
Adi masih bergelut di depan meja kerjanya. Suara gemericik hujan yang tak kunjung reda terdengar dari balik cendela. Adi tak mengerjakan pekerjaan kantor, yang dia lakukan adalah menjelajahi sosial media.
Masih belum ada informasi tentang keberadaan Istri pertamanya. Dia tak bisa tidur dengan tenang sebelum menemukan Suci.
Hawa dingin serasa menusuk tulang rusuknya. Adi memakai sweater berwarna hitam untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya malam itu.
Ruang kantor Adi berada di paling ujung lantai dua. Ada cendela kaca di salah satu samping ruangan, yang secara langsung bisa melihat suasana luar rumah.
Rambutnya terlihat acak-acakan, 2 hari ini otaknya tak bisa berfikir dengan normal. Semua pekerjaanya dia serahkan pada Faris, asistennya. Untuk saat ini dia hanya berkonsentrasi pada pencarian istri tuanya.
Tanpa mengetuk pintu dan permisi Laras memasuki ruang kantor Adi, malam itu dia terlihat begitu cantik. Rambutnya terurai indah, dia memakai riasan tipis di wajahnya, dengan baju tidur tanpa lengan dia terlihat begitu menggoda.
"Mas Adi..." Laras menegur suaminya yang masih berfokus pada layar laptop.
Adi menoleh, sejenak terpesona melihat istri keduanya. Dia memperhatikan Laras dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kau belum tidur?" Tanya Adi pada Laras.
"Belum mas.." Laras memperhatikan layar laptop. Dia menyadari suaminya tengah bermain sosial media. "Mas juga belum tidur."
"Aku..," Adi tidak melanjutkan jawabannya. Wajahnya kembali memperhatikan layar labtop.
"Tumben mas main instagram."
"Aku sedang mencari keberadaan Suci, siapa tau melalui sosial media dia bisa cepat ditemukan." Jawab Adi dengan jujur.
Keduanya terdiam sejenak, ada perasaan sedikit cemburu yang datang secara tiba-tiba dalam diri Laras.
"Mas..." Laras berkata dengan suara parau.
__ADS_1
Tangan Laras mulai beraksi, disentuhnya bahu suaminya, kemudian berjalan mengusap-usap punggung Adi yang bidang, dinaikkannya ke atas menuju leher Adi.
"Aku sedang tidak ingin melakukan apapun Ras..," Adi seolah mengerti apa yang di inginkan oleh Laras.
"Tapi malam ini dingin sekali mas..." Laras makin menggoda, dia mendekatkan wajahnya ke area leher bagian belakang. Adi bisa merasakan nafas hangat Laras menyentuh kulit lehernya, hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
Laras mencium leher suaminya, kemudian naik ke area telingga. Laras menggigit kecil telinga Adi.
Laki-laki mana yang tahan dengan godaan wanita, begitupun dengan apa yang dirasakan Adi. Selama ini Laras tak pernah gagal merayu suaminya dalam hal keintiman.
Tanpa banyak bicara Laras mencium hangat bibir suaminya, ci***n yang hangat perlahan-lahan menjadi panas. sekitar lima menit Laras ******* bibir Adi yang seksi, hingga Adi pun tak tahan lagi.
Hawa panas mengalir ke seluruh darah Adi, hingga memuncak ke ubun-ubunnya. Laras masin ******* bibir Adi, tangannya bergerak menuju area sensitif seorang laki-laki.
Adi tak tahan lagi, dia berdiri melawan laras. Tangannya mulai bergelirya menusuri tubuh indah Laras. Keduanya masih terlena dalam ci***n panas. Perlahan Adi membawa Laras ke ranjang yang ada di samping meja kerja.
Laras terduduk di tepi ranjang dengan tangan yang masih bermain-main dengan kejantanan Adi dan bibir yang saling beradu satu sama lain. Laras menukar posisi, bangkit dan mendudukkan suaminya. Dia menindih area kejantanan Adi, kedua kakinya merangkul tubuh suaminya.
Adi tak bisa melawan, dia bahkan begitu menikmati permainan itu.
Tangan Laras berusaha melepas sweater yang digunakan Adi, dengan cepat sweater berwarna hitam itu terlepas dari tubuhnya, memperlihatkan dada bidang yang berotot.
Ponsel yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar mengeluarkan suara nada dering.
Adi terkejut mendengar suara ponselnya, dengan cepat menyingkirkan tubuh Laras dan berdiri mengambil ponsel.
Hadi Security memanggil. Tulisan yang tertampang di layar ponselnya. Tanpa banyak berfikir Adi menjawab panggilan dari pak satpam Hadi.
"Ya pak.." Jawab Adi.
__ADS_1
"Halo pak Adi." Jawab suara disebrang. "pak Adi, saya sudah ada kabar tentang neng Suci." Terdengar suara pak Hadi begitu bersemangat.
"Serius pak?" Tanya Adi tak percya. Di mana dia sekarang?."
"Kita belum tahu pasti pak Adi. Tapi yang jelas tadi teman saya ada yang lihat wanita mirip istri bapak sedang nunggu angkot di jalan Ahmad Yani."
"Kapan itu pak?"
"Sekitar jam 8 malam pak."
"Ok. Terimah kasih informasinya ya pak."
"Injeh... sami-sami pak." Pak Hadi mengeluarkan kata bahasa Jawanya.
Adi menutup ponselnya, kemudia berjalan mengambil sweternya yang tergeletak di lantai. Dia memakai kembali Sweater hitam itu.
Gairah yang telah memuncak tadi tiba-tiba hilang dalam sekejab. Dia hampir tidak memperdulikan Laras yang kini masih duduk di hadapannya.
Laras memasang muka masam melihat tingkah suaminya. "Mau kemana sih mas?." Tanya Laras. "Kita baru saja mau mulai kan?"
"Anak buahku ada yang melihat Suci tadi."
"Mbak Suci lagi, jadi karena itu mas gak mau melanjutkan semua ini." Laras merasa jengkel.
"Jangan bicara seperti itu lagi." Adi menunjuk muka Laras karena geram. "Ingat! Kalau bukan karena dia kamu gak mungkin bisa jadi istriku saat ini."
Adi berjalan keluar dari ruang kantornya, meninggalkan Laras seorang diri di sana.
Laras termanggu, hatinya begitu sakit. Baru kali ini Adi menolak ajakannya. Ada api yang seolah membakar dadanya. Dia menelan ludah, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu mengeluarkan nafas panjang.
__ADS_1