
Keesokkan harinya, Vera menjalani hari dengan semangat karena semalam dia sudah menemukan calon masa depannya, siapa lagi kalau bukan Roman.
"Aduh ada apa ini kok anak mami wajahnya senyum senyum begitu, pasti ada yang gak beres nih Pi," ucap mami Ratih yang melihat wajah Vera tersenyum berseri seri.
"Iya mi benar, papi juga heran dari tadi kok lihatnya beda gitu dari hari hari biasanya," timpal papi Vero.
"Apaan sih papi sama mami pagi pagi udah julid aja, emang salah ya kalau wajah Vera tersenyum gini," balas Vera sambil cemberut.
"Aduh jadi cemberut kan sekarang, ini salah papi sih." Mami Ratih menyalah-nyalahkan suaminya.
"Lah kok papi sih, kan mami tadi bicara duluan," tak terima papi Vero.
"Pokoknya papi titik, semuanya salah papi," balas mami Ratih yang tetap kekeh menyalahkan suaminya.
Vera yang tadinya tengah cemberut pun terheran heran melihat tingkah kedua orang tuanya, perasaan di sini Vera deh yang di rugikan, kenapa sekarang malah mereka berdua yang ribut, pikir Vera.
"Mi, pi stop deh, ini masih pagi lho jangan ribut ribut terus, kepala Vera jadi pusing dengernya," tegur Vera dan hal itu berhasil membuat kedua orang tuanya berhenti ribut.
"Nah gini kan enak, masak waktunya sarapan malah buat ribut, kalau sarapan itu ya makan jangan sambil ribut," lanjut Vera dan mendapatkan anggukan dari kedua orang tuanya.
"Nah bagus, udah ayo sekarang kita makan nanti keburu kesiangan," perintah Vera dan langsung di laksanakan oleh kedua orang tuanya.
Mereka bertiga pun mulai makan dengan tenang, hingga waktu berada di suapan ke tiga papi Vero baru menyadari sesuatu.
"Tunggu deh, ini perasaan kok kayak ada yang aneh git," ucap papi Vero seperti menyadari sesuatu.
"Vera sudah selesai makan, Vera berangkat duluan ya mi pi, assalamualaikum," pamit Vera menyalami kedua orang tuanya sebelum mereka berdua menyadari kalau tadi Vera sudah memerintahkan kepada mereka berdua untuk makan.
"Veraa... dasar anak durhaka, bisa bisanya kita tadi nurut sama ucapan dia Pi," teriak mami Ratih saat baru menyadarinya.
__ADS_1
"Iya mi, bisa bisanya kita tadi patuh gitu saja sama dia, ini semua gara gara mami sih," balas papi Vero yang mulai menyalahkan istrinya.
"Lah kok mami sih, kan papi tadi yang mulai nurut sama Vera," tak terima mami Ratih.
"Tidak pokoknya mami yang salah titik," balas papi Vero tak mau kalah.
"Gak, pokoknya papi yang salah," balas mami Ratih yang sama tidak mau mengalah juga.
Mereka berdua pun akhirnya berlanjut ribut, beruntungnya tadi Vera sudah memilih berangkat duluan, kalau tidak bisa bisa mood nya yang sangat sangat baik bisa rusak karena mendengar kedua orang tuanya yang mulai kembali ribut.
...**...
"Pa ma kalian tahu gak, kak Roman itu sebenarnya sudah lulus sarjana lho," ucap Erika memberitahukan kepada kedua orang tuanya kalau Roman sudah lulus kuliah.
"Hah apa iya, jangan becanda kamu sayang," balas mama Nina tak percaya dengan apa yang Erika katakan.
"Benar itu kata mama, kamu jangan mengada ngada, kalau Roman benar benar lulus sarjana kenapa dia malah jadi badut taman, seharusnya dia yang jadi pekerja kantoran lah," setuju papa Rahman dengan apa yang di katakan istrinya yang sama sama tidak percaya dengan apa yang di katakan istrinya.
"Iih Erika gak bohong ma, pa, beneran kak Roman sendiri yang bilang kalau dia itu sudah lulus sarjana. Kan mama sendiri tahu kalau kemarin kak Roman ngajarin Erika mengerjakan tugas materi manajemen dan kak Roman mengajari Erika dengan baik bahkan cara kak Roman menjelaskan saja seperti orang kuliahan," balas Erika mencoba menjelaskan agar kedua orang tuanya percaya.
"Masak sih, kok papa agak gak percaya ya?" balas papa Rahman yang memang sulit percaya dengan perkataan anaknya.
"Ehh tapi bisa jadi sih pa, soalnya waktu dia cerita bagiamana dia bisa jadi badut itu karena dia sudah mencari pekerjaan kesana kesini tapi gak dapat dapat jadi dia memilih untuk menjadi badut di taman," pendapat mama Nina.
"Tuh kan, kak Roman kemaren malam emang sih gak cerita sama Erika kenapa dia bisa jadi badut taman, dia hanya bilang kalau ceritanya panjang sampai sampai dia bisa menjadi badut taman," balas Erika.
"Baiklah kalau gitu nanti kita tes aja untuk memastikannya," ucap papa Rahman yang membuat kedua wanita itu langsung menoleh ke arahnya.
"Gimana caranya pa?" tanya Erika.
__ADS_1
"Gini, nanti papa akan mengirimkan beberapa soal kepada kamu, terus nanti kamu minta lagi kepada dia untuk membantu kamu mengerjakan soal itu, kalau dia emang bisa berarti dia memang benar benar lulusan sarjana," ide papa Rahman.
"Soal, emang soal seperti apa yang akan papa berikan untuk mengetes kak Roman?" tanya Erika penasaran.
"Nanti papa akan meminta teman papa yang berprofesi sebagai dosen untuk memberikan soal soal yang ada di materi kuliah, dan kalau Roman bisa menjawabnya berarti dia emang sudah pernah kuliah," jelas papa Rahman.
"Wah ide papa bagus, ya udah nanti papa langsung kirimkan soalnya ke Erika saja biar nanti Erika langsung meminta bantuan kak Roman waktu pulang dari sekolah," balas Erika.
"Mama ngikut kalian aja deh, nanti kalau sudah menemukan jawabannya nanti kasih tahu mama," ucap mama Nina yang akan melihat hasilnya saja tidak mau ikutan dalam rencana anak dan papanya itu.
"Ya udah ma pa Erika pamit berangkat sekolah dulu, sepertinya kak Roman sudah datang," ucap Erika izin pamit pergi sekolah kepada kedua orang tuanya.
"Iya kamu hatu hati ya kalau sekolah, belajar yang rajin agar menjadi anak yang pintar," pesan mama Nina.
"Siap ma," balas Erika.
"Daa... Erika pergi dulu assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," balas kedua orang tua Erika.
Erika pun keluar dari rumahnya dan langsung berjalan menuju mobil yang sudah ada Roman di sana yang tengah memanasi mobilnya.
"Selamat pagi kak," sapa Erika menghampiri Roman.
"Selamat pagi juga nona cantik," balas Roman sambil menggombal.
"Kak Roman bisa aja deh, Erika jadi salting," balas Erika yang menimpali candaan Roman.
"Hahaha kamu ini lucu banget sih, udah ayo kita berangkat nanti kamu telat lagi," ajak Roman dan langsung membukakan pintu mobil untuk Erika.
__ADS_1
Erika pun masuk ke dalam mobil dan di ikuti Roman yang langsung menjalankan mobilnya meninggalkan halaman luas rumah tuan Rahman.
...***...