Badut Tampan Itu Milikku

Badut Tampan Itu Milikku
Eps. 19


__ADS_3

"Heh jangan ngadi Ngadi, aku masih belum siap untuk bertemu kedua orang tua kamu, nanti bagiamana kalau orang tua kamu nanya aku kerja apa, masak iya aku jawab habis jadi badut mau pindah jadi sekertaris, nanti yang ada malah kita gak di restuin lah," balas Roman yang takut kalau kedua orang tua Vera tidak bisa menerima dirinya yang belum punya apa apa.


"Iih kamu gak boleh berfikir yang seperti itu, kedua orang tua aku orangnya baik kok, mereka juga tidak melihat orang dari menteri," balas Vera meyakinkan Roman agar mau ikut dia pulang ke rumahnya.


"Nanti kalau mereka tanya kamu kerja apa ya tinggal kamu jawab aja dengan jujur, lagian aku juga bangga sama kamu dan aku juga yakin pasti mereka juga akan bangga dengan kamu yang berhasil hidup sampai seperti ini tanpa bantuan orang tua," lanjut Vera semakin meyakinkan Roman.


"Tapi yang, aku takut," balas Roman takut.


"Kan ada aku, jadi gak usah takut, udah ayo ikut aku pulang," ajak Vera menarik tangan Roman menuju mobilnya berada.


"Kamu yakin bawa ya mobilnya," ucap Vera saat mereka sampai di parkiran mobil dan menyuruh agar Roman yang membawa mobilnya.


Dengan berat hati Roman pun menurut, meskipun dalam hatinya dia takut kalau sampai harus berhadapan dengan camer.


"Terus ini rumah kamu di mana?" tanya Roman yang memang tidak tahu alamat rumah Vera.


"Udah jalan aja nanti aku kasih tahu alamatnya," balas Vera.


Roman pun menurut saja, dia melajukan mobilnya membela jalanan di malam hari yang tidak terlalu padat sehingga membuat mereka cepat sampai di rumah Vera.


Mobil Vera sudah berhenti di halaman depan rumah Vera, Roman yang melihat betapa mewahnya rumah Vera pun menjadi minder, dia jadi takut untuk menghadap kedua orang tua Vera.


"Aku pulang aja ya, aku takut bertemu sama orang tua kamu," ucap Roman.


"Iiih kok pulang sih, baru juga nyampe, udah ayo turun nanti aku kenalin sama papi mami aku," balas Vera yang malah menyuruh Roman untuk segera turun.


"Rumah ini sebelas dua belas sama rumah tuan Rahman, pasti juga keluarga Vera sekaya keluarga tuan Rahman," batin Roman menatap bangunan megah yang ada di depannya.


"Ayo kita langsung masuk aja, kayaknya papi sama mami udah pulang deh," ajak Vera menyeret tangan Roman memasuki rumahnya.


Vera pun menurut saja, meskipun ada sedikit ketakutan di hatinya.


"Assalamualaikum mami papi," ucap salam Vera saat baru memasuki pintu rumahnya yang menjulang tinggi.


"Waalaikum salam, ehh anak mami udah pulang, wah bawa siapa itu," balas mami Ratih.

__ADS_1


"Assalamualaikum Tante," sapa Roman menyalami mami Ratih.


Roman berusaha tetap tenang ketika berhadapan dengan mami Ratih agar dia tidak malu maluin Vera.


"Waalaikum salam ganteng," balas mami Ratih.


"Iiih mami gak usah ganjen deh, tar Vera bilangin ke papi lho, oh iya mi papi mana kok gak ada?" tanya Vera yang tidak melihat keberadaan papinya.


"Ada itu di kamar, papi lagi ganti baju," balas mami Ratih.


"Aduh sampai lupa tamunya gak di suruh duduk, ayo silahkan duduk dulu," ucap mami Ratih menyuruh Roman agar duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Wah ada tamu ternyata," ucap papi Vero saat baru datang menghampiri mereka.


