Badut Tampan Itu Milikku

Badut Tampan Itu Milikku
Eps. 15


__ADS_3

"Kamu tahu untuk apa saya suruh kamu duduk di sini?" tanya tuan Rahman dan mendapatkan gelengan kepala dari Roman.


"Erika bilang kamu sebenarnya lulusan sarjana, jujur sama saya benarkah apa yang dia bilang?" lanjut tuan Rahman to the poin.


"Iya tuan, tapi saya gak bermaksud aneh aneh kok," balas Roman.


Roman takut kalau masalah ini akan mempersulit pekerjaannya.


"Kenapa kamu gak bilang dari awal kalau kamu lulusan sarjana?" tanya tuan Rahman.


"Saya kira itu tidak penting tuan karena tidak ada di persyaratan kerja sebagai sopir," jawab Roman.


"Benar juga apa kata kamu, tapi kalau kamu jujur dari awal mungkin kamu tidak akan menjadi seorang sopir, kamu bisa saya ajak kerja di perusahaan," balas tuan Rahman.


"Tidak apa tuan, saya kerja sebagai sopir juga sudah bersyukur kok," balas Roman yang sudah sangat bersyukur bisa bekerja sebagai sopir di keluarga itu.


"Kamu ini, seharusnya kamu itu bisa mendapatkan gaji yang lebih besar dari penghasilan sopir lho, seharusnya kamu manfaatkan prestasi kamu itu," greget tuan Rahman.


"Ya udah saya gak mau basa basi lagi, kamu mau gak ikut kerja sama saya di perusahaan jadi sekertaris saya, kebetulan ada lowongan?" lanjut tuan Rahman to the poin.


"Gimana ya tuan, saya belum terbiasa kerja kantoran, masak iya langsung jadi sekertaris di sana," balas Roman.


"Kamu tenang saja, nanti kamu juga bakalan di training dulu kok gak langsung kerja," jelas tuan Rahman.


"Kalau kamu mau, besok pagi kamu bisa langsung ikut saya pergi kerja perusahaan," lanjut tuan Rahman.


"Kalau saya kerja di sana terus nanti nona Erika gimana tuan?" tanya Roman memikirkan keadaan Erika yang biasa dia sopirkan.


"Kamu tidak perlu khawatir masalah itu, nanti dia bisa di antar oleh sopir saya," balas tuan Rahman.


"Jadi gimana kamu mau ikut saya atau tetap menjadi sopir?" lanjut tuan Rahman bertanya.

__ADS_1


"Emm... boleh saya pikir pikir dulu gak tuan?"


"Iya boleh, silahkan kamu pikirkan malam ini dan besok pagi saya tunggu jawaban kamu," balas tuan Rahman.


"Baik tuan akan saya pikirkan matang matang apa yang tuan tawarkan untuk saya,"


"Sekalian kalau kamu besok menerima tawaran saya jangan lupa bawa berkas berkas yang di butuhkan, nanti akan saya kirimkan lewat pesan apa saja persyaratannya,"


"Baik tuan, kalau begitu apakah saya sudah boleh pulang?" tanya Roman karena hari terus beranjak malam, sedangkan dia masih belum pulang pulang.


"Iya kamu boleh pulang, jangan lupa pikirkan baik baik apa yang saya katakan tadi, ini menyangkut masa depan kamu juga," balas tuan Rahman mengizinkan Roman pulang.


"Kalau begitu saya permisi pulang duluan tuan, terimakasih atas tawarannya akan saya pikirkan baik baik malam ini," pamit Roman dan mendapatkan anggukan dari tuan Rahman.


Roman pun langsung pulang, dalam perjalanan pulang pun dia terus kepikiran dengar tawaran yang tuan Rahman berikan kepadanya tadi hingga sampai di kontrakan pun Roman masih terus memikirkannya.


"Aku harus gimana ya, apa aku terima aja ya kan lumayan nanti pasti gajinya lebih besar," gumam Roman bimbang.


