
Prok Prok Prok.
suara tepuk tangan yang berasal dari papi Vero, semua orang kecuali mami Ratih menatap papi Vero dengan penuh tanya, ada apakah dengan papi Vero sampai sampai harus tepuk tangan seperti itu, pikir mereka yang melihat itu.
"Papi kenapa?" tanya Vera mewakili yang lainnya termasuk Roman.
"Kamu lolos jadi menantu idaman keluarga ini, selamat kamu sudah mendapatkan restu dari saya," ucap papi Vero kepada Roman membuat Roman melongo tidak percaya.
"Hah papi seriusan?" tanya Vera tidak percaya.
"Apakah ada raut kebohongan di wajah papi?" balas papi Vero dan mendapat gelengan kepala dari Vera.
"Om yakin, saya bukan orang kaya lho," ucap Roman yang tidak yakin kalau dirinya bisa di terima begitu saja oleh keluarga ini.
"Yakin lah, bagi saya uang itu bisa di cari tapi orang yang pekerja keras seperti kamu itu sulit untuk di cari," balas papi Vero.
"Iya benar apa kata papi, kami bukan mencari orang kaya kok, kami sudah mempunyai usaha yang nanti bisa kalian kembangkan lagi," timpal mami Ratih.
"Terimakasih om Tante sudah mau menerima saya, saya janji akan berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakan Vera," balas Roman.
"Iya saya percaya sama kamu, dan mulai sekarang juga kamu bisa panggil kita mami sama papi agar seperti Vera, kamu juga bisa mengganggap kami sebagai orang tua kamu sendiri," ucap papi Vero yang membuat Roman sangat terharu, ternyata benar apa yang Vera katakan kalau kedua orang tuanya itu sangat baik.
"Terimakasih om, ehh pi mi," balas Roman yang masih belum terbiasa memanggil mami papi.
"Nanti lama lama juga kamu akan terbiasa, nanti kalau ada waktu sering sering aja main ke sini ya," balas mami Ratih.
__ADS_1
"Iya mi, nanti pasti Roman akan sering datang ke sini," balas Roman.
"Oh iya kalian udah makan malam belum?" tanya mami Ratih.
"Belum lah, orang dari taman tadi Vera langsung ngajak Roman ke sini," jawab Vera.
"Ya sudah kalau gitu kalian berdua makan saja dulu, papi sama mami tadi sudah makan duluan," suruh mami Ratih.
"Oke mi, ayo kita makan," ajak Vera dan di angguki Roman.
Mereka berdua pun pergi menuju meja makan dan makan malam bersama di sana, setelah selesai makan Roman masih ngobrol ngobrol sebentar bersama keluarga itu, dan saat di rasa hari semakin malam Roman pun pamit undur diri.
...**...
Roman sudah datang sedari tadi dengan memakai jas yang katanya senada dengan gaun yang Vera pakai, tapi hampir satu jam Roman menunggu Vera belum juga melihatkan batang hidungnya.
"Kamu harus belajar mulai dari sekarang kalau menunggu wanita dandan itu lama," ucap papi Vero menghampiri Roman.
"Ternyata gini ya pi rasanya menunggu wanita dandan," balas Roman.
"Ya begitulah, ini masih mending kamu masih satu jam, papi malah pernah nungguin mami hampir tiga jam,"
"Hah beneran Pi?" tak percaya Roman.
""Pasti kamu gak percaya kan, tanya saja sama pacar kamu, dia saksi papi waktu nunggu mami dandang lama," balas papi Vero.
__ADS_1
"Wah ternyata papi orang yang sabar juga ya," ledek Roman.
"Ya mau gimana lagi, namanya juga udah cinta mau selama apapun itu pasti akan di tunggu," balas papi Vero.
"Lihat saja nanti kamu pasti juga akan pernah merasakannya, tinggal tunggu saja waktunya," lanjut papi Vero.
"Asik banget sih, lagi ngomongin apa nih, ajak mami dong," ucap mami Ratih yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Biasalah mi urusan pekerjaan, ternyata calon menantu kita ini orang yang pintar dalam mengatur strategi mi," jawab papi Vero bohong.
"Wah beneran itu, kalau gitu kamu pindah saja ke perusahaan kita, biar nanti kamu bisa bantu Vera," saran mami Ratih.
"Maaf mi sepertinya gak bisa dulu, soalnya Roman gak enak sama majikan Roman," tolak Roman merasa tidak enak.
"Iya juga sih, ya sudah kamu bekerja di sana saja dulu, nanti kalau kalian sudah menikah kamulah yang akan memimpin perusahaan milik keluarga ini," balas mami Ratih.
"Iya mi, Roman juga masih ingin mencari pengalaman yang lebih luas lagi, agar pengetahuan Roman semakin bertambah," balas Roman.
Tak tak tak.
Suara sepatu Hinghils yang terdengar sangat nyaring menuruni anak tangga membuat sebuah orang menatap ke arah anak tangga untuk melihat siapakah yang sedang turun dari lantai atas itu.
"MasyaAllah...."
...***...
__ADS_1