
"ya... tunggu sebentar." Laras berteriak. Berjalan dengan langkah cepat ke arah pintu utama.
Bel berbunnyi beberapa kali, Laras yang masih berada di dapur bergegas membukakan pintu.
Seoarang pria bertubuh tinggi, hampir sama dengan tinggi badan Adi. Rambutnya sedikit bewarna coklat. Berkacama hitam, hidungnya mancung, bibirnya merah bak bibir wanita. Memakai celana jeans dan jacket hoodie.
Dengan cool nya tamu itu memandang ke seluruh penjuru rumah. Setahu Laras, keluarga Adi tak mempunyai saudara atau kerabat seperti dia.
Laras keheranan melihat pria tamu dihadapannya itu. Apalagi dia membawa tas koper yang cukup besar.
"Hai.., Kamu pasti istrinya Adi kan?"
Bola mata Laras berputar melihat pria itu. Siapa dia?, kenapa dia bisa tahu kalau Laras adalah istri Adi.
Laras mengangguk, "Iya betul. Tapi anda siapa?"
"Perkenalkan saya Marcel. Sepupu suami kamu."
Laras tak pernah mengetahui jika suaminya mempunyai sepupu bernama Marcel. Adi pun tak pernah bercerita tentang Marcel.
"Sepupunya mas Adi. Tapi aku kok gak pernah lihat kamu sebelumnya." Laras terlalu banyak bertanya hingga lupa tak menyuruh pria itu masuk. "Emm.. Silakan masuk dulu."
Laras mempersilahkan Marcel untuk duduk sementara dia pergi mengambilkan secangkir teh hangat.
Marcel membuka kacamata hitamnya. Matanya terlihat agak sipit tapi begitu tajam.
"Bagus juga rumah Adi." Marcel memandang-mandang seluruh sisi rumah Adi.
"Mas Adi tidak pernah cerita kalau punya sepupu kamu."
"Begitukah? mungkin karena manurut dia aku gak terlalu penting untuk diceritain ke istrinya."
"Silakan di minum dulu tehnya."
Marsel meneguk teh yang ada di hadapannya. "Ehmm.. enak sekali."
"Terimah kasih."Laras tersenyum manis mendengar pujian Marcel. "Mas Adi jam segini masih ada di kantor. Jadi kalau kamu perlu sesuatu...."
"it's ok gak apa-apa kok. Aku ke sini cuma mau taruh koper aku aja. Setelah ini aku mau langsung ke kantornya Adi."
"Oh..."
Aneh rasanya, Laras sama sekali tak pernah tahu tentang pria yang mengaku sebagai sepupu suaminya itu.
"Oh ya, Adi bilang dia punya 2 istri. wow.., hebat sekali dia. Aku saja satu belum ada yang mau." Walaupun marcel berada di australia tapi Adi tak pernah lost contact dengannya. Dia masih sering bercerita tentang kehidupannya pada Marcel. "Dimana madumu itu?" Tanya Marcel.
"Dia sudah tidak tinggal di sini. Ya.. ada sedikit masalah."
"ehm.. pasti karena kalian saling rebutan jatah ngamar bareng Adi ya? ha ha ha.." Marcel tertawa lebar.
"Bukan karena masalah itu," Laras tak mau menceritakan masalah keluarganya pada orang asing.
__ADS_1
Sejenak marcel memperhatikan Laras. Sepupunya begitu beruntung mempunyai istri seperti Laras. Cantik, seksi dan juga smart. Dia heran kenapa wanita secantik dia mau di jadikan istri ke dua.
Marcel melihat jam tangganya, "Aku pergi ke kantor Adi dulu ya. Oh ya, kamu bisa antar aku ke kantor Adi kan?." Marcel menatap Laras. "Aku belum tahu dimana kantor Adi."
"Aku bisa kasih alamatnya kok. Kamu bisa naik taksi kesana." Pekerjaan Laras masih begitu banyak, jika dia pergi mengantar Marcel maka pekerjaannya akan terbengkalai dan rumah akan nampak seperti kapal pecah. "Bukan aku gak mau antar kamu. Tapi kamu ligat sendiri kan, rumah masih berantakan dan aku harus beresin ini semua."
"Kalian gak punya asisten rumah tangga?"
"Kami masih mencari dan sambil menunggu ya terpaksa aku yang harus kerjakan semua ini."
"oh... kasian sekali ya wanita secantik kamu harus capek-capek ngurus rumah." Marsel beranjak dari kursi sofa yang sangat empuk. "Ya udah kalau kamu gak bisa anterin aku, aku minta alamat kantor Adi saja."
Laras menulis alamat kantor suaminya di sebuah kertas, lalu ia serahkan kepada marcel.
"Nih.."
"Thaks ya"
Taksi yang ditumpangi oleh Marcel melaju dengan kecepatan tinggi menusuri jalan perkotaan yang padat.
3p menit kemudian, marcel tiba di kantor Adi. Marcel sengaja tidak mengabari Adi terlebih dulu, karena dia ingin memberi kejutan pada sepupunya itu.
Marcel yang sedari SMA memutuskan pindah ke australi karena papanya mempunyai pekerjaan di sana. Dan terpaksalah Marcel mau tidak mau harus ikut kedua orang tuannya.