"Tapi kalau aku terima tawaran itu aku jadi gak malu lagi kalau harus berdekatan dengan Vera, dan orang tuanya nanti juga pasti akan merestui kami, kalau aku tetap menjadi sopir pasti nanti akan ada halangan untuk kita bersama,"


Roman terus menimang nimang apakah dia harus menerima tawaran tuan Rahman atau tidak, hingga sampai dia ketiduran dan lupa untuk bertukar pesan dengan Vera.


...**...


Vera yang memang belum tidur pun khawatir dengan keadaan Roman, karena sedari tadi mereka berpisah di taman Roman belum ada mengirimkan pesan untuknya, Vera takut kalau sampai terjadi apa apa dengan Roman.


"Ini Roman ke mana ya, kok dia belum balas juga chat aku, padahal ini sudah terkirim loh," gumam Vera bertanya tanya kemana Roman.


"Apa terjadi sesuatu sama dia,"


"Tidak tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu, mungkin dia sedang sibuk makanya tidak bisa membalas pesanku," lanjut Vera yang tidak ingin berpikir negatif terhadap Roman.

__ADS_1


"Lebih baik aku tidur saja dulu, siapa tahu besok bangun sudah ada pesan dari Roman," lanjut Vera yang memutuskan untuk segera tidur karena hari juga sudah sangat larut malam.


Vera tidur sambil menggenggam handphone miliknya, takut nanti kalau tiba tiba Roman mengirimkan pesan atau telfon tapi dia ketiduran agar dia bisa segera bangun.


...**...


Pagi hari pun tiba, Roman sudah mendapatkan jawaban atas pilihannya kemaren, dia memutuskan untuk menerima tawaran tuan Rahman untuk bekerja di perusahaan beliau menjadi sekertaris.


Roman sudah siap dengan pakaian rapi, celana hitam dan juga kemeja putih menjadi outfit Roman kali ini.


Roman juga sudah menyiapkan semua persyaratan yang harus dia bawa sesuai dengan pesan yang tuan Rahman kirimkan kepadanya.


Setelah di rasa semuanya sudah siap, Roman pun segera pergi meninggalkan kontrakannya menuju rumah megah tuan Rahman beserta keluarganya.


Sementara itu, di tempat Vera dia baru bangun dan langsung membuka handphone miliknya tadi dia tidak mendapati adanya pesan dari Roman.


"Ini Roman kemana sih, masak iya dari kemaren pesan aku belum di balas juga, apa jangan jangan dia ilfil lagi setelah kita makan berdua kemarin," gumam Vera yang mulai berfikir yang tidak tidak tentang Roman.


"Aku harus mengajak dia ketemuan nanti, pokoknya hari ini aku harus menyatakan perasaan ku kepadanya, biarkan dia bilang aku murahan yang penting perasaanku sudah tersampaikan tidak menggantung seperti ini terus," putus Vera yang mengambil keputusan untuk dia menyatakan cinta terlebih dahulu kepada Roman secepatnya nanti.


"Aku harus segera mandi, hari ingin sekali ada rapat penting di perusahaan." Vera segera beranjak dari tempat tidurnya, dan dia langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum dia berangkat kerja.


Setelah selesai bersiap dan tanpa sarapan terlebih dahulu Vera langsung pergi menuju perusahaan papinya, bahkan tadi mami Ratih sempat ngomel karena Vera bangun telat hingga membuat dia tidak sarapan terlebih dahulu di rumah.


Sampai di perusahaan pun mood nya yang sudah jelek bertambah jelek setelah mendengar ada banyak karyawan yang tengah menggosipkan dirinya yang tidak tidak.


"Ehh lihat deh, si jal** itu sudah sampai," ucap salah satu karyawan yang pertama kali melihat kedatangan Vera.


"Pakaian nya selalu bagus, mobilnya juga mobil yang mahal, padahal gajinya juga gak begitu banyak, dapat uang dari mana lagi coba kalau gak menggoda tuan Vero," sahut yang lainnya.


Vera yang merasa telinganya panas pun langsung menghampiri mereka yang tengah menggosipkan dirinya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2