
Jam menunjukkan 22.30 malam. Semua orang dirumah telah terlelap.
Adi tak bisa memejamkan matanya, hanya memikirkan Suci. Malam ini dia lebih memilih berada di kamar istri pertamanya. Laras tidur bersama Rio.
Adi membolak-balikkan ponsel milik Suci. Ada foto mereka berdua di walpaper ponsel itu. Dengan cepat Adi bangkit dari tidurnya, mengambil jacket, memakainya dan memasukkan ponsel suci ke dalam saku jaket. Dia berjalan keluar kamar. Rumah nampak gelap, semua lampu telah dimatikan. Adi berjalan menuruni tangga. Malam ini dia berniat mencari keberadaan istri pertamanya itu.
Mobil melaju dengan kecepatan pelan. Kepala Adi menoleh ke kanan kiri, berharap akan menemukan keberadaan Suci. Di mana kamu mi..??
2 jam pencarian tak membuahkan hasil, Adi tak melihat keberadaan istrinya. Sesekali dia turun dari mobil dan menanyakan ke orang-orang yang ada di pinggir jalan seraya menunjukkan foto Suci. Tapi hasilnya nihil. Tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan istri pertamanya itu.
Harusnya aku mencegah Laras, sial!
#######
Sekitar jam satu pagi Laras terbangun, hal pertama yang dia pikirkan adalah Adi, suaminya. Laras beranjak dari tempat tidurnya berniat menemui sang suami. Sebelum pergi dia membelai rambut Rio.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
"Mas..., mas Adi.." tak ada jawaban dari dalam kamar. "Mas..."Laras memanggil suaminya sekali lagi, tapi tetap tak ada suara. Laras mencoba membuka pintu, tidak dikunci. Sepi, tak ada sosok suaminya dikamar itu. "Mas.." Laras memeriksa kamar mandi, tak melihat suaminya juga.
Laras duduk diatas kasur, memikirkan suaminya. "Aku tahu kamu pergi kemana mas." Laras mengeryitkan dahi, "Segitu cintanya kamu sama mbak Suci, hingga semalam saja kamu gak bisa tanpa dia. Aku juga istrimu, aku yang sudah melahirkan anakmu." Laras bergumam seorang diri.
Tak berselang lama Laras mendengar suara mobil datang.
"Pasti itu mas Adi." Fikirannya kalut, jangan-jangan suaminya pulang dengan membawa madunya. "Kenapa kamu gak bisa melihat kebenaran mas.." dengan cepat Laras berjalan menuju suaminya, tak sabar apakah Adi benar-benar pulang bersama Suci.
"Dari mana kamu mas?" Tanya Laras spontan ke suaminya.
Adi terdiam, seolah tidak melihat keberadaan Laras. Tetap berjalan menuju kamar yang berada di lantai 2. Sedangkan Laras mengikuti langkah suaminya.
"Mas... kamu gak denger pertanyaanku?" Laras mulai jengkel.
__ADS_1
Sesampainya di kamar Adi masih diam. Pikirannya berantakan, dia hanya ingin sendiri untuk saat ini.
"Kamu habis nyariin mbak Suci ya?"
"Kenapa kamu bertanya kalau sudah tahu jawabannya. Pergilah! Aku ingin sendiri."
Laras tak menghiraukan perkataan suaminya, dia malah duduk di samping Adi. Wanita cantik dengan tubuh tinggi 165 cm itu berniat merayu hati suaminya.
"Mas..., kamu jangan seperti lah.. kamu harus bisa membuka mata. Mbak Suci sudah melakukan perbuatan yang kejam. Dia naruh obat di susu Rio mas.., memangnya apa salah Rio? Hingga mbak Suci tega melakukan itu."
"Diam!!!" Adi menghentikan ocehan Laras. "Bukan Suci yang melakukan itu. Aku tahu siapa Suci, aku lebih lama hidup bersamanya daripada kamu."
Laras terdiam, hatinya terasa sakit karena bentakan suaminya itu.
"Ya udah, aku akan kembali ke kamar Rio" Laras pergi meninggalkan suaminya sendiri, diluar kamar dia bergumam sendiri, kesal. "Mbak Suci, mbak Suci, mbak Suci lagi. Kenapa sih mas selalu mbak Suci yang menjadi pertama di hati kamu?" Laras bukannya membenci madunya, tapi sifat wanita yang selalu cemburu dan ingin merasa paling dicintai lah yang membuat Laras jengkel.
__ADS_1