Badai Pernikahan Suci

Badai Pernikahan Suci
Pertemuan Rio dan Suci


__ADS_3

Fajar meyongsong dari ufuk timur. Suara adzan mulai terdengar dari berbagai arah. Adi terbangun dari tidurnya, bergegas iya menyibakkan selimut dan menuju kamar mandi.


Pencariannya semalam tadi tak membuahkan hasil, dia berusaha untuk mencari Suci di jalan yang di share oleh satpam Hadi. Tapi nihil, dia masih belum beruntung. Tapi baginya, usaha tidak akan membohongi hasil. Cuma waktu yang belum memihak padanya.


Seusai berwudhu Adi menuju kamar Rio, dia berniat mengajak anak semata wayangnya untuk menunaikan sholat bersama.


"Rio..." Adi membangunkan Rio dengan lembut. "Rio.., bangun nak!" tangan kanannya mengusap kepala bocah itu. "Ayo bangun sayang..., kita sholat bareng."


Rio menggeliat, matanya masih terasa berat. "Papa.." Kata Rio setelah membuka mata dan melihat sosok papa di depannya.


"Ayo bangun sayang.. kita sholat bareng hari ini."


"Iya pa." Jawab Rio tanpa mengeluh. Anak itu memang sangat penurut, Rio di didik dengan cara yang benar-benar baik. Tak pernah sekalipun Adi, Laras atau Suci membentaknya. Mereka selalu menggunakan kata-kata yang baik kepada Rio.


Hasilnya pun sungguh luar biasa, Rio menjadi anak yang pandai, cerdas dan sopan.


"Rio bangun dan ke kamar mandi dulu ya sayang. Papa mau bangunin mama Laras dulu."


"Baik pa." Kata Rio sembari bangun dan menuju kamar mandi.


Adi berbalik menuju kamar Laras, Terlihat dia masih tertidur dengan nyenyak. Suara adzan subuh sepertinya tidak menghentikan mimpi indahnya.


Riasannya terlihat berantakan, dia masih tetap menggunakan daster yang semalam dipakainya. Masih terlihat cantik walau dalam keadaan terlelap.


"Ras..., bangun yuk! kita sholat subuh bareng."


Tak disangka, Laras menjawab perkataan Adi. "Apa sih mas.., aku masih ngantuk banget mas."


"Ayolah Ras.." Adi masih berusaha untuk membangunkan istrinya.


"Ngak ah mas.. nanti aku sholat sendiri."


"Ayolah Ras.., mau sampai kapan kamu kayak gini terus?"


"Aku gak peduli. Mas udah buat aku kecewa tadi malam."


Adi mengela nafas, menggelengkan kepala. Tak meyangka dia akan ngambek seperti itu gara-gara kejadian tadi malam.


"Ya sudah terserah kamu saja" Adi menyerah, dia meninggalkan Laras dan keluar dari kamar itu.


Adi kembali ke kamar Rio, dilihatnya putranya itu tengah memakai handuk dan bersiap menggunakan baju. Adi menghampirinya, mengambil baju koko untuk putranya,


Adi membantu putranya memakai baju seraya berkata. "Kita sholat di masjid saja ya sayang."


"Ke masjid pa. Wah asyik.." Tak di sangka bocah 5 tahun itu malah kegirangan. "Mama Laras juga ikut pa?"

__ADS_1


Adi menggelengkan kepala. "Tidak sayang, mama Laras sholat sendiri di rumah." Adi mengancingkan baju Rio. "Selesai, yuk berangkat."


"Yuk pa.."


####


Seusai sholat subuh, Adi menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dengan Rio di komplek rumah.


"Pa.."


"Iya sayang."


"Mama Suci kemana pa?, kok tiba-tiba pergi. Pergi kemana mama Suci pa?." Selama ini Rio memang dekat dengan Suci. hampir setengah kegiatannya bersama Suci. Bermain, Belajar, bahkan makan pun dia sering bersama Suci.


Yang dia tahu dia mempunyai dua mama. Mama Laras dan mama Suci.


Adi sempat kebinggungan dengan pertanyaan Rio, tak mungkin dia menceritakan kejadian yang sesungguhnya.


"Sayang..., mama Laras sedang pergi menggunjungi saudaranya yang ada di luar kota."


"Jauh ya pa?"


"Iya sayang. Jauh banget."


"Tapi kenapa ngak pulang-pulang pa? Rio kan kangen pa."


"oh.., Rio kangen pa sama mama Suci."


