Badboy VS Gadis Bercadar

Badboy VS Gadis Bercadar
[17] Sanggupkah Mahar Surat Ar Rahman?


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, itu berati sebentar lagi keluarga Arsaj akan datang kesini. Sungguh Qisi merasa sangat deg deg an sekali. Bagaimana tidak, pertemuan kali ini untuk membahas pernikahannya yang akan sebentar lagi akan dilangsungkan.


Keringat bercucuran membasahi pelipis Qisi. Saat ini pun dirinya masih menggunakan mukenah yang dipakainya sholat isya' tadi. Dirinya masih bingung mau memakai baju apa? Mau berdandan seperti apa?.


Bukan apa apa saja, kata uminya dirinya harus bersiap siap dan kalau bisa muka Qisi harus terlihat fresh. Karena untuk pertamanya nanti dirinya akan menunjukkan wajahnya ke orang lain yang bukan mahramnya.


Astaghfirullah, semakin difikirkan semakin berdetak kencang jantung Qisi. Tidak tidak dia harus segera bersiap siap. Dia harus segera turun dan membantu uminya juga.


Akhirnya pun ia mengambil jubah pink dan menggunakan jilbab serta cadar berwarna maron. Sebelumnya pun ia hanya menambahkan pelembab wajah dan bibir yang diberikan oleh uminya.


Tak butuh waktu lama Qisi pun selesai bersiap siap dan segera turun kebawah. Namun pada saat baru saja Qisi melangkah turun tangga, tanpa diduga disana juga keluarga Arsaj baru saja datang.


Terlihat dari gaya berpakaian mereka semua sangat rapi sekali. Baik dari Daddy ,mommy, nenek dan kakek Arsaj. Pakainya sungguh modis. Hingga membuat Qisi mendadak insecure dengan penampilannya. Karena dirinya hanya mengenakan pakaian yang sederhana. Bagaimana ini? Apakah Qisi harus berganti pakaian?. Tapi pakaian apa yang hendak Qisi pakai.


Qisi pun yang tadinya hendak turun tangga mengurungkan niatnya. Dirinya pun kembali ke kamarnya. Detak jantung dan kecemasan ini tidak bisa di atur nya. Meski begitu mulutnya tak ada henti hentinya untuk terus beristighfar, berharap dengan begitu dirinya bisa sedikit tenang.


Saat masih sibuk menangkan dirinya tak lama terdengar suara ketokan pintu yang mengagetkan Qisi.


Tok tok tok


"Boleh umi masuk kedalam?" Tanya uminya diluar.


"Iya umi silahkan".


Tak lama pun terdengar pintu kamar terbuka dan menampakan uminya.


"Apakah kamu masih belum selesai bersiap siap?" Tanya uminya.


"Entahlah umi, apakah pakaian ini cocok dengan Qisi. Qisi lihat tadi keluarga Arsaj sangat rapi sekali , sehingga membuat Qisi memikirkan kembali pakaian Qisi" jawab Qisi jujur.


"Bagus kok ini, ini juga rapi jadi tidak ada masalah. Ayo turun kebawah bersama umi, keluarga Arsaj sudah menunggu loh"


"Tapi umi, Qisi sangat cemas. Entah kenapa jantung Qisi rasanya berdetak kencang terus sedari tadi. Jadi Qisi tadi mau menenangkan jantung Qisi dulu sebelum turun kebawah"

__ADS_1


Mendengar pengakuan dari anaknya, uminya pun hanya tertawa renyah. Sungguh lucu sekali, sekalian flashback saat dirinya dulu juga merasakan seperti itu saat dikhitbah oleh abinya Qisi.


"Itu hal yang wajar sayang, sini Umi pegang tangan kamu, kita turun bersama sama biar kamu ga terlalu cemas. Umi dulu juga merasakan seperti itu kok saat dikhitbah oleh abimu. Jadi umi tau rasanya. Ayo turun."


Uminya pun segera mengandeng tangan anaknya itu. Sedangkan Qisi hanya pasrah mengikuti uminya.


Saat sampai dibawah dilihatnya semua keluarga sudah duduk di ruang tamu. Mereka tampaknya sudah berbicara serius sekali.


"Assalamualaikum, " ucap Qisi sambil mengatupkan kedua belah tangan nya.


"Wa'alaikumsalam" jawab serentak yang ada di ruangan itu kecuali nenek , kakek dan juga Arsaj.


"Sini sayang duduk di selah Abi, kita baru saja membahas tentang gaun, cincin dan juga tempat pernikahan kamu dan nak arsaj" ucap abinya.


"Baik Abi" Qisi pun duduk ditempatnya yang di suruh abinya tadi.


