
Roman sudah menunggu Vera di taman, Vera bilang dia sebentar lagi akan segera sampai di sana.
"Hai, maaf ya sudah membuat kamu menunggu lama," ucap Vera yang baru saja datang.
"Ehh enggak kok, aku juga baru datang," balas Roman.
"Bentar ya kita tunggu makanan pesanan aku dulu, pasti sebentar lagi sampai kok," ucap Vera dan di angguki Roman.
Dan benar saja, tak berapa lama kurir yang membawa makanan pesanan Vera pun datang, Vera pun langsung membayarnya dan setelah itu dia pergi menghampiri Roman.
"Ya udah yuk kita cari badutnya, nanti kita makan siang bersama dia gak papa kan?" tanya Vera.
"Iya gak papa kok," balas Roman.
Sebenarnya Roman merasa bersalah karena sudah membohongi Vera, tapi kalau mau jujur juga Roman belum siap.
"Ya udah ayo kita cari badutnya dulu, biasanya sih jam segini dia lagi bermain sama anak anak di tengah taman sana," ajak Vera pada Roman untuk mencari keberadaan badut di taman.
"Iya ayo," balas Roman.
Mereka berdua pun jalan menuju tengah tengah taman, tapi saat sampai di sana mereka tidak menemukan adanya badut di sana, bahkan segerombolan anak anak itupun tengah bermain sendiri sendiri.
"Kok gak ada ya, apa dia sedang istirahat ya?" tanya Vera.
"Coba sebaiknya kamu tanya ibu ibu di sana dulu, siapa tahu dugaan kamu itu benar," suruh Roman agar Vera bertanya pada ibu ibu mengenai keberadaan badut yang mereka cari.
"Assalamualaikum Bu, maaf saya numpang tanya, badut yang biasanya ada di sini kemana ya?" tanya Vera pada ibu ibu yang tengah berkumpul sambil menemani anak anak mereka itu.
"Waalaikum salam, kita juga gak tahu mbak, soalnya dari tadi anak anak juga mencari badutnya tapi dia tidak ada di sini, sepertinya dia tidak datang deh mbak," jawab salah satu ibu ibu mewakili yang lainnya.
"Ooh gitu ya Bu, kalau gitu terimakasih ya maaf sudah mengganggu waktunya," balas Vera.
"Iya mbak gak papa," balas ibu ibu tadi.
Vera pun kembali menghampiri Roman yang duduk di bangku taman menunggu Vera bertanya pada ibu ibu tadi.
"Gimana?" tanya Roman setelah Vera duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kata ibu ibu itu badutnya dari tadi gak ada, kemungkinan besar dia sama kayak waktu itu gak datang lagi keluar taman ini," jawab Vera sedu.
"Padahal aku sudah ingin banget lho memberikan makan ini, itung itung sebagai ucapan terimakasih karena sudah menolong aku kemaren," lanjut Vera.
"Maaf, gara gara aku bohong kamu jadi sedih seperti ini, seharusnya aku tadi milih jadi badut aja biar kamu gak sedih gini," batin Roman merasa menyesal karena sudah mengambil keputusan yang salah.
"Tapi gak papa deh, kalaupun aku gak bisa ketemu badut itu yang penting kan aku bisa jalan dan makan siang bersama kamu," lanjut Vera sambil tersenyum menatap Roman.
Roman yang mendengar itupun hilang sudah rasa menyesalnya, dia juga bersyukur dengan dia memilih menjadi Roman si tukang sopir dia jadi bisa berduaan bersama Vera seperti ini.
"Ehh kamu emang gak papa ya jalan sama aku gini, emang majikan kamu memberikan izin?" tanya Vera takut kalau dia akan mengganggu waktu kerja Roman.
"Enggak kok santai aja, aku kerja cuma antar jemput sekolah anak mereka saja, jadi aku hanya kerja pagi dan sore," jawab Roman.
"Syukurlah kalau gitu, aku jadi merasa lega," balas Vera.
"Oh iya lupa, aku kita mulai makan, aku sudah lapar soalnya, ehh iya kamu belum makan kan?" lanjut Vera bertanya, Vera takut kalau ternyata Roman sudah makan.
"Belum kok, kan aku tahu kamu ngajak aku makan siang jadi ya tadi aku gak makan siang dulu," balas Roman.
Mereka berdua pun makan bersama di taman sambil di selingi perbincangan receh di antara mereka.
Roman juga sering kali membersihkan bibir Vera saat ada nasi yang menyangkut di bibir Vera dengan tangannya sehingga hal itu mampu membuat Vera baper.
"Roman manis banget sih, aku jadi semakin suka sama dia," batin Vera menatap Roman yang tengah mengambil nasi di sudut bibirnya.
"Kalau makan itu pelan pelan, nanti bisa tersedak lho," ucap Roman memperingati.
Uhuk uhuk.
Belum juga semenit Roman bicara, ehh Vera malah sudah tersedak beneran, Roman pun segera memberikan air minum kepada Vera dan langsung di terima oleh Vera.
"Gimana udah?" tanya Roman khawatir.
"Terimakasih," balas Vera mengembalikan air minum pemberian Roman.
"Kan aku sudah bilang kalau makan itu jati hati, lagi mikirin apa sih sampai bisa tersedak gitu?" tanya Roman.
__ADS_1
"Emm... ada deh, kamu kepo," balas Vera yang tak ingin mengatakan apa yang tengah dia pikirkan, nanti yang ada dia bisa malu kalau sampai ketahuan Roman.
"Iiih main rahasia rahasia nih ceritanya," balas Roman.
"Biarin wleek," balas Vera sambil menjulurkan lidahnya.
"Lihatlah dia manis banget," batin Roman yang sangat gemas dengan tingkah Vera.
Mereka pun melanjutkan acara makan sambil becanda terus hingga makanan mereka habis, setelah selesai makan mereka langsung berjalan mengelilingi taman, dan makanan yang tadi akan Vera berikan kepada badut pun Vera berikan kepada pengemis yang dia temui di taman.
Setelah puas berjalan jalan hingga waktunya Roman harus kembali kerja membuat keduanya terpaksa harus berpisah.
"Kapan kapan kita jalan seperti ini lagi ya," ucap Vera sebelum mereka berpisah.
"Iya in syaa Allah," balas Roman.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, kamu yang semangat kerjanya dan hati hati kalau bawa mobil," pesan Vera."Kamu juga harus hati hati kalau bawa mobil, jangan kebut kebutan di jalan," balas Roman.
Lihatlah, mereka berdua sudah terlihat seperti sepasang kekasih bukan, padahal mereka berdua belum ada ikatan apa apa selain pertemanan.
Mereka berdua pun akhirnya berpisah, Roman yang kembali bekerja, dan Vera yang langsung pulang menuju rumahnya dengan hati yang berbunga bunga.
...**...
Malam harinya, Roman di larang pulang terlebih dahulu setelah mengajari Erika belajar, dia di suruh menunggu tuan Rahman karena ingin mengajak Roman berbicara.
Tubuh Roman sudah ketakutan, dia takut dia ada salah dan membuat tuan Rahman marah dan akan memecat dirinya.
"Semoga saja ini bukan hari terakhir aku kerja di sini," batin Roman berdoa.
"Apa kabar kamu, lama kita tidak bertemu," ucap tuan Rahman saat menghadiri Roman yang sudah menunggu dirinya di ruang kerja.
"Kabar saya baik tuan, kalau tuan sendiri bagiamana?" balas Roman balik tanya.
"Alhamdulillah saya juga baik," balas tuan Rahman.
...***...
__ADS_1