Badut Tampan Itu Milikku

Badut Tampan Itu Milikku
Eps. 16


__ADS_3

Roman sudah dalam perjalanan bersama dengan tuan Rahman menuju perusahaan milik tuan Rahman, keputusan yang Roman ambil di sambut baik oleh keluarga tuan Rahman, bahkan mereka semua mendukung seratus persen keputusan Roman.


"Kamu sudah membawa berkas berkas yang saya suruh kan?" tanya tuan Rahman kepada Roman yang duduk di depan di samping pak sopir.


"Sudah tuan," balas Roman.


"Mana coba saya lihat," pinta tuan Rahman dan Roman pun langsung memberikan berkas berkas yang dia bawa.


Tuan Rahman mulai membuka berkas berkas yang berisi data diri Roman, dan di mulai membacanya satu persatu, hingga sampai di bagian nama lengkap Roman seketika mata tuan Rahman melotot.


Roman Abramovich.


02 Februari 2001


"Nama itu, tanggal lahir itu gak mungkin kebetulan sama kan," batin tuan Rahman kaget.


Bagiamana bisa dia tidak tahu nama lengkap Roman padahal dia sudah bekerja beberapa hari di rumahnya.


"Aku harus segera mencari tahu ini, jika benar Roman adalah anak yang selama ini aku cari sungguh berdosa sekali aku membiarkan anak kandung ku hidup menyediakan seperti ini," lanjut tuan Rahman dalam hati.


Tuan Rahman menerawang jauh ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat hari di mana Roman di lahirkan.


Saat itu keluarga Abramovich telah menyiapkan acara untuk menyambut cucu laki laki pertama keluarga itu, di saat dalam perjalanan menuju rumah tiba tiba saja ada beberapa orang yang menghadang jalan mereka.


Orang orang itu menyerang mobil Rahman dan mengambil Roman yang saat itu masih bayi dan berada di gendongan Nina.


Nina yang masih dalam pemulihan sehabis lahiran pun tidak bisa banyak melawan saat orang orang itu mengambil anaknya.


Waktu itu mereka sudah memberikan nama kepada Roman, dan sejak saat itulah Rahman menyuruh orang orang hebat untuk mencari keberadaan Roman tapi sampai sekarang mereka belum bisa menemukan Roman karena ternyata Roman sudah di buang entah kemana oleh orang orang itu.


Setelah di telusuri semuanya ternyata dalang di balik penculikan itu adalah kakak Rahman sendiri, dia tidak terima karena anak Rahman laki-laki sedangkan anak dia perempuan, itu artinya sang pewaris kekayaan keluarga Abramovich jatuh kepada Roman, maka dari itu adik Rahman memutuskan untuk mengambil Roman kecil agar tidak ada lagi pewaris di keluarga itu.

__ADS_1


Dan sejak saat itu juga Rahman memutuskan untuk pindah ke negara tempat istrinya di lahirkan dan membangun usahanya sendiri di sana.


Soal adik Rahman yang jahat itu dia juga sudah mendapatkan hukumannya dari keluarga Abramovich dengan membunuhnya secara hidup hidup karena sudah membuat cucu pewaris pertama hilang.


"Tuan kita sudah sampai," ucap sopir menyadarkan Rahman dari lamunannya.


"Ah iya pak, ayo Roman kita masuk ke dalam," ajak tuan Rahman mengajak Roman untuk masuk ke dalam perusahaannya.


"Baik tuan," balas Roman dan mengikuti tuan Rahman turun dari mobil dan setelah itu dia juga mengikuti tuan Rahman memasuki perusahaan.


Sepertinya Roman melupakan suatu hal, dia yang dulu sangat menutupi nama lengkapnya dari keluarga itu, dia lupa kalau di berkas berkas yang dia berikan kepada tuan Rahman itu ada nama lengkapnya.


...**...


"Heh, apa yang kalian bicarakan, kalau berani sini bicara di depanku jangan di belakang," ucap Vera kepada sekumpulan karyawan yang tukang gosip itu.


"Dih apaan sih, orang kita lagi gak ngomongin situ kok," balas salah satu dari mereka.


"Iya benar," balas mereka semua.


"Meskipun orang tuli juga tahu kali kalau kalian ini lagi membicarakan aku," balas Vera.


"Kalau kita lagi membicarakan kamu emang kenapa, takut kalau kebusukkannya ketahuan?" balas karyawan yang waktu itu memergoki Vera tengah berpelukan dengan papi Vero.


"Ooh jadi lu dalang dari semua ini, apa sih enaknya bicara in orang, emang ada untungnya ya buat kalian?" tanya Vera.


"Ya gak ada sih, tapi setidaknya kita ini tidak busuk yang suka menggoda suami orang," balas salah satu dari mereka.


"Merebut suami orang, heh suami siapa yang gue rebut, main seenaknya aja nuduh nuduh orang sembarangan," balas Vera tak terima di tuduh seperti itu.


"Halah gak usah muna deh lu, gue lihat pakai mata kepala gue sendiri ya kalau kemaren lu tuh peluk peluk tuan Vero, untung aja waktu itu gue datang, mungkin kalau tidak nyonya Ratih bisa terluka mendapati suaminya yang main dengan sekertaris nya sendiri," balas karyawan yang ya kemaren melihat Vera dan papi Vero lagi.

__ADS_1


"Siapa sih nama lu, jago banget kalau bikin cerita." Vera melihat name tag yang ada di dada wanita itu.


"Ooh namanya Susi, pantas sih kalau suka gosip," lanjut Vera yang sudah mengetahui nama wanita itu.


"Halah udah gak usah banyak ngeles deh lu, ngaku aja kalau lu itu ada main belakang kan sama tuan Vero, dasar wanita murahan," balas Susi memaki Vera.


Plak.


"Jaga ya mulut lu, gue dari tadi udah coba buat sabar tapi lu malah hina hina gue dengan kata kata yang lebih cocok buat lu sendiri yang murahan," balas Vera setelah memberikan tamparan buat Susi.


Semua karyawan pun berkumpul memutari mereka berdua, apalagi setelah Vera memberikan tamparan di wajah Susi membuat semua orang semakin penasaran dengan aksi mereka berdua.


"Berani beraninya lu tampar gue, awas aja ya nanti gue aduin semua kelakuan lu sama nyonya Ratih biar lu sekalian di pecat dari perusahaan ini," ancam Susi.


"Di pecat, auw takut... tapi boong, adukan saja kalau berani, dan kita lihat nanti siapa yang akan di pecat dari perusahaan ini," balas Vera tanpa rasa takut.


Tak tak tak.


Terdengar suara beberapa pasang sepatu mendekat ke arah mereka dan membela kerumunan yang karyawan buat di sana.


"Ada apa ini pagi pagi sudah berkumpul di sini, ini sudah waktunya jam kerja dan kalian masih di sini, apa ini kegiatan kalian hah?" marah tuan Vero membuat semua karyawan di sana takut.


"Maaf tuan, saya hanya memberitahu wanita murahan ini agar tidak menggoda tuan lagi, tapi dia malah menampar saya," ucap Susi mengadukan perbuatan Vera.


"Dasar bodoh, kau mengadu ke orang yang salah tol*l," gumam Vera sambil tersenyum mengejek.


"Siapa yang kamu bilang wanita murahan dan menggoda saya?" tanya papi Vero yang tidak mengerti dengan siapa wanita yang Susi maksud.


"Dia tuan, sekertaris anda," jawab Susi sambil menunjuk Vera yang ada di sampingnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2