Bajingan gila

Bajingan gila
Teman Masa Kecil


__ADS_3

Sudah 3 hari, aku masih belum bisa menjawab telpon Rosi, hanya bisa membalas SMSnya dengan janji yang mungkin tidak bisa kutepati. Berbagai cara sudah ku fikirkan untuk terbebas dari pernikahan ini, tapi keluarga ini benar-benar tangguh dan tidak mudah dikalahkan.  Cara-cara untuk dibenci mertua di mbah google bahkan dengan sengaja ku tonton drama Indonesia yang menguras emosi, tetap tidak berhasil ku terapkan. Dan Dafid……, dia benar-benar bajingan yang harus ku hindari, tapi entah dari mana dia selalu muncul di hadapanku dengan wajah yang menyebalkan. Dia terus mengejekku tanpa henti membuatku ingin menonjoknya.


“Jika kau tetap tidak mau bicara, aku akan berangkat ke tempatmu”, Sms Rosi. Mati aku, tidak mungkin di jam siang begini aku menelponnya. Tapi aku segera bergegas berlari masuk ke dalam kamar, tapi Mama sekarang masih memilah-milah bajuku di kamar. Aku mulai bingung dan mau tidak mau aku pergi ke kebun untuk menelpon Rosi.


“Halo..Sayang?”, aku berbisik-bisik. “Kau ada dimana?”.


“Kenapa kau tidak menjawab telponku selama ini?”.


“Bukan tidak menjawab, tapi tidak bisa sayang. Aku sedang sibuk dari kemarin”, alasanku.


“Kau tidak menghindariku?”.


“Kau lucu, untuk apa aku menghindarimu?”, tanyaku manja.


“Mungkin di sana kau sudah memiliki pacar lain!”, dia merajuk.


“itu tidak mungkin, hanya kamu yang kucintai. Apapun yang terjadi yang perlu kau ingat dan percayai adalah cintaku hanya untukmu”, aku menyakinkannya.


“Tapi…, kau pergi terlalu lama, dan wisuda hampir tiba, kau masih ingat janjiku padamu?”.


“Tentu”, aku meneteskan air mata.


“Di hari itu, aku akan melamarmu, aku akan menjadikanmu istriku!”.


“Kenapa kau memilihku”, pertanyaan yang selalu ku lontarkan padanya disaat kita bertemu. Dan hari ini aku harap jawabannya bisa menenangkan hatiku.


“karena kau yang menggetarkan hatiku”, dia tertawa, meski aku tak melihatnya tapi aku yakin dia sedang malu.


“Dan kau yang bisa membuatku tertawa bahagia”, aku menjawabnya dan meyakinkannya “bisakah kau menungguku dengan sabar sebentar lagi?, aku hanya perlu menyelesaikan masalah ini!”.


 “aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, tapi aku akan mempercayai kata-katamu. Aku hanya akan mempercayai bahwa kau kan setia!”. Kami menutup telponnya, aku menangis kecil mendengar kata-kata penutup Rosi. Apakah


aku sedang menghianatinya?Tidak aku hanya terjebak dan aku tidak pernah mencintai yang lainnya, hanya dia yang kucintai.


“Apa yang kau lakukan di sini”, Suara Papa membuatku terkejut dari lamunanku. Aku tak tahu dari kapan Papa ada disini, aku harap dia tidak mendengarnya.


“Aku hanya bicara dengan tanamanku”, aku bicara terbata-bata.


“Kau terlihat ketakutan, apa kau melakukan sesuatu yang tidak baik?”, tanyanya.


Aku diam mencoba mencari jawaban, “iya, aku sedang merencanakan mencuri uang Papa”.


“Kau lucu…, untuk apa kau mencurinya?”, Tanya Papa.

__ADS_1


“dari awal aku di sini sampai saat ini, aku tidak pernah memegang uang. Padahal aku harus membeli keperluanku”, aku pura-pura cemberut.


“Apa??”, Papa terkejut. “Padahal kau sudah kuberikan kartu kredit tanpa batas”.


“tidak, aku tidak menerimanya!”, aku terbelalak.


“Aku berikan pada Suamimu”, Papa tersenyum lagi.


