
Di depan meja makan Laras mengoleskan nutella di atas roti tawar. Rio duduk dan menunggu sang mama menyiapkan sarapan. Hanya ada roti, netella, keju dan susu di atas meja makan.
Pagi hari ini Laras merasa sangat malas untuk masak. Tubuhnya terasa begitu capek, serasa tulang-tulangnya telah remuk. Padahal baru beberapa hari dia berperan sebagai Ibu rumah tangga yang sesungguhnya.
Adi menuruni tangga dengan pakaian rapi dengan membawa sebuah tas berwarna hitam. Sesampainya di depan meja makan, Adi memperhatikan Laras dan juga Rio.
"Selamat pagi mas.." Kata Laras pada suaminya. "Maaf mas.. hari ini aku belum sempat masak."
"Emh.. tidak masalah." Adi duduk di kursi yang berada tepat di depan Rio. Kemudian mengambil dua buah roti tawar dan langsung memakannya tanpa memberi selai. Adi tak suka makanan manis, apalagi coklat.
"Mas... aku boleh minta sesuatu." Kata Laras
"Katakan." Jawab adi
"Mas.. kamu tahu kan rumah ini begitu besar, sedangkan aku sendirian, dan tidak ada yang membantu pekerjaanku. Tubuhku sangat letih mas."
Adi mulai mengerti maksud dari Laras, "Dan kau minta asisten rumah tangga begitu."
"Iya mas, mas Adi memang suami yang sangat pengertian, sudah mengerti maksud keinginanku walau belum aku utarakan." Puji Laras pada Adi.
"Nanti akan aku suruh orang untuk mencari pembantu yang tepat buat kamu. Sebelum itu kamu harus sabar mengurus rumah ini." Terang Adi.
Laras tidak menyangka suaminya akan menuruti kemaunnya tanpa banyak bertanya.
"Makasih ya mas.., mas Adi memang suami yang terbaik." Laras mengeluarkan kata-kata manisnya.
"Aku berangkat ke kantor dulu, nanti malam tolong buatkan aku telur balado ya." Adi terdiam setelah meminta itu dari Laras, dia kira Suci yang ada dihadapannya. "Oh maaf..."
"Aku bukan mbak Suci mas." Suasana hati Laras yang sedari tadi berbungga-bungga berubah seketika. "Tapi kalau mas Adi mau nanti aku bisa kok masak telur balado spesial buat mas."
Adi memang begitu, sebelum berangkat kerja dia sering berpesan pada Suci. Ingin dibuatkan masakan ini dan itu, dan yang paling dia sukai adalah telur balado.
"Ngak usah makasih, kamu capek, aku gak mau ngerepotin kamu."
Laras dan Rio mengantar Adi sampai di depan teras rumah. Laras mencium tangan Suaminya, begitu juga dengan Rio.
"Hati-hati di jalan ya mas.."
"Iya."
"Dadah papa,"
"Dah." Adi yang telah berada di dalam mobil melambaikan tangan pada Rio dan Laras.
__ADS_1
######
Siang hari yang terik dan sungguh melelahkan bagi seluruh pegawai di rumah makan milik Yudha Prasetyo.
Di tengah ramainya pengunjung, Suci malah sempat melamun di tengah aktivitasnya yang sedang melayani para pembeli.
"Apaan sih mbak, aku kan tadi pesan nasi goreng satu dan es lemon satu. kok malah yang datang nasi rawon dan es teh." Celoteh salah seorang pembeli wanita muda cantik.
"Maaf... maaf... mbak. Salah saya, ini pesanan orang yang di ujung sana. Biar saya tukar sebentar." Suci bicara dengan nada rendah.
"Apaan sih, makanya kalau kerja yang bener. Biar gak ketukar-ketukar gini. Bikin bad mood aja."
"Iya iya sekali lagi saya minta maaf."
Dengan segera Suci mengambil nasi rawon dan es teh yang ada di depan wanita itu. Kemudian berjalan menuju meja pengunjung yang lain.
Setelah selesai menukar hidangan, Suci kembali ke belakang. Di depan kasir salah satu rekan kerjanya menegur.
"Ada apa mbak Suci? Hari ini aku lihat mbak kayaknya sering melamun. Ada masalah ya?" Tanya gadis 23 tahun yang bernama aisya.
"Ngak ada apa-apa kok Sya. Cuma sedikit binggung aja." Jawab Suci berbohong.
