
Pagi yang canggung, kami tidak saling bicara di meja makan. Banyak makanan yang tersaji hari ini berbeda seperti biasanya, lauk yang aneh, Mie dengan saos putih dan keju, Ihhhh, Telur dengan irisan sayur, dan salad buah. Ini bukan masakan Indonesia, siapa yang memasaknya?
“Aku yang memasaknya”, Rani seakan tahu pertanyaan yang ada di kepalaku. Dafid tersenyum dan makan dengan lahap.
“Aku membawakan oleh-oleh untuk kalian semua”, rani mengambil barang-barang yang sudah dia sediakan. Dia mulai membaginya satu persatu dan hanya aku yang tidak dapat. aku hanya menengok kea rah belakang Rani, berharap bagianku masih ada.
“Maaf Put, aku tidak tahu kalau ada kamu di sini”, ia meminta maaf dengan tulus, mau tidak mau aku luluh dengan ketulusannya. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita belanja sebagai permintaan maaf ku?”. Aku mengangguk senang. Waawww dia wanita yang sangat baik, tidak heran jika Dafid sampai jatuh cinta. Dia benar-benar wanita idaman yang pintar segala hal kecuali masakannya yang aneh.
Dafid menyelesaikan sarapannya dan langsung berangkat ngantor, Rani menyuruhku untuk bersiap-siap pergi berbelanja. Setelah memakan waktu sekitar setengah jam kami berdua berangkat belanja di Toko yang besar, kata mereka ini Mall atau Moll? Aku sungguh tidak tahu, tapi toko ini sangat besarrrr, di dalamnya ada banyak toko lagi. Wahh, aku baru pertama kali ke sini.
“Kau cari barang yang kau sukai, aku akan ke toilet!”,
“Aku Ikut !”.
“Ayolah, aku hanya sebentar, kau tunggu di sini jangan kemana-mana !”.
Rani pergi ke lorong samping kiri, aku melihatnya dia memasuki ruangan dengan pintu otomatis, fikirku Toilet di sini sangat canggih hingga pintu terbuka dan tertutup sendiri. Aku harap bisa menunggunya, tapi dia benar-benar lama. Mungkin dia sakit perut??, aku menghampiri ruangan itu, pintunya tidak bisa dibuka, aku mulai gelisah.
“Sedang apa kau?”, Laki-laki lain menegurku yang sedang berusaha membuka pintu.
“Aku mencari temanku, dia masuk ke sini!”, aku menunjuknya.
“Oh, ini Lif. Ayo ku antar kau masuk!’, 2 laki-laki baik. Aku mengikutinya dari belakang. Pintu tertutup dan sedikit bergoyang. Aku sedikit mual tanpa alasan. “Kau dari mana?”, laki-laki itu bertanya.
“Aku dari daerah sekitar, tapi asalku dari Madura”, aku menjawab.
Laki-laki itu tersenyum dan berbisik-bisik, aku tak menaruh curiga pada mereka karena mereka adalah orang yang mau menolongku. Pintu terbuka, mereka berdua keluar dan menyuruhku untuk ikut keluar. Aku sedikit hawatir karena disekitar tempat itu hanya mobil yang berjejer. Apa ini ruangan khusus penjual mobil?, aku ragu untuk ikut mereka, namun tangan mereka menarikku dengan paksa. Benar……. Sekarang aku bukan khawatir lagi tapi ini suasana menakutkan. Aku mencoba menarik tanganku lagi sekuat tenaga hingga terjadi tarik menarik. Aku menjerit minta tolong, tapi kosong.
Laki-laki yang terlihat tegap menarik tanganku dengan kekuatannya, aku tak bisa menyeimbanginya. Laki-laki yang lain mencoba menutup mulutku, aku tidak bertenaga melawan mereka. Mungkin ini akhir dari Putri? Aku menangis di bopong mereka berdua, mulutku terus menggigil memanggil Dafid tapi semuanya gelap.
