
Hari semakin panas, jam menunjukkan pukul 10, orang-orang mulai berdatangan dan seketika itu juga ruang tengah menjadi penuh dengan orang-orang. Para pelayan rumah sibuk menyiapkan hidangan di ruangngan sebelah. Sebelumnya terjadi percekcokan antara ibu dan bapak, aku piker ibu akan marah dan menghentikan pernikahan ini. Benar …, aku lupa jika wanita yang menjadi ibuku ini benar-benar suka dengan uang. Walaupun dia wanita baik, namun setiap kali berbicara uang, dia selalu menjadi wanita yang tampak beda. Jika dia mendapatkan uang dari bapak maka untuk mengeluarkannya butuh tenaga besar untuk ku dan bapak. Dia pecinta uang yang pelitnya selangit. jadi mustahil dia tidak tergiur dengan pernikahan ini.
“Put, penghulu sudah datang, kamu siap-siap tunggu di dalam ya!”, paman menemuiku dan lansung keluar menemui penghulu dan keluarga Dafit.
Aku hanya tersenyum kecut, pernikahan ini membuatku sedih, setiap kali bibirku berucap maaf untuk mas Rosi. Ingin rasanya kabur, tapi aku benci dengan sikap baikku ini. Benar-benar menyiksaku.
Mempelai Pria datang, dan duduk di tempat ijab. Penghulu datang bersama pak Wawan namun mereka tidak langsung ketempat ijab. Pengajian sebelum ijab dimulai, paman mengajak pak Wawan dan penghulu masuk kedalam kamar pengantinku.
“Bagaimana pak”, Tanya paman.
“tenang, aku sudah mengurusnya sebelum kesini,” kata pak Wawan. “ini mempelai wanitanya”, pak Wawan menunjukku.
Laki-laki itu mendekatiku dan membuka namanya, dia bertanya biodataku secara lengkap, “kau ingin mas kawin apa?”, dia bertanya.
“terserah mereka”, jawabku ketus.
Lalu penghulu itu menoleh pada pak Wawan.
“maskawin tetap seperti rencana”, jawab pak Wawan.
Penghulu itu menuliskan mahar yang dimaksud pak Wawan, dan terakhir dia meminta tandatanganku. Lalu mereka keluar kamar. Aku hanya tertunduk sedih, aku tidak menyangka kisah Siti Nurbaya terjadi padaku. Di luar sangat ramai, kenapa setiap detik keramaian ini menjadi kegelisahanku.
Acara dimulai, setelah hadrah berkumandang dan orang-orang duduk dengan khidmad, pengulu berjalan mendekati mempelai, dia duduk pas di depan Dafid yang duduk tanpa ekspresi. Penghulu itu meneruskan acara dengan berdoa dan sambil di dampingi pak Wawan, paman dan Bapak.
“apa saudara Dafid sudah siap?”, Tanya pak penghulu sambil menyodorkan bacaan ijab ke tangan Dafid.
Dafid membaca lirih kertas itu, “kenapa namanya berbeda? Ini kesalahan nama mempelai wanitanya”, protes Dafid pada pak penghulu.
“itu nama aslinya. Pernikahan harus menggunakan nama asli waktu tali pusar di putuskan”, jawab Pak Wawan memotong. Bapak dan paman hanya diam tak berkedip.
“baiklah, mari pak Jono , kita mulai”, ajak Dafid.
__ADS_1
“Tidak usah, bapak Jono sudah menyerahkan pada wali hakim di dalam tadi”, jawab Pak Wawan.
Upacara Ijabpun dimulai, semua berjalan lancar, dan kini Dafid di papah pak Wawan dan Paman ke dalam kamarku. Aku begitu takut dan gelisah, perasaan kacau terus menyerangku. Suara lankah kaki mulai terdengar mendekat, orang-orang mulai ramai mengerumuni daun pintu kamar pengantin, aku benar-benar takut tak mampu berdiri untuk menemui Dafid, suamiku saat ini.
“Siapa kamu?”, dafid terkejut ketika melihatku yang duduk tertunduk. Pak wawan dan paman segera menutup pintu rapat dan mendekati Dafid.
“Papa,apa yang kau rencanakan?, dia bukan Nila”, teriak Dafid.
“Tenang nak, pernikahan ini sementara saja sampai aku menemukan Nila untukmu”, jawab Pak Wawan.
“papa, tidak cukup kamu menyakitiku, dan sekarang menipu anakmu sendiri”.
“Dafid, ini saya lakukan untukmu”, jawab Pak Wawan.
“tidak aku tak mau menerimanya, kita gagalkan pernikahan ini”, bentak Dafid.
“Jangan lakukan itu, papa malu”.