"ooh.. jangan terlalu sering melakukan kesalahan mbak. Kalau pak Yudha tahu bisa dipecat nanti."
Sedari pagi Suci masih memikirkan tentang kejadian kemarin malam. Bagaimana bisa ada orang yang berniat menculiknya. Dia harus bertanya pada bos Yudha tentang apa sebenarnya yang telah terjadi kemarin malam.
Suci mondar-mandir di depan ruangan pak Yudha. Dia hendak memberanikan diri untuk masuk ruangan itu tapi dia pun masih ragu dengan kemauannya.
Sedangkan Yudha sendiri sedang melepas perban di tangannya, dia hendak memberikan obat dan mengganti dengan perban yang baru.
tok.. tok... tok...
"Masuk.." Mendengar suara ketukan, dia refleks menyuruh orang yang berada diluar untuk masuk ruangannya.
Begitu pintu terbuka, Yudha terkejut melihat seseorang yang ada dihadapannya.
"Ada apa?" Tanya Yudha
Suci terpaku melihat Yudha yang sedang berusaha menahan rasa perih di tangannya.
apakah itu luka yang Yudha dapat ketika menolongku kemarin malam. Ya Allah itu parah sekali. Pak Yudha sakit gara-gara aku. Apa yang harus aku lakukan?.
"Boleh saya bantu pak?" Kata Suci menawarkan bantuan pada Yudha. Dia merasa bahwa luka itu ada karenja dirinya, jadi dia harus membantu Yudha.
__ADS_1
"Ngak usah. Aku bisa sendiri." Yudha memutar kain kasa di tangan. Setelah selesai, dia kesulitan untuk mengikat perban itu.
Menyaksikan itu, dengan cepat Suci menghampiri Yudha dan membantu mengikat perban.
"Biar saya bantu pak."
Yudha merasa ada sesuatu yang aneh. Kenapa dirinya merasa takut memandang wajah Suci. Dia cuma wanita biasa yang lemah, bahkan untuk melindungi dirinya sendiri pun dia tak bisa.
Sepintas Yudha mencuri pandang, matanya melirik ke arah wajah Suci yang tenang.
Ada apa dengan diriku. Yudha bergumam dalam hati. Selama ini dia tak pernah segan dengan seorang wanita. Satu-satunya wanita yang ia segani adalah mamanya.
"Sudah pak." Kata Suci yang usai mengikat kain perban di tangan Yudha.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Yudha pada Suci.
"Saya mau tanya sesuatu pak."
"Tanya apa?"
"Masalah kemarin malam," Suci terdiam sejenak. "Saya tidak mengigat apapun pak Yud."
Mendengar pertanyaan Suci, Yudha terdiam. Sebenarnya siapa dia hingga menjadi targetpenculikan. Ada banyak pertanyaan tentang identitas Suci yang sebenarnya. Sedari awal Yudha sudah curiga kalau Suci bukanlah wanita sembarangan.
Tapi kenapa seakan Yudha merasa lebih baik dia tidak mengetahui identitas Suci. Yudha lebih suka jika wanita itu tetap menjadi pelayan dan bekerja dengannya di sini.
"Ada dua orang yang mau menculik kamu. Kamu masih beruntung kemarin, saya gak sengaja lihat kejadian itu. Ya, kamu harus bersyukur karena penjahat penjahat itu tidak berhasil membawa kamu pergi."
Suci mendengarkan perkataan Yudha dengan seksama. Dia sangat tidak meyangka akan menjadi sasaran penjahat.
"Dan luka di tangan pak Yudha itu.."
Yudha melihat tangannya. "Sedikit luka dalam perkelahian itu bukan masalah besar. Santai aja."
"Terimah kasih banyak karena bapak telah menyelamatkan saya."
"Sudah jadi kewajiban saya untuk menolong sesama kan?" Yudha menyandarkan kepalanya ke kursi. "Apalagi wanita itu secantik kamu," Yudha bergumam dengan volume suara yang lirih.
"Apa yang anda katakan pak Yud?"
"oh. tidak. Bukan apa-apa." Yudha salah tingkah seperti anak kecil. Sesaat ruangan itu terasa hening. "Eh, ngapain kamu berlama-lama di sini. Sudah cepat keluar!. Lanjutkan pekerjaan kamu."
Dengan cepat Suci beranjak meninggalkan ruangan Yudha melanjutkan pekerjaannya lagi.
__ADS_1