang bangunkan nanti kalau dia marah biar saya yang dimarahi. Mbok tenang aja."


Mbok Nah menyerah, dia akhirnya memberi tahu letak kamar Yudha.


"Ada di lantai 2 neng, kamar yang paling ujung." Kata mbok Na seraya tangan kanannya menunjuk ke arah kamar Yudha.


"Baik, terimah kasih ya mbok Nah."


Suci berjalan menusuri rumah itu, menaiki tangga, dan terus berjalan menuju kamar yang di tunjukkan oleh mbok Na.


Tok.. tok.. tok... Tak ada respon sama sekali dari dalam kamar.


Tok... tok.. tok... Sekali lagi Suci mengetuk pintu kamar Yudha. "Pak Yudha.." Suci memanngil Yudha dengan suara lantang. Berharap Bosnya itu akan mendengarnya.


Di dalam kamar, Yudha merasa kesal. Dia baru bisa memejamkan matanya jam setengah satu tadi, dan sekarang malah ada yang berani mengganggu tidurnya.


Tok... tok... tok... "Pak Yudha.., ini saya Suci."


Yudha tak tahan lagi dengan suara di luar kamarnya. Dia terbangun, matanya terlihat masih merah. Dengan kesal Yudha melempar bantal yang ada disampingnya. Dengan langkah gontai Yudha berjalan menuju pintu.


krrrekkkk.... suara pintu yang terbuka.


"Pak Yud...."


"Berisik amat sih lu.." Yudha memotong pembicaraan Suci. "Lu gak lihat ini jam berapa?. Gangguin orang tidur aja."


"Maaf pak Yudha, tapi saya mau pulang."


Yudha memperhatikan Suci, mulai kesal dengan ucapan Suci.


"pulang?" Tanya Yudha yang tak percaya. "Ci, ini jam 3 pagi. Lu mau pulang jalan kaki?"

__ADS_1


Wajah Suci tiba-tiba menjadi kebinggungan. "Tapi saya ingin pulang pak?, Saya merasa gak nyaman ada di sini." Kata Suci dengan suara terbata-bata.


"Ya udah silakan lu pulang. Gua mau tidur lagi." Yudha berbalik menuju tempat tidurnya lagi. "Suruh mbok Na untuk buka kunci pintunya." Katanya sambil membaringkan tubuh. "Oh ya, tolong tutup pintu kamar saya ya."


Suci menutup pintu kamar tanpa mengatakan apapun lagi. Dia berjalan menuruni tangga. mencari keberadaan mbok Na.


mbok Na terlihat sedang berada di dekat dapur memilah milah baju kotor.


"Mbok Na," Tegur Suci


"Iya neng.."


"Mbok.., tolong buka kunci pintunya. Saya mau pulang mbok."


"Neng.., ini kan masih gelap. Apa mendingan neng tunggu sampai pagi saja."


"Tidak mbok.., saya mau pulang sekarang. Saya gak nyaman di sini." Terang Suci.


"Neng mau pulang naik apa? ini masih jam 3 pagi lo. Tukang ojek, angkot juga pasti masih pada molor neng."


"Jalan kaki saja mbok."


"Jalan kaki neng? Rumah neng dimana?" Tanya mbok Na.


"Jalan karang bungah mbok."


"Itu kan dari sini jauh neng.. hampir 5 kiloan lo dari sini." Mbok Na memasukkan pakaian yang telah dipilahnya ke dalam mesi cuci. "Jangan pulang dulu neng bahaya."


"Gak apa-apa mbok. Saya bisa jaga diri kok."


Suci tertegun mendengar perkataan mbok Na. "Di culik?"


"Iya. Den Yudha yang cerita."


Suci membisu, ada begitu banyak pertanyaan tentang kejadian semalam. Kenapa dia bisa jadi sasaran penculik. Dia bukan anak kecil yang jadi sasaran penculik. Dia juga bukan orang kaya yang bisa di peras.


Sejenak terlintas Adi dipikirannya. Jika suaminya tahu masalah ini, dia pasti tidak akan tinggal diam.


Hati Suci merasa ciut mendengar penjelasan mbok Na. Bagaimana nanti kalau di jalan ada yang berniat mencelakainya lagi, bagaimana jika orang jahat yang kemarin akan kembali berusaha menculiknya lagi.


Pelan-pelan ia tepis rasa takut itu, rasa ketidak nyamanannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.


