
Pagi sudah terlihat, aku membuka mata dan tak ada orang di kamar. Sudah beberapa hari ini Dafid membiarkanku meminjam kasurnya untuk membuat tubuhku pulih dari rasa sakit yang terus mengusikku, kenangan kemarin masih terlihat jelas tentang Rani dan keluarga Dafid. Aku enggan untuk keluar ruangan, namun rencana untuk keluar dari keluarga ini mungkin harus ku lakukan.
Aku berjalan ke ruang makan setelah mencuci tubuhku, namun aku masih belum menemukan Dafid. Mungkin dia mulai sibuk karena beberapa hari ini dia cuti untuk menemani aku dan Rani yang sedang sakit. aku duduk di meja makan tanpa teman, kurasa keluarga ini mulai menjahuiku, dan walau terasa sakit tapi ini adalah langkah awal keluar dari rumah ini.
“Putri?!”, Mama mendekatiku masih dengan sifat ramahnya.
Aku tidak menjawab dan hanya melihatnya.
“Kau mau makan?, bukannya bibi sudah menyiapkannya di kamarmu?”, Mama menggeser kursi dan duduk di dekatku.
Aku menggeleng tidak tahu.
“Bibi…Bibi…”, mama berteriak memanggil Bibi. Bibi tertatih-tatih mendekati kami, “ada apa Bu?”.
“Bukannya aku menyuruhmu mengantarkan sarapan ke kamar Putri?”,
“mmm…., Mbak Putri tidak mau menerima makanannya tadi!”, Jawaban bibi membuatku terkejut.
“Benar…., tadi aku melihat kamu marah-marah pada bibi”, Rani berjalan mendekati kami.
Aku hanya tersenyum kecut, entah apa yang dibayarkan Rani pada Bibi sehingga dia berani berbohong, tapi aku harus sabar, ini adalah kesempatanku pergi.
“Benarkah?”, mama terkejut. “Kenapa kau menolak makanan Bibi?”.
“karena mama mulai sibuk dengan Rani, jadi aku akan mogok makan!”, aku tersenyum kecut.
“Putri….., kamu tidak boleh mogok makan. Baiklah akan mama suapin”, mama menuju dapur untuk mengambil makanan. Tentu saja, aku mulai goyah untuk menyakiti hati mama. Dia benar-benar tidak berubah terhadapku setelah apa yang dilakukan Rani.
Rani mendekatiku dan menatapku iri, dia mengambil air di depan mejaku dan menyiram dirinya sendiri lalu membuang gelasnya tepat mengenai dahinya.
“Pyarrrr…”.
Aku hanya melihatnya dengan ibah.
“Ada apa Putri”, mama berlari dari dalam dapur dan mendekatiku untuk memeriksaku. “Kau tidak apa-apa?”.
“Hiks hiks”, Drama Rani dimulai, “Apa salahku Put?, kenapa kau melakukan ini?”, Rani menangis.
Aku hanya diam menikmati drama yang membosankan ini.
“Ada apa?”.
“Putri marah padaku karena melaporkan kejadian tadi pagi pada mama, dia melemparkan gelas ke dahiku”, Rani memperlihatkan dahinya yang berdarah.
“Apa???”, Mama mendekati Rani untuk melihat lukanya.
“Mbak Putri mengamuk!!”, Bibi menambahkan seakan menguatkan drama Rani.
“Putri ada apa ini?”, mama bertanya lembut padaku.
“Aku kesal, dia mengambil perhatian semuanya dariku”, aku mengikuti arus.
“Apa?”, mama terkejut. “Bibi tolong bawa Rani ke dalam kamarnya, aku akan bicara pada putri!”. Bibi hanya mengangguk dan menggotong Rani masuk kamarnya.
“Putri ada apa?”, mama memelukku erat, air mataku terjatuh Karena kehangatannya, “hanya putri yang mama sayang, dan kami merawat Rani karena kami tak ingin Dafid merawatnya, karena itu kami menjaganya”, mama menjelaskan dengan kasih sayang. Aku ingin menyakitinya tapi hatiku penuh dengan kasih sayang padanya.
“Tapi, semua orang terlalu sibuk dengan Rani?”.
Mama menangis kecil, “itu hanya untuk mencegah Dafid merawatnya saja?”.
“Kenapa mama mencegahnya?, apa mama tahu bahwa Dafid menyukainya?”.
__ADS_1
Mama tertawa, “Kau cemburu pada mama apa Dafid?”.
“Ahhhh, mama”, aku tanpa sadar merengek manja.
“jika dafid menyukainya, pasti mereka menikah dari dulu.”.
“Maksudnya?”.
“Kau jangan cemburu lagi, yang kau fikirkan itu semuanya kesalahan”, mama tersenyum. “Sekarang ayo makan dulu”, mama menyuapiku hingga membuatku canggung.
Hari ini sungguh melelahkan, aku hanya berdiam diri di kebun bungaku. Sambil mengirim pesan dengan Rosi.
“Kau sungguh beruntung”, Rani mendekatiku.
“kau membuat kekeliruan dari awal”, aku mengejeknya.
“Apa?”, Rani tanpak bingung.
“Bunga melati itu, aku yang menanamnya”, aku tersenyum menang.
“Apa?”, Rani marah dan mengamuk, dia mendekati bunga-bungaku yang lain dam mulai merusaknya.
