Badut Tampan Itu Milikku

Badut Tampan Itu Milikku
Eps. 12


__ADS_3

"Pa, papa...." teriak Erika memanggil papa Rahman.


"Aduh apa sih anak kamu itu malam malam teriak teriak seperti orang gila aja," ucap papa Rahman menanggapi tingkah anaknya.


"Anak papa juga kali," balas mama Nina yang tak terima kalau hanya dia yang di salahkan.


Ceklek.


"Pa lihat deh, kak Roman sudah selesai mengerjakan semua tugas yang papa berikan," ucap Erika memberitahu setelah dia masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya.


"Kamu bisa gak sih gak usah teriak teriak seperti itu, kamu kita rumah ini hantu apa," balas papa Rahman.


"Sinyal yang mana papa lihat jawaban Roman," lanjut papa Rahman meminta Erika untuk membawa jawaban Roman mendekat.


"Ya elah pa, masak rumah sebagus ini di bilang hutan sih," balas Erika sambil menyerahkan buku yang berisi jawaban Roman.


"Makanya kamu jangan teriak teriak sayang biar papa gak bilang rumah kita itu hutan," balas mama Nina, sedangkan papa Rahman tidak menghiraukan itu, dia lebih tertarik dengan buku yang anaknya berikan.


"Gimana pa, benar apa enggak jawabannya?" tanya Erika penasaran.


"Sabar dong sayang, papa kamu aja belum baca tulisannya tuh," balas mama Nina menanggapi tingkah tidak sabaran anaknya.


"Good, semua jawaban ini benar dan tidak ada yang salah, bahkan cara caranya pun benar," ucap papa Rahman setelah meneliti jawaban yang Roman tulis.


"Tuh kan berarti benar kan apa yang Erika bilang kalau kak Roman itu lulusan sarjana," balas Erika karena apa yang dia katakan itu benar.


"Hebat sih berarti dia, meskipun orang lulusan sarjana jarang jarang lho mengingat pelajaran seperti ini, apalagi ini soal yang cukup sulit dan dia berhasil mengerjakannya, berarti dia termasuk salah satu mahasiswa yang berprestasi jaman itu," ucap papa Rahman yang memeriksa jawaban Roman.


"Benar pa, kak Roman sendiri yang bilang kalau sewaktu masih sekolah dulu dia bukan hanya menjadi bintang kelas, tapi dia juga menjadi bintang pelajar, dan sudah di pastikan kalau waktu kuliah juga pasti sama pintarnya seperti waktu sekolah," balas Erika membenarkan apa yang papanya katakan.

__ADS_1


"Mama salut deh sama dia, dari kecil hidup di panti asuhan dan setelah besar bekerja keras untuk hidupnya, mama yakin tidak mudah menjalani itu tapi dia bisa melewati itu semua," ucap mama Nina yang salut dengan kehidupan Roman.


"Kalau seperti itu kenapa papa jadi tertarik menjadikan dia salah satu karyawan papa ya," ucap papa Rahman membuat kedua wanita itu langsung menatap dirinya.


"No, Erika gak setuju, pokoknya kak Roman akan tetap menjadi sopir pribadi Erika titik gak pakai koma," balas Erika yang tidak setuju dengan apa yang papanya katakan.


Meskipun tadi Erika sempat berbicara dengan Roman mengenai Roman kalau menjadi pekerjaan kantoran, tapi setelah dia pikir pikir lagi Erika bisa saja kehilangan sopir yang asik seperti kak Roman nya.


Erika sudah mengganggap Roman seperti kakaknya sendiri karena dia tidak mempunyai saudara lagi, jadi dia merasa senang kalau ada Roman yang selalu mengantar jemput dia ke sekolah.


"Lah kok gitu, ini semua kan terserah pada Roman, kalau dia mau ikut kerja papa gimana?" balas mama Nina.


"Iiih mama, Erika sudah nyaman dengan kak Roman tahu...." cemberut Erika.


"Jangan bilang kalau kamu suka sama kak Roman?" tebak mama Nina."Iiih enggak ma, Erika itu sudah mengganggap kak Roman seperti kakak Erika sendiri, kan mama tahu sendiri kalau Erika itu kesepian gak punya saudara," balas Erika.


"Iya sih, tapi kan kak Roman itu orangnya asik," sedu Erika.


"Kan kamu juga masih bisa bertemu dengan dia meskipun dia gak antar jemput kamu lagi," balas mama Nina.


"Ehh tapikan kak Roman juga belum jawab dia mau kerja sama papa apa tidak, mama tahu sendiri kan gimana waktu awal mama ngajak dia menjadi sopir saja dia hampir menolak karena sudah nyaman menjadi badut," ucap Erika yang merasa menang.


"Papa yakin sih dia akan menerima, soalnya pekerjaan ini sesuai dengan basic dia selama ini," balas papa Rahman membuat harapan Erika untuk mempertahankan Roman tadi runtuh.


"Udah udah mending besok kita bicarakan kalau ada Romannya langsung, benar kata Erika kita gak tahu bagiamana jawaban Roman besok," balas mama Nina menghentikan perdebatan ini.


"Ya sudahlah Erika mau kembali ke kamar aja," balas Erika dan langsung pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu.


"Anak kamu tuh," ucap papa Rahman.

__ADS_1


"Anak kamu juga," balas mama Nina tak mau kalah.


...**...


Sedangkan itu, di tempat lain ada dia sejoli yang tengah asik berbalas chat sebelum mereka tidur, siapa lagi kalau bukan Vera dan juga Roman.


Semalam sebelum mereka berpisah Vera memaksa Roman untuk memberikan nomor telepon nya, alhasil Roman pun memberikannya dan akhirnya mereka bisa berbalas chat seperti sekarang ini.


"Gimana tadi hari hari kamu?" tanya Vera melalui pesan chat.


"Alhamdulillah menyenangkan," balas Roman melalui chat pula.


"Kamu tahu gak, tadi waktu aku pulang habis meeting bertemu klien tiba tiba mobil aku mogok di dekat taman, terus habis itu ada badut yang menolong aku," cerita Vera mengenai kejadian yang menimpanya tadi siang.


"Wah benarkah, pasti badutnya itu sangat baik hati sekali sampai sampai mau menolong kamu," balas Roman.


"Iya sepertinya dia memang baik, tapi kemaren kemaren dia itu ngeselin sih, masak Iya aku di bilang cewek ingusan sih, orang cantik cantik gini kok di bilang ingusan," balas Vera dengan kesal saat mengingat bagiamana badut itu mengatainya ingusan.


"Hahaha... emang bagiamana ceritanya kok bisa dia bilang kalau kamu ingusan, padahal setahu aku itu kamu itu rapi, cantik dan bersih juga," balas Roman membuat Vera yang ada di sebrang sana pipinya bersemu merah.


"Iiih Roman bisa aja deh bikin aku salting," ucap Vera sambil mencak mencak di dalam kamarnya akibat mendapatkan pesan dari roman.


"Jadi ceritanya itu dia lagi mendapati aku menangis di taman karena waktu itu aku habis putus sama si bayu itu, ehh taunya waktu aku nangis malah keluar ingus dari hidung aku, dan si badut itu melihat itu," balas Vera menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Ooh jadi gitu ceritanya kenapa dia waktu itu bisa nangis sampai keluar ingus," ucap Roman setelah membaca penjelasan dari Vera.


"Terus gak sampai sana aja, dia juga bilang kalau aku itu ceroboh karena mendapati ada sisa nasi di sudut bibir aku," lanjut Vera melalui pesan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2