Suci memantapkan niat, dia pernah menginap semalaman di masjid, dan tidak terjadi apapun. Semua masalah yang pernah dia alami membuatnya menjadi sosok wanita yang tanguh dan berani.


"Tidak mbok Nah, saya harus tetap pulang sekarang. Saya takut akan terjadi fitnah yang tidak-tidak kalau saya terlalu lama berada di rumah ini."


Mbok Nah memandang wajah suci, wanita itu sepertinya menyimpan beban yang dalam.


"Baiklah kalau itu yang neng mau. Mari saya antar ke luar."


Mbok Nah berjalan menuju ruang tamu di ikuti oleh Suci dibelakangnya. Sesampainya di depan pintu mbok Na mengambil kunci yang tergantung di dinding yang tak jauh dari tempatnya.


Setelah pintu terbuka, Suci langsung melangkahkan kakinya keluar.

__ADS_1


"Sampaikan salam saya untuk pak Yudha dan kedua orang tuannya ya mbok. Sampaikan juga terimah kasih saya pada mereka."


"Iya pasti neng."


Mbok Nah menutup pintu rumah itu. Suci merasa begidik berada di Luar rumah besar itu seorang diri. Dia memantapkan langkahnya, ah dia adalah manusia makhluk paling mulia diantara makhluk yang lain. Bahkan dalam penciptaannya, malaikat dan iblis pun dititahkan untuk menghormati manusia.


tit.. tit... Suara klakson mobil membuat Suci kaget setengah mati. Dia masih berada di dalam halaman rumah Yudha. Halaman rumah itu sungguh amat luas, butuh waktu sekitar 8 menit jika berjalan dari gerbang menuju rumah utama.


"Naik.." Kata Yudha yang tiba-tiba telah berada di dalam mobil yang ia kendarai sendiri.


Suci mematung. Bukannya tadi Yudha kembali tidur di kamarnya, terus kenapa sekarang dia bisa tiba-tiba berada diluar rumah di dalam mobil.


"Pak Yudha kan?" Tanya Suci yang hampir tak percaya.


"Iya lah. Lu kira apa? Jin? hantu?"


"Tapi tadi kan pak Yudha ada di kamar, kapan keluarnya. Kunci juga ada pada mbok Na."


"Eh.. lu pikir cuma ada satu kunci di rumah sebesar ini. Udah cepet naik, aku antar pulang."


Suci terdiam, dia masih ragu apakah harus naik mobil itu atau tidak.


"Udah cepet naik, keburu gue berubah pikiran."


Naik mobil jauh lebih baik daripada harus jalan kaki seorang diri. pikir Suci.


"Baik pak." Suci membuka pintu mobil belakang dan segera naik.


Yudha keheranan, baru kali ini dia bertemu wanita aneh. Ada cowok keren nawarin tumpangan, malah milih duduk di kursi belakang.


Mobil itu perlahan berjalan meninggalkan area rumah keluarga besar Yudha.


Di dalam mobil dalam perjalanan, mereka berdua hanya terdiam. Suci sangat merasa tidak nyaman, baru kali ini dia berdua di dalam mobil selain dengan suaminya, Adi.


Secara tak sengaja Suci melihat Yudha yang menyetir hanya menggunakan satu tangan kanannya saja.


"Pak Yud" Suci mengawali pembicaraan.


"Ya." Jawab Yudha.


"Tangan pak Yudha yang sebelah kiri kenapa?"


"Ngak apa-apa" Jawab Yudha singkat. "Hanya sedikit terluka."


"ohw.." Suci berusaha melihat tangan kiri Yudha yang terluka. Tapi tak bisa dia lihat karena terhalang kursi. "Boleh saya lihat lukanya pak?"


"Ngak. ngak usah lihat-lihat."


Suci tertegun, dia sungguh tidak mengerti sifat bosnya itu. Kadang baik, kadang cuek, dan kadang kasar.


"Kenapa bisa terluka?"


"Banyak tanya ya kamu?. Udah diem! bicara saja nanti kalau sudah mau sampai rumahmu."

__ADS_1


Suci terdiam, dia sungguh benar-benar tidak mengerti dengan sifat Yudha.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sekitar 70 km per jam. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah kontrakan Suci. Apalagi hari masih dini dan jalanan pun belum terlalu ramai.


__ADS_2