Setelah sekian lama akhirnya marcel memutuskan untuk pulang ke negri tercinta. Bukan tanpa alasan, Marcel marcel memang sudah sangat merindukan Indonesia. Dan satu lagi keinhinannya, dia ingin mencari pendamping hidup wanita Indonesia. Entah mengapa, 17 tahun hidup di negri orang tak ada satu pun wanita bule yang mampu menarik hatinya.
Berdiri tepat di depan kantor perusahaan Adi. Marcel sangat kagum dengan sepupunya itu, masih muda dan berhasil menjadi pebisnis hebat. Perusahaan Adi bergerak di bidang ekspedisi pengiriman barang secara online. Bisnis yang memang sedang sangat berpotensi saat ini.
Marcel berjalan menuju resepsionis yang cantik dan menanyakan ruangan bos mereka.
"Selamat siang."
"Ya siang juga pak."
"Saya mau bertanya di mana ruangan Adi?. Bos kalian."
"Bapak sudah ada janji?." Tanya receptionis yang bernama Prita.
"Belum. Tapi saya sepupu Adi. Saya mau buat surprise untuk Adi."
"Aduh kalau belum ada janji gak bisa pak bertemu pak Adi."
Sejenak Marcel terdiam. "Kalau begitu telvon dia, bilang ada saudaranya yang mau ketemu."
"Baik pak"
Prita menelvon Adi yang berada di lantai 4. "Pak Adi, ada tamu ingin bertemu Bapak. Dia bilang saudaranya pak Adi."
Mendengar suara di balik telephone, Prita manggut-manggut saja. "Baik pak."
Prita menutup telepon dan kembali bicara pada Marcel. "Silakan pak, Pak Adi mengijinkan untuk bertemu. Ruangannya ada di lantai 4, nanti bisa cari sendiri di sana." Terang receptionis cantik berembut pendek itu.
__ADS_1
"Baik, terimah kasih ya cantik." Marcel melontarkan kata manisnya, dia sungguh terkesan dengan wanita dalam negri. Cantik, manis, dan yang paling penting mereka sangat suka tersenyum.
"Masuk.." Adi menyuruh seseorang yang telah mengetuk pintu kantornya.
"Adii" Kata Marcel dengan suara lantang.
Mata Adi langsung terbelangak melihat sosok yang telah dihadapannya. Sepupu yang lama tak bertatap muka dengannya.
"Marcel"
"Hai.. sudah jadi bos besar sekarang." Marcel berjalan mengjampiri Adi, kedua tangannya terbuka lebar. Tanda bahwa dia hendak memeluk sepupunya itu.
Adi berdiri menyambut pelukan dari Marcel. "wow... ini sungguh mengejutkan bro."
"Ya.. surprise bukan?"
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Adi.
"Seperti yang kamu lihat. Masih muda, sehat, dan..."
"Dan apa?"
"Dan masih single."
ha..ha..ha.. keduanya tertawa riang, seperti anak kecil yang masih tak punya beban hidup.
Setelah melepas kangen, Adi kembali duduk di kursinya. Sementara Marcel juga duduk di kursi yang ada di hadapan Adi.
"Harusnya kamu bilang bro kalau mau datang ke sini. Setidaknya aku bisa buat persiapan untuk jemput kamu di bandara."
"No. gak usah Di, aku memang sengaja ingin buat kejuatan buat kamu."
"ohhh... kamu memang tak pernah berubah sejak kecil bro.." Terang Adi pada Marcel.
"Tadi aku mampir ke rumah kamu. Aku taruh semua koper ku di sana. Sebelum aku dapat apartemen yang cocok. Boleh kan kalau aku tinggal di rumah kamu untuk sementara waktu.?"
"Marcel..marcel.. gak usah tanya begitu. Ya pasti boleh lah."
"wah.. thanks banget bro." Marcel menyandarkan kepala. "By the way, kamu punya dua istri kan?. Wow.. kamu memang benar-benar pria yang beruntung Di. Tiap malam bisa ganti teman tidur. Ha..ha.." Marcel tertawa membayangkan gimana repotnya punya dua istri. "Tapi.. kenapa istri tuamu sudah tidak tinggal bersama kalian?" Marcel memasang wajah seolah memikirkan sesuatu, menaruh tangan kanannya ke dagu. "Apa kamu sudah tidak sanggup lagi mendamaikan mereka yang tiap hari bertengkar karena rebutan mr. p mu? Whaha.. ha.. ha.." Marcel makin tertawa keras.
"Bukan karena masalah itu bro.. ya ada sedikit masalah kecil."
"Then.. sekarang istri tuamu ada dimana?"
"Belum tahu, aku masih berusaha mencarinya."
"Ehmmm... yang sabar Di. Dia pasti gak akan jauh dari sini kok."
Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol hingga menjelang sore hari.
Adi membawa Marcel mengelilingi kantornya, dan pada hari itu juga memperkenalkan Marcel kepada karyawan lain sebagai asisten keduanya.
__ADS_1
Hari itu Adi dan Marcel pulang lebih awal, Adi berniat mengajak sepupunya untuk makan malam bersama keluarnya malam ini. Ya.. sebagai bentuk penyambutan kedatangan Marcel.