Bajingan gila

Bajingan gila
Syaratnya Harus Jinak


__ADS_3

“Setiap pagi harus bangun jam 05.00, siapkan makanan yang  biasa orang Indonesia makan seperti nasi goring dan lauk telur atau dengan sayur-sayur (NB: jangan masak makanan aneh), setelah makan bersama harus bekerja membersihkan sekeliling rumah dan agak siang biasanya nenek dan kakek suka minum Tea. Bantu juga mama berbelanja, kau boleh memilih hal-hal yang lucu karena mama suka dengan hal yang berbau lucu. Papa selalu membaca Koran di dekat kebun, tidak banyak yang bisa kamu lakukan untuk Papa, tapi cukup perlihatkan dirimu padanya dengan berkebun dengan riang  seakan kamu sangat mencintai tanaman, itu bisa membuat Papa luluh padamu”, aku mengirimi Rani SMS tentang kegiatan yang harus dilakukan untuk mengambil hati keluarga Dafid.


Dan benar juga, Pagi ini Rani sudah bangun dan mulai ribut dengan para pembantu untuk membuat sarapan. Aku hanya melihatnya saja tanpa mendekatinya agar keluarga Dafid focus memperhatikan Rani.


“Buat makanan yang sederhana tapi enak, kau bisa menghidangkan Nasi dengan lauk mata telur sapi dan sayur bening dan ditambah ikan yang segar seperti ikan tongkol”, aku meng SMSnya.


“kenapa kau tidak kesini?”, Rani menjawab smsku.


“Kau ingin keluarga Dafid memujiku bukan kamu?”.


Tidah ada balasan, aku yakin Rani mengerti apa yang ku maksud. Aku kembali ke dalam kamar, di sana Dafid sudah menguasai kasurnya kembali. Untungnya dalam perjanjian ku dengan Rani, aku meminta dia untuk membelikanku peralatan kemah dan selimut yang tebal sehingga aku bisa membuat kamarku yang hangat di balkon.


Dafid sedang tertidur pulas, melihat wajahnya membuatku ingin sekali menonjoknya. Aku hanya lewat saja dan menuju kemah hangatku. Seperti biasa, setiap hari aku selalu menghubungi Rosi dengan SMS.


“Putri…., aku kesulitan untuk memasak makanan local!”, Rani mengsms ku.


“tenang, bibi yang kau bayar untuk bermain drama denganmu masih di sana?”.


“Iya”.


“Biarkan dia melakukan semuanya dan kau hanya perlu mengaku bahwa kau yang memasak”.


Tidak ada balasan dari Rani, aku yakin Rani mengerti dengan apa yang kumaksud. Tapi ini membuatku penasaran, sebenarnya apa yang dilakukan Rani?, aku berdiri hendak mengintip Rani, namun Dafid menghalangiku. Dia tersenyum sinis dengan balutan handuknya.


“Apa yang kau lakukan?, dasar mesum”, aku berteriak.


“Apa yang kau lakukan?, bukannya kau yang menerobos masuk kesini?”, dia menjawab dengan wajah liciknya.


“Baiklah aku salah, jadi jangan menghalangi jalanku”, aku melangkah maju namun Dafid terus menghalangi. Dia hanya tersenyum kecil dan mencoba mendekatiku.


“Apa yang kau lakukan?”, aku mundur dengan ketakutan.


“Bukankah tubuhku bagus?, kau tidak merasakan sesuatu?”.


“Tidak…”,aku mendorongnya dengan cepat sehingga handuk yang menutupi bagian bawahnya terlepas, “AHHHHHHHH”, aku berteriak tak bisa menutup mataku dari sesuatu yang baru kulihat.


“kenapa kau berteriak?”, Dafid masih percaya diri walau dia tahu area terlarangnya sudah terlihat dengan jelas, dia masih tidak menutupinya bahkan masih berani mendekatiku.


“KAu mau apa?”, aku berteriak histeris sambil menutup mataku.


“apa tubuhku terlalu bagus untukmu hingga kau tidak mampu melihatnya?”.

__ADS_1


“kau kenapa hari ini bertambah gila?”, aku sudah tidak tahan. “tubuhmu yang indah menyilaukan mataku, jadi mari kita akhiri dan biarkan aku pergi”, aku terburu-buru pergi meninggalkan Dafid dan tubuh telanjangnya.


Aku mulai bingung dengan keanehan Dafid, “apa yang dia fikirkan?, kenapa dia berani bertelanjang di depanku?, dimana sosok kejam dan dinginnya yang selalu di tunjukkan padaku?”, dia benar-benar membuatku takut.


Rani terlihat sibuk di dapur, dia sudah menyiapkan makanan di meja makan, setelahnya dia berlari ke kamar papa, mama, kakek, nenek dan Dafid. Seketika itu juga, mereka semua berkumpul dan aku juga ikut berkumpul untuk makan.


“Waw… makanan yang terlihat enak”, aku memulai percakapan. “Aku tidak tahu kalau kau koki yang hebat”, aku melirik Rani sambil memainkan drama ini.


“Kau terlalu menyanjung, aku hanya memasak makanan yang sederhana ini”.


“Tidak juga, ini makana yang mewah, benarkan Mama?”, aku menyakinkan Mama.


“benar”, mama menjawab dengan tersenyum.


Dan hari itu, kami makan dengan lahap, tidak tanggung-tanggung Rani menjadi pelayan kami yang sibuk mengambil keperluan kami sepanjang kami makan. Dan di siang hari dia menemani Mama dan membuatkan minuman untuk kakek dan nenek. Dia mulai sibuk melakukan apapun yang pernah kulakukan dulu. Dan dia terus saja menempel pada Mama dan tentu saja ini kesempatanku untuk membalas dendamku.