Mataku terbuka lirih, tanpa tenaga aku melihat sekeliling. Ini rumah sakit?, banyak orang-orang berseragam putih melewatiku yang terbaring. Aku lupa apa yang sebenarnya terjadi. Mama, Papa, nenek dan Kakek berdiri sambil menangis di sampingku.
“Kau sudah bangun?”, Papa mendekatiku.
“Ada apa dengan mereka?”, aku melihat keluarga Dafid yang menangis tapi bukan di kasurku.
“Mereka sedang mengkhawatirkan Rani”.
__ADS_1
“Ada apa dengan Rani?”, aku khawatir.
“Dia terluka parah karena menolongmu”, Papa menjelaskan.
“Apa?”, aku terkejut.
“Kenapa kau pergi sendiri? Rani mencarimu dengan khawatir dan mendapatimu sedang bertengkar dengan laki-laki, apa yang kau tengkarkan”.
“Bertengkar?”, aku yakin itu bukan pertengkaran, sebelum aku pingsan rasanya aku di bopong 2 laki-laki asing. Aku hanya bingung kelanjutan kejadiannya tidak kuingat. Aku memandangi Rani yang tertidur di sampingku, “bagaimana cara dia menolongku?”, bisikku.
Dafid datang menghampiriku dengan tatapan kebenciannya, aku yakin dia marah karena mencelakakan orang yang disukainya. Aku hanya tertunduk sedih, dia dengan tatapan dinginnya tidak menghiraukanku dan mendekati Rani yang tertidur. Dia brengsek, tapi keluarganya semuanya berengsek, mereka hanya menghawatirkan Rani bukan aku. Hikshiks aku menangis lirih, aku gila….., rasanya ku cemburu pada Rani.
Setelah beristirahat beberapa saat di rumah sakit, kami akhirnya pulang ke rumah. Mama dan Nenek memapah Rani, Papa dan kakek sibuk menyuruh pembantu untuk membantu Rani, dan aku dengan raja iblis. Dia melirikku dengan muka yang menyebalkan.
“Kenapa kau tidak masuk ke kamar?”, Dia sangat ketus. Aku ingin sekali berteriak bahwa fisikku memang tidak parah, tapi traumaku membuat tubuhku terasa berat, tapi berteriak padanya hanya akan membuatnya ingin mempermainkanku. Aku langsung keluar mobil dan mencoba berdiri, namun kakiku benar-benar gemetar. Dafid tidak tahan melihat betapa leletnya aku, dia menggendongku masuk ke dalam. Aku meronta-ronta tak mau di gendong, tapi tangannya kuat tetap menggendongku melewati Keluarganya dan Rani yang di tuntun. Semua melihat kami membuatku malu setengah mati. Rani memandangku dengan tatapan dingin, mungkin itu hanya
imajinasiku.
Keesok harinya, Dafid terdiam di kamar. Tidak seperti biasanya, dia memperbolehkanku menggunakan kasurnya, dia menyediakan minuman di dekatku bahkan skarang dia mendinginkan bubur untukku. Rasanya menakutkan melihat kebaikannya, sepertinya akan terjadi badai yang besar itu firasatku.
“Di kamar Rani”.
“Nenek?”,
“Di kamar Rani”.
“Papa dan Kakek?”.
“Kenapa kau banyak Tanya”, dia marah. Mengagetkanku. Jadi dia sedang merawatku karena orang-orang sedang merawat Rani. Dia mungkin sebal karena tidak bisa merawat Rani dan dipaksa merawatku.
“Apakah Rani terluka parah?”, aku bertanya dengan pelan, “aku belum melihatnya dengan jelas, maaf karena aku, dia terluka”.
Dafid melihatku dengan tatapan liciknya lagi, tangannya mendekati mukaku. Aku sedikit canggung, ku kira dia akan membelai rambutku di dahi tapi, … AWWWW, dia menjitak dahiku dengan keras.
“Bodoh…”, dia hanya berdecih dan meninggalkan bubur di meja sampingku, “makan itu, kau harus sehat untuk bisa berkelahi”. Dia pergi.
