
Hari itu sangat melelahkan buatku. Aku duduk di dalam kamar sambil merintih kesakitan, tanganku memar, mulutku berdara karena tergigit, punggungku sangat nyilu karena dia sesekali memukul punggungku. Tubuhku terasa retak, dan aku tak mampu untuk berdiri lagi. Di kamar itu aku sendiri dan berbaring di atas kasur milik Dafid. Aku rasa dia tidak akan masuk ke kamar ini lagi.
“Kau ada di mana?”, Sms Rosi masih belum ku balas, aku tak mampu berbohong lagi, hanya isakan tangis yang terus menemaniku. Bagaimana ini?, aku berjanji akan pulang sekarang, tapi kini kepulanganku tinggal harapan. Aku terus meraung kacau.
“Kau membuat telingaku sakit’, Dafid mendobrak pintu kamar. “seharusnya aku yang menangis”, Dafid meringis kesakitan, Tangannya memegangi mulutnya yang terluka.
“Kenapa kau kesini?”, aku bertanya dengan lemas.
“ini kamarku, aw”, setiap dia berbicara, dia merasa kesakitan.
“apa kau tidak berfikir jika kita satu ruangan, kita pasti akan saling bunuh”.
“sudahlah, aku tak akan menghiraukanmu, jadi pergi dari kasurku”, Dafid mendekatiku sambil menarik kakiku dengan lemah.
Kakiku terus kugerakkan hingga tidak sengaja aku menendangnya, “untuk malam ini, kau tidur di ruang tamu!”.
“Tidak..!”, Dafid tidak mau mengalah hingga semalam kami hanya tarik menarik dengan enggan. Tak sanggup untuk berkelahi lagi, kami terus saja saling melempar benda disekitar hingga kami tak sadarkan diri.
Keesok harinya, kami belum terbangun. Matahari sudah di atas rumah, jam menunjukkan pukul 11.00 siang. Aku terbangun lemah, punggungku seakan patah dan sulit untuk berdiri. Aku tertatih-tatih berdiri dari tempat tidurku. “Sial”, aku menggerutu. Ku tendang kakinya yang mengait kakiku “ah.., kenapa bangun tidur aku harus melihatnya”.
Dia menggeliat ketika ku tendang. Kami tertidur di dalam kamar, dia tidur di bagian bawah kasur dan aku bagian atas. Melihat dia yang akan terbangun, aku berlari keluar kamar menjahuinya. Aku pergi keruang tengah, disana kakek dan Nenek sedang duduk berdua. Aku rasa mereka akan membenciku karena sudah mengakibatkan kekacauan kemarin tapi itu bagus. Aku butuh alasan untuk dilempar dari keluarga itu. Harapan kosong sebelumnya kini mulai terlihat lagi, aku harus berusaha membuat keluarganya kacau.
“Kau baru bangun?”, Nenek menegurku ketika melihatku melewatinya.
“Tentu saja, apa ada masalah jika aku bangun siang?”, tanyaku angkuh.
“Waw, benarkan Nek!”, Kakek berbicara dengan Nenek.
“Benar, jadi begini rasanya”, Nenek menjawab. Aku bingung dengan keduanya. Aku hanya melewati mereka yang mengobrol sendiri.
“Put, tolong bantu Mama”, aku bertemu Mama yang membawa belanjaan tak penting lagi.
“Maaf Mama, tanganku sedang penuh”, aku memperlihatkan tangan kosongku.
“Benarkah, mama tidak melihat apa-apa?”.
“Bebanku tidak terlihat Mama karena beban ini ada di hatiku”, aku menepuk-nepuk dadaku.
“Hahahahaha, jadi Benar kata mereka”, Mama tertawa, aku bingung dengan sikap Mama. Keluarga ini membuatku bingung.
Aku segera keluar rumah menuju kebun, hanya di sana yang bisa menenangkan hatiku. Di perjalanan aku bertabrakan dengan Papa, dia ingin menegurku tapi aku memalingkan muka tak mau bertemu dengannya. Tapi melihat sikapku, dia hanya tertawa senang. Aku mulai bingung dengan sikap semua orang. Biasanya di dalam sinetron, aku akan ditendang dan diusir ke luar karena sikapku. Setidaknya aku berharap mereka akan marah dan menegur sikapku kemarin. Tapi semua tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Aku hanya harus berusaha sedikit lagi agar aku bisa kembali ke Desa. Ku bulatkan tekatku untuk membuat mereka sebal.
