
“APAAAAAAAAA?”,laki-laki itu berteriak histeris. Semua orang diruangan itu mulai panic, entahapa yang dibisikkan pelayan itu pada laki-laki itu, sehingga membuat semua orang mulai pergi tergesa-gesa ke semua penjuru rumah besar itu.
“Nila….Nila….Nila…..”, mereka meneriakkan nama itu sambil membuka setiap pintu dan mengobrak abrik lemari-lemari besar yang ada. Wajah mereka pucat pasi, laki-laki itu terus berteriak membentak orang-orang disekitarnya. “bagaimana bisa tidak ada yang melihat anak itu pergi, bukankah tadi dia sedang berhias dan sudah memakai baju pengantinya.”, dia terus berteriak tak henti.
“Putri, kau tidak melihat kakak Nila?”, laki-laki itu bertanya padaku.
“Tidak Paman”,jawabku
“Put, bukannyamkemarin dia selalu bersamamu?, apa dia tidak mengatakan sesuatu padamu? Atau dia memberitahu dimana dia akan kabur?, aku diburu beberapa pertanyaan. Pamanku memegang tanganku berharap aku tahu jawaban atas semua pertanyaannya. Tapi aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, tak berani menjawabnya. Aku merasakan kecemasan di wajahnya, tidak, lebih tepatnya aku merasa paman ketakutan, entah
apa yang terjadi tapi aku baru pertama kali melihat pamanku yang berkarisma memiliki mimik seperti itu. Dia benar-benar seperti orang yang terancam jiwanya.
“Tolong pikirkan apa ada yang salah dengan Nila kemarin”, Paman meninggalkanku dan pergi ke ruangan tengah. Aku hanya bisa menarik nafas dalam. Entah apa yang terjadi pada Nila, tapi kemarin dia begitu bahagia atas pernikahan ini. Laki-laki yang dijodohkan paman benar-benar menawan hatinya. Seharian dia terus membicarakannya dengan senyuman sumringahnya. Namun bagaimana mungkin dia kabur
di hari pernikahan yang dia tunggu-tunggu. Itu sangat menggangguku, namun aku juga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada sepupuku Nila. Aku hanya bertemu dengannya setiap dia berlibur di desa tempat tinggalku. Dia wanita yang baik dan penurut, tidak mungkin mengecewakan paman.
Aku duduk di atas kasur di dalam kamar Nila. “Maaf papa, aku tidak bisa menikah”, kertas itu masih ada di atas kasur, itu benar-benar tulisan Nila. Nila apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku. dia masih bahagia
__ADS_1
kemarin, dan malam itu aku melihat wajahnya pucat pasi. Munkin dia kelelahan itu fikiranku semalam.
“ Put, Tolong Bibi di dapur dulu”, ibu membangunkan ku dari lamunanku. “Tolong bibimu menyiapkan tea, semua orang sedang sibuk mencari Nila. Pamanmu sedang menenangkan keluarga mempelai”. Aku mengangguk dan langsung pergi menuju dapur.
“Bibi, ada yang bisa saya bantu?”, aku memeluk bibi dari belakang. Wanita setengah baya itu sedang menyeduh tea. Air matanya terus jatuh, namun dia mencoba tersenyum.“Bibi, kau membuat tea dari air matamu”, aku menghapus air matanya, “dia akan kembali jadi jangan sedih”.
Bibi semakin menangis, “bibi takut terjadi sesuatu padanya
“Bibi istirahat dulu, aku akan menyeduh Teanya”.
“Bibi sudah jangan menangis lagi’. Aku memeluk Bibi hingga dia menjadi sedikit tenang. Bagaimana bisa pembatalan pernikahan ini mengancam nyawa keluarga paman, atau itu hanya kelebaian bibi saja.
Bibi mulai tenang, kupapah dia kepojok dapur. Wajahnya tanpak lesu “aku akan meneruskan
pekerjaannya”.
“apa sekarang waktunya ngetea?”, bisik batinku. “Suasana yang tegang ini bisakah di cairkan
__ADS_1
dengan secangkir tea?”, aku tersenyum kecil, terbesit iklan tea di televisi, “aku harap iklan itu menjadi kenyataan”.
“Put tolong bagikan tea itu di ruang pamanmu”, Bibi memberikan intruksi padaku.
“OK bibi”.
Aku berjalan keruang tengah, di bibir pintu ruang tengah aku mulai mendengar cekcok antara beberapa orang. Aku tak berani masuk ke dalam, dan masih berdiri di luar ruangan itu.
“Bruak…….”,laki-laki itu keluar membanting pintu, aku segera berlari kecil ke belakang sekat gedung dekat pintu sambil mengintip ap yang terjadi. Laki-laki itu berhenti sejenak “Papa apakah kau puas menyakiti hati anakmu ini, setelah memberikan harapan dan aku mulai berharap kini aku ditinggalkan lagi.apa yang harus kulakukan?”, laki-laki itu beranjak.
“Dafid”, Panggil laki-laki lainnya dai dalam ruang.
Laki-laki yang dipanggil itu berhenti melangkah. “Tunggulah sampai waktunya. Papa akan mencari cara agar dia tertangkap. Kau tetap akan menikah hari ini”. Laki-laki yang dipangil itu tak menjawab, dia terus melanjutkan langkahnya, wajahnya tak begitu jelas, tapi senyumnya, aku masih bisa melihat senyumnya yang tersungging. Dia tersenyum licik atau dia tersenyum untuk menutupi sakit hatinya? Aku tak bisa menilai sikapnya itu.
Laki-laki itu calon suami Nila, wajahnya tampan, kulitnya putih. Dia bukan manusia, dia pangeran, Kenapa laki-laki tampan itu memiliki segalanya, wah apa dunia ini sudah mulai memihak oran tampan?. Itu kesan pertama aku melihat David. Kenapa Nila Kabur dari pernikahan ini?.apa sebenarnya yang terjadi? Dan apa aku harus menyajikan tea ini? “aaaaaaaaaaaaaahh”, aku mulai bingung dengan pertanyaan di kepalaku. “ tapi pertama ayo kita selesaikan masalah tea ini”, aku melangkah lirih mendekati pintu ruangan itu. Ya Allah, tolonghentikan perselisihan ini sebentar, sampai aku selesai membagi tea ini.batinku terus merintih dan kakiku terus melangkah.
“Kreeeekkkkkk….”, aku membuka pintu perlahan, sangat berhati-hati. Dan sungguh pemandangan yang tak mengenakkan. Ya Allah apa yang sedang terjadi, aku harap ini hanya mimpi panjangku, aku harap tak melihatnya dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1