
Vera yang baru saja menghadiri acara meeting bersama klien pun mengendarai mobilnya kembali menuju perusahaan, entah apes atau bagaimana tiba tiba mobil Vera mati di pinggir jalan.
"Lah lah kok berhenti," monolog Vera saat mesin mobilnya tiba tiba mati.
Vera pun segera keluar dari dalam mobil untuk memeriksa keadaan mobilnya.
"Masak iya mobil bagus bensinnya abis sih, tapi keknya enggak deh kan aku baru ngisi kemaren," gumam Vera yang bingung karena mesin mobilnya mati.
Vera mencoba memeriksa mesin yang ada di bagian depan, tapi dia juga bingung harus memeriksa yang mana, karena di sana ada banyak macam kabel dan lainnya.
"Aduh mana aku ngerti masalah beginian," bingung Vera menatap mesin mobil yang ada di hadapannya.
Vera pun melihat sekeliling mencoba mencari bengkel terdekat, tapi dia malah menyadari sesuatu.
"Lah kok kebetulan banget sih berhentinya di sini, semoga saja badut rese itu gak ada di sini deh," gumam Vera karena ternyata mobilnya mogok tepat berada di depan taman.
Vera pun mengambil handphonenya untuk menghubungi papinya dan meminta tolong untuk menjemputnya di sana, tapi sepertinya kesialan berpihak kepadanya, handphone yang dia miliki ternyata kehabisan baterai sehingga membuat Vera tidak bisa menghubungi orang tuanya.
"Yah yah yah, kok mati sih,
"Kenapa aku apes banget sih, udah mobil mogok handphone juga kenapa malah kehabisan baterai," kesal Vera.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?"
Deg.
Vera segera menoleh kebelakang, dan matanya langsung melotot saat melihat badut rese itu ternyata ada di belakangnya.
"Astaga bikin aku kaget aja." Vera mengelus dadanya untuk mengurangi rasa kaget yang dia rasakan.
"Kenapa mobilnya mbak ingusan?" tanya Roman dengan jail.
"Sudah aku bilang aku tidak ingusan," balas Vera kesal.
"Udah sih tidak ngaku aja apa susahnya, lagian juga memang ada buktinya kalau ingusan," balas Roman.
"Kalau kamu datang cuma mau buat aku kesal sana pergi, aku lagi gak pengen ribut," balas Vera mengusir Roman.
"Hahaha oke oke aku minta maaf, kenapa mobilnya siapa tahu aku bisa bantu?" tanya Roman lagi yang sekarang sudah kembali ke mode serius, tidak jahil lagi.
__ADS_1
"Gak tahu tiba tiba aja mati," jawab Vera.
"Boleh aku bantu cek?" ucap Roman meminta izin.
"Emang kamu bisa?" tanya Vera meremehkan.
"In syaa Allah bisa," balas Roman.
"Ya sudah kalau bisa coba saja di cek," suruh Vera dan Roman pun langsung memeriksa keadaan mobil Vera.
Meskipun agak kesusahan karena pandangannya terhalang kostum badut yang dia kenakan, tapi Roman tetap setia mempertahankan kostum badut itu agar Vera tidak tahu kalau sebenarnya dirinya lah yang jadi badut.
"Kamu gak mau lepas kostum kamu dulu, emang gak susah ya?" tanya Vera yang menyarankan agar Roman melepaskan kostumnya.
"Enggak kok gini aja udah bisa," balas Roman.
Roman terus mencari letak di mana kerusakan yang ada di mobil Vera, hingga akhirnya Roman menemukan kerusakan tersebut dan langsung membenarkannya.
"Dah, coba sana kamu nyalain," suruh Roman agar Vera mencoba menyalakan mobilnya.
"Hah seriusan udah bisa?" tak percaya Vera.
Vera pun langsung masuk kedalam mobil dan mencoba menyalakan mobilnya, dan benar saja ternyata mobilnya sudah bisa nyala.
"Hah beneran sudah bisa," teriak Vera senang karena akhirnya dirinya tidak perlu harus panas panasan mencari taksi.