Cara pertama ,aku harus bermalas-malasan. Tanpa persetujuan mereka, aku pindah kamar ke kamar lantai 1 di dekat lorong yang langsung menuju Kebun. Kakek dan Nenek tidak setuju, tapi aku akan menjadi anak yang memberontak. Pemberontakan ini menyenangkan, aku memindahkan barang-barangku dan berharap tidak bertemu lagi dengan Dafid. Perasaan menyenangkan di dalam kamarku sendirian, aku mulai bermalas-malasan dengan menonton banyak Drakor dan mengambil semua camilan di dalam kulkas. Kamarku benar-benar seperti sampah. Nenek dan Mama menemuiku di dalam kamar, melihat kondisinya, mereka hanya tersenyum. Mereka menyuruhku makan bersama, tapi aku tidak mau. Aku hanya mau makan jika makanannya di sajikan di dalam kamar. Aku benar-benar menjadi Ratu. Melihat kelakuanku membuat mama, nenek dan kakek semakin sering mengunjungiku untuk melihatku, menawarkanku sesuatu. Jika aku menolaknya mereka tersenyum seakan puas dengan sesuatu. Aku heran tapi terus bertahan hingga aku akan diusir.
Tapi kemalasan ini membuatku lemah, sekujur tubuhku terasa nyilu setiap aku berguling di atas kasur. Punggungku sangat panas aku dihantam kebosanan. Namun mereka masih bertahan, setiap menit bergantian menjengukku dan tersenyum puas. Mereka mengejekku, benar-benar keluarga yang sulit dikalahkan. Aku sudah tidak kuat di dalam kamar sehingga kaki ini berjalan sendiri ke kebun. Betapa terkejutnya, Bunga melati, Mawar dan pohon anggur yang kutanam menjadi layu. Aku lupa aku punya anak yang telah kutelantarkan, wajahku memerah dan segera berlari mengambil selang dan mencoba menyiraminya. Tapi terlambat, pohon anggur
daunnya berguguran tinggal batang yang kurus berdiri 30 cm. sedikit-sedikit menunduk karena angina. Hatiku menjerit, air mataku keluar. Aku menangis histeris melihat anak-anak yang ku tanam mati.
__ADS_1
Papa berlari ke arahku setelah mendengar tangisku, “Ada apa Put?”, dia mengkhawatirkanku.
“Kenapa semuanya layu?”, aku mewek.
Papa melihat tanaman yang layu, “Kau mengabaikan mereka”.
“Bukannya banyak orang disini, kenapa mama dan nenek tidak mengurusnya.
“Mereka sibuk merasakan menjadi orang tua sesungguhnya”, Papa menghela nafas.
“Maksudnya?”, aku tak mengerti.
“tanyakan saja pada mereka”, Papa memandangku, “Kau sudah tidak marah?”.
“aku masih marah”.
Papa tertawa terbahak-bahak “mereka benar, mempunyai anak yang memberontak sangat menggemaskan” Papa mendekatiku, “Maafkan Papa, untuk menebus kesalahan papa akan membuat hidupmu bahagia selamanya dan akan kuturuti semua keinginanmu”.
Aku tersentuh dengan ketulusan Papa “bolehkan kau membiarkan aku pulang?”.
“Maaf Put, Papa akan mengabulkan semua permintaan egoismu kecuali, pulang dan berpisah dari keluarga ini”, Papa mengelus pundakku. “aku harap kau menjadi anak yang memiliki ambisi yang tinggi dan keegoisan. Aku akan memberika semua yang kau butuhkan”.
Aku hanya cemberut dan beranjak pergi, “Papa harus mengganti tanaman yang mati dan harus siap dalam 10 menit”, aku berlari meninggalkan Papa yang tersenyum bahagia. Permintaan ini menandakan bahwa aku memaafkan Papa tapi tidak merubah hatiku untuk pulang.
Aku pergi ke dapur, sudah lama aku tidak menyediakan Tea untuk Kakek dan Nenek. Benar, aku sudah menyerah membuat mereka sebal dengan metode kemalasan. Aku memberikan Tea ke tempat nenek dan kakek duduk. Seperti biasa, mereka sedang duduk santai sambil membaca beberapa buku.
“Putri, kau tidak mau merajuk kembali?”, nenek bertanya.
“Tidak, aku sudah sadar bahwa semua itu percuma”. Jawabku.
“Tidak kok”, nenek agak kecewa. “aku hanya sebentar merasakan jadi Nenek”.
Aku bingung.
“Kau boleh merajuk kembali”, Nenek memegang tanganku.
“Kau Boleh berkelahi lagi dengan Dafid”, Kakek memohon
“Bukannya itu permintaan yang…..”, aku tak bisa menuliskan perasaanku waktu itu.
“Dafid selalu mengikuti kata-kata kami, dia tidak pernah berontak sama sekali. Dia benar-benar mirip dengan Papanya. Aku tidak pernah merasakan pubertas anak-anak. Temanku lainnya menceritakan macam-macam pemberontakan anak karena mereka dalam masa puber, tapi anak-anakku selalu mengikuti semua yang aku suruh, mereka tidak seru”, Nenek bercerita panjang lebar.
“Oh, jadi itu alasan kalian tiap menit tidak pernah meninggakanku sendiri”.
