Badai Pernikahan Suci

Badai Pernikahan Suci
Tim Rahasia


__ADS_3

Di kantor perusahaan Adi Nugraha.


Jam diponselnya telah menunjukkan angka 10.00 wib. Sementara Adi masih belum bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ada begitu banyak dokumen dihadapannya, Tapi satu lembar pun belum ia baca.


Adi masih memikirkan Suci, yang dia kerjakan dari pagi hanya bermain sosial media. Adi membuat akun fake di facebook, instagram dan twitter. Menyebarkan berita bahwa dia sedang mencari seseorang, dan orang yang dia cari tidak lain adalah Suci.


Dia masuk ke beberapa grup di facebook. Menampilkan foto Suci di berbagai media. Dengan cepat berita itu menyebar, ratusan komentar pun mulai menghiasi akun fakenya. Hasilnya tidak sia-sia. Ada beberapa orang yang sekilas melihat keberadaan Suci, tapi di akhir komentar selalu terselip tak tahu keberadaannya sekarang.


tok... tok... tok... dari balik pintu terdengar seseorang mengetuk pintu.


"Ya masuk" Adi berkata dengan keras,


"Pak Adi." seorang satpam yang bertubuh tinggi tegap memasuki ruangan. "Ada masalah apa pak?." Tanya satpam yang benama Hadi dengan nada canggung.


"Pak Hadi. Maaf sebelumnya merepotkan, tapi saya ada tugas buat pak Hadi." Kata Adi tanpa basa basi.


"Siap melaksanakan tugas pak."


"Saya minta bapak mencari beberapa orang tim untuk mencari istri saya."


"Istri yang mana pak?" Pak Hadi memotong pembicaraan bosnya.


"Istri pertama saya" Jawab Adi dengan suara datar tapi tetap tegas.


"Ibu Suci ya pak?," Tanya satpam itu sekali lagi seolah tak percaya. "Emang ibu Suci kemana pak?."

__ADS_1


"Kalau saya tahu saya tidak akan suruh kamu untuk cari dia." Adi mulai tidak suka jika bawahannya mulai bertanya-tanya tentang kehidupan pribadinya.


"Iya maaf pak bos" pak Hadi menggernyitkan dahi, menyesali perkataanya. "Siap laksanakan pak bos."


"Kamu cari 4 atau 5 orang untuk mencari istri saya. Semakin cepat istri saya ketemu. semakin banyak upah yang kamu dapat nanti."


"Siap pak!"


######


Di dalam kamar, Laras menggigit-gigit ujung jarinya. Dia merasa khawatir dengan keadaan madunya, ada perasaan bersalah dan di sisi lain dalam dirinya ada perasaan puas. Akhirnya dia bisa menjadi satu-satunya istri yang bertahan di rumah mewah itu.


"Mbak Suci pergi tanpa sempat membawa apapun." Laras bergumam seorang diri. Dia menggigit bibir bawahnya, kemudian menghela nafas pendek. "Tinggal dimana sekarang mbak Suci." Bagaimanapun juga selama hidup berdampingan Suci tak pernah merasa iri dengan Laras. Tapi lagi-lagi ada sisi negatif dalam dirinya yang muncul dengan tiba-tiba.


"Tapi nyaman juga sih kalau gak ada mbak Suci di rumah ini. Aku bisa menjadi Istri sepenuhnya mas Adi." Laras tersenyum jahat.


Dan dengan perlahan membuka pintu kamar madunya.


klek... klek.. "Sial.. Mas Adi mengunci kamar ini."


Selama ini Laras memang sudah sering masuk ke kamar itu, tapi hanya sekedar mampir dan tak Lebih. Ada rasa penasaran yang luar biasa dalam diri Laras tentang apa yang ada di dalam lemari-lemari milik Suci.


"Ras...," Laras merasakan ada tangan seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.


Laras tersentak kaget. "Ibu.." Mata Laras terbelangak melihat sosok ibunya. "Bikin Laras kaget aja."

__ADS_1


"Ngapain kamu di sini?." Tanya Ibu Yati pada putrinya.


"Ngak ngapa-ngapai bu.." Jawab Laras sembari berjalan ke arah dapur.


"Jangan bohong kamu Ras.." Bu Yati tersenyum tipis. "Ibu bisa baca pikiranmu lo Ras.."


"Gak usah mikir aneh-aneh lah bu." Laras membuang muka.


Keduanya berjalan menuruni tangga, Bu Yati berjalan dibelakang Laras.


"Kamu penasaran sama berapa banyak harta si Suci itu kan?" Sekali lagi bu Yati menebak pikiran putri cantiknya. "Pasti Adi sudah memberi begitu banyak perhiasan dan aset untuk Wanita itu." Bu Yati masih memanas-manasi Laras. "Pasti gak ada apa-apanya kalau dibanding dengan semua yang sudah diberikan Adi kepadamu. Padahal kamu yang sudah memberikan dia putra." Celoteh wanita paruh baya itu membuat Laras semajin dipenuhi rasa dengki.


"Sudahlah bu..., berhenti membanding-bandingkan aq dan mbak Suci." Laras mencoba mengubur rasa irinya.


Sesampainya di dapur, Laras membuka kulkas. Tangannya menggapai satu botol air putih, dia menuangkan air itu ke sebuah gelas dan dengan cepat meminumnya.


Selama ini dia jarang sekali masak, Yang ada Suci lah yang setiap harinya masak untuk keluarga itu. Kalaupun dia masak paling cuma sekedar mie instan, nasi goreng bumbu instan, dan telur ceplok.


"Aku mau masak untuk mas Adi. Ibu ajari aku yah!." Pinta Laras pada ibunya.


"Kamu tuh ya uda 5 tahun lebih menikah, tapi masak aja belum bisa."


"Ibu...,"Laras menatap ibunya. "Aku gak butuh ceramah bu, aku butuh bantuan untuk masak buat suamiku."


Bu Lastri memonyongkan bibir. "Iya-iya Ras.."

__ADS_1


######


__ADS_2