“kau hanya memikirkan dirimu saja, bagaimana dengan aku?”, Dafid berteriak, “dan kau”, dia mendekatiku. “berapa yang papa bayar untuk menggantikan Nila?”.
Aku hanya diam menyaksikan pertengkaran itu.
“Apa kau tak punya harga diri?, apa kau tak punya malu?berani-beraninya kau menikahiku”, Dafid menarik kerah bajuku.
“sudah!! apa yang kau lakukan?”, Pak Wawan melepaskan pegangan tangan Dafid.
“air mataku sudah mengering karena tragedy ini, jadi tolong bertengkarlah dengan damai dan jangan tarik aku ke dalam permasalahan kalian, aku akan mengikuti hasil dari pemenangnya”, aku duduk dengan tenang sambil melihat mereka yang saling cekcok.
“lihat papa !, dia wanita sinting”, Dafid menunjuk ku.
“benar, aku ikut sinting karena situasi gila ini”, aku mendesah.
__ADS_1
“kau sinting karena menjadi keluarga kaya”, Dafid tersenyum mengejek.
“Apa?”, aku tahu, emosiku sudah tak bisa terbendung lagi. “aku juga kaya dengan IQ yang tinggi, EQ yang tinggi dan wajah yang cantik”.
“hahahahaha”, Dafid tertawa terbahak-bahak, “apa kau punya cermin di rumahmu?, kau beruntung menikah dengan pangeran sepertiku”.
“apa?”, aku mencibirnya. “Kau memang tampan, tapi kurasa ada yang salah denganmu. Apa kau tidak perkasa?”.
“mmmm, kau hanya berbicara ngawur. Jangan harap aku akan jatuh pada perangkapmu”.
“cih,….. kau begitu arogan. Pikirkan saja apa yang mau kau pikirkan semaumu. pangeran tampan yang ditinggalkan bahkan 6 kali, itu terlalu nyata bahwa ada yang salah denganmu”.
Dafid terdiam seketika, aku sadar bahwa telah mengorek luka lamanya. Tapi aku tidak bisa diam menahan emosiku mendengar ocehannya. Dafid tertunduk seakan luka itu menyiksa hatinya, melihat itu aku hanya tertunduk bingung dan resah. Ada rasa sedih melihat kesedihannya “mungkin dia laki-laki baik yang sangat mencintai Nila”, fikirku. Tapi kenapa Nila meninggalkan laki-laki yang mencintainya ini?, ahhhhhh…. Fikiranku kacau dalam keheningan ini. “maaf, aku minta maaf atas kelancanganku”, bisikku di dekatnya.
“Apa kalian sudah bicaranya?”, Pak Wawan menyudahi kecanggungan ini. “dan kau Dafid, papa harap bisa menerima kenyataannya”, pak Wawan mendekati Dafid dan berbisik “papa tahu semua yang kau lakukan”. Dan seketika itu juga, Dafid tercengang kaget.
“maaf kan aku karena tidak bisa menghentikan paman dan papamu”, aku tertunduk malu. “tapi jangan kuatir, pernikahan palsu ini hanya sampai Nila ketemu, kata paman dan papamu paling lama 1 minggu. Jadi mari kita bertahan sebentar lagi”, mintaku tulus berharap kita tidak saling menyakiti selama pencarian Nila.
Dafid tersenyum licik, dia hanya memandangiku dengan licik “baiklah mari bertahan sebentar lagi, sampai Nila datang. Apa kau masih bisa berfikir seperti itu?”.
Dasar senyum licik itu menyebalkan, tapi aku harus bertahan. Satu minggu hanya sebentar, anggap mimpi sial.
“kau harus bersiap, karena aku harus langsung pulang setelah usai”, Dafid mendekatiku “aku tak bisa tinggal lama-lama karena kantor terlalu sibuk”.
“ok, kau boleh langsung pulang, aku tidak akan menghalangimu”.
“Kau lucu”, Dafid tersenyum. “jika suami pulang maka istri juga ikut, kau tidak tau aturan sederhana ini?”.
“apa?”. Aku kaget.
“ayolah sudahi dulu bicaranya!”, minta pak Wawan. “acaranya baru mulai, ayo kita keluar dulu untuk menemui tamu undangan”.
__ADS_1
“Tapi Pak…..”,
“sudahlah! Masalah itu dibicarakan setelah acara”, Pak wawan menarik tanganku dan Dafid keluar kamar menuju para tamu undangan. Dan kami benar-benar dibuat sibuk hari itu, kakiku dan lenganku, benar-benar dibuat bekerja ekstra.salam sini, salam sana, foto sini, foto sana dan kami hanya bisa mendesah “uhhhhhh…..” bersama.