Roman pun tersenyum karena dia sudah berhasil membantu Vera, Roman kembali menutup bagian depan mobil Vera dan langsung menghampiri Vera.
"Lain kali kalau mau kemana mana di periksa dulu mobilnya, soalnya tadi ada kabel yang lepas," pesan Roman.
"Ya aku mana tahu soal begituan, yang aku tahu hanya waktu bensin abis terus aku isi, udah gitu aja," balas Vera.
"Oh iya terimakasih ya kamu sudah menolong aku, ini ada sedikit rezeki buat kamu," Vera akan memberikan uang kepada Roman karena sudah menolong dirinya.
"Ehh gak usah, aku ikhlas bantuin kamu kok, ya sudah ya aku pergi dulu sudah di tunggu anak anak di sana," pamit Roman menolak pemberian Vera.
Roman langsung pergi begitu saja tanpa mau menerima pemberian Vera.
"Ternyata dia baik juga, aku jadi penasaran lagi siapa orang di balik kostum itu," gumam Vera menatap kepergian badut itu yang mulai menjauh darinya.
__ADS_1
"Mungkin besok aku akan ke sini lagi dan akan aku bawakan dia makan siang sebagai gantinya karena dia tidak mau menerima uang pemberian ku," lanjut Vera.
Vera pun memutuskan untuk segera pergi dari sana menuju perusahaan kembali karena dia masih ada pekerjaan yang harus cepat dia selesaikan.
"Untung saja ada badut tadi, coba kalau tidak mungkin sekarang aku masih belum sampai sini," gumam Vera sambil menyalakan kembali laptop miliknya setelah dia sampai di perusahaan.
...**...
Hari pun sudah sore, sekarang Roman tengah membantu Erika mengerjakan tugas lagi seperti kemarin.
"Ini kok soalnya sama seperti anak kuliahan ya, pantesan aja sekolah kamu mahal orang materinya aja materi yang sama dengan materi aku kuliah dulu," komentar Roman setelah membaca soal Erika yang di berikan oleh gurunya.
"Makanya itu kak, Erika aja sampai pusing," balas Erika.
"Kak Roman gak tahu aja kalau itu memang soal buat anak kuliahan, batin Erika.
"Tapi kak Roman tetap bisa kan mengerjakannya?" tanya Erik.
"Ya bisalah, ini malah mudah buat aku karena pelajaran ini baru satu tahun yang lalu, dari pada soal yang kemaren itu malah aku udah pada lupa," balas Roman.
"Lupa apanya, buktinya kemaren kak Roman bisa tuh ngerjainnya," balas Erika
"Ya bisa sih bis, tapi aku kemaren harus cari dulu cara caranya buat menyelesaikan tugas itu," balas Roman.
"Oh iya kak, seandainya nanti kak Roman mendapatkan tawaran kerja kantoran kak Roman mau gak?" tanya Erika.
"Gimana ya, sebenarnya sih mau mau aja, cuma keknya gak bakalan ada deh soalnya kak Roman gak pernah melamar pekerjaan lagi setelah dulu susah mendapatkan pekerjaan," jawab Roman.
"Ya siapa tahu kan ada kak, kan kita gak tahu apa yang sudah Allah rencanakan untuk hidup kita," balas Erika.
"Iya kamu benar, bahkan untuk menjadi sopir kamu aja aku gak nyangka, aku gak pernah kepikiran loh kalau bisa jadi sopir anak orang kaya," balas Roman mengingat dirinya yang tak pernah kepikiran bisa mendapatkan pekerjaan sebagai sopir.
"Tuh kan, percaya sama Allah kalau dia itu sudah menyiapkan yang terbaik untuk hambanya,"
"Iya kamu benar," balas Roman.
Roman tidak menyangka kalau pemikiran Erika ternyata lebih bagus dari pada dirinya soal ilmu agama, ah iya Roman melupakan satu hal kalau keluarga Erika ini adalah keturunan timur tengah, sudah pasti ilmu agama mereka bagus bagus, lebih bagus dari pada dirinya.
...***...
__ADS_1