
Adzan maghrib mulai berkumandang dengan merdu. Langit mulai berubah warna menjadi keabu-abuan. Suci masih tetap melangkahkan kakinya, berharap akan segera menemukan musholla untuk menunaikan sholat maghrib dan sekalian beristirahat.
Kata orang pamali jika saat tiba waktu maghrib kita masih ada di luar rumah. Katanya banyak setan berkeliaran. Bukan mitos sih, sebenarnya hal itu memang ada dasar hadistnya.
Mau mau bagainana lagi, Suci sedang di timpa masalah besar. Dia tak punya tempat mengadu sekarang. Tapi dia masih punya tempat mengadu yang jauh jauh lebih baik dari manusia, jauh jauh lebih penyayang dan mendengar. Dialah Tuhannya, Zat yang amat sempurna dan tak mempunyai tandingan.
Beberapa menit kemudian,Suci berhenti di sebuah masjid yang tidak terlalu besar. Dia berjalan memasuki halaman masjid, Ada banyak jemaah yang menatapnya dengan tatapan aneh. Tentu saja, wajahnya terlihat seperti wanita yang kebinggungan.
Saat itu para jemaah usai melaksanakan sholat maghrib dan banyak yang berjalan keluar masjid.
Usai melaksanakan sholat, Suci berdoa sejenak. Mengharap diberikan kemudahan dalam menjalani hidupnya.
"Ya Rabb..., berikanlah petunjuk untukku. Berikanlah aku keikhlasan dalam menjalani hidupku ini. Hanya Engkau tempat ku mengadu ya Rabb.."
Sekilas dia mendengar seorang melantunkan ayat ayat suci al-quran. Suci mencari keberadaan datangnya suara itu. Tak jauh dari tempatnya berada, seorang laki-laki paruh baya mengaji dengan penuh hikmat. Dalam pikiran Suci, orang itu pasti takmir masjid ini.
Suci menghampiri pria yang berusia sekitar 50an itu.
"Assalamualaikum pak.." kata Suci menegur pak Burhan.
Pak Burhan menghentikan bacaannya, menoleh ke arah Suci, dan menjawab salamnya. "Waalaikumus salam warokhmatulla hiwabarokatuh." Jawab pak Burhan.
"Nama saya Suci pak.., kalau boleh saya mau minta tolong pak.."
"Neng mau minta tolong apa?"
"Ijinkan saya untuk bermalam di masjid ini, hanya untuk semalam saja pak.., saya sedang ada masalah, saya tidak tahu harus kemana." Suci terdiam sejenak. "Sebagai gantinya saya akan membantu membersihkan masjid ini. Saya mohon dengan sangat.."
Pak Burhan terdiam, merasa iba dengan Suci. Tapi tak ingin tahu lebih dalam masalah apa yang sedang dialami wanita itu.
"Baiklah..., neng boleh menginap di masjid ini. Dipojok sana ada gudang kecil, neng bisa tidur disana." Pak Burhan menunjuk ruangan kecil yang ada di pojok masjid. "Neng jangan tidur di luar, gak enak dilihat orang, juga angin malam bahaya ke tubuh kita."
__ADS_1
Krucuk... krucuk.... suara perut Suci yang mulai terasa lapar mengeluarkan bunyi. Lirih-lirih pak Burhan pun mendengar itu.
Suci mengangguk kegirangan, setidaknya masalah untuk malam ini sudah teratasi. "Terimah kasih banyak pak.., saya berjanji esok subuh saya akan membantu membersihkan masjid ini."
"Gak usah neng.. sudah ada petugas yang membersihkan. Tapi kalau neng memang mau dan ikhlas melakukannya ya gak apa-apa. Terserah neng Suci saja." Pak Burhan beranjak, "saya mau pulang dulu, gak papa kan saya tinggal dulu."
Suci menganguk "gak papa kok pak.. sekali lagi terimah kasih banyak."
"Iya... iya..."
#######
Rio masih terbaring lemas di ranjang, ditemani nenek Yati dan juga Laras.
Entah bagaimana bisa dia meminum susu yang telah dicampur oleh obat pencuci perut. dari pagi bocah kecil itu bolak balik keluar kamar kecil. entahlah..., siapa juga yang talah tega meracuni Rio.
Saat itu Suci lah yang membuatkan susu untuk Rio, seperti hari-hari biasanya. Rio memang dekat dengan Suci, setiap hari dia membantu Laras merawat bocah itu. Mulai dari memandikan, membuatkan sarapan dan membuatkan susu juga. Hubungan Laras dan Suci pun tak pernah bermasalah, walaupun kecemburuan selalu datang diantara mereka berdua.
Laras melirik ibunya, "kok ibu bilang gitu sih?, ibu gak suka mbak Suci?"
"ya iya lah Ras ibu gak suka sama madu mu itu. Lah suamimu lebih sayang sama dia. Dan ternyata dia punya niat gak baik sama kamu dan anak kamu."
"aku juga gak nyangka buk.., ternyata dibalik wajah lugu mbak Suci tersimpan kebusukan."
"ya pasti lah dia iri sama kamu Ras.., kamu sudah memberi keturunan untuk keluarga ini. sedangkan si Suci itu, wanita mandul yang sok lugu."
"Ibu ngomong apa sih bu..?"
"ya.. memang benar kan Ras.."
"Tapi bu..., aku sendiri jadi gak yakin kalau mbak Laras yang sudah mencelakai Rio. mbak Laras itu sayang banget lo sama Rio"
__ADS_1
"kamu ini gimana toh Ras..., uda jelas2 ada buktinya." bu Yati berkata dengan jutek.
"Bukti memang mengarah pada mbak Suci, tapi siapa pelakunya kita belum tau."
"Ya sudah ibu mau tidur dulu. sudah ngantuk banget nih. Kamu disini saja tungguin Rio."
"Iya bu.."
Laras mematikan lampu dan mulai berbaring di samping Rio, dia membelai rambut putranya. kemudian memejamkan matanya.
#########
Suci tak bisa memejamkan matanya, perutnya terasa perih, sudah sejak tadi siang dia belum mengisi perutnya. Airmatanya menetes.., teringat kebersamaanya dengan suami. ini adalah malam pertamanya di luar rumah keluarga Adi nugraha.
Sama sekali tak ada bayangan, bahwa hidupnya akan terlunta-lunta seperti ini, bahkan uang seribu rupiah pun ia tak punya.
Suci terbangun, perutnya semakin perih. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. berniat mengisi perut dengan air kran. beruntungnya di masjid itu ada air galon yang memang disediakan untuk para jemaah.
"Neng Suci, ini buat eneng" Pak Burhan datang dengan membawa sepiring nasi dan lauk pauk.
Suci terbelangak tak percaya, mulai menelan ludah melihat sepuring nasi yang dibawa pak Burhan.
"Ini neng silakan dimakan, kamu pasti lapar kan?. Ini istri bapak yang masak." Suci menerima makanan dari pak Burhan dengan senang hati. dia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan orang yang begitu baik. "Di makan ya neng.. maaf lauknya cuma seadanya. cuma sambal, tempe dan telur dadar aja."
"Terimah kasih banyak ya pak.., ini sudah lebih dari cukup."
"Sama-sama neng. dihabiskan ya neng. Bapak mau pulang dulu."
Suci mengangguk. "Sekali lagi terimah kasih banyak pak.."
"Iya neng."
__ADS_1
bersambung...