"Oh iya pi mi kenalin ini Roman pacar baru Vera," ucap Vera memperkenalkan Roman kepada kedua orang tuanya.


"Halo Om Tante, saya Roman," balas Roman memperkenalkan dirinya.


"Vero papinya Vera," balas papi Vero.


"Kalian sudah lama kenal nya?" tanya papi Vero.


"Enggak kok kita baru kenal beberapa hari yang lalu kok," jawab Roman.


"Ooh gitu, maaf kalau boleh tahu pekerjaan kamu apa?" tanya papi Vero.


"Tuh kan keluar juga pertanyaan yang aku takutkan tadi," batin Roman.


"Kenapa hanya diam, jangan bilang kalau kami ini pengganguran?" tebak papi Vero karena Roman hanya diam.


"Bukan om, saya kemarin masih menjadi badut taman yang merangkap sebagai sopir pribadi, tapi Alhamdulillah mulai Minggu depan insyaallah saya bisa menjadi sekertaris di sebuah perusahaan," jawab Roman jujur meskipun dia agak sedikit takut kalau papi Vero akan menolak dirinya dan melarang dia menjadi pacar Vera.


"Badut? Sopir pribadi? dan apa sekarang sekertaris perusahaan?"


"Sebenarnya pekerjaan kamu itu yang mana, masak ada orang bekerja sebanyak itu," lanjut papi Vero mengintrogasi Roman.

__ADS_1


Jantung Roman rasanya mau copot, dia jadi deg deg degan kalau menjawab pertanyaan papi Vero.


"Jadi dulu saya itu hanya bekerja menjadi badut di taman yang suka menghibur anak anak kecil, tapi beberapa hari yang lalu ada orang baik yang menawarkan saya pekerjaan menjadi sopir pribadi dan saya pun menerimanya, di samping saya menjadi sopir saya juga masih menjadi badut taman di sela pekerjaan saya yang menjadi sopir, dan setelah beberapa hari menjadi sopir, majikan saya menawarkan saya agar menjadi sekertaris di perusahaannya," jelas Roman panjang lebar.


Vera yang baru mengetahui keseluruhannya pun semakin mencintai Roman, dia sangat bangga kepada Roman yang sangat pekerja keras.


"Ooh gitu, emang bisa dari sopir pribadi pindah menjadi sekertaris begitu saja?" tanya papi Vero lagi mengintrogasi Roman.


"Tidak om, jadi majikan saya tahu kalau saya ini lulusan sarjana dan dari sanalah merupakan mau menjadikan saya sekertaris," balas Roman.


"Kamu pernah kuliah?" tanya papi Vero lagi yang malah semakin penasaran dengan kisah hidup Roman.


"Iya Om Alhamdulillah dulu saya sempat kuliah dan berhasil lulus melalui jalur beasiswa," jawab Roman jujur.


"Kalau kamu lulusan sarjana kenapa kamu gak mencari pekerjaan yang lebih baik aja dari pada menjadi badut?"


"Jaman sekarang mencari pekerjaan susah om kalau gak punya orang dalam," jawab Roman yang di benarkan oleh papi Vero.


Memang sekarang mencari pekerjaan kalau tidak ada bantuan orang dalam itu sangat susah.


"Terus orang tua kamu gimana?" kali ini bukan papi Vero yang bertanya, melainkan mami Ratih.


"Saya tidak tahu Tan, soalnya dari kecil saya hidup di panti asuhan," jawab Roman yang selalu jujur.


"Maaf Tante tidak tahu." Ratih jadi merasa bersalah karena sudah bertanya seperti itu.


"Enggak papa kok Tan, wajar kalau tanya seperti itu," balas Roman.


"Jadi kamu selama ini hidup sendiri, dan bekerja sebagai badut untuk menghidupi kebutuhan kamu?" tanya papi Vero memastikan.


"Iya Om benar," jawab Roman jujur.


Prok Prok Prok.


Suara tepuk tangan memenuhi ruangan itu yang membuat orang orang yang ada di sana terheran heran.

__ADS_1


...***...


__ADS_2