Dia membuatkanku minuman, makanan, dan menjaga kebun dengan baik, bahkan setiap aku meminta sesuatu padanya, dia tidak akan menolaknya. Tentu saja dia sangat bekerja keras. Dan benar saja, setelah dua hari dia menjadi jinak, orang-orang mulai membicarakan kebaikan dan betapa rajinnya dia. Mama dan Papa mulai memujinya serta Kakek dan nenek tidak segan-segan memberikan hadiah padanya. Benar dia kini menjadi pusat perhatian keluarga Dafid.


Namun, Rani belum membuat kemajuan dengan Dafid. Seperti biasa Dafid hanya berbicara seperlunya dan tidak terlalu memikirkan perubahan Rani. Tapi aku yakin dia juga menyukai Rani, tetapi kenapa dia bersikap seperti biasanya? Aku mulai bingung dengan perasaan Dafid.


“Bagaimana ini?”, Rani merengek di kamarku.


“kau harus lebih agresif terhadap  dafid”, aku memberinya saran.


“Aku hanya tahu cara mengambil hati keluarganya, tapi tidak tahu cara membuat hati Dafid bergerak”.


“Tapi…”.


“Dafid dan aku seperti kucing dan tikus, jadi aku tidak pernah tertarik mencintainya dan tidak pernah berfikir bagaimana membuat dia mencintaiku, jadi kau harus memikirkannya sendiri”. Aku memotong kata-kata Rani dan pergi ke kebun untuk melihat tanamanku.


***


Papa dan Dafid terlihat di kebun sedang berdua membicarakan sesuatu, mungkin tentang bisnis. Aku mulai usil untuk mendengarkan percakapan mereka, ku dekati mereka tanpa suara dan bersembunyi di balik gedung tepat di belakan mereka. Mereka duduk dengan serius.


“Kau yakin?”, Papa tertawa, aku bingung dengan apa yang dibicarakannya.


“Membuat dia jatuh cinta itu sangat mudah, tapi aku tak tertarik”, Dafid menjawab dengan ketus.


“Kau seperti biasa terlalu percaya diri”.


“Kau lebih tahu, semua mata wanita menatapku dengan harapan untuk berada di dekapku”, Aku hampir muntah mendengar kata-kata Dafid.

__ADS_1


“Jika seperti itu, perlihatkan itu padaku. Jangan sampai kau menangis karena ditinggal dia”, Papa pergi menjahui Dafid yang kesal dengan Kata-kata Papa. Aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya, mungkin Papa berbicara tentang Rani?, apa papa tahu Dafid menyukai Rani?, aku mulai tersenyum licik.


“Kenapa mereka saling berusaha membuat jatuh cinta, padahal perasaan mereka sama!’, aku berbisik lirih. “Jadi mari membuat mereka dalam keadaan romantic”, aku tertawa bahagia dan berlari menuju Rani.


Rani sedang berkumpul dengan keluarga, dia masih terlihat sibuk mengerjakan pekerjaan untuk mengambil hati keluarga Dafid. Aku masuk hendak memanggil Rani namun Nenek menghalangiku. Dia menarik tanganku dan menyuruhku duduk di dekatnya.


“Putri, kau mengajarkan hal yang baik pada Rani!”, aku terkejut mendengar kata-kata nenek.


“Tapi”, aku ingin menjawab namun Mama memotong kata-kataku, “mungkin Rani akan disayang keluarga suaminya kelak seperti kami menyayanngimu”. Tentu saja Rani berubah memerah.


“aku tidak mengajarinya”, aku mengelak.


“sudahlah, aku tahu kau membawa hal baik pada sekitarmu”, Kakek mengelus kepalaku. Sungguh ini membuat Rani melotot dan menarik tanganku.


“Maaf, aku harus bertanya-tanya pada Putri”, Rani meneret tanganku, sebenarnya aku enggan karena aku tahu pasti dia akan memarahiku habis-habisan.


Rani membawaku ke dalam kamarnya, “apa kau mempermainkanku?”, dia mulai marah dan bersiap-siap untuk berkelahi denganku.


“Bagaimana aku berani mempermainkanmu?”.


“Kau membuatku bekerja keras dan kau menikmati hasilnya tanpa usaha, apa kau membalas dendam”.


Aku hanya tersenyum ketakutan, “aku sungguh tidak mempermainkanmu”, aku menenangkannya, “aku bahkan mencari cara untuk mendekatkanmu dengan Dafid”.


“Aku tidak percaya kata-katamu lagi”, Rani masih marah.


“Baiklah, aku tak bisa menceritakan apa yang baru ku dengar”.


“Apa?”.


“kau tidak mempercayaiku kan!”, aku berlagak.


“Baiklah kali ini kuberi kesempatan!”, Rani memohon.


“Ok”, aku tersenyum licik, “aku mendengar dari Papa dan Dafid bahwa Dafid berusaha membuatmu jatuh cinta padanya, itu berarti Papa sudah membuka hatinya padamu”.


“Apa?”, Rani tidak percaya, “Bukannya Dafid sudah sadar bahwa aku menyukainya?”, Rani mulai berfikir.


“Kau tidak sadar, Dafid itu orang yang sangat narsis, jadi dia bebal dengan cinta!”, aku menyakinkannya.


“Kau serius?”.

__ADS_1


“Iya, dia belum menyadari perasaanmu sehingga ada kesalapahaman antara kalian. Jadi mari buat kau bertindak lebih agresif. OK!”.


Rani mengangguk setuju, kami mulai membuat rencana yang hebat untuk Dafid


__ADS_2