"Jadi bagaimana Qisi, kamu mau gaun pernikahan yang seperti apa? Mungkin bisa jadi referensi juga disini. Atau kamu mau suasana pernikahan yang seperti apa? Untuk soal cincin Arsaj sudah memilihnya apa kamu mau lihat" Tanya Daddy Arsaj.


"Maaf om,Qisi masih belum punya referensi. Qisi juga bingung. Qisi ikut saja pilihan kalian." Jawab Qisi.


"Terserah saja Tante, itu Qisi serahkan ke Arsaj hendak memberi mahar apa saja Qisi terima."


"Ah jangan begitu? Katakan saja kamu mau mahar apa? Kan soal gaun dan lain lain kita sebagai orang tua juga yang akan mengatur nya. "


"Emmm... Terserah saja te"


"Ayolah katakan, tidak apa. Biar nanti Arsaj yang menyanggupinya, dia akan usahan kok" ucap mommy nya sambil menepuk paha Arsaj. Yang mengartikan bahwa Arsaj harus menanyakannya ke Qisi.


"Mwo? Lo mau minta uang buat mahar berapa? 100 juta? 200 juta atau malah 1 milliar?" Sahut Arsaj.


"Terserah kamu saja"


"Jawab saja sayang, nggak papa ga usah ragu, kamu mau nak Arsaj beri mahar apa?" Sekat umi Qisi.

__ADS_1


"Emmmm , kalau boleh Qisi hanya meminta mahar surat Ar Rahman saja, tapi kalau tidak bisa tidak papa terserah Arsaj saja" jawab Qisi sedikit ragu. Mendengar pengakuan Qisi , Abi, umi , mommy dan daddy Arsaj pun tersenyum.


"Subhanallah" ucap Daddy Arsaj.


"Mwo? Surat Ar Rahman? Apa itu? Surat rumah? Atau apartemen?" Tanya Arsaj bingung. Hal itu pun membuat Qisi kaget. Sebentar , sebenarnya apa agama yang di anut Arsaj. Sepertinya dia tidak tau apapun soal Islam.


"Maaf sebelumnya, seperti nya Qisi tidak sopan kalau menanyakan hal ini. Namun Qisi mau bertanya sebenarnya Arsaj menganut agama apa? Sungguh maaf sebelumnya" Tanya Qisi dengan hati hati.


"Tenang saja Qisi, putra om ini sebenarnya menganut agama Islam kok. Hanya saja karena sejak kecil dia tinggal bersama neneknya di Korea sehingga dia tidak tau agama Islam. Itu juga sebenarnya karena memang kakek dan nenek Arsaj bukan orang muslim. Jadi dia tidak tau apapun soal Islam" jelas Daddy Arsaj.


Mendengar nya Qisi sedikit merasa tenang meski sedikit syok. Setidaknya dia akan menikah dengan orang Islam, meskipun sama sekali tidak tau tentang Islam.


"Alhamdulillah kalau begitu om, Qisi sedikit tenang"


"Em kalo kamu Arsaj, bagaimana kamu sanggup atau tidak untuk memberi mahar surat Ar Rahman?. Surat Ar Rahman itu bacaan dari Al Qur'an. Jadi kamu harus menghafalkan dulu surat Ar Rahman nya?" Tanya mommynya.


"Hafalan? Apa ada orang yang minta mahar hafalan seperti itu? Bukankah wanita malah lebih tertarik minta mahar ke harta ya?" Tanya Arsaj.


"Tidak semua wanita seperti itu Arsaj, mungkin iya kalo yang kamu nikahi itu cewek cewek yang kamu pacari itu" sewot mommynya.


"Ih apaan sih my , dia aja yang bodoh"


"Arsaj, jaga bicara kamu" sentak Daddy nya.


"Ah mianhe" (ah maaf)


"Maaf tapi tadi bukankah kamu bilang bahwa Arsaj tidak tau soal Islam, apakah dia bisa mengaji?" Tanya abinya Qisi.


"Ah soal itu, mulai sekarang Arsaj akan belajar agama Islam dari nol, insyaallah bisa. Iya kan sayang" jawab mommynya Arsaj. Sambil melihat ke Arsaj.


"Ah iya Bi, soon Arsaj akan belajar Islam"


"Bukannya teralalu lama, belajar membaca Alquran tidak semudah dan secepat itu, sedangkan waktu pernikahan sudah dekat" tanya umi Qisi.

__ADS_1


"Untuk soal surat Ar Rahman mungkin bisa, sekarang jaman sudah modern, Al Qur'an juga ada bacaan latinnya. Dan dia juga bisa menghafalkan nya dengan cara mendengarkan orang lain yang membaca surat Ar Rahman." Jelas Daddy Arsaj.


__ADS_2