“Dasar…. Pada istrinya dia sudah berani korupsi”, aku kesal dibuatnya. Papa hanya tertawa melihat kekesalanku, dan yang terpenting aku yakin Papa tidak mendengar percakapanku dengan Rosi.


“TTTTIIIIIIIDDDDDDAAAAAKKKKKKKKK”, suara teriakan yang menggema terdengar dari luar rumah mengejutkan Papa dan aku. Kami pergi dengan cepat untuk melihat apa yang terjadi di luar.


Benar-benar pemandangan yang indah di lihat mata, wanita datang dengan tas ditangannya dan dia benar-benar menggila pada Dafid yang baru datang dari kantornya. Dia memukul-mukul dada Dafid dan menamparnya sesekali. Penuh dengan derai air mata, dia menangis terisak-isak. Aku yakin dia pacar Dafid yang marah karena tahu kami menikah. Mungkinkah dia cinta pertamanya itu?, jadi dia benar-benar menunggunya?.


“Jangan seperti itu”, bentak Papa mengagetkanku. Dia mendekati wanita dengan kulit putih dan baju yang sexi. Ini mungkin akan menjadi pertempuran yang menarik, aku penuh harap dengan senyum licikku.


“Papa….., Dafid berbohong padaku!”, dia memeluk Papa dengan manja.


“Papa?”, aku tersentak kaget, “dia adikmu?”, aku memalingkan muka pada Dafid yang bermuka datar.


“OH, perkenalkan dia Rani, teman masa kecil Dafid dan kuanggap sebagai anakku sendiri”, Papa menjelaskan.


“ooooohhhhh”, aku memanyungkan mulutku. “Jadi hanya teman masa kecil”, fikiranku berhenti sejenak, benar aku mulai memutar kata-kata ‘teman masa kecil’, bukankah itu berarti sesuatu yang bisa ku buat menjadi harapan walaupun kecil. Aku harus mengawasi mereka dan bertindak.


“Kenapa kau marah?”, tanyaku pada Rani.


“Dia berjanji akan menjemputku dan membiarkanku berlibur di rumah ini, tapi dia tidak memperbolehkanku menginap di sini”.


Hanya itu, mengecewakan. Aku kira dia marah karena tahu pernikahan kami, ternyata hanya masalah pertemanan saja. “Tentu saja kau boleh menginap, di sini banyak kamar yang tersedia”, aku mempersilahkan dengan hangat dan cemberut melihat muka Dafid yang seakan tidak setuju dengan keputusanku. Rani tersenyum bahagia dan memelukku.


“aku yakin Dafid menikahimu karena kau orang yang baik”, kalimat itu membuatu terbatuk-batuk. Baikkkk siallll, dia menikahiku karena sial. Aku mulai mengutuk Dafid yang memandangku dengan muka kesal.


Aku dan Rani muai mencari kamar yang kosong, kamar yang dia pilih di dekat kamar Dafid, dia memilih kamar itu agar bisa lebih mudah berbincang denganku. Dia tidak tahu bahwa kami pisah ranjang, jadi mau tidak mau aku hanya mengiyakannya. Dafid yang mengikuti kami menarik tanganku kedalam kamarnya, aku menolaknya tapi dia mencengkram dan menarik tanganku dengan paksa, Rani hanya tersenyum, “Baiklah, kau harus istirahat dulu”, aku mengisyaratkan agar Rani masuk kamarnya.


“Apa yang kau lakukan”, Dafid meneriakiku di dalam kamar.


“Dia temanmu, jadi aku tidak mungkin mengusirnya”.


“Jadi…., kau harus tinggal di kamar ini?”, tanyanya.


“untuk apa?, aku tak mau”.


“Tapi dia disini”, suaranya terhenti.

__ADS_1


“kenapa jika dia disini?”, tanyaku.


“Aku tidak ingin dia melihat kita berdua”, wajahnya kini datar. Ada rahasia yang dia sembunyikan dariku. aku yakin dia menyukainya.


“Jadi kenapa kita harus berdua di kamar ini?”,


“aku hanya tidak ingin membuat kesan suami yang tidak berguna”, dia keluar kamar, “aku harap mulai saat ini sampai dia kembali, kau harus ada di kamar ini”, dia memerintahku.


“Ahhhh, bajingan gila”.