“Apa yang kau lakukan?”, aku mendorong Rani hingga dia tersungkur ke tanah dan tanpa sengaja membentur batu.
“Kau….”, Rani berteriak kesakitan, Nenek dan Kakek berlarian ke tempat kami.
“Apa kau tidak capek membuat drama?”, Aku mencengkeran lengan Rani.
“Drama apa?, lihat dahiu terluka, kakiku memar, kau benar-benar gila”, Rani menangis histeris.
“Putri, apa yang terjadi?”, kakek menghampiriku.
“Purti????”, Nenek mendekati ku, “aku sudah tahu apa yang kau rasakan dari Mamamu”. Nenek memelukku, “Bibi….Bibi…”, nenek berteriak sehingga para pembantu datang bersamaan, “tolong bantu Rani dan rawat dia di kamarnya!”.
“Nenek… Putri sudah jahat padaku”, Rani marah.
“aku tahu, tapi kami tidak mau Putri terus-terusan marah karena kami mengurusmu, itu juga tidak baik untukmu”, Kakek menjelaskan.
“Kakekk….., kenapa kalian melakukan ini padaku?”, Rani berteriak histeris, “kalian tahu apa yang dilakukan Rani di Kebun ini?”, aku mulai terdiam. “Dia berse.”.
Semua terdiam menendengar Rani bicara, aku mulai paham apa yang dibicarakan Rani hingga aku menutup mulut Rani dan menarik tangannya, “Sebenarnya kami bermain-main bersama, jadi biarkan aku merawat Rani”, aku menjahui kakek dan nenek. Mereka hanya bingung dengan apa yang kulakukan.
“Apa yang kau lakukan?”, Rani marah sambil menahan kesakitan luka-lukanya karena diseret ke dalam kamarnya.
“Apa yang kau ingin bicarakan?”, aku bertanya.
“Aku tahu semuanya, kau berselingkuh di telpon”, Rani menakutiku, “aku akan memberitahukan semuanya”.
“Jadi kau mendengarnya?”.
“Benar”.
“Kenapa kau tidak memberitahukan mereka dari awal”.
“Aku sebenarnya ingin mencari bukti yang nyata agar mereka yakin”, Rani tersenyum.
“Kenapa kau melakukan hal jahat padaku?”, aku mulai serius bertanya.
“Karena kau mengganggu hubungan kami, hanya aku yang seharusnya menikah dengan Dafid”, Rani marah.
“Tapi, bukannya kau menolak Dafid?”.
__ADS_1
“Apa?, kau gila, untuk apa aku menolaknya?”.
“Jadi.., kau yang ditolak”,
“Apa ?”, Nadanya meninggi, “Kau mengejekku?”.
“Aku hanya bicara kemungkinan, dari reaksimu berarti, kau ditolak”.
“aku tidak ditolak, sebenarnya kami berjanji, setelah aku belajar di Amerika, kami akan bersama”.
“Benarkah?”.
“Iya, dan seseorang mengacaukan rencana kami”, Rani berteriak.
“Kenapa kau selalu berteriak”, aku menutup mulut Rani.
“Karena kamu mencurigakan, kau berselingkuh walaupun sudah menikah”.
“bukan aku yang berselingkuh, tapi Dafid yang mengganggu hubunganku dengan kekasihku”.
“Apa?, bagaimana mungkin”.
“Kau tidak tahu semuanya, kau bahkan tidak tahu bahwa kami dipaksa menikah!”.
“Apa?”,Rani terkejut, “Tapi, kalian terlihat seperti suami istri yang normal”.
“Kau gila. Bagaimana kami disebut normal?, setiap hari kami hanya bertengkar saja”.
“Tapi kalian tidur bersama”.
“Kami di kamar yang sama, tapi tidak tidur bersama, dia yang kejam membuatku tidur di balkon kamar”.
“Tidak mungkin, aku tidak percaya padamu!”.
“Kenapa?”, aku mulai kesal.
“bagaimana mungkin aku percaya padamu, Bahkan Dafid menjagamu ketika kau sakit”.
“Dia hanya dipaksa oleh keluarganya”.
“Apa kau tidak berbohong”, Rani tanpak masih ragu.
“bagaimana dia menjagaku, dia hanya terus mengisap darahku hingga makin parah”.
“Hahahaha”, Rani tertawa, “jadi kalian tidak akur, jika dia tahu kau berselingkuh, pasti akan mudah untuk memisahkan kalian”, Rani bahagia.
“Atau mungkin kesempatan kita berpisah menjadi nol”.
“Apa maksudmu?”.
“Mungkin keluarga ini akan menyiksaku dengan mempertahankan hubungan palsu ini sehingga kau tidak bisa menikahi Dafid”, aku menakuti Rani.
“Jadi bagaimana?”, Rani merengut.
“Mari bekerja sama, kita buat kau diterima di keluarga ini dan membuat aku keluar dari keluarga ini dengan damai sehingga tidak ada yang akan terluka, bagaimana?”.
“Baiklah, mari kita kibarkan bendera putih”, Rani antusias.
“Tapi…., tolong belikan aku beberapa peralatan.
“Apa?”, Rani bertanya, aku hanya tersenyum licik karena menemukan rekan yang memiliki tujuan yang sama. Semoga ini berhasil
__ADS_1