“Kedatanganmu membuat keluarga kami yang jenuh ini menjadi berwarna. Kami tidak pernah melihat pertengkaran secara langsung, tapi berkat kalian kami melihat pertengkaran kekasih walau agak ekstrim”, Kakek menggodaku.
“Aku rasa ada kesalapahaman”, aku ingin menerangkan tapi tidak bisa. Karena itu percuma. “bagaimana kalian menungguku bertengkar, bukankah lebih mudah jika kalian bertengkar sendiri. Banyak masalah yang bisa kalian timbulkan”, tanyaku.
__ADS_1
“Kami tidak pernah bertengkar karena kami terlalu saling mencintai”, Nenek memeluk Kakek. Itu membuat bulu kudukku berdiri.
“Aku harap setelah ini, anakku yang cantik ini bisa merajuk tiap hari. Mintalah barang-barang yang mahal pada Mama sebagai syarat agar berhenti merajuk”, Mama mendekatiku dan memelukku dari belakang. “Mari kita belanja yang banyak agar kau tidak merajuk lagi!”.
“Tidak”, Jawabku cepat. “aku benar-benar tidak akan merajuk lagi”. Mereka membuatku takut, suasana ini memberikan serangan yang mematikan buat ku.
“Jadi kau akan kembali ke kamar Dafid?”.
“Tidak!”, aku enggan pindah. “biarkan aku di kamarku, aku tidak mau melihat mukanya yang Licik seperti Ulat”.
“Kau benar-benar”, Dafid datang dari arah belakang mengagetkanku. “Sudah lama kita tidak bertemu, aku sampai lupa bahwa kau tinggal di sini. Padahal aku harap tidak akan melihat mukamu lagi”.
Aku memalingkan wajahku,tidak menghiraukanya. “Dia hantu, dia hantu, dia hantu”, aku melafalkan mantra pelan-pelan dan beranjak ke luar dari ruangan itu menghindarinya. Dia tersenyum licik dan sebal. Dia hanya memandangku yang tak menghiraukannya dengan tatapan dinginnya. Aku berlari ke dalam kamarku. Aku rasa cara ini tidak berhasil, melihat kegilaan keluarga ini, harapan untuk keluar dari keluarga ini nihil. Harapanku
meredup seketika. Ahhhhhhh…… aku butuh cara kedua, datanglah harapan yang baru!!!!.
“dang ding dung”, Nada dering di Hpku berbunyi. Tertulis Sepupuku di layar HP sedang menelpon. Ku angkat telponnya tanpa bersuara.
“Putri, Kau disana?”.
Aku enggan menjawab.
“Putri kau marah?”, Nila berbicara lirih.
“ada apa?”, jawabku.
“Maaf, aku terbawa emosi. Aku sudah merenungkan semuanya, ini bukan kesalahanmu tidak seharusnya aku membencimu!”. Nila menangis lirih.
“Kenapa kau menelponku?, apa kau ingin kembali?”, tanyaku penuh harap.
“Maafkan Aku”, Nila semakin menjadi menangis. “aku tidak bisa membantumu, aku tidak bisa menggantikan posisimu. Maaf atas keegoisanku!”.
“Sebenarnya apa yang terjadi?”, Tanyaku.
“Dia mengancam semua wanita yang dijodohkan oleh papanya, bahkan dia mengganggu dan menyakiti mereka tanpa belas kasih, aku mengetahui dari mereka, tapi aku dibutakan dengan cintaku padanya. Wajahnya seakan menginginkanku, jadi aku fikir aku berbeda dari mereka. Tapi ternyata dia tetap mengancamku, namun aku dengan bodohnya masih mempertahankan dia sehinga dia memohon padaku dengan air matanya”, Nila bercerita.
“dia menangis?”, tanyaku terkejut.
“iya, dia menangis memohon agar aku membatalkan pernikahannya karena dia masih menunggu cinta pertamanya yang pergi. Dia hanya akan mencintainya dan itu hanya akan menyakitiku jika kami menikah. Itu katanya”.
“Cinta pertama?, tapi Papa wawan tidak pernah menyinggungnya. Apa ini cinta terlarang atau cinta tanpa restu?”, aku mulai bertanya-tanya.
“Entahlah, karena dia tidak akan mencintaiku, jadi aku mundur dari pernikahan ini. Tapi aku tidak menyangka kau akan menjadi korbannya”, Nila menyesal, “aku tidak bisa menolongmu, Maaf. Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang mencintai wanita lain, aku tidak bisa menanggung sakit hati karena itu”. Nila Menangis.
Kami hanya saling memaafkan dengan tangis, aku tidak mampu menyalahkan Nila. Namun harapan mulai terbuka lagi untukku. Aku hanya perlu mencari tahu tentang cinta pertama Dafid dan membantunya. Mungkin
kita akan berpisah dengan damai. Mungkin……
__ADS_1