Dafid menemui Rani di kamar sebelah, aku mengikutinya dari belakang mencari tahu apa yang akan dilakukannya. Dia hanya berbicara dengan Rani, dan sesekali Rani meninju perutnya hingga dia kesakitan, tapi dia hanya tersenyum menerimanya. Ada yang aneh dengan sikapnya, dia tersenyum tulus dan bahagia, sepertinya tadi dia tidak mau Rani menginap di sini tapi sekarang dia tampak bahagia dengan kedatangannya. Dia pura-pura tidak acuh pada sekelilingnya, tapi pada Rani, dia tidak berkutik. Rani benar-benar membuat dia menjadi laki-laki yang ada di ujung kakinya. Mungkin cinta sepihak?, aku rasa Rani tidak menyukainya karena


dia tidak keberatan dengan keberadaanku, berarti Dafid ditolak?, Wahhhhh dia laki-laki bajingan yang memang pantas ditolak.


Dafid melirikku yang menyelinap ke tempatnya dan Rani, dia memandangku dengan tatapan mengejek seakan-akan dia mengisyaratkan agar aku tidak mengacau, semakin dilarang itu membuatku menjadi terobsesi. aku mendekati mereka yang sedang mengobrol untuk mengganggu Dafid, dan Rani tampak senang dengan kedatanganku.


“Ran, Kau cantik, mungkin banyak yang menyukaimu di luar sana?”, tanyaku memancingnya agar jawabannya membuat Dafid tanpak khawatir.


“Tidak juga, aku tidak memerhatikan itu”, dia menjawab santai.


“Kau suka tipe laki-laki seperti apa?”.


“laki-laki sederhana namun mampu melakukan hal-hal yang luar biasa.


“Waw, berarti laki-laki ini bukan tipemu”, aku menunjuk Dafid.


Dafid terlihat jengkel “apa yang kau lakukan?”.


Rani tersenyum, “Kenapa kau berfikir seperti itu?”.


“Karena dia laki-laki yang arogan, penuh dengan kesombongan dan tidak mampu melakukan hal-hal yang sederhana sehingga dia ditolak”, aku mengejeknya tepat di depan orang yang dicintainya.


“Apa kau ditolak?”, Rani bertanya.


“Dia hanya bicara sembarangan”, Dafid menjawab sambil memelototiku. Dia menarik tanganku lagi untuk kembali ke kamar. Dia terlalu sering menarikku membuat tanganku cukup sakit. dia tampak marah padaku, “Kami harus istirahat, jadi kau juga istirahat’, dia mencengkeram tangannya dengan kuat, malam itu dia sangat murka.


Benar saja, dia benar-benar gila dan tidak punya perasaan, dia mendorongku keluar kamarnya dan menyuruhku tidur di balkon. Dia tidak tahu rasanya disini sangat dingin, aku ingin kembali kekamarku tapi dia mengunci pintu balkonnya dari kamarnya, aku tidak  bisa berkutik lagi. Dia sangat menyebalkan.


Bangun tidur tubuhku kaku kedinginan, dia menyapaku di balkon dengan tatapan penuh dendam, dia benar-benar menikmati menyiksaku. Aku tak bisa membalasnya, kakiku kaku dan tubuhku menggigil, dia hanya tersenyum licik seakan mengatakan bahwa aku pantas mendapatkannya. Wah….. aku jengkel setengah mati dengan senyumannya. Dan bersaan bunyi pintu terdengar dan suara Rani membangunkan kami. Dia hanya


memasang muka datar, “kau harus segera masuk ke dalam agar dia tidak tahu”, dia menarik tanganku, aku enggan masuk untuk menunjukkan betapa kejinya dia pada Rani, tapi dia sudah tidak sabar dan menggendongku menuju ke dalam kamarnya. Aku meronta, dia tidak mau melepaskanku dan membawaku menuju tempat tidurnya.


“Brruuuaaaakkkk” Suara pintu terbuka, “kenapa kalian belum bangun?”, Rani masuk dan menyaksikan kami, aku yakin dia berikir kami sedang bercumbu. Ini membuat keadaan menjadi canggung, Dafid melemparku ke atas kasur dan diam canggung. Kami hanya terdiam

__ADS_1


__ADS_2