“Apa yang dia fikirkan”, aku bergumam lirih. Suasana hening seketika, tidak ada yang datang menemuiku. “Apa ini, ketika aku ingin sendiri mereka terus mengusik, sekarang mereka tidak datang menjengukku”, aku memaki.
__ADS_1
Benar-benar sunyi ini membunuh ketenanganku, aku sudah tidak tahan dan keluar kamar dengan pelan-pelan untuk melihat kamar Rani. Di sana banyak orang yang sedang menungguinya dan mengobatinya, air mataku mengalir lirih. “Ada apa denganku?”, aku melihat Rani yang tersenyum bahagia, dia memandangku yang menangis. Cepat-cepat ku hapus air mataku dan mencoba tersenyum, tapi Rani hanya tersenyum licik ke arahku, senyum yag sama dengan Dafid. “apa aku salah melihat?”, aku benar-benar syok melihat reaksi Rani yang mengisyaratkan bahwa dia lebih penting dari pada aku.
“Kenapa kau disini?”, Dafid menghalangiku. Dia sangat mengkhawatirkan Rani sehingga dia memilih menemaninya dari pada aku. Aku tak menjawab dan kembali berjalan masuk dalam kamar. Dafid mengikutiku, “bukannya kau sakit?, kenapa masih berkeliaran?”. Dia terus mengusikku.
“Kau tak menjawab?”, Dafid mengambil tanganku. Aku hanya diam melihat mukanya yang menjengkelkan.
“kenapa kau hanya diam?”.
“Apa yang harus kukatakan?”, aku bertanya balik.
“Kau kenapa?”.
“Apa? Kenapa denganku?”, aku tak bisa membendung air mataku. “Apa aku tak boleh keluar kamar agar tidak mengganggumu dengan Rani?”.
“Apa yang kau katakana?”, Dafid mencengkeram lenganku.
“Aku tahu, kau sangat mencintainya, kenapa kau tidak menikahinya?, bukankah keluargamu sangat menyukainya?”, Aku menjerit histeris.
“Kau cemburu?”, Dafid bertanya seakan mengejekku.
“Untuk apa aku cemburu pada ular sepertimu”.
“Kau tidak mau mengakuinya! Aku sudah katakan sebelumnya, jangan jatuh cinta padaku!”.
“Cih..” aku melepaskan genggaman tangannya, “aku tak pernah mencintaimu, aku hanya”, aku menangis kencang hingga keluarga Dafid mendatangi kami, aku melihat Mama dan Nenek berjejer, Kakek dan Papa dari tangga bawah, “Kalian sangat jahat padaku, teganya kalian tidak menemuiku dan sibuk merawat orang lain, dan membiarkan lintah ini menghisap kesabaranku”, aku menunjuk muka Dafid yang mulai marah.
Semua orang hanya melihatku sedih, mama mendekatiku ingin menjelaskan namun Dafid memegang erat tanganku dan menggendongku ke dalam kamar sambil mengunci pintu. Terdengar mama mengetuk-ngetuk dibarengi dengan suara Papa yang mencoba bicara pada Dafid, mengingatkannya bahwa aku sedang sakit.
“Apa yang kau lakukan?”, Dafid membantingku ke atas ranjang.
“aku akan menemanimu agar kau tidak kesepian”.
“Kau gila?”, aku terheran.
“Mulai hari ini, jangan mendekati Rani lagi”, dia gila. Dia melakukan ini hanya untuk membuat Rani merasa tidak canggung.
“Pergilah!”, aku menyuruhnya pergi, “aku akan lebih tenang jika kau pergi”. Aku diam tiduran, memikirkan kegilaan yang kulakukan hari ini. Dafid hanya melihatku tidur tanpa bicara lagi. Aku hanya memenjamkan mata, “apa yang kulakukan?, bukankah ini situasi yang baik untuk keluar dari rumah ini?”, fikirku. Aku sempat gila karena sakit dan syok ini, aku harus istirahat dan mencoba memikirkan lagi rencana yang harus kulakukan.
__ADS_1