"Sama. Papa juga kangen."


#######


Hari itu Rio mulai bersekolah kembali, Laras mengantarnya hingga gerbang sekolah.


"Rio..., Sekolah yang pinter ya nak. Mama pulang dulu, nanti pulangnya dijemput sama pak Hamid ya."


"Iya ma."


"Cium mama dulu!" Laras menunjuk pipi kanannya.


Dengan cepat Rio mencium pipi kanan Laras dan berganti ke pipi kiri.


Muach... muach...


"Anak pintarnya mama,"

__ADS_1


Rio berbalik melangkahkan kakinya menuju ke dalam sekolah.


Dari kejahuan seseorang memperhatikan mereka berdua. Bersebunyi di balik sebuah mobil berwarna merah. Begitu melihat Laras telah pergi, wanita berjilbab ungu pastel itu berlari menuju Rio.


"Riooo.." panggil wanita itu dengan suara kencang.


Mendengar seseorang memanggil namanya, Rio berbalik. Bocah kecil itu sendiri tak asing dengan suara yang ia dengar.


"Mama Suci" Rio tersenyum seraya berlari menuju Suci. "Mama Suci sudah pulang. Papa bilang mama sedang pergi kerumah saudara mama yang sakit. Apa saudara Mama Suci sudah sembuh?"


Suci terdiam mendengar perkataan Rio, Adi pasti telah membohongi anak itu. Suci menatap Rio lekat-lekat, dia amat merindukannya. Dia bisa menahan rindunya kepada Suaminya, tapi kepada Rio dia tak bisa menahannya lagi. Rio yang sudah ia anggap seperti putra kandunya sendiri.


"Rio. Mama Suci sudah gak tinggal bersama kalian lagi sayang."


"Kenapa ma, Papa bilang..."


Suci menyela kata-kata Rio. "Sayang.., Papa bohong sama Rio. Ada masalah orang dewasa yang Rio gak perlu tahu." Suci tersenyum. "Tapi mama Suci akan tetap temuin Rio di sekolah."


"Ya...," Rio tertunduk, merasa sedih. "Mama Suci gak akan donggengin Rio lagi dong." Rio masih tertunduk lesu.


Suci tertegun, melihat bocah itu matanya berjaca-kaca. " Jangan sedih dong sayang." Rio kan masih bisa ketumu sama mama Suci di sekolah.


"Rio juga gak akan makan masakan mama Suci lagi dong." Rio masih tetap tertunduk.


"Rio" Suci mengusap rambut Rio yang lebat. "Lihat mama Suci," Rio menggangkat kepalanya. "Mama Suci janji akan sering-sering temuin Rio di sini dan mama Suci juga janji akan bawain bekal buat Rio." Suci mengusap pipi Rio. "Asal Rio gak boleh bicara sama Papa, mama Laras dan oma Yati kalau Rio ketemu sama mama Suci di sekolah." Rio memandang wajah Suci. "Gimana?, Rio bisa janji sama mama Suci kan?"


"Bisa ma, Rio janji gak akan bilang sama papa dan mama Laras."


Suci tersenyum kemudian mengeluarkan sebuah kotak makan kecil yang di dalamnya ada beberapa buah perkedel kentang.


"Mama Suci bawakan perkedel kentang spesial buat Rio." Suci menyodorkan makanan itu pada Rio.


Rio menerimanya dengan senang hati, selama ini memang Sucilah yang selalu bertugas untuk masak di keluarga itu. Masakannya terbilang enak dan selalu disukai semua orang.


" Makasih ya ma, Rio sangat suka masakan mama Suci." Rio membuka kotak makannya. "Boleh Rio cicipi?"


"Tentu dong sayang"


"Sini biar mama Suci yang suapin ya." Suci mengambil satu buah perkedel dan menyuapinya kepada Rio. "Baca bismillah sayang.."


"Bismillah.." Hap.. Rio memakan perkedel buatan suci dengan lahap. "Enak banget mama Suci. Nanti Rio bagi dengan teman Rio boleh gak ma?"


"Tentu saja boleh sayang." Suci kembali mengusap rambut Rio. "Ya udah mama pulang dulu ya sayang. Belajar yang pintar, Nurut sama ibu guru. Ok!"


"Ok mama Suci."

__ADS_1


Suci mencium kedua pipi Rio bergantian, kemudian berganti mencium keningnya. "Dah Rio sayang."


"Dah mama Suci." Rio melambaikan tangan pada Suci yang berjalan